
Pagi harinya, baik Surya maupun Kalia sudah berada di kantor lagi. Menjalani aktifitas seperti biasa. Surya dengan pekerjaannya sebagai OB, membersihkan setiap ruangan, kamar mandi, menyiapkan minuman untuk semua petinggi dan menyiapkan kebutuhan pantry. Semua dikerjakannya dengan cekatan.
Kalia tak kalah sibuknya, audit dari WHO sudah akan di mulai. Pekerjaannya yang kemarin sempat surut kini mulai memenuhi mejanya lagi. Belum lagi ada beberapa masalah yang urgensinya cukup tinggi karena hasil produksi infus mengalami kegagalan. Entah ada kendala dimana, tapi warna infusannya berubah kuning dan mengalami kebocoran kemasan setelah didiamkan selama dua minggu di warehouse. Jadilah harus mengalami sortir ketat dan dilakukan penelusuran mulai dari bagian produksi paling bawah. Pengecekan bahan baku dan bahan kemas serta proses filling dan mixingnya. Pekerjaan jadi semakin sibuk, Kalia banyak menerima telepon dari bagian lain terkait masalah ini. Komplain berdatangan dari mana-mana. Sebagai pemimpin dibagian QC serta QA tentu saja masalah ini ada di ranah kekuasannya. Belum lagi, produk tersebut adalah produk yang harus segera dikirimkan kepada konsumen karena permintaannya yang sedang tinggi di akhir tahun. Sementara Kalia belum bisa mereleaskannya.
" Iya, pak..saya paham soal itu. Tapi seharusnya memang kualitas air yang dipakai juga musti diperiksa. Purified waternya apa masih berfungsi baik, benar-benar diperiksa secara berkala atau tidak oleh bagiannya, kemudian apa selama ini pernah mengalami kendala yang berarti? itu kan bagian validasi yang berwenang. Bapak selama ini bagaimana? Ada kendala tidak?" terdengar Kalia sedang berbicara via telepon kantor dengan manager validasi.
" Ya sudah..begini saja. Nanti kita lihat saja hasil surveinya bagaimana. Saya juga masih menunggu keterangan dari Pak Lintang terkait proses produksinya. Barangkali ada kendala disana." Kalia terdiam sejenak, mendengarkan lawan bicaranya.
" Iya sih, Pak. Saya juga khawatir kalau sampai owner tahu. Yang habis ya kita. Beliau pasti marah besar sudah mengalami kerugian ratusan juta. Ya sudah, pak. Saya tunggu hasil inspeksi dari bagian Bapak. Nanti kita meetingkan saja dengan manager lain terkait hal ini." Kalia lalu menutup teleponnya dan memijit keningnya yang berdenyut menyakitkan. Pagi-pagi, dia sudah menerima kabar tidak mengenakan. Perutnya sampai terasa tegang karena stres. Kalia lalu mengelus perutnya dan mencoba menenangkan janin yang ada dalam rahimnya
Ketika Kalia hendak keluar dari ruangannya dan menuju toilet, dia melihat Surya sekilas. Sedang berbicara bersama Ratna. Entah apa yang mereka bicarakan. Ratna tampak menjabat tangan Surya dan dibalas senyum manis oleh Surya. Suaminya tidak menolak genggaman tangan Ratna, padahal Surya sudah berjanji untuk menjaga jarak dari perempuan itu. Melihat pemandangan tidak mengenakan tersebut, Kalia semakin kesal. Belum juga masalah pekerjaannya teratasi, dia malah melihat suaminya digoda oleh pengagumnya. Benar-benar pagi yang menyebalkan.
" Ngapain sih si akang, pakai acara jabatan tangan segala? janjinya mau jaga jarak dari si ulet keket. Tapi itu cewek masih nempel-nempel melulu. Mana berani banget lagi, di jalan umum gitu jabat-jabatan tangan, apalagi kalau cuma berduaan. Lebih dari itu kali si Ratna nemplok-nemploknya. Bikin mood anjlok banget sumpah!!" Kalia bersungut-sungut di toilet.
__ADS_1
Setelah selesai menyelesaikan hajatnya, Kalia dengan cepat keluar dari kamar mandi. Ingin mengecek lagi apakah Surya masih ada bersama Ratna. Ketika dia keluar dari toilet, ternyata Ratna masih saja menahan Surya dengan obrolannya yang entah apa. Melihat hal itu, Kalia semakin berang. Dan tanpa pikir panjang langsung menghampiri mereka kemudian berdeham kesal. Surya langsung terperanjat kaget melihat Kalia sudah ada di hadapannya dengan melipat kedua tangan di dada dan tatapannya yang mengancam.
