My Office Boy

My Office Boy
50. Meminta Bantuan


__ADS_3

Keesokan harinya, Surya mulai masuk kerja. Dia berangkat dari rumah mertuanya selepas shalat subuh karena harus mengambil seragam kerja dan beberapa barang dari rumah, kemudian baru berangkat kerja. Sebelum berangkat, disempatkannya melihat kondisi Kalia. Diciumnya kening istrinya itu dengan penuh cinta dan sepelan mungkin agar Kalia tidak terbangun. Dia tak ingin Kalia terganggu.


Sekitar pukul tujuh pagi, Surya sampai di tempatnya bekerja. Beruntung semua rekan kerjanya sudah mulai bertugas, jadi Surya tidak perlu mendapat banyak pertanyaan dari mereka semua.


Hari ini dia berencana untuk menemui managernya untuk meluruskan semua kegaduhan yang sempat terjadi akibat menyebarnya foto Surya dan Kalia yang sedang jalan berdua, dan juga peristiwa Kalia yang terjatuh dari tangga hingga menyebabkan dia harus kehilangan anaknya.


Setelah menyelesaikan tugas pagi, Surya mengetuk pintu ruangan managernya. Pak Haris.


Tok


Tok


Tok


" Masuk.." seru Pak Haris dari dalam ruangan. Dengan hati-hati Surya masuk ruangan atasannya kemudian menutup pintu.


" Selamat pagi, Pak. Ada yang mau saya bicarakan." ucap Surya masih berdiri dihadapan managernya.


" Silahkan duduk, Surya." ucap Pak Haris.


" Ada apa?" tanya Pak Haris sambil menautkan jari jemarinya yang semula sedang mengetik di atas keyboard kemudian mencondongkan tubuhnya.


" Sebelumnya saya mau minta maaf soal kegaduhan yang saya timbulkan beberapa hari yang lalu, Pak." jelas Surya. Pak Haris tampak mengangguk-angguk.


" Saya juga ingin meminta bantuan Bapak terkait masalah ini. Karena saya juga bingung harus menyelesaikannya dengan cara apa? Da saya mah cuma OB di kantor ini Pak. Tidak punya kekuatan apa-apa." jelas Surya lagi.


Pak Haris kemudian menyandarkan dirinya.

__ADS_1


" Sebelumnya, saya mau Surya jujur terhadap saya. Sebenarnya Surya itu ada hubungan apa dengan Bu Kalia?" tanya Pak Haris kemudian.


Surya terdiam.


" Apa benar yang dikatakan orang-orang kalau Surya berselingkuh dengan Bu Kalia bahkan sampai membuat Bu Kalia hamil?" tanya Pak Haris tajam.


" Saya suami Kalia yang sah di mata hukum dan agama, Pak. Ini buktinya.." Surya menyerahkan buku nikahnya yang sengaja dia bawa ketika pulang kerumah tadi subuh. Dia tahu bahwa buku itu diperlukan sekarang guna meredam gosip murahan yang tersebar tentang hubungan mereka.


" Saya mungkin cuma OB, tapi kami saling mencintai. Dan hal itu tidak salah, kan Pak? Bukan berarti karena saya hanya seorang OB, lantas menjadi tidak pantas untuk bersanding dengan Kalia yang notabene seorang manager di perusahaan ini." jelas Surya semakin meradang. Pak Haris sedikit kaget mendengar penjelasan Kalia. Tapi kemudian dia tersenyum juga.


" Iya memang tidak ada yang salah. Sah sah saja kita mau menikahi siapapun. Sebuah jabatan tidak bisa menghalangi itu semua. Hanya yang saya sesalkan, kenapa kalian merahasiakan hal ini? Jika saja tidak dirahasiakan, tentu keributan kemarin tidak akan terjadi. Paling juga, diantara kalian berdua harus ada yang rela dipindah tugaskan ke cabang lain, itu saja. Kan memang aturan di perusahaan ini, kalau suami istri atau kakak beradik tidak boleh kerja dalam satu tempat yang sama. Kamu juga tahu itu kan?" jelas Pak Haris lagi.


" Saya tahu, Pak. Dan saya minta maaf karena sudah merahasiakan pernikahan kami. Tapi yang saya tidak terima, kenapa ada orang yang diam-diam membuntuti kami kemudian mengambil foto ketika kami sedang makan siang bersama. Apalagi sampai menyebarkan foto tersebut ke semua bagian kemudian menyebarkan berita yang tidak-tidak tentang kami, bilang kami berselingkuh lah, bilang kalau saya sudah mendukunkan Kalia lah, mungkin karena saya yang hanya seorang OB tapi bisa mendapatkan hati Bu Kalia, semua orang jadi merasa aneh dengan hubungan kami." ucap Surya berapi-api.


" Dan hal itu yang mau saya cari tahu, karena bisa jadi hal tersebut membuat psikis istri saya terguncang. Bahkan sekarang, kami kehilangan anak yang sangat kami nantikan." ucap Surya lagi dengan suara tercekat.


