
" Li, kita minta maaf. Seharusnya kita gak paksa lu buat minum wine itu. Maafin gue, Li.." Amel tergugu.
Ira memeluk Kalia erat, punggungnya berguncang. Dia merasa sangat bersalah tapi tak tahu kata-kata apa yang harus dia ucapkan.
" Apa yang harus kita lakukan untuk menebus itu semua, Kalia?" Ira akhirnya bersuara dengan suara tercekat menahan isak.
" Gak ada..semua udah terlanjur terjadi."
Amel dan Ira makin terisak. Mereka menyesali semuanya.
" Wajar kalau lu pada akhirnya gak mau temenan sama kita lagi, Li. Tapi gue janji, gue akan menebus kesalahan gue sama lu". janji Amel sambil menghapus air mata Kalia.
Kalia semakin mengerutkan badannya dan memeluk lutut. Tampak menyedihkan.
" Laki-laki itu harus tanggung jawab, Li."
Kalia mengangkat kepalanya dan menatap Amel.
" Nggak..gue gak sudi." jawab Kalia skeptis.
" Boleh gue tahu, dimana lu lakuin kejadian itu?" Ira mulai menginterogasi dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
" Kantor.."
Amel dan Ira saling pandang. Heran.
" Berarti, lu tahu dong dengan siapa lu berhubungan kalau memang kalian satu kantor?" tanya Ira lagi makin penasaran.
" Gak tahu, gue gak kenal..dan gue gak mau bahas lagi hal ini. Cukup gue yang tahu dan gue minta kalian jaga rahasia ini. Gue cuma berharap gue gak hamil karena orang ituu..." Lagi-lagi Kalia menangis keras. Hal yang paling ditakutkannya adalah itu. Kalia takut bila dia harus mengandung anak si OB yang asal usulnya saja tidak jelas.
Amel dan Ira bungkam. Bingung, tak tahu harus melakukan apa untuk membuat keadaan Kalia menjadi lebih baik. Mereka hanya membiarkan Kalia menangis sejadi-jadinya agar merasa lega.
" Gue mau pulang.." ucap Kalia dengan hidung yang masih merah dan mata bengkak. Hampir dua jam dia terus menangis.
" Oke..gue anterin ya. Mobil lu biar di kantor aja dulu. Besok gue jemput buat antar lu kerja." tawar Ira.
Ira menghela nafas.
" Ya udah..gue antar lu ke kantor buat ambil mobil." tak mau mendebat Kalia, Ira langsung menggamit tangan Kalia sambil berpamitan pada Amel yang juga bermata bengkak.
***
Pagi harinya, badan Kalia seperti remuk, sakit dan pegal semua. Kepalanya juga pusing. Ingin rasanya Kalia cuti kerja dulu hari ini, tapi tumpukan file di meja nya belum juga surut malah semakin menggunung setiap harinya.
__ADS_1
Dengan terpaksa ia melangkahkan kaki untuk bersiap-siap mandi dan shalat subuh kemudian berangkat bekerja. Dia pikir, kalau selesai mandi semua rasa tidak nyaman di badannya akan hilang dan berganti segar. Tetapi ternyata tidak begitu, selesai mandi dan shalat kepalanya malah semakin pusing, perutnya seperti diaduk, mual. Dengan terhuyung, Kalia menuju toilet di kamarnya dan memuntahkan cairan kuning yang pahit. Tak ada makanan yang keluar. Maklum saja, dari semalam Kalia memang tidak makan apapun. Dia hanya berkutat di kamar nya dan beralasan bahwa dia sudah makan malam bersama teman-temannya.
Setelah hampir sepuluh menit berjibaku dengan perutnya yang tak enak, Kalia menyeka mulutnya dari sisa muntahan. Kemudian dia memandang wajahnya lama. Dan kengerian langsung terbayang disana. Kalia ingat, dia belum datang bulan.