" Ngapain malah ngobrol disini? Kamu gak kerja Ratna? Ngomongin apa kalian sampai gak tahu waktu begitu? Kalian tahu, ini tuh namanya korupsi waktu.." ucap Kalia ketus. Ratna langsung salah tingkah dan cepat-cepat berpamitan.
" I..iya, Bu. Maaf..ini mau kerja lagi." Ratna langsung tergagap dan buru-buru pergi sebelum amarah Kalia meledak lagi. Setelah Ratna pergi, kini tatapan sinis mendarat kepada Surya. Tapi Kalia tak bicara sepatah katapun. Dia hanya mendelik ke arah Surya kemudian kembali ke ruangannya.
Waah...cilaka. Alamat petasan mercon merepet lagi kalau kayak gini mah. Batin Surya sambil melihat Kalia yang berjalan kesal menuju ruangannya. Terlihat Kalia seperti menghentak-hentakkan kakinya dengan marah ketika berjalan.
Dia langsung mengambil handphone nya dan mengetikan pesan kepada Kalia agar Kalia tidak salah paham.
Kalia melihat pesan dari Surya, tapi enggan dia balas. Kalau cuma mengucapkan selamat ulang tahun, kenapa harus lama sekali seperti tadi. Dan tidak perlu di jalan umum seperti itu, tinggal ucapkan di loker atau di pantry. Tak perlu di depan ruangannya. Ratna seperti sengaja melakukannya. Pikir Kalia, dia semakin kesal pada Ratna.
Surya menatap handphone nya dengan nanar. Pesannya hanya dibaca, tapi Kalia tak membalasnya. Dia kemudian beranjak menuju pantry dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena Ratna mengajaknya ngobrol tadi.
__ADS_1
Pekerjaan Kalia semakin memusingkan saja. Apalagi Sri dan Listi yang beberapa hari ini memang lebih sibuk bergosip dari pada menyelesaikan laporan PQR nya. Ada banyak kesalahan disana-sini dan banyak lagi laporan yang belum rampung, hal tersebut semakin membuat Kalia meradang. Tanpa menyuruh Sri masuk ke ruangannya, dia langsung menemui Sri yang sedang berhaha-hihi di kubikelnya.
" Sri, kamu bisa kerja nggak sih?" tanya Kalia dengan nada ketus.
" Iya, Bu. Kenapa, Bu?" Sri langsung tergagap.
" Laporan kamu kenapa begini? Gak layak ini namanya. Kalau cuma bikin laporan dan edit typo nya aja bukan staf QA namanya kamu tuh, sana pindah aja jadi admin yang cuma input data doang. Mana laporan PQR kamu yang bulan-bulan lalu? Itu kan buat bahan audit WHO nanti, belum ada satu pun yang kamu kasih sama saya. Gak usah ngaco kalau kerja." ucap Kalia dengan nada tinggi kemudian menggebrakkan laporan PQR yang setebal kamus di meja Sri.
" Ulangi kerjaan kamu, saya gak mau tahu meski kamu harus lembur seminggu ini. Dan kalau kerjaan kamu masih acak-acakan kayak gini, saya gak segan-segan putus kontrak kerja kamu ya." Kalia lagi-lagi mengucapkannya dengan nada sinis dan kembali ke ruangannya.
Sri yang merasa sakit hati karena dimarahi di depan semua staf langsung mendudukan dirinya dengan kesal di kursinya dan sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menangis. Kalia kali ini benar-benar kehilangan kontrol karena banyaknya tekanan pekerjaan dan juga kekesalannya pada Ratna. Dia jadi menumpah-ruahkan kemarahannya pada staf nya.
Merasa sudah dipermalukan di depan semua orang, menjadikan Sri marah dan sakit hati pada Kalia.
__ADS_1
" Lihat aja nanti, bakal aku bongkar aib nya dia di depan semua orang. Kalau dia gak punya attitude kayak gitu, aku juga bisa." gumam Sri penuh amarah.
" Sok paling bener aja hidupnya, padahal sama aja bau busuk. Cih.." lanjut Sri. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.