My Office Boy

My Office Boy
26. Ada yang Mekar


__ADS_3

Hari Senin, Surya dan Kalia sama - sama mengambil cuti untuk pergi ke dokter kandungan. Hari ini benar - benar ditunggu oleh Surya, pasalnya dia ingin segera mengetahui keadaan bayi yang ada dalam kandungan Kalia.


Pagi - pagi sekali, Surya sudah bersiap. Memakai baju terbaiknya dan menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan oleh Kalia. Membuat sarapan, menyiapkan bekal, menyeduhkan susu, dan memastikan Kalia dalam kondisi mood yang baik agar semua berjalan lancar.


Ketika Surya sedang sibuk memasukkan semua cemilan ke dalam kotak bekal, Kalia menghampirinya.


" Kang, kamu tuh siapin aku bekal makan tiap hari kayak kue-kue basah begini tuh dari mana sih? Dari kapan belinya?" tanya Kalia yang sudah lama penasaran dengan hal itu.


Surya berbalik menghadap Kalia sambil menutup kotak bekalnya.


" Dari selesai shalat subuh di mesjid. Akang pergi dulu ke pasar. Beli kue - kue basah terus pulang untuk bangunkan Lia. Begituu.."


" Kok seniat itu sih? Gak repot?" tanya Kalia ingin tahu.


" Nggak atuh, masa repot? Kan biar si dede bayi nya sehat terus. Kalau dede bayi gak rewel, ibu nya juga gak akan kerepotan." Surya menjelaskan dengan lemah lembut. Kalia tersipu.


" Bagi akang, memastikan Lia dan si utun baik - baik aja tuh adalah prioritas utama. Itu pesan mama Rani dan dokter Ika sama akang. Jadi akang harus selalu jaga amanah. Semoga Lia gak keberatan ya. Kasih tahu akang aja kalau akang mulai berlebihan dan melewati batas. Takutnya akang lancang."


Kalia hanya terdiam, ditatapnya laki-laki itu. Ada rasa bersalah dalam hatinya karena sering memperlakukannya dengan tidak baik. Bahkan terkadang merendahkannya hanya karena dia adalah bawahan Kalia di kantor.


" Lia udah siap belum? Yuk berangkat, kalau terlalu siang nanti kena macet."


Kalia lalu mengikuti Surya menuju mobil. Entah kenapa kini Kalia seperti selalu mengharapkan kehadiran Surya disisinya. Berada bersama Surya membuat dia merasa aman. Surya selalu bisa diandalkan.


***


Mobil Kalia melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit. Selama di perjalanan, entah kenapa Kalia jadi sering curi - curi pandang ke arah Surya. Memperhatikan setiap gerak - gerik laki-laki tersebut. Kemudian tersipu malu. Rupanya sudah ada yang tumbuh dalam hatinya. Ada yang bermekaran tetapi bukan bunga.


Handphone Surya tiba - tiba berbunyi.


Surya menepikan mobil terlebih dahulu kemudian mengangkat teleponnya.


" Assalamualaikum, ya Ratna? Ada apa?"

__ADS_1


" Waalaikumsalam. Aa kenapa gak masuk?"


" Ada perlu, Na."


" Ada perlu apa?" tanya Ratna masih kepo.


" Mau ke rumah sakit.." jawab Surya enteng.


" Hah..naha ke rumah sakit? Aa sakit apa? Kakinya sakit lagi? Aku tengokin atuh ya." Ratna langsung memberondongnya deng banyak pertanyaan.


" Nggak, bukan. Aa gak apa-apa. Sudah dulu ya Ratna, Aa lagi di jalan ini." Surya langsung mematikan panggilan teleponnya.


Kalia yang sedari tadi sudah memperhatikan Surya menjadi penasaran. Meski tidak terlalu jelas, Kalia bisa mendengar samar- samar bahwa yang menelepon Surya adalah seorang wanita.


" Siapa? cewek ya?" tanya Kalia tiba-tiba merasa kesal.


" Iya..Ratna, temen kerja."


" Dia nanyain kenapa akang gak masuk kerja. Dikira karena lutut akang ini, tadinya dia mau nengok. Tapi udah akang bilang gak usah." jelas Surya enteng.


Kalia melipat kedua tangannya di depan dada. Ada yang terasa tak enak dalam hatinya.