Dengan sedikit tertatih, Kalia menuju nakas. Diambilnya kalender meja yang biasa dia gunakan untuk menandai kalau dia dapat jatah bulanan. Ternyata benar, sudah lebih dari satu bulan dia belum mendapatkan period nya. Kalia memekik, dia membungkam mulutnya. Seperti mendapat sambaran kilat di kepala, dia panik.
Apa aku hamil??? Kenapa belum datang bulan juga?? Padahal udah telat 2 minggu. Kalia mondar-mandir tak jelas. Pusing di kepalanya tak dia hiraukan. Dia menggigit bibir bawahnya.
" Mungkin cuma masuk angin biasa, ya cuma masuk angin. Gak mungkin aku hamil cuma karena satu kali berhubungan badan. Lagi pula, semalem aku gak makan apa-apa. Mungkin karena lelah menangis semalaman, jadinya muntah-muntah. Ah...ya..pasti karena itu." Kalia mencoba menghibur dirinya.
Dengan cepat dia bersiap-siap kerja, dia berpikir dengan menjalani kesibukan bekerja, pasti rasa tak nyamannya ini akan hilang.
Setibanya di kantor, dia langsung menyibukkan diri. Tak mau memikirkan tentang kondisi tubuhnya yang sedang tak enak. Seharian itu, Kalia masih sering mual-mual tapi coba ia tahan hingga pekerjaannya selesai.
Keesokan harinya, Kalia terbangun dengan perasaan mual luar biasa karena mencium bau masakan yang sedang dimasak mamanya. Dengan tangan membekap mulut, Kalia berlari ke toilet dan memuntahkan semua isi perutnya hingga lemas. Keringat mencelati pelipisnya. Sudah dua hari dia mengalami mual-mual di pagi hari seperti ini, ketakutannya semakin menjadi hingga akhirnya dia putuskan untuk membeli alat tes kehamilan sebelum berangkat kerja.
Sesampainya di kantor, pikirannya campur aduk. Dia segera masuk toliet dan mencoba alat tes kehamilan tersebut. Sedetik, dua detik, tiga detik. Dua garis berwarna pink samar-samar muncul di alat tes kehamilan tersebut. Kalia memekik kaget, dengan refleks dia membuang alat tes kehamilan itu ke tempat sampah. Tubuhnya gemetar, dia tak sanggup menerima kenyataan yang kini menimpanya. Seorang Kalia Indrawan, manager muda yang cantik dan berprestasi harus hamil di luar nikah oleh seorang Office Boy!!!.
Bulir-bulir air mulai melesak keluar dari matanya. Kalia sekali lagi hancur. Ketakutan terbesarnya ternyata terjadi. Kini dia bingung harus melakukan apa? Dia malu, dia takut. Bagaimana tanggapan orang-orang nanti kepada dirinya? Bagaimana perasaan ibu nya jika mengetahui ini semua? Bagaimana bila dia harus memiliki anak tanpa seorang suami? Apakah sebaiknya dia menggugurkan bayi ini saja dan menganggap semua ini tidak pernah terjadi?? Tapi haruskah dia menambah dosa dengan membunuh bayinya??Aah..semua pikiran buruk mendominasi otaknya. Rasanya perut Kalia menjadi mual, dan lagi-lagi Kalia muntah hebat hari itu.
Dengan pikirannya yang kacau, Kalia tahu dia tidak akan bisa bekerja dengan benar. Maka dia putuskan untuk ambil cuti setengah hari saja. Dipaksakan pun, tidak akan betul. Sementara kesadarannya entah sedang berada dimana.
__ADS_1
Pukul 12 siang, Kalia pamit pulang duluan kepada staf nya dengan alasan sakit . Semua pekerjaannya dia tahan dulu dan berpesan pada sekretarisnya untuk membatalkan semua agenda pada hari itu. Dengan lunglai dia memasuki mobilnya. Tapi Kalia belum mau pulang, dia belum sanggup menghadapi mama nya dengan tampang kacau seperti itu. Maka dia lajukan mobilnya ke sebuah cafe di daerah Lembang, mencoba untuk mencari solusi dari masalah yang kini tengah dihadapinya.
Flasback Off