My Office Boy

My Office Boy
15. Heuras Hulu


__ADS_3

Surya berdiam diri di pos satpam tempatnya bekerja sambil sesekali mengecek handphone nya. Dia ingin menghubungi Kalia untuk pulang sama-sama meski berbeda kendaraan. Setidaknya Surya bisa mengetahui kalau Kalia baik-baik saja selama menyetir mobil. Tapi Surya tahu, dia tidak mempunyai kontak Kalia. Sebenarnya, Surya ingin meminta nomor telepon Kalia dari lama, tapi takut Kalia keberatan. Kini yang bisa Surya lakukan hanyalah menunggu Kalia hingga keluar gedung kemudian pulang bersama-sama.


" Nungguan saha, Sur?" tanya Pak Edi satpam kantornya. ( Nunggu siapa, Sur?)


" Kabogoh, Pak. Hehehe." jawab Surya sambil terkekeh. (Pacar, Pak. Hehehe).


" Boga kabogoh nu gawe didieu kitu?" tanya Pak Edi lagi, penasaran. (Punya pacar yang kerja disini, gitu?)


" Hahaha..henteu, Pak. Bohong. Lagi nunggu orang aja" jawab Surya sambil tertawa.


" Euh, sugan teh. Nya sok atuh..Bapak mah mau patroli dulu." ( Euh, kirain. Ya sudah, Bapak mau patroli dulu ). Ucap Pak Edi sambil berlalu meninggalkan Surya.


Surya mengelilingkan pandangannya, takut kalau Kalia sudah keluar kantor.


Lima belas menit kemudian, tampak Kalia berjalan keluar dari gedung dengan langkah gontai, terlihat sekali bahwa dia kelelahan. Sebelum Kalia memasuki mobilnya, Surya menghampirinya. Kalia langsung celingukan memastikan tidak ada siap-siapa di sekitar mereka.


" Ngapain masih disini sih? gimana kalau ada orang yang lihat?" Kalia langsung sewot.


" Nungguin Lia pulang, biar bisa pulang sama-sama." jelas Surya sedikit kecewa dengan perkataan Kalia.


" Buat apa pulang sama-sama, kan kamu bawa motor sendiri. Kayak gak akan ketemu aja di rumah. Gak usah lebay deh."


Surya menunduk sambil menekuri sepatunya.


" Yah..cuma mau memastikan Lia nyetir mobil dengan selamat sampai rumah. Saya khawatir." ucap Surya lemah.


" Sebelum ada kamu juga saya biasa pulang sendiri. Gak usah dikawal, saya bukan presiden. Udah ah..cepet pulang. Nanti ada yang lihat." Kalia langsung masuk kedalam mobil dan melajukannya dengan cepat.


Surya mengikutinya di belakang.


Kalia kesal dengan sikap Surya yang sudah mulai melewati batas. Dia melajukan mobilnya dengan kencang agar Surya tak dapat mengikutinya. Sebenarnya percuma saja sih, mereka punya tujuan yang sama pasti akan bertemu juga pada akhirnya. Tapi Kalia hanya ingin melepaskan kekesalannya saja pada Surya.


Surya khawatir melihat Kalia ngebut. Sebisa mungkin Surya mengimbangi mobil Kalia untuk memastikan Kalia selamat.


Selama diperjalanan, Kalia terus saja menderu mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Berbelok dengan kencang dan nyaris menyerempet pengendara lain. Si pengendara tampak mengumpati Kalia. Surya makin merasa cemas. Dia tertinggal jauh dari Kalia karena lampu merah. Mobilnya sudah tak terlihat.


Setelah sampai di daerah Ngamprah, motor Surya sudah tak terlihat. Kalia merasa puas, akhirnya dia bisa membuat Surya jauh tertinggal. Sudah mirip balapan saja mereka itu. Tiba-tiba, dari arah berlawanan sebuah motor melaju begitu cepat dan mengambil jatah jalan mobil yang Kalia kendarai. Motor itu bermaksud untuk menyalip truk yang ada didepannya. Tapi malah berhadapan dengan mobil Kalia. Dengan sigap Kalia memutar setirnya kearah kiri untuk menghindari tabrakan dengan motor tersebut hingga menyerempet trotoar dan..


DUAAARR


Ban mobilnya meletus karena melindas sesuatu. Kalia menjerit kaget. Dia masih diam dibalik kemudi karena shock. Butuh waktu beberapa menit untuk Kalia menenangkan diri dan keluar dari mobil.

__ADS_1


Dilihatnya ban mobilnya kempes karena melindas paku besar yang entah kenapa ada disana. Bumper mobilnya juga baret lumayan panjang.


" Kurang ajar banget tuh motor, ngebut seenak jidat aja." Kalia mengumpat. Dia memutarkan pandangannya. Dia kebingungan harus melakukan apa. Hari sudah menjelang magrib. Kalia juga tidak tahu bengkel mana yang masih buka pada jam itu. Mau menghubungi Surya, tapi dia tak punya kontaknya. Lagi pula, gengsi amat harus meminta bantuan lelaki itu. Tadi saja Kalia sudah menolaknya mentah-mentah, masa sekarang ngemis-ngemis minta bantuan. Ogah...!! pikirnya.


