
Surya masih terduduk di lantai kamar mandi, air mata dan peluh bercampur menjadi satu menampakkan pemandangan yang menyedihkan. Entahlah Surya bingung harus melakukan apa? Semua terasa kabur, otaknya tak bisa berpikir dengan baik.
Hampir setengah jam Surya terduduk di situ, mencoba mengumpulkan kekuatan.
Dengan kepayahan Surya berdiri, mengambil air wudhu dan shalat isya, beserta shalat sunnah ba'diah dan witirnya. Air matanya terus mengalir selama shalat, sekuat apapun dia menahannya ternyata air mata itu tetap saja melesak keluar.
Bu Rani masih ada di kamar Kalia, sepertinya dia takut meninggalkan Kalia seorang diri. Khawatir anaknya itu akan nekat melakukan hal yang membahayakan dirinya. Surya merasa bersyukur akan hal itu, setidaknya Bu Rani bisa menjaga Kalia dengan aman.
Teriakan Kalia meminta cerai terus saja terngiang di telinganya. Rasanya terlalu sakit. Kata-kata itu seperti merobek sulur-sulur dalam hatinya. Apakah setidak berharga itu dirinya di mata Kalia? Apakah semua ini mutlak kesalahannya seperti yang Kalia katakan tadi? Benarkah keberadaannya yang telah membuat Kalia menjadi hancur dan kehilangan semuanya seperti sekarang? Semua pertanyaan itu berputar seperti gasing dalam pikirannya.
Sekitar dua jam kemudian, Bu Rani keluar dari kamar Kalia. Kemudian menemui Surya yang sedang terduduk lemas di depan televisi. Pandangan matanya kosong, dengan genangan air yang masih tersisa di pelupuk mata. Acara musik di TV terlihat semarak, tapi tak dapat sedikitpun mengalihkan perhatian Surya. Dia seperti membeku di tempat.
Bu Rani mengelus pundak menantunya dengan perasaan penuh kesedihan. Dia tahu bahwa Surya sangat mencintai anaknya.
" Kalia sudah tidur.." ucap Ibu Rani. Kemudian duduk di samping menantunya. Surya menghela nafas berat kemudian menundukkan pandangan, melihat ujung kakinya sendiri.
" Maafin Lia ya Surya. Mama tidak mengira bahwa Kalia akan sangat terguncang seperti itu. Surya harus bisa memaklumi Lia." Bu Rani mencoba membuat menantunya mengerti sambil mengelus punggung Surya penuh kasih sayang.
" Apa yang harus Surya lakukan Mah? Surya tidak mau menceraikan Lia." ucap Surya sambil menahan air matanya untuk tumpah.
" Surya sangat menyayangi Lia. Apapun rela Surya berikan agar Lia tetap bersama Surya. Apa boleh Surya tetap mendampingi Lia, Ma?" Surya mengangkat kepalanya kemudian menatap kedua mata Ibu Rani dengan pandangan mengiba.
Bu Rani ikut menangis melihat tatapan Surya yang seperti kehilangan harapan.
" Tentu saja boleh, Surya. Mama sangat percaya bahwa Surya adalah lelaki yang tepat yang dapat menjaga Kalia seumur hidupnya. Jangan pernah lepaskan Lia. Sekarang Lia justru sedang membutuhkan dukungan moril yang sangat besar dari kita semua. Tapi mungkin Lia sedang memerlukan waktu untuk berpikir. Mama yakin semua hal yang Lia katakan tadi hanya karena emosi sesaat." hibur Ibu Rani masih dengan air mata yang berderai.
__ADS_1
" Surya nggak akan pernah menjatuhkan talak pada Lia, Ma. Surya akan bersabar menunggu Lia. Mungkin benar yang mama katakan, Lia saat ini sedang sedih, sedang emosi. Perkataannya akan Surya anggap hanya terpengaruh oleh kondisinya saja." jawab Surya sambil menatap ibu mertuanya dengan tatapan sendu. Bu Rani mengangguk kemudian mengembangkan senyumnya.
" Iya, nak. Alhamdulillah kalau Surya punya pikiran seperti itu. Mama juga tenang karena Surya tidak ikut terbawa emosi. Sabar saja dulu, mama akan bicara pada Kalia perlahan-lahan. Cuma mungkin alangkah baiknya kalau beberapa waktu kedepan, Surya tinggal saja dulu di Lembang. Agar Lia tidak emosi lagi. Nanti kalau segalanya sudah membaik, baru lah Surya bicarakan lagi hal ini dengan Lia. Bagaimana?" pinta Bu Rani hati-hati. Surya terdiam lama.
" Mama tidak bermaksud mengusir Surya. Gak sama sekali seperti itu. Mama hanya ingin Lia berpikir. Ketika Surya tidak ada disampingnya, apa yang Lia rasakan? Biar dia memahami perasaannya sendiri dan tidak terbawa emosi." lanjut Bu Rani lagi. Dia takut menantunya salah menangkap arti dari perkataannya.
