
" Sayang..kira-kira jenis kelamin anak kita apa ya?" tanya Surya sambil menyupiri mobil Kalia.
Mereka hendak berangkat kerja hari ini dan Surya tidak memakai motor karena hujan sudah turun dari subuh tadi sehingga Kalia tak membiarkan suaminya berangkat kerja dengan bermotor-motor ria.
" Akang mau nya apa?" tanya Kalia sambil menatap lelaki yang dicintainya.
" Kalau boleh ini mah ya minta sama Allah, akang ingin anak laki-laki." jawab Surya sambil memalingkan pandangannya dari jalanan untuk memandang wajah Kalia sekilas diiringi senyum cerah.
" Kalau ternyata anak kita perempuan gimana? Gak mau memangnya?" tanya Kalia lagi.
Surya terdiam lama.
" Bukan gak mau sih. Anak laki-laki atau perempuan sebenarnya sama saja akan akang sayangi dan didik dengan sebaik-baiknya. Cuma..kalau anak perempuan, akang akan sedikit bersedih." jawab Surya tanpa menoleh kepada Kalia. Tapi terlihat oleh Kalia bahwa raut muka suaminya berubah serius.
" Sedih kenapa? anak perempuan ataupun laki-laki juga sama aja buat aku sih. Aku tetap mengharapkan mereka. Tetap menantikannya. Apa yang buat akang sedih kalau ternyata anak dalam kandunganku ini perempuan?" Kalia sedikit terganggu dengan jawaban Surya.
" Bila anak ini perempuan, berarti nanti ketika dia dewasa dan akan menikah..akang tidak bisa menjadi wali nikahnya." jelas Surya dengan suara tercekat seperti menahan tangis tapi kemudian berdeham agar suaranya kembali normal.
" Karena dia terlahir ketika orang tuanya belum sah sebagai pasangan suami istri di mata Allah. Itu sebabnya akang tidak berhak untuk menjadi wali nikahnya, dan akang akan sangat sedih bila itu terjadi."
Kalia terdiam lama, betapa banyak konsekuensi yang harus dia terima dari hubungan terlarang yang sudah mereka lakukan. Rasa sesal memenuhi dadanya. Sedih tapi juga tak bisa berbuat apa-apa selain memohon ampun kepada Tuhannya. Apalagi Kalia sadar, bahwa mungkin saja dalam darah anaknya mengalir minuman haram yang pernah dia teguk ketika itu. Kalia benar-benar menyesal. Semoga saja anaknya dapat terlahir sehat, normal dan menjadi anak yang baik kelak.
" Akang cuma berharap semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan menjadikan anak yang ada dalam kandungan Lia saat ini menjadi anak yang sehat dan sholeh. Semoga dia tidak mengalami hal yang buruk sepanjang hidupnya."
" Aamiin." jawab Kalia sambil memalingkan pandangannya melihat ke arah jalanan trotoar di sampingnya dan menyeka air matanya yang tiba-tiba meluncur mulus di pipinya.
***
__ADS_1
Usia kandungan Kalia sudah memasuki bulan kelima. Perutnya semakin terlihat membuncit. Terkadang, sekarang Kalia merasakan getaran-getaran aneh di sekitar perut bawahnya, geli.
" Kang..coba deh pegang perut aku, kayak ada yang getar-getar gitu. Tapi kadang juga kayak ada yang menendang halus. Aku suka kaget lho." jelas Kalia sambil mengelus perutnya dengan lembut.
Surya lalu menempelkan telinganya pada perut Kalia. Kalia membelai rambut Surya perlahan.
" Assalamualaikum sayang? lagi apa diperut Ibu? Baik-baik yaa, jangan rewel. Harus sholeh biar Ibu juga sehat-sehat terus." dikecupnya perut Kalia.
" Kang.." panggil Kalia. Surya mendongakkan wajahnya.
" Mau USG 4 dimensi gak? Biar kita tahu anak kita itu anggota tubuhnya sudah lengkap atau belum. Jenis kelaminnya juga bisa tahu dengan jelas."
Surya mengangkat kepalanya dari perut Kalia.
" Boleh kalau Lia mau. Kita pergi lusa aja yah. Jadi bisa minta cuti dulu."