" Bagaimana keadaan Bu Kalia sekarang? maaf saya tidak bisa menjenguk ke rumah sakit." ucap Pak Haris seperti tak enak hati.


" Nggak apa-apa, Pak. Memang tidak bisa dijenguk juga karena kondisi pandemi ini. Tapi sekarang, psikis Kalia terguncang. Dia masih mengurung diri di kamar. Saya sangat sedih melihat kondisi istri saya, Pak." Surya sekuat tenaga menahan diri agar tidak menangis.


" Saya juga turut berduka cita atas meninggalnya anak kamu, Surya. Semoga diberi keikhlasan dan ketabahan." ucap Pak Haris lagi.


Surya hanya mampu mengangguk dengan perasaan yang sedih teramat sangat.


" Baiklah, saya akan bantu kamu untuk mencari tahu siapa yang sudah mengirim email tersebut ke semua direksi. Karena saya juga merasa hal ini keterlaluan, bagaimana mungkin hal yang bersifat pribadi seperti itu dicampur adukkan dengan masalah pekerjaan. Nanti saya akan minta tolong manager IT untuk mencari tahu IP adressnya. Siapa tahu emailnya masih dikirimkan lewat komputer perusahaan, jadi akan mudah terlacak." ucap Pak Haris lagi. Hal itu membuat Surya merasa lega.


" Baik, Pak. Terimakasih sebelumnya. Saya sangat bersyukur Bapak bisa membantu saya menyelesaikan masalah ini." ucap Surya penuh syukur.

__ADS_1


" Saya atasan kamu, tentu saja saya juga bertanggung jawab atas masalah ini. Setelah saya mengetahuinya, akan saya kabarkan secepatnya ya. Dan untuk Bu Kalia, salam saya untuknya. Semoga cepat pulih, dan semoga bisa ikhlas. Nanti akan saya kabarkan juga kepada staf personalia untuk mengurus masalah cuti melahirkannya selama tiga bulan kedepan."


" Baik, Pak. Terimakasih sekali lagi, Pak." ucap Surya kemudian pamit pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.


Setelah menemui Pak Haris, hati Surya sedikit lega. Setidaknya, saat ini dia menemui titik terang untuk dapat mengetahui siapa yang sudah menyebarkan fotonya dan Kalia. Meski sebetulnya Surya sudah mengantongi beberapa nama, tapi hal tersebut belum terlalu kuat untuk dijadikan barang bukti karena masih dugaan Surya saja.


" A Suryaa.." panggil seseorang. Surya langsung menoleh mencari sumber suara.


Tampak Ratna berlari kearahnya.


" Kenapa Ratna?" tanya Surya dengan perasaan malas.


" Aa beneran suaminya Bu Kalia? kenapa dari kemarin susah banget dihubungi? Ratna perlu memastikan hal ini." tanya Ratna berapi-api.


" Handphone Aa sengaja di matikan. Iya, Aa memang suaminya Bu Kalia. Kenapa memangnya?" Surya mulai kesal kepada Ratna.


" Kenapa akang gak pernah cerita soal ini? Ratna pikir A Surya belum nikah.." ucap Ratna dengan mata yang sudah memerah hampir menangis.


" Da bukan urusan kamu atuh, Rat. Saya dan Bu Kalia saling mencintai. Jadi gak ada yang salah kalau kami menikah." jawab Surya semakin kesal.


" Terus kenapa kalian seperti sengaja menutup-nutupi? Memangnya pernikahan kalian itu aib? Bu Kalia malu ya punya suami OB? gak mau orang lain tahu kalau Aa adalah suaminya? Masa malu sama suami sendiri? itu mah bukan cinta namanya A!!" ucap Ratna terlihat emosi.


Surya seperti tersindir dengan ucapan Ratna yang memang begitu adanya. Kalia memang malu mengakuinya sebagai suami. Tapi Ratna sama sekali tak berhak mengatakan itu semua. Karena hal ini adalah masalah pribadinya dengan Kalia. Orang lain tak perlu ikut campur.


" Gak usah asal ngomong, Rat. Kamu tidak tahu yang terjadi diantara kami. Dan saya sama sekali tidak keberatan kalau Bu Kalia merahasiakannya. Saya juga tidak perlu pengakuan dari semua orang. Yang paling penting adalah, dia mencintai saya dan saya juga sangat mencintainya. Dan saya tidak perlu penilaian dari kamu tentang saya dan Bu Kalia, paham kamu, Ratna? Jadi berhenti mengurusi kehidupan pribadi saya." Surya mulai naik pitam.


" Saya mau kerja lagi, lebih baik kamu juga selesaikan pekerjaan kamu. Saya permisi." ucap Surya, kemudian menghambur pergi dan membiarkan Ratna yang sudah menangis tersedu-sedu di tempat.

__ADS_1


__ADS_2