My Office Boy

My Office Boy
48. Diam Membisu


__ADS_3

Sudah dua hari Kalia menjalani perawatan di rumah sakit. Kondisinya masih tak terlalu baik. Meski sudah tidak menggunakan ventilator dan telah dipindahkan ke ruang rawat inap.


Selama Kalia di rumah sakit, selama itu pula Surya tak masuk kerja, baik sebagai OB atau mengurusi bisnisnya. Dia terlalu khawatir jika kejadian dua hari lalu ketika Kalia mengalami syok terjadi lagi. Surya benar-benar takut.


Selama dua hari itu, Kalia seperti kehilangan semangat hidupnya. Menolak makan, tak pernah bicara, bahkan memandang Surya pun seperti enggan. Sesekali Surya melihat pundak istri nya berguncang karena menangis, Kalia masih merasakan sesal yang teramat dalam akibat meninggalnya si cantik.


Hingga hari ini, Surya belum berani menceritakan bahwa si cantik sudah diberinya nama Humaira. Dia juga tak mau bertanya kronologi jatuhnya Kalia dari tangga. Surya menganggap hal itu hanya akan menorehkan luka batin Kalia lebih dalam lagi.


Surya ingin membuat psikis istrinya stabil terlebih dahulu. Urusan yang lain, biar nanti saja dibicarakan.


Saat itu sudah pukul 12 siang, Surya meminta ijin pada istrinya untuk shalat dzuhur dulu. Kalia hanya memalingkan wajahnya, tak menjawab, tak ada respon apapun. Surya menghela nafas berat, betapa dia begitu rindu mendengar suara lembut istrinya, atau bahkan serentetan rengekan istrinya bila sedang merajuk.


Selesai shalat, Surya kembali untuk menemaninya istrinya. Kalia masih berbaring menyamping sambil mengatupkan matanya. Ketika Surya mendudukkan dirinya di kursi di samping tempat tidur, Kalia menggumamkan sesuatu dengan suara lemah. Matanya masih tertutup.


" Aku mau pulang ke rumah mama." Surya memandang istrinya, sedikit kaget ketika akhirnya Kalia berbicara padanya.


" Gimana yang?" tanya Surya lagi karena suara Kalia tak jelas terdengar olehnya.


Kalia membuka matanya, memandang ke arah Surya dengan pandangan yang tak bisa Surya artikan.


" Aku mau pulang ke rumah mama. Aku ingin tidur di kamarku." ulang Kalia.


Surya terdiam, sedikit kecewa mendengar perkataan istrinya tapi dia mencoba mengerti, mungkin Kalia ingin memulihkan psikisnya dengan berada dekat Mama Rani. Surya memaksakan diri untuk tersenyum.


" Iya boleh, nanti kalau dokter sudah ijinkan Lia pulang, kita pulang ke rumah mama sampai Lia benar-benar sembuh." jawab Surya sambil mengelus punggung tangan Kalia. Tapi Kalia langsung menariknya, seperti tak ingin ada kontak fisik dengan suaminya.


Kalia memejamkan matanya kembali, tak menghiraukan Surya. Surya menghela nafasnya, merasa bingung dengan sikap Kalia yang berubah dingin dan seperti tak menginginkannya.


Dua hari kemudian, Kalia diijinkan untuk pulang. Kondisi fisiknya memang sudah berangsur pulih tapi tidak dengan psikisnya. Dan perkataan Kalia yang menginginkan untuk pulang ke rumah mamanya adalah perkataan pertama juga terakhir yang keluar dari mulutnya. Karena setelah mengatakan itu, Kalia tak pernah berkata apa-apa lagi. Dia hanya diam, tak bergeming. Pun tak menanggapi semua perkataan Surya hingga membuat Surya frustasi. Sepertinya luka batin Kalia begitu dalam hingga membuatnya kehilangan semangat hidup.

__ADS_1


Surya menghubungi kedua orang tuanya bahwa Kalia sudah diijinkan pulang, dan menginginkan untuk pulang ke rumah mama Rani. Pak Asep dan Bu Ati menyetujuinya, mungkin saat ini rumah mama Rani adalah tempat yang tepat agar Kalia kembali pulih. Selain itu ketika Surya bekerja, mama Rani dapat menjaganya.


Setelah selesai membereskan semua administrasi rumah sakit, Surya mulai membereskan barang-barang Kalia untuk membawanya pulang. Mama Rani sudah datang untuk menjemput anak dan menantunya.


Selama di rumah sakit, memang hanya Surya sendiri yang menjaga Kalia. Selain aturan dari pihak rumah sakit bahwa tidak boleh ada yang menjenguk karena kondisi pandemi, Surya juga tak ingin orang tua dan mertuanya kelelahan karena harus menjaga Kalia. Lagi pula, Surya memang tak tega berjauhan dari Kalia meski hanya sebentar. Dia ingin selalu mendampingi Kalia melalui masa-masa sulitnya.


Pukul dua siang, Kalia sudah boleh pulang. Mama Rani sudah ada di lobby rumah sakit, menunggu Surya dan Kalia turun. Ketika melihat Mama Rani, mata Kalia langsung memerah menahan tangis. Mama Rani sedikit berjongkok untuk memeluk anak semata wayangnya yang kini tengah duduk di kursi roda. Wajah Kalia tampak kuyu, kelopak matanya menghitam seperti kurang istirahat.


