My Office Boy

My Office Boy
67. Keputusan karena Mimpi


__ADS_3

Pulang dari jalan-jalan bersama, Ibu Rani jadi memikirkan ucapan wak Damar terhadapnya. Memang benar apa yang dikatakan wak Damar, bahwa di usia senjanya kini, Ibu Rani dan wak Damar semakin merasa kesepian saja. Ketika tubuh pun sudah tak sebugar dulu, anak-anak malah tak berkumpul lagi bersama. Mereka sudah mulai sibuk dengan keluarga masing-masing. Kalaupun menjenguk, tidak bisa dilakukan sesering mungkin karena jarak yang terlalu jauh.


Bila soal perasaan, sebetulnya Ibu Rani belum merasakan apapun pada uwak Damar. Masih sangat sulit baginya untuk melupakan semua kenangannya bersama almarhum suaminya. Tapi dia juga sadar, dia membutuhkan seseorang untuk berbagi segala sesuatu di akhir usianya ini. Mungkin dia memang mempunyai Kalia, tapi setelah anaknya menikah, Ibu Rani tak bisa lagi memiliki Kalia seutuhnya. Pasalnya Kalia harus lebih memprioritaskan Surya sebagai suaminya. Meski Surya tak akan keberatan bila Kalia merawatnya, tapi dia juga harus tahu diri bahwa anaknya berhak berbahagia dengan keluarganya sendiri.


Ibu Rani memutuskan untuk shalat istikharah saja, memasrahkan semua takdir atas dirinya kepada sang Pencipta. Dia yakin bahwa Allah memang sebenar-benarnya perencana dalam kehidupan umatnya.


Selesai shalat isya, Ibu Rani melakukan shalat istikharah. Berharap Allah akan memberikan jawaban lewat mimpi ataupun ketetapan hati dalam mengambil keputusan. Setelah selesai shalat, Ibu Rani merapalkan do'a-do'a dan berdzikir untuk menenangkan hatinya.


Malam semakin larut ketika Ibu Rani merebahkan dirinya, tak berapa lama kemudian beliau sudah terlelap. Ketika tertidur, Ibu Rani bermimpi. Dia sedang duduk disebuah taman yang dipenuhi dedaunan kuning yang berguguran. Ketika sedang duduk dengan nyaman, tiba-tiba saja ada seseorang yang mendatanginya dari kejauhan. Semakin mendekat, Ibu Rani semakin tahu siapa yang datang. Ya, beliau adalah mendiang suaminya. Memakai baju yang serba putih seperti jubah. Tapi Ibu Rani tak melihat jelas wajahnya, hanya saja dia meyakini bahwa orang tersebut adalah suaminya yang sudah meninggal.


Suaminya tak banyak bicara, hanya menggenggam tangannya saja. Tetapi kemudian, entah dari mana datangnya, ada sosok laki-laki lain yang mendatangi mereka. Laki-laki itu kemudian berdiri disamping kirinya. Kini Ibu Rani diapit oleh dua orang laki-laki. Disebelah kanan adalah mendiang suaminya yang masih memegang tangannya, dan disebelah kirinya adalah sosok yang dia kenali baik beberapa hari ini yaitu Uwak Damar.


Ketika uwak Damar sudah berdiri dan semakin mendekat kearahnya, Pak Adi mendiang suaminya tiba-tiba melepas genggaman tangannya. Kemudian meraih tangan uwak Damar dan menautkannya pada tangan Ibu Rani. Sekilas Ibu Rani mendengar suaminya berkata, meski tak terlalu jelas.


" Berbahagialah.."


Hanya satu kata, mendiang suaminya menyuruh dia untuk berbahagia. Setelah itu Ibu Rani terbangun, peluh memenuhi keningnya. Kesadarannya belum penuh, tapi dia ingat betul rangkaian mimpinya. Tampak jelas seperti nyata terjadi. Tak terasa air matanya meluncur mulus, ada rasa rindu pun terharu dalam hatinya.


Mungkinkah ini jawaban dari shalat istikharah yang dia lakukan sebelum tidur? Jika memang benar, berarti dia harus menerima lamaran uwak Damar terhadapnya seperti yang dikatakan mendiang suaminya dalam mimpi.


Dengan perasaan haru, Bu Rani melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan shalat subuh. Selesai shalat, Bu Rani lanjutkan dengan membaca Al-quran, perasaannya semakin tenang dan tekadnya kian bulat bahwa dia harus bahagia dengan keputusannya ini. Mungkin ini lah takdir baik yang Allah persiapkan untuknya.


***

__ADS_1


Pagi harinya, Ibu Rani menceritakan perihal mimpi yang dia alami kepada Kalia dengan penuh perasaan haru.


