My Office Boy

My Office Boy
31. Masih Dilarang Masuk


__ADS_3

Kalia masih tak bergeming, ditatapnya Surya dalam-dalam. Entah apa yang dirasakannya, tapi yang jelas hati Kalia sedih mendengar pengakuan Surya. Bukan karena tidak senang karena dia tahu bahwa suaminya adalah seseorang yang mapan. Tetapi lebih kepada mengutuki hatinya sendiri karena telah memandang rendah suaminya itu selama mereka menikah. Selalu mempermasalahkan pekerjaannya, dan malu akan hal itu.


Tapi dibalik itu semua, Kalia merasa bangga dengan suaminya. Surya adalah orang yang sangat tekun. Dia bangga dengan pekerjaannya melayani orang lain. Dia juga berusaha agar kehidupannya menjadi lebih baik. Berani jatuh bangun membesarkan usaha yang kini sedang dirintisnya. Bermodal gaji sebagai OB, Surya memulai itu semua.


Dia menggunakannya untuk membuka toko bunga kecil-kecilan, bahkan tak jarang merugi. Usahanya terus dikembangkan dengan membuat budi daya jamur dan anggrek. Belajar otodidak dengan hanya membaca buku dan berulang kali mempraktekannya. Semuanya tidak mudah.


Hingga kini dia berada dititik ini. Mempunyai dua toko tanaman hias, memiliki lebih dari 10 kumbung jamur tiram yang sebagian besarnya di kelola oleh Pak Asep, memiliki perkebunan mawar dan anggrek di beberapa titik di Lembang, dan sedang merintis membuat usaha peternakan sapi perah. Jumlah karyawannya juga sudah lumayan banyak. Tapi baik Surya maupun orang tuanya sama sekali tidak memperlihatkan itu semua. Rumah mereka tetap sederhana, sikap mereka tetap bersahaja. Bagaimana dia dapat membagi wwktunya? Kalia benar-benar kagum dan terharu mendengar cerita Surya melewati 5 tahun hidupnya dengan berbagai rintangan di setiap usahanya.


" Kenapa akang merahasiakan hal ini dari aku?" tanya Kalia merasa dia begitu tak tahu apa-apa tentang suaminya.


" Bukan merahasiakan, tapi karena Lia tidak tanya makanya tidak akang jelaskan secara detail. Lagi pula, awal hubungan kita terjadi karena akang adalah OB nya Lia. Jadi ya biarkan aja seperti itu. Kalau saja akang bukan OB, mungkin kita tