
" Huwaaa....Liaaa...Jangan marah terus sama akang. Huwaa...Akang gak bisa tanpa Liaa..." Surya terus saja menangis meraung-raung seperti bocah yang akan ditinggalkan ibunya.
" Kalau Lia gak ada, rasanya dada akang zezaaakkk...huwaaaaa..aaaaghaa.." ucap Surya lagi dengan suara yang makin tak jelas.
" Udah iih, akang jangan nangis teruus. Malu dilihat pasien sebelah. Iih..itu pada lihatin kitaa perawat-perawat juga.." ucap Kalia sambil berusaha menenangkan Surya yang menagis tersedu-sedu sambil memeluknya.
" Biarin ajaa...akang gak peduli diketawain orang juga. Yang penting jangan minta akang buat pergi lagiii...." Surya masih menangis seperti bocah sambil menarik-narik ingusnya. Hingga Kalia pada akhirnya hanya bisa pasrah menerima pelukan Surya yang membuatnya sesak.
Hampir sepuluh menit, Surya masih dalam posisi yang sama. Entah hilang kemana lelaki manly yang Kalia kenal, tiba-tiba saja Surya berganti menjadi bocah cengeng yang manja. Sisi lain dari Surya yang baru saja diketahui Kalia.
Tak urung, hati Kalia terharu juga. Betapa Surya begitu kehilangan semangat hidup ketika dia mengabaikannya. Kalia jadi merasa bersalah telah menyiksa Surya dengan sikap dinginnya.
Surya masih saja menarik-narik ingusnya. Kalia memandang laki-laki berbulu mata lentik itu dengan seksama. Ada rasa rindu yang membuncah dalam hatinya. Ya..Kalia menyadari bahwa hatinya telah tertambat sepenuhnya pada Surya. Dia tak akan peduli lagi dengan pemikiran orang tentangnya. Peduli setan bila semua manusia di muka bumi ini memandangnya remeh karena telah memilih Surya. Yang terpenting adalah kebahagiaan yang ingin dia rengkuh bersama Surya, suaminya.
" Maafin aku ya kang..karena udah begitu egois selama ini, karena udah biarin akan tersiksa dan sedih, padahal akang sama kehilangannya kayak aku." ucap Kalia, air matanya langsung meluncur begitu saja.
Surya menggelengkan kepalanya cepat.
" Nggak..Lia gak salah. Akang yang salah sama Lia. Akang yang gak mengerti perasaan Lia. Akang juga minta maaf ya." ucap Surya sambil mencium kening Kalia lembut.
" Jangan pernah minta akang untuk pergi dari hidup Lia. Akang gak sanggup." ucap Surya lagi. Dan Kalia hanya bisa mengangguk haru. Air mata terus saja merembesi matanya.
" Jangan nangis lagi ya kang. Aku dengar akang banyak nangis akhir-akhir ini." ucap Kalia sambil menghapus air mata Surya.
" Gak tau akang juga, segala sesuatu yang berhubungan sama Lia selalu buat akang jadi lemah. Akang jadi ceng..ngeng..Huwaaa...Liaaa..akang sayang sekali sama Liaa...." Surya malah menangis keras lagi ketika Kalia membelai pipinya dengan sebelah tangan yang terbebas dari infus.
" Udah atuh sayang, jangan nangis terus. Lia jadi sedih lihatnya. Sini..coba akang deketin wajahnya ke Lia." pinta Kalia sambil merangkul leher Surya agar mendekat ke arahnya yang masih berbaring pasca operasi.
__ADS_1
Surya menuruti saja permintaan istrinya dengan air mata yang tak juga berhenti. Ketika wajah Surya mendekat, Kalia langsung menambatkan bibirnya pada bibir Surya. Isakan Surya seketika terhenti. Berganti dengan perasaan terkejut ketika Kalia menciumnya.
" Tuh..udah di cium sama aku. Jangan nangis lagi. Nanti aku tambah sedih. Aku sayang sama akang, sayaaang sekali. Maaf ya belum jadi istri yang baik." ucap Kalia lagi kemudian kembali mengecup bibir Surya.
Wajah Surya seketika memerah. Ada rasa bahagia yang tiba-tiba saja memompa hatinya. Rasa sesak yang berminggu-minggu kemarin dirasakannya seketika hilang entah kemana. Seperti ada udara segar yang mengisi paru-parunya sampai penuh.
Dua sejoli yang sedang berbaikan ini sampai tak peduli bahwa ada pasien lain yang berada satu ruangan dengan mereka yang kemungkian besar menyaksikan adegan 'uwu' tersebut karena Surya belum menutup tirai pembatas. Kasihan memang jadi pasien itu, sudah sakit mupeng pula.