Hampir sepuluh menit, Kalia berdiri di samping mobilnya dan kebingungan mau melakukan apa. Tiba-tiba seseorang menghampirinya. Kalia memicingkan mata karena hari sudah mulai gelap.


Dilihatnya Surya sudah ada di depannya dengan wajah panik.


" Lia kenapa? Ini mobilnya kenapa?" Surya mengecek tubuh Kalia, lengannya, kakinya, memastikan bahwa istrinya baik-baik saja.


" Iih..gak usah pegang-pegang. Saya gak apa-apa. Mobilnya yang kenapa-kenapa." ucap Kalia sambil menunjuk ban mobilnya yang kempes.


" Ini kenapa bisa begini?"


" Diserempet motor gila. Ngebut gak kira-kira."


" Ya udah ayo pulang aja sama saya." bujuk Surya.


" Tapi ini mobilnya gimana? Masa ditinggal disini sih?"


" Sebentar.."


Surya lalu menghubungi seseorang lewat handphone nya.


" Sudah..nanti akan ada yg derek mobil ini. Saudara saya punya bengkel disekitar sini. Sudah tutup sebenarnya, tapi karena saya yang minta jadi dia mau kesini untuk ambil mobilnya. Nanti sebelum pulang, kita ke bengkel saudara saya dulu. Kasihkan kunci mobil Lia biar bisa dibetulkan sama saudara saya."


Kalia merasa lega, untung saja masalah mobil ini cepat teratasi. Dia merasa tak enak pada Surya karena menolaknya untuk pulang bersama, kalau saja dia tidak keras kepala pasti hal ini tidak akan terjadi.


***


Sesampainya di rumah, Kalia langsung masuk kamar dan mandi. Begitupun dengan Surya. Selesai mandi, mereka shalat magrib. Kalia di kamarnya dan Surya pergi ke mesjid terdekat.


Ketika Surya pulang dari mesjid, dilihatnya Kalia sedang memijat-mijat keningnya.


" Lia pusing?"


" Hemm.." seperti biasa, selalu mejawab dengan singkat.


" Sudah minum obat sama vitaminnya?"


" Males ah, kayak orang sakit aja minum obat melulu." ketus lagi jawabannya.

__ADS_1


" Mau makan apa?" tanya Surya lagi.


" Gak tau..enek. Gak mau makan."


" Tumben.." jawab Surya polos sambil nyengir.


" Iisshh.." Kalia langsung mendengus mendengar ucapan Surya.


" Mobilnya bisa dipakai gak besok?" tanya Kalia memulai pembicaraan.


" Ya gak bisa atuh. Ban nya aja kempes, bumper mobilnya juga penyok dan baret- baret. Paling cepat juga tiga hari-&an baru beres."


" Terus besok saya berangkat kerjanya gimana?"


" Saya anterin aja."


" Iih..ogah.." ucap Kalia makin ketus.


" Ya sudah kalau gak mau, saya gak akan maksa."


" Gak mau dipaksa juga, gak akan ngaruh tuh." masih jutek.


Surya mengendikan bahunya dan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.


***


Selesai makan malam, Kalia masih saja tampak lemas. Mereka masih duduk-duduk di ruang keluarga sambil menonton acara televisi. Beberapa kali, Kalia seperti menahan mual kemudian menepuk-nepuk dadanya. Sesekali Surya melirik kearah Kalia tapi tak mau banyak komentar. Takut petasan mercon merepet lagi.


Tiba-tiba Kalia berlari ke kamar mandi dan bertahak kemudian memuntahkan makan malam yang dengan susah payah dia telan.


Surya segera berlari membantu Kalia, memijit tengkuknya dan menyibakkan rambut Kalia yang menjuntai. Kemudian membersihkan makan malam Kalia yang berakhir mubazir di lubang toilet. Surya lalu memapah Kalia kembali ke ruang keluarga. Mengelap keringatnya dan memberikan air hangat serta obat pereda mual untuk Kalia.


" Makanya obatnya di minum, biar gak mual-mual terus." Surya menyerahkan obat tersebut ke telapak tangan Kalia.


" Neng mah suka keras kepala atuh da." ucap Surya pelan.


Kalia tak berkomentar apapun. Dia terlalu lemas untuk mendebat Surya.


" Pijitin.." suara Kalia terdengar pelan dan parau. Surya terkejut, takut salah dengar. Kalia kemudian membaringkan dirinya di sofa malas yang terdapat di ruang keluarga tersebut sambil menunjuk pelipisnya, memberi isyarat agar Surya memijitnya di daerah itu.


Dengan hati berdebar-debar, Surya menjulurkan tangannya dan memijat kening Kalia lembut. Tubuhnya seperti tersetrum. Hatinya bahagia bukan kepalang.

__ADS_1


Kalia memejamkan matanya, mencoba menikmati pijatan lembut Surya di keningnya hingga tertidur.


__ADS_2