" Sabar sayang..ikhlaskan kepergian anakmu." ucap Mama Rani di sela tangisnya, Kalia menangis tersedu seraya membalas pelukan mama Rani dengan sangat erat seperti meminta penguatan. Surya memalingkan wajahnya kemudian menghapus air mata yang menerobos turun melewati pipinya.


Perjalanan selama satu jam menuju rumah Mama Rani berlangsung senyap. Tak ada yang memulai pembicaraan. Semuanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.


***


Sesampainya di rumah Mama Rani, Kalia langsung dipapah oleh Surya menuju kamarnya. Meski awalnya Kalia menolak, tapi tak mungkin juga meminta Mama Rani yang sudah paruh baya untuk membopong Kalia. Akhirnya Kalia menyerah.


" Sakit yang?" tanya Surya sambil mendudukan dirinya di bibir tempat tidur dan mengelus punggung Kalia lembut. Kalia tampak mengatupkan matanya.


" Aku mau tidur." ucap Kalia dengan suara lemah dan mata yang masih terkatup. Kata kedua yang Kalia ucapkan pada Surya tapi malah memintanya untuk pergi.


Lagi-lagi Surya hanya bisa menurut sambil melangkahkan dirinya keluar kamar. Bila mengikuti hati nurani, rasanya Surya ingin merengkuh tubuh rikuh Kalia dan menghujaninya dengan ratusan ciuman penuh kehangatan. Tapi nyatanya, Kalia seperti tak ingin didekatinya.


Hati Surya terasa sesak, hal ini lebih menyakitkan dari pada penolakan yang Kalia lakukan saat mereka awal menikah dulu.


Mama Rani melihat menantunya yang begitu kusut, seperti mengetahui kegundahan hatinya.


" Surya, sini duduk sama mama." ucap Mama Rani sambil menepuk kursi sofa disampingnya. Meminta menantunya untuk duduk di dekatnya.


Surya menududukan diri kemudian menarik nafas berat.

__ADS_1


Mama Rani mengelus punggung menantunya itu. Hal tersebut malah membuat Surya tergugu.


" Yang sabar ya, nak. Mungkin Kalia butuh waktu lebih lama untuk dapat menerima kepergian Humaira. Surya harus mengerti itu."


Surya membenamkan wajahnya dalam telapak tangan. Pundaknya bergetar. Air mata nya bahkan sanggup menerobos melalui celah-celah jarinya dan jatuh ke lantai.


" Surya juga sedih, Ma. Surya amat sangat kehilangan. Apalagi Surya pernah merasa sedikit kecewa ketika tahu bahwa janin yang dikandung Kalia adalah perempuan." Surya mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba meluruhkan air matanya.


" Tapi bukan berarti Surya tidak mencintai anak itu. Surya amat sangat menyayanginya. Dia yang sudah berhasil menautkan hati Surya dan Kalia. Surya hanya merasa sedih, jika sekiranya anak itu hidup dan tumbuh besar kemudian menikah, tapi Surya tak bisa menjadi wali nikahnya. Hati Surya pasti akan hancur dan merasa bersalah pada Humaira. Itu saja..Tapi bukan berarti Surya tak menginginkannya hadir di dunia ini." lanjut Surya lagi.


" Dan ketika kini Humaira sudah tak ada, hati Surya lebih hancur lagi. Bila boleh memilih, Surya lebih baik tidak menjadi wali nikahnya dari pada harus kehilangan Humaira begitu cepat. Hati Surya sakit, Ma..Inginnya baik Surya maupun Kalia bisa saling menguatkan bersama.." Surya kembali tergugu, mama Rani langsung memeluk menantunya yang ternyata menyimpan luka begitu dalam tetapi tak ditampakkannya di hadapan Kalia. Dia sadar, orang tua mana yang bisa semudah itu menerima kehilangan seorang anak. Apalagi anak yang sangat dinantikannya.


" Mama mengerti perasaan Surya. Tapi kita juga tidak bisa memaksa Kalia, apalagi sekarang kondisi psikisnya sedang terguncang. Saran mama, lebih baik Surya memberi Kalia waktu untuk berpikir dan menata hati. Biar mama yang merawat Kalia sementara waktu. Surya bersabar aja dulu, mama akan membujuk Kalia sedikit demi sedikit. Apalagi mama dengar kalau Surya juga punya bisnis yang harus diurus, belum lagi harus masuk kerja kan?" Surya hanya mengangguk lemah.


Memang benar yang dikatakan Mama Rani, ada banyak hal yang harus dia urus. Belum lagi soal mencari tahu siapa yang sudah menyebarkan fotonya dan Kalia. Surya benar-benar ingin segera mencarinya dan menanyakan apa motif dari tindakan murahan yang orang itu lakukan. Karena bisa jadi, salah satu hal yang menyebabkan Kalia mengalami kecelakaan adalah karena terlalu berat memikirkan hal tersebut.


*


*


*


*


*


*


Akankah Surya bisa segera mengetahui siapa yang sudah menyebarkan fotonya dan Kalia? Tunggu kelanjutan ceritanya ya reader. Jangan lupa like, komen, vote dan favoritkan novel ini agar author lebih semangat dalam menulis. Terimakasih sebelumnyaa..😘

__ADS_1


__ADS_2