
Hampir pukul 9 malam, Surya belum juga pulang ke rumah. Kalia kebingungan. Apakah Surya benar-benar sakit hati karena ucapannya tadi? Bagaimana kalau dia sampai tidak pulang? Ah tak mungkin, ini kan rumahnya. Pikir Kalia.
Lagi pula seharusnya Surya mengerti dengan posisinya, dari awal pernikahan ini terjadi adalah karena kecelakaan. Surya juga tahu betul kalau Kalia sama sekali tak ingin pernikahannya diketahui orang banyak. Bukan hanya karena Surya seorang OB. Tapi banyak hal. Kalau saja Surya tak mendebatnya dan nurut-nurut saja, Kalia pasti tidak akan emosi.
Udara semakin terasa dingin, Kalia menggulung dirinya dengan selimut tebal. Terdengar suara deru motor di parkiran. Sepertinya Surya sudah pulang. Kalia sebetulnya ingin menemui Surya, berbasa-basi atau meminta maaf padanya tapi sikap egois di diri Kalia memang lebih tinggi berkali-kali lipat dari tinggi badannya sendiri.
Males ah mau nemuin dia, entar ngelunjak kalau banyak di baikin. Kalia malah menarik selimutnya menutupi kepala.
Surya terduduk lesu di sofa malas sambil menyalakan televisi. Rumah sudah sepi, sepertinya Kalia sudah tidur. Surya merasa sangat lelah hari ini. Banyak hal yang dilakukannya seharian tadi. Amarah Kalia tadi siang masih terbayang di kepala. Surya bukan tak mau membantu Kalia. Tapi kalau soal berbohong, rasanya hati nuraninya menolak. Surya tak ingin semakin berat menanggung dosa. Bukannya dia sok suci, tapi hanya ingin menjadi manusia yang lebih baik saja.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, perut Surya keroncongan. Dia baru sadar kalau dari tadi siang dia belum sempat makan apa-apa. Kesibukannya benar-benar menyita waktu. Akhirnya Surya melangkahkan kaki ke dapur untuk membuat mie instan. Yang cepat saja pikirnya, biar cepat istirahat juga. Besok harus bangun pagi dan mulai bekerja seperti biasa.
Semangkuk mie instan sudah mengepul di hadapan Surya. Air liurnya hampir saja menetes, ingin segera menyantap mie yang terlihat sangat lezat. Ketika Surya akan memasukkan satu sendok besar mie instan kedalam mulutnya, pintu kamar Kalia terbuka. Mulut Surya masih menganga lebar dan dilihatnya Kalia sedang cemberut di depan pintu.
" Aku gak bisa tidur. Lapar.." ucap Kalia seenaknya.
Surya menutup lagi mulutnya dan menarik nafas dalam. Diletakkan lagi sendok berisi mie kuah yang sangat menggiurkan itu.
" Mau makan apa?" tanyanya lembut.
" Itu.." tunjuk Kalia pada semangkuk mie yang ada di hadapan Surya.
Akhirnya Surya beranjak lagi ke dapur untuk membuat mie instan yang Kalia minta dan terpaksa menahan dulu rasa lapar yang sudah menyiksanya dari tadi.
" Mau pakai sawi, telur rebus, sama irisan cabe rawiit.." teriak Kalia makin mengesalkan.
Selesai membuat mie kuah spesial untuk ibu ratu, Surya kembali duduk di ruang keluarga untuk menyantap mie nya yang sudah mengembang dan lembek.
__ADS_1
Lagi-lagi Surya hanya bisa menarik nafas dalam dan tanpa banyak ina-inu langsung memakan mie instannya sampai habis.
Selesai makan, Kalia dengan entengnya masuk kamar untuk tidur tanpa sepatah katapun. Dia masih marah pada Surya dan berniat menyiksa Surya dengan tingkah menyebalkannya.
***
Hari senin ini, Kalia sangat sibuk. Banyak agenda meeting dengan direksi dan deadline pereleasan obat yang belum rampung dia periksa.