" Seperhatian itu ya teman kerja akang. Sampai ditanyain kenapa gak masuk kerja, takut akang sakit dan mau nengokin." Kalia membuang muka dan tertawa sinis.


" Dia mah emang gitu da, suka kepo sama kehidupan akang. Yang waktu itu pinjam hape akang dan baca whatsapp dari Lia juga ya Ratna itu." jelas Surya masih dengan entengnya tanpa menyadari ada yang sudah kebakaran jenggot.


" Ooh..Orang yang gak sopan itu si Ratna? Deket banget ya kalian sampai pinjem-pinjeman hape segala, baca-baca pesan orang lagi."


Surya malah tertawa.


" Iya dia mah emang gitu orangnya. Dinasihatin sama akang teh malah cengengesan aja. Tapi sebenernya sih baik dia tuh, cuma suka berlebihan aja." Surya malah membela Ratna. Selamat deh Surya, petasan mercon bakal merepet lagi.


" Oooh..dia orangnya baik ya? Masa ada orang baik tapi gak tahu sopan santun. Hape itu barang pribadi, gak bisa seenaknya dikasih pinjam sama orang dan membiarkan orang lain tahu isi hape kita. Apalagi tanpa seijin yang punya. Bukan baik orang kayak gitu namanya, tapi gak punya attitude." Kalia langsung nyerocos.

__ADS_1


Surya langsung melongo, sepertinya dia salah bicara hingga membuat Kalia kembali jutek begitu.


" Sudah akang bilangin kok kalau jangan begitu lagi. Gak sopan namanya. Semoga dia bisa ngerti lah. Maklum namanya juga ABG."


" Cih.." Kalia mendelik dan membuang mukanya. Lebih baik memperhatikan jalanan saja dari pada mendengar Surya membela Ratna.


***


Sesampainya di rumah sakit, muka Kalia masih saja ditekuk. Hatinya dongkol mendengar Surya membela wanita lain di depannya. Sedangkan Surya, dia terlalu kurang peka untuk menyadari kalau saat ini Kalia sedang cemburu terhadap Ratna.


" Yuk, Lia..sudah dipanggil masuk." ajak Surya penuh semangat.


Di dalam ruangan, dokter Ika menyambut mereka dengan ramah.


" Selamat datang Ibu Kalia, gimana keadaannya sekarang? Masih sering mual dan muntah?" tanya dokter Ika sambil melihat rekam medis milik Kalia.


" Sudah jauh berkurang sih, dok. Sesekali aja kalau lagi ngerasa lapar banget."


" Bagus ya kalau begitu. Dilanjutkan aja minum vitaminnya. Nanti saya resepkan lagi. Sekarang kita USG dulu ya."


Seperti biasa, suster mengoleskan gel biru pada perut Kalia. Dan seperti biasa juga, Surya akan membuang muka karena merasa canggung.


" Sehat ya bu, baby nya. Sekarang sudah memasuki usia kehamilan 15 minggu. Ukurannya sudah sebesar kacang kedelai. Beratnya juga normal sesuai dengan usianya. Mau dengar suara detak jantungnya?"


Dokter Ika lebih menekankan alat USG tersebut pada perut bagian bawah Kalia, suara detak jantung bayinya mulai terdengar. Ada rasa haru yang menelusup ke dalam hati Kalia. Dia merasa senang sekaligus sedih. Entah kenapa, kini Kalia makin merasa sayang terhadap janin yang sedang tumbuh dalam rahimnya. Apalagi suara detak jantungnya sudah terdengar, begitu kencang dan seirama. Ternyata Surya yang sedari tadi juga memperhatikan penjelasan dokter Ika merasakan hal yang sama dengan Kalia. Matanya berkaca-kaca.


" Nah untuk Pak Surya, ingat yaa..selalu jaga Ibu Kalia. Berikan support penuh. Jangan sampai ibu nya merasa stres sama kehamilannya. Suka bikin kesal ibu gak?"


" Sering dok." jawab Kalia skeptis. Pertanyaan dokter Ika seperti jembatan untuknya karena masih kesal dengan perlakuan Surya. Surya langsung kaget.


" Eeeh, Pak. Jangan sering - sering buat Ibu kesal lho. Nanti bayinya ikut - ikutan merasa kesal dan rewel." dokter Ika menjelaskan sambil tersenyum.


Surya hanya mampu nyengir saja sambil menggaruk- garuk rambutnya tak gatal.

__ADS_1


__ADS_2