My Office Boy

My Office Boy
63. Makin Gencar Mengejar


__ADS_3

" Sampai kapan Rani disini?" tanya uwak Damar memulai pembicaraan, karena Ibu Rani sibuk saja melihat acara yang ditayangkan televisi.


" Belum tau, wak. Sampai Lia sehat aja kayaknya." jawab Ibu Rani, hanya memandang uwak Damar sekilas kemudian kembali menonton televisi seperti hal itu lebih menarik dari pada mengobrol dengan laki-laki paruh baya dihadapannya.


" Jangan panggil uwak atuh, panggil kang Damar aja. Kan cuma beda beberapa tahun paling ge kita mah." ucap uwak Damar lagi semakin agresif. Ibu Rani tersenyum malas, ini aki-aki bener-bener banyak tingkah pikirnya.


" Kalau masih lama, akang mau ajak Rani lihat-lihat pemandangan di daerah sini. Sekalian kita belajar memerah susu sapi. Biar nambah pengalaman. Rani mau nggak?" tanya Uwak Damar lagi.


" Saya kan kesini buat jagain Lia. Bukan buat jalan-jalan wak, eh..ehemm kang." ucap Ibu Rani seperti tak ikhlas memanggil uwak Damar dengan sebutan akang.


" Ya..Biar sekalian liburan gitu. Sambil melihat usaha ternak sapi yang mau dibangun Surya juga. Kan katanya Rani mau lihat usahanya Surya itu apa saja kemarin kan ya?" uwak Damar masih membujuk dengan gerilya. Ibu Rani teringat, kemarin memang dia bilang pada Surya dan keluarganya bahwa ingin melihat bisnis anak menantunya tersebut.


" Iya kapan-kapan aja barengan sama Surya, wak, eh kang." Bu Rani masih menolak dengan halus ajakan uwak Damar terhadapnya.


" Ehm..saya permisi ke dapur dulu ya , kang. Mau masak buat Surya. Kasihan baru pulang kerja, pasti lapar." ucap Bu Rani, dia berpikir harus segera pergi dari tempat itu agar uwak Damar tidak terus menerus bergerilya mengajaknya pergi berdua. Ibu Rani pun segera beranjak dari duduknya.


" Mau saya bantuin?" tawar wak Damar sambil berdiri juga.


" Eh, gak usah..gak usah kang. Saya gak biasa dibantuin kalau masak. Suka jadi gak enak kalau dibantuin mah." tolak Bu Rani dengan skeptis mencoba mencari alasan agar uwak Damar tidak mengikutinya ke dapur.


" Oh gitu..ya udah atuh. Saya tunggu disini aja ya. Selamat masak dan masak yang enak. Nanti saya cicipin.." ucap wak Damar makin tak tahu diri. Bu Rani bermaksud tersenyum tetapi malah terlihat seperti ringisan.


Dengan cepat Ibu Rani menuju dapur, hatinya masih dongkol dengan kepedean uwak Damar yang berniat mengajaknya jalan-jalan berdua.

__ADS_1


" Iih..amit-amit aki-aki teh. Kepedean pisan!! gak pulang-pulang lagi dari tadi..Betah banget diam disini. Pengen dipanggil akang segala..hiiii...amit-amiiit..!! Gak inget umur pisan, udah ubanan juga! kalau bukan karena dia itu keluarganya Surya, gak mau banget ramah-ramah sama aki-aki loba gaya kayak dia..!" Ibu Rani terus saja bersungut-sungut sambil memotong sayur dengan kesal, mencoba menyalurkan emosinya yang tertahan terhadap uwak Damar.


" Kenapa, Ma?" tanya Kalia yang tiba-tiba sudah ada dibelakang mamanya.


" Eh, Lia. Mau apa kesini? Hati-hati atuh, kan belum kering banget itu lukanya." ucap Mama Rani ketika melihat Kalia berjalan pelan sambil menghampirinya.


" Mau ambil minum, Ma. Lia haus. Kang Surya nya masih mandi, jadi ambil sendiri aja. Gak apa-apa, Ma..Lia memang harus bergerak biar gak kaku." jelas Lia sambil mendekat kearah dispenser yang terletak tak jauh dari posisi Ibu Rani berdiri.


" Tadi Mama kenapa marah-marah sambil motong sayur gede-gede begitu?" tanya Kalia lagi sambil menunjuk sayur yang sudah terpotong tak beraturan. Ibu Rani memandang hasil karyanya, dan tak sadar bahwa dia sudah mencincang wortel untuk membuat sup jadi tak beraturan bentuknya.


