My Office Boy

My Office Boy
30. Don't Judge the Book by It's Cover


__ADS_3

Sudah pukul 1 kurang, Kalia sengaja cepat-cepat berpamitan dengan Ira. Sebentar lagi masuk kantor, begitu alasan Kalia. Padahal selain karena hal itu, Kalia tak mau pembicaraan antara Surya dan Ira semakin melebar kemana-mana. Dia tak ingin semua kebohongannya terbongkar.


Surya berpamitan dengan santun kepada Ira. Kemudian pamit menuju kasir terlebih dahulu untuk membayar makan siang yang mereka pesan tadi.


" Memang taste lu soal cowok perlu diacungi jempol deh, Li. Suami lu gagah bener. Usahanya banyak lagi. Lu meskipun teler tapi tetep pilih-pilih ya." Ira bermaksud menggoda Kalia, tapi Kalia tampak kesal.


" Kalian yang bikin gue teler sampai terjebak pada situasi ini. Gak usah ngolok-ngolok gue kayak gitu Udah ah, gue gak mau bahas-bahas lagi masalah yang dulu."


" Eh..Sorry..sorry banget, Li. Maksud gue bukan buat menjelek-jelekkan elu. Justru gue bersyukur lu dapat laki-laki yang baik kayak mas Surya. Semoga kalian bisa langgeng ya. Sekali lagi gue minta maaf kalau omongan gue bikin lu sakit hati." Ira memegang tangan Kalia tak enak hati. Ira merasa bahwa ia telah salah bicara dan malah membuat Kalia emosi.


Surya datang setelah membayar bill makan siangnya. Dan berpamitan sekali lagi kepada Ira. Dilihatnya wajah Kalia seperti menahan tangis.


Didalam mobil, Kalia maupun Surya tak memulai pembicaraan apapun. Kalia merasa tak enak hati telah berbohong tentang usaha Surya kepada Amel dan Ira waktu bertamu ke rumahnya tempo hari. Dan kini kebohongannya terbongkar begitu cepat di depan mata kepalanya sendiri. Kalia merasa tak punya muka di hadapan Surya. Tapi dia juga tak mau mengakui bahwa yang dilakukannya adalah kesalahan. Hanya untuk menjaga harga dirinya, dia rela berbohong apapun. Meski resikonya, bisa saja sakit hati.


Sesampainya di kantor, Surya turun terlebih dahulu sebelum masuk area kantor. Kalia tak terlalu merespon ketika Surya berpamitan dan turun dari mobil. Dia masih merasa malu.


***

__ADS_1


Sesampainya di rumah, keadaan masih sama hening. Kalia bahkan tak banyak meminta tolong kepada Surya. Begitu sampai dan membersihkan diri, Kalia langsung masuk kamar dan mengunci diri. Dia merasa teriritasi dengan ucapan Ira sewaktu di cafe.


Mungkin dari segi perbuatan dan tingkah laku, Kalia merasa beruntung bahwa laki-laki yang tidur dengannya malam itu adalah Surya. Karena lelaki ini begitu bertanggung jawab dan sangat sayang padanya. Fisiknya juga bisa dikatakan menarik. Meski tidak terlalu tampan, tapi Surya memang enak di pandang. Badannya gagah dan sangat manly.


Tapi ketika Kalia ingat bahwa Ira memuji-muji pekerjaan Surya, hatinya ciut. Bagaimana mungkin dia harus mengakui bahwa dia begitu terganggu dengan pekerjaan Surya sebagai OB. Belum lagi agar harga dirinya tetap terjaga, dengan seenaknya Kalia mengarang cerita bahwa Surya juga seorang bussinesman.


Kalia tersenyum getir, yang lebih menyakitkan lagi adalah bahwa kini Kalia mencintai lelaki itu. Dia mencintai OB nya sendiri. Kalia sudah terpikat oleh pesona laki-laki itu. Dia mungkin terlalu naif hingga bisa menyukai Surya. Tapi siapa juga yang tidak akan suka bila setiap hari..setiap menit..setiap detik..setiap saat dalam kesehariannya selalu diperlakukan begitu istimewa oleh Surya.