" Sekarang akang harus ceritain hal apa aja yang gak aku ketahui berminggu-minggu kemarin. Aku yakin pasti banyak yang aku lewatin." ucap Kalia. Kini wajahnya sudah kembali segar meski matanya masih sembab akibat menangis.
Surya menyunggingkan senyumnya. Kemudian mengusap anak rambut Kalia lembut. Matanya masih terlihat basah karena air mata.
" Memang harus sekarang banget?" tanya Surya sambil tak henti memandang istrinya yang amat sangat dia rindukan.
" Nanti aja ya..kan kita masih banyak waktu. Akang tuh masih kangen sama Lia. Bahkan ketika sekarang Lia ada di depan akang, rasa kangennya belum hilang." ucap Surya lagi.
" Akang takut Lia marah, dan mengatakan kata yang pahitnya luar biasa. Akang gak sanggup dengarnya. Kayak tersambar petir. Jadi akang mencoba memberi ruang untuk Lia berpikir dan akang juga sama. Kadang hubungan juga memerlukan jarak. Selayaknya tulisan yang membutuhkan spasi agar mudah terbaca." ucap Surya bijak.
Kalia terdiam, ada rasa menyesal telah mengatakan hal tersebut pada suaminya, tanpa dia tahu bahwa Surya juga terluka begitu dalam karenanya.
" Maafin Lia ya..karena udah ngomong minta ce.." Belum Kalia menyelesaikan omongannya, telunjuk Surya langsung tertempel di bibir mungil Kalia.
" Gak usah diomongin..gak apa-apa. Akang udah maafin. Udah ya..jangan disebutin. Kata-kata tabu buat akang itu mah." ucap Surya dibalas oleh kecupan lembut di ujung jari telunjuknya oleh Kalia, kemudian mengangguk tanda mengerti.
" Iya..maaf. Aku gak akan pernah ngomong itu lagi. Itu juga akan jadi kata yang tabu buat aku." ucap Kalia sambil tersenyum bahagia.
" Akang rela lakukan apa saja untuk membuat Lia nyaman. Akang bisa aja ngotot datang temui Lia. Cuma akang tahu, hal tersebut gak akan berakibat baik buat psikis Lia. Akang hanya ingin menunggu sampai Lia benar-benar siap. Dan mungkin hari ini adalah waktunya, Allah menjawab semua do'a yang akang ucapkan dengan penuh kerendahan hati. Lia mau kan hidup sama akang selamanya? sampai kita jadi tua renta, sampai maut yang memisahkan, dan kelak kita bertemu lagi di syurganya Allah..dan disambut oleh Humaira.." ucap Surya sambil menggenggam tangan istrinya yang terbebas dari selang infus. Kemudian menciuminya berkali-kali.
__ADS_1
" Aku mau kang, bimbing Lia ya." jawab Kalia sambil balik mencium punggung tangan suaminya.
" Hemm..tapi Humaira siapa? istri kedua akang? Akang ada niat poligami? Aku gak mau kalau gitu. Aku gak siap di madu." ucap Kalia sambil cemberut, dilepaskannya tangan Surya yang sedang menggenggamnya kemudian memalingkan muka.
Surya menangkup wajah Kalia agar menghadap wajahnya. Kemudian mencium bibir Kalia lembut.
" InsyaAllah akang gak akang berpoligami. Satu aja susah begini akang dapatnya." ucap Surya sambil menatap Kalia dengan lembut.
" Humaira itu nama anak kita, yang kini sedang bermain-main dengan nabi Ibrahim di langitnya Allah. Kelak dia akan menjemput Lia. Itu tabungan amal untuk kamu. Makanya kita harus ikhlas melepas Humaira..melepas si cantik. Agar Allah memberi pahala yang besar untuk kita. Si cantik sudah bahagia, sayang. Humaira kita sudah sangat berbahagia." ucap Surya lagi, kini matanya kembali memerah hendak menangis. Begitupun Kalia, mereka kembali menangis haru. Keduanya saling memeluk dengan erat, memberikan kekuatan satu sama lain.
Keduanya mencoba ikhlas melepas kepergian Humaira, meski terasa berat tetapi mereka yakin akan ada rencana indah yang menanti mereka pada saat yang tepat.
*
*
*
*
*
Huhuhu...jadi nangis juga nih othor nulisnya. Udah double up ya reader. Semoga terhibur dengan chapter ini. Marah, kesel, sedih di chapter sebelumnya sudah berakhiiiiirrrr. Jadi ayo kita tingkatkan imunitas kita dengan keuwuan selanjutnya. Happy reading guys..!!
Semongkooo..!!
Oh iya, jangan lupa like, komen, dan votenya yaaa. Makasiiih 😘
__ADS_1