" Lis..bisa ke ruangan saya." ucap Kalia pada Listi salah satu stafnya.
Dengan tergesa, dia memasuki ruangan Kalia. Tidak membiarkan Kalia menunggu lama atau sang atasan akan menyambarnya macam gledek.
" Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"
" Kamu sekarang keruangan produksi SVP di lantai dasar. Tolong berikan berkas batch record ini pada Pak Azzam. Tahu kan?"
" Iya, Bu. Tahu.."
" Iya, Bu. Saya akan sampaikan.."
Listi langsung beranjak pergi setelah menerima satu berkas dokumen yang sangat tebal.
Kalia memijat keningnya yang berdenyut menyakitkan, pekerjaannya masih saja menumpuk. Belum lagi hari ini terasa lebih berat karena Kalia lupa membawa bekalnya. Biasanya bekal dari Surya selalu menjadi amunisi andalan ketika pekerjaannya menumpuk.
Terdengar suara daun pintu ruangannya di ketuk seseorang.
" Masuk.." ucap Kalia.
__ADS_1
Sekretaris Kalia yang bernama Intan masuk ke dalam ruangan dengan membawa sesuatu yang sangat Kalia kenali.
" Bu..ini ada titipan buat Ibu. Tadi ada OB yang anterin, tapi Ibu nya sedang meeting bersama Pak Anton."
" Si..siapa yang antar?" Kalia terkejut.
" OB yang biasa antar minuman ke ruangan itu lho, Bu. Dia bilang ada titipan dari suami Ibu. Iih romantis banget sih suami Ibu ya, pakek kirim-kirim makanan ke kantor segala. Hehehe..saya jadi iri." ucap Intan sambil cengengesan.
" Hush..apa sih kamu nih. Udah jangan kebanyakan ngobrol, Sana balik kerja lagi. Gak usah comel sama yang lain ya kalau saya dianterin makanan sama suami saya."
" Hehehe..iya Bu." ucap Intan kemudian pamit keluar dari ruangan Kalia.
Kalia membuka bingkisannya, tas jinjing berwarna biru muda. Di dalamnya ada kotak makan siang dan termos kecil. Kalia membuka kotak bekalnya. Ada puding mangga, roti coklat, irisan buah pear, bolen pisang, dan dua buah lontong ayam. Entah dari mana Surya mendapatkan bekal-bekal tersebut. Setiap hari menu di kotak bekalnya selalu beragam dan berganti-ganti. Tapi yang tak pernah absen adalah teh jahe hangat andalan Surya. Pucuk di cinta ulam pun tiba, begitu pikir Kalia. Dan tanpa pikir panjang, dia langsung menikmati bekal yang diberikan Surya dengan lahap.
Setelah selesai menikmati cemilan, ternyata ada secarik kertas terselip di bawah kotak bekalnya. Kalia meraih dan membacanya.
Selamat menikmati bekalnya. Semoga Lia selalu sehat. Jangan terlalu cape ya
Kalia terenyuh membaca pesan itu. Dia kembali merasa bersalah pada Surya karena kejadian kemarin. Diraihnya handphone yang tergeletak di meja kerjanya. Kalia mengirim pesan pada Surya.
Makasih bekalnya, kang. Udah aku makan semua, enak. Sisa teh jahe nya aja nih.
Tanda ceklisnya berubah biru. Pertanda bahwa Surya membaca pesan whatsapp tersebut, tapi sampai beberapa menit tidak ada balasan.
Tumben gak dibalas, pikir Kalia. Dia mencoba mengirim pesan lagi.
Sekarang lagi dimana? Nanti pulangnya sama-sama ya.
__ADS_1
Lagi-lagi pesan Kalia terbaca tapi Surya tak membalasnya. Kalia menunggu selama beberapa menit, tetap tak ada balasan tapi whatsapp Surya masih online.
" Kenapa sih nih orang? dibaca doang tapi gak dibalas, emangnya ini koran?? ngelunjak lama-lama." Kalia mulai sewot kemudian melempar handphone nya asal saja di atas meja saking kesalnya.