" Apapun jenis kelamin anak kita, kita harus mencintainya sepenuh hati ya. Membesarkannya dengan kompak. Kalau aku kerepotan, akang harus bantu akuu.."
Surya terkekeh.
" Ya iya atuh. Masa gak bantuin Lia. Kan buat si dede utunnya juga bareng-bareng. Masa ngurusnya gak barengan." ucap Surya sambil mencubit hidung Kalia gemas.
" Ya kali aja gitu, akang kebluk nanti. Gak mau bantuin begadang atau gantiin popok. Cuma bisa buat tapi gak bisa ngurus."
" Gak kebalik tuh, bukannya Lia yang kalau tidur udah kayak orang pingsan? dulu waktu awal-awal nikah, akang pernah cium perut Lia waktu lagi tidur. Gak ada bangun Lia nya. Pasti gak kerasa ya? Kalau dibangunin shalat subuh juga meuni susah bangunnya." Surya terkikik. Kalia cemberut.
" Aku kecapean ituuu..cape hati sama akang dan kerjaan juga. Jadi tidurnya pules banget. Perlu merecharge energi buat besoknya biar bisa kesel lagi sama akang." Kalia mengelak.
__ADS_1
" Aah bisaan aja alasannya teh." Surya mencubit pipi istrinya.
" Nanti kalau Lia udah lahiran, biar Lia mah tidur aja. Si dede akang yang jagain. Kalau pipis, biar akang yang ganti popoknya. Kalau nangis mau mimik aja akang bangunin Lia nya, da akang gak bisa kalau kasih mimik mah. Gak ada air susu nya punya akang mah. Kemarau.." Surya tertawa begitu juga Kalia.
" Bener yaa...mau bergadang malam-malam jagain dede bayi."
" Siaaap...gampang itu mah."
Kalia terdiam.
" Kang..gak ada niatan untuk resign jadi OB sekarang-sekarang ini?" tanya Kalia kemudian.
" Selama Lia masih hamil mah kayaknya nggak lah. Akang ingin memastikan bahwa Lia selalu baik-baik aja."
" Tapi aku kasihan liat akang, kerja udah capek banget di kantor. Terus harus kontrol toko dan kebun juga. Makin kurus tuh badannya."
" Gak akan lama lagi lah..4 bulan lagi. Habis itu mah kayaknya akang mau fokus kembangkan bisnis ternak sapi dulu. Gak diurus langsung mah suka gagal." jelas Surya.
" Kenapa gak dari sekarang aja sih? aku bisa jaga diri kok kang. Kayak aku ini anak kecil aja deh sampai harus dijagain segala. Lebih baik akang fokus sama bisnis aja, biar makin berkembang. Nanti kalau bisnis kebanyakan ditinggal dan dipasrahkan sama karyawan, yang ada malah kacau."
Surya berpikir lama. Ucapan Kalia memang ada benarnya juga. Apalagi Surya juga sudah keteteran membagi waktu antara bekerja sebagai OB, mengurus bisnisnya dan juga menjaga Kalia. Tapi Surya juga merasa berat hati untuk meninggalkan pekerjaan yang telah membuatnya meraih semua yang dia dapat hari ini. Jika bukan bekerja sebagai OB, maka Surya tidak akan punya modal untuk memulai bisnisnya. Dan jika Surya tidak bekerja sebagai OB, dia juga tidak akan bertemu dengan Kalia hingga akhirnya bisa menikahi wanita yang dikaguminya itu.
" Emangnya beneran Lia bisa jaga diri kalau nggak ada akang?" tanya Surya kemudian.
" Ya ampun kang, dulu sebelum ada akang juga Lia bisa bekerja sendiri. Berangkat sendiri, pulang juga ya sendirian aja. Gak usah khawatir, Lia bisa jaga diri kok."
" Ya sudah akang akan pikirkan saran dari Lia. Nanti kalau waktunya tepat, akang akan ajuin resign sama Manager. Tapi bener ya..harus bisa jaga diri waktu kerja tuh. Inget...sekarang Lia nggak sendiri. Ada seseorang yang hidup dalam rahim Lia. Anak kita ini.." Surya mengelus dan mengecup perut Kalia lembut.
__ADS_1