Ketika Kalia masih tenggelam dalam lamunannya. Terdengar suara pintu kamarnya diketuk oleh Surya. Surya merasa khawatir dengan perubahan sikap Kalia.


" Lia..boleh akang masuk?" Surya menyembulkan kepalanya dari balik pintu dan masuk ke dalam kamar tanpa menunggu ijin dari Kalia. Kalia masih terduduk di atas ranjang sambil berselimut seperut dan memeluk lutut. Dilihatnya Surya, kemudian memalingkan wajah.


Kalia masih dalam posisi yang sama. Dia terdiam.


" Apa ada yang mengganggu pikiran Lia? Ira bilang sesuatu sebelum kita kembali ke kantor?" Surya mencoba menebak dan mengukur situasi.


" Kang, maaf kalau Lia udah bohong soal kerjaan akang sama teman-teman Lia. Lia bingung harus gimana, karena untuk menjaga harga diri Lia, pada akhirnya Lia harus mengarang cerita tentang pekerjaan akang. Bukan Lia bermaksud mengecilkan pekerjaan akang sekarang. Tidak ada pekerjaan yang tidak baik selama itu halal. Hanya saja..Lia merasa malu, akibat perbuatan Lia yang mabuk malam itu, kita semua jadi kena getahnya. Harusnya hidup akang juga masih baik-baik aja kalau hal itu tidak terjadi." air mata mulai mengembang di mata Kalia.

__ADS_1


" Akang bisa kerja dengan tenang, bertemu dengan wanita yang bisa menghargai akang dan gak akan merasa di rendahkan seperti sekarang. Lia minta maaf.." lanjut Kalia dengan air mata yang sudah menganak sungai.


Surya tersenyum dan memandang wajah istrinya lembut kemudian menghapus air matanya.


" Pertama, akang ngerti kok kalau Lia sampai bilang seperti itu kepada teman-teman Lia. Maklum lah..Lia adalah atasan akang. Akang sangat paham dengan hal itu." Surya kembali menghapus air mata yang terus saja meluncur dari kedua mata Kalia.


" Kedua, siapa bilang akang menyesali keadaan akang sekarang? Justru akang merasa sangat bersyukur. Ini teh kayak do'a dan cita-cita akang yang Allah kabulkan melebihi harapan akang. Lia adalah hal yang paling berharga untuk akang saat ini. Mana mungkin akang nyesel? Gak mungkin atuh. Rasanya malahan akang ingin mengucap beribu syukur sama Allah. Padahal akang ini cuma hambanya yang banyaaaak sekali dosa, tapi Allah masih sangat sayang sama akang. Luar biasa ya? Malahan akang jadi malu sama Allah, manusia berdosa gini masih diberi kebahagiaan yang banyak sekali." Kalia kini memandang suaminya lekat. Air mata masih menetes-netes dari sudut matanya.


" Dan yang ketiga, siapa bilang Lia udah bohong sama teman-temannya soal pekerjaan akang? Lia gak bohong apa-apa kok.."


" Maksud akang?" Kalia jadi penasaran dengan ucapan Surya.


" Akang sama Lia gak ada yang bohong, akang memang bekerja di departemen GA. Kalau Ira menafsirkan lain ya terserah Ira aja. Toh kita gak bilang hal yang salah. Dan soal akang punya usaha..hemm..bagaimana yah akang jelasinnya." Surya terdiam lama.


Kalia makin penasaran dengan hal yang akan segera didengarnya.


" Akang memang punya usaha itu. Semua yang akang bilang sama Ira benar adanya. Akang punya usaha di bidang agribisnis. Itu juga yang buat akang ambil kuliah jurusan yang sama. Agar bisnis akang lebih berkembang. Sudah hampir 5 tahun akang menggeluti usaha itu, dibantu sama Bapak juga karena kan akang masih bekerja sebagai OB. Jadinya gak mudah buat bagi waktu."

__ADS_1


Kalia tercenung lama sekali. Mencoba menelaah semua hal yang Surya ucapkan. Bahwa Surya bukanlah seorang OB biasa. Dia punya bisnis yang lumayan banyak dan menjanjikan. Aah..Kalia terpana. Lelaki dihadapannya ini terlalu banyak mempunyai kejutan.


__ADS_2