" Astaghfirullah, naha jadi gini?" pekik Ibu Rani sambil meraih wortel-wortel tak berdosa tersebut untuk dirapihkan kembali potongannya.


" Atuh da, itu iih uwaknya Surya. Genit pisan sama Mama. Pake acara ajak Mama jalan berdua segala lagi. Mau nya dipanggil akang juga, gak malu apa sama umur? Rambut udah penuh uban begitu..!" Ibu Rani langsung nyerocos, menumpahkan kekesalannya pada Kalia. Kalia hanya tertawa sambil menjawil pipi mamanya.


" Ciee..mamaaa..langsung punya fans garis keras gitu." Kalia malah menggoda mamanya.


" Berjiwa muda itu namanyaaa.." jawab Kalia lagi sambil cekikikan.


" Lagian kenapa sih, Ma? Gak apa-apa Lia mah, jalan-jalan aja sama uwak Damar. Mumpung lagi disini. Mama kan katanya pengen lihat-lihat tanaman hias juga kan?" Mumpung ada tour guide nya tuh..gratis lagi." ucap Lia yang langsung di pelototi mamanya.


" Kamu tuh ya, malah ngomong gitu. Mama kesini itu tujuannya cuma mau rawat kamu, lihat kamu sehat, lihat kamu bahagia sama Surya. Itu aja mau nya mama. Malah disuruh jalan-jalan sama aki-aki genit. Hoream..!!" ucap Ibu Rani, kemudian mulai memanaskan air untuk memasak.


" Udah minumnya belum? Kalau udah mah kamu mendingan balik ke kamar lagi. Istirahat, jangan kebanyakan jalan-jalan juga. Nanti sakit lagi perutnya. Mama mau masak dulu buat kamu sama Surya. Kasihan Surya pasti lapar habis pulang kerja."

__ADS_1


Kalia tersenyum lebar kemudian memeluk pinggang Ibu Rani.


" Istirahat terus malah bikin pegel mamaku sayang. Mending disini dulu, godain Mama yang lagi marah-marah karena punya pengagum aki-aki energik." ucap Kalia sambil terkikik, Ibu Rani makin cemberut.


" Makasih ya, Ma. Selalu jagain Kalia selama ini. Tapi..Kalia gak keberatan kok, kalau Mama juga memikirkan kebahagiaan Mama sendiri. Semisal ada orang yang sayang sama Mama dengan tulus, Lia gak masalah punya ayah baru, serius deh.." lanjut Kalia kemudian mencium pipi Ibu Rani dengan gemas. Ibu Rani malah semakin kesal dan melepaskan pelukan Kalia di pinggangnya. Kemudian menjitak kening Kalia halus.


" Gak usah ngomong yang macem-macem. Siapa juga yang mau nikah lagi?? Mama udah gak mau ah.. Sudah sepuh begini mah mending ngerawat cucu. Nikmati hari tua dengan berkumpul bersama anak dan cucu Mama. Sekarang mah yang terpenting kamu cepet pulih, cepet sehat, terus kasih Mama cucu yang banyak dan lucu-lucu. Biar masa tua mama gak kesepian kalau banyak cucu mah." jelas IBu Rani sambil neneruskan acara masak memasaknya.


" Iya deh, iyaa. Do'ain Lia sama kang Surya cepet punya anak lagi ya Ma. Kata dokter harus tunggu paling cepat enam bulan lagi sebelum program. Soalnya kan Lia habis operasi." jelas Kalia sambil mengulas senyum.


" Iya gak apa-apa mau satu tahun lagi juga. Yang penting kamu sehat dulu." jawab Ibu Rani lagi. Kalia tersenyum manis kemudian pamit untuk kembali ke kamar menemui Surya. Tapi sebelum keluar dari dapur, dia membalikkan badannya lagi.


" Jadi bener ini teh gak mau jalan-jalan berdua aja sama uwak Damar? Lumayan, Ma. Bisa liburan gratis bareng juragan sapi." Kalia masih saja menggoda mamanya. Yang di goda malah melotot sambil mengangkat tangannya seperti mau memukul Kalia. Kalia jadi tertawa melihatnya, gemas sama ekspresi Ibu Rani yang terlihat emosi kalau membahas tentang uwak Damar. Sepertinya perjuangan uwak Damar tidak akan mudah, hati Ibu Rani masih sekeras karang.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Ayo, wak..cinta mah butuh diperjuangkaaan..!! Pepet terooos jangan kasih kendooor...!! Hehehe.


Selamat menikmati karya saya ya reader. Daaaan, jangan lupa like, komen dan votenya. Biar saya semakin semangat berkarya. Terimakasiiiiih..


__ADS_2