Surya akhirnya mengangguk.
" Iya, Ma. Baik. Mulai besok, Surya akan tinggal dulu di rumah Lembang dan memberikan waktu seluas-luasnya untuk Lia berpikir, sepenting apa Surya di hatinya. jawab Surya kemudian meski rasanya hal itu begitu menyakitkan. Tapi tak ada yang bisa dia perbuat, mungkin ini adalah jalan satu-satunya agar dia bisa menyelamatkan bahtera rumah tangganya bersama Kalia.
Malam itu, Surya paksakan untuk beristirahat. Ibu Rani kembali menemani Kalia. Dan Surya tidur di kamar tamu. Hingga lewat tengah malam, Surya belum juga tertidur. Semua hal-hal buruk tentang kelanjutan hubungannya dengan Kalia terus saja menghantuinya.
Tapi Surya ingat ajaran ayahnya, bahwa ada tiga ucapan yang bahkan ketika perkataan itu diucapakan dengan gurauan oleh seorang lelaki, maknanya akan tetap serius di mata Allah. Apalagi bila diucapkan dengan serius. Tiga kata itu adalah nikah, rujuk, dan cerai. Jadi Surya benar-benar akan menjaga lisannya kali ini, karena sekali saja dia mengucapkan kata cerai tersebut walaupun berupa sindiran, maknanya akan tetap sama yaitu jatuh talak. Meskipun ada tiga kali talak baru dinyatakan bercerai secara agama. Tapi sekali pun Surya tak ingin menjatuhkan talaknya pada Kalia. Dia sangat mencintai istrinya, bagaimanapun keadaan Kalia nanti.
***
Pagi harinya, Surya bersiap untuk berangkat kerja sekaligus berpamitan kepada Ibu Rani bahwa dia akan pulang ke rumah Lembang.
Berat sebetulnya menjauhi Kalia dalam kondisinya saat ini, tapi lagi-lagi Ibu Rani menenangkannya.
" Surya tenang aja, Kalia aman bersama Mama. Mama akan menjaga Lia dengan baik dan Mama juga akan selalu menasihati anak mama itu. Setiap saat mama akan mengabari Surya tentang kondisi Lia. Jangan khawatir ya nak.." ucap Ibu Rani sambil memeluk menantunya dengan mata sembab. Surya balas memeluk mertuanya dengan perasaan haru. Dipandangnya pintu kamar Kalia, ingin rasanya dia menghambur kesitu kemudian mencium istrinya dengan sayang.
" Do'akan selalu kami ya Ma. Surya ingin tetap menjadi suami Lia bagaimanapun kondisi Lia nanti. Bagi Surya, Lia itu anugerah yang sudah dititipkan Allah untuk Surya jaga, dan Surya juga harus bertanggung jawab dunia dan akhiratnya." ucap Surya sambil menatap mertuanya. Ibu Rani mengangguk haru.
" Mama tahu dan Mama percaya Surya adalah imam yang tepat untuk Lia. Semoga secepatnya Kalia berubah pikiran dan kalian bisa bersama lagi untuk menjalani rumah tangga yang bahagia. Itu do'a mama yang paling utama saat ini." ucap Ibu Rani seraya membelai pipi menantu kesayangannya dengan lembut.
__ADS_1
" Kerjanya hati-hati, yang konsen. Jangan terus menerus memikirkan Kalia. Kamu harus jaga kesehatan, harus bisa jaga diri. Semoga badai yang sedang kalian hadapi segera berlalu."
" Terimakasih, Ma. Surya pamit dulu, sekali lagi Surya titip Lia ya, Ma." Ibu Rani mengangguk sambil tersenyum. Diraihnya tangan lembut mertuanya itu, kemudian dia cium dengan takzim.
" Assalamualaikum.."
" Waalaikumsalam.." jawab Ibu Rani penuh haru.
*
*
*
*
*
*
Pesan othor dalam chapter kali ini terutama buat para mamak-mamak reader, jangan cepat ngomong minta cerai minta cerai yaaa. Meskipun gak ada kekuatan hukumnya dalam agama, tapi tetap aja harus jaga lisan juga. Tau-tau si suami beneran kebawa emosi terus beneran jatuhin talak, kan berabe yaa?? Setiap rumah tangga itu pasti ada masalah dan godaannya. Makanya jalin komunikasi yang baik yaa.
Semoga reader dan keluarga selalu bahagia, selamat menikmati karya saya ini. Maaf bila masih banyak typo bertebaran dimana-mana. Ditunggu kritik dan sarannya untuk perbaikan othor kedepan.
Dan jangan lupa like, vote dan komennya yaa. Terimakasiiih...♥️
__ADS_1