" Berarti, ayah memang meminta Mama untuk bahagia bersama orang lain yang bisa menjaga Mama. Lia juga sedih mendengar mimpi yang Mama alami, pasti mama kangen banget sama ayah, tapi mungkin hal itu adalah pesan yang ingin Ayah sampaikan ke Mama bahwa Mama harus bisa menerima lamaran Uwak." ucap Lia sambil menyeka air mata mamanya yang terus saja meleleh selama menceritakan perihal mimpi yang dia alami semalam.


Ibu Rani terdiam lama, Kalia menggenggam tangan Mamanya yang kulitnya sudah tak sekencang dahulu meski masih tetap halus dan lembut.


" Ma..Mama harus bahagia, seperti pesan Ayah." ucap Kalia singkat tapi pada akhirnya mampu mengembangkan senyum di bibir mamanya.


" Iya, kalau Lia gak keberatan Mama menikah lagi, dan jika itu adalah takdir baik yang Allah berikan untuk Mama, Mama mau menerima lamaran uwak Damar." jawab Ibu Rani sambil memandang wajah anaknya penuh kasih.


Kabar tentang Ibu Rani yang pada akhirnya mau menerima lamaran Uwak Damar segera Kalia beritahukan kepada suaminya yang saat itu sedang bekerja. Surya juga merasa bahagia mendengarnya, karena pada akhirnya baik Ibu Rani maupun Uwak Damar bisa saling menjaga satu sama lain. Mereka tak akan lagi merasa kesepian.


" Syukurlah yang, akhirnya mama mau menerima uwak juga. Jadi mereka bisa saling menjaga sekarang, gak akan lagi kesepian. Akang ikut senang dengernya. Kapan kira-kira kita kasih tau uwak?" tanya Surya antusias.


" Iya ya..biar mama langsung aja yang kasih kabar. Kita tunggu hasil akhirnya aja." jawab Surya kemudian.


Setelah selesai berbincang dengan suaminya di telepon, Kalia kembali menemui mamanya lagi dan menemaninya mengurus tanaman hias milik Surya di pekarangan rumah.


***


Sore harinya, Uwak Damar sudah datang lagi untuk menemui Ibu Rani. Memang benar-benar luar biasa uwak nya Surya yang satu ini. Amat sangat gerilya untuk mendekati Ibu Rani. Tapi ternyata usahanya tak sia-sia, membuahkan hasil yang gemilang karena kini Ibu Rani menjawab "yes, I do" untuk lamarannya.


" Jadi Rani bener-bener terima lamaran akang?" tanya uwak Damar mencoba memastikan lagi barangkali dia salah mendengar.

__ADS_1


" Iya kang, saya terima. Saya sudah shalat istikharah dan semoga ini adalah jawaban yang terbaik untuk semuanya." Jawab Ibu Rani lagi, dan langsung mengembangkan senyum lebar di wajah uwak Damar.


" Iya..semoga ini adalah takdir baik untuk kita ya. Di usia senja malah bertemu jodohnya. Jadi bisa saling menjaga dan menitipkan diri masing-masing." ucap uwak Surya sambil memandang Ibu Rani dengan intens dan lembut.


" Jadi Rani siap nikah kapan? Akang mau adakan pesta ya? karena akang kan punya kolega-kolega bisnis. Sekalian syukuran, biar banyak yang mendo'akan, biar pernikahan kita diberi keberkahan." ucap wak Damar dengan senyum yang tak lekang dari wajahnya.


" Justru itu, kang. Saya punya satu syarat, saya tidak mau menikah dalam waktu dekat ini. Saya masih ingin melihat Kalia benar-benar sembuh dulu, jadi saya lebih tenang. Dan kalau bisa, tak perlu diadakan pesta segala lah, saya malu dan tak enak hati juga. Kalia saja yang masih muda, menikahnya cuma di kantor urusan agama, masa saya ibu nya yang sudah nini-nini begini malah mengadakan pesta. Gak perlu lah kang.." jawab Ibu Rani kemudian.


" Hemm..begitu ya? Padahal akang ingin sekali bisa mengadakan pesta dan berbagi pada sesama sebagai ucapan rasa syukur akang karena bisa mempunyai calon pendamping cantik begini." ucap Uwak Damar mulai meluncurkan gombalan-gombalan kuno nya. Bu Rani sampai bergidik geli mendengarnya. Beberapa saat kemudian..


" Aah..Gimana kalau kita rayakan aja berbarengan. Resepsi pernikahan kita sekaligus resepsi pernikahan Surya dan Kalia yang belum sempat dirayakan dulu. Untuk biayanya, biar akang yang tanggung semuanya." ucap Uwak Damar bersemangat. Ibu Rani hanya melongo mendengarnya, bagaimana mungkin hal itu terjadi? Ibu dan anak mengadakan resepsi bersamaan. Apa kata orang?? Dia pasti akan merasa malu.


*


*


*


*


*


Waah...ide uwak Damar boleh juga ya? Resepsi ibu dan anak digelar dalam waktu bersamaan. Apa gak heboh tuh? wkwkwkwkwk..

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan votenya reader semua. Agar othor makin semangat berkarya. 😊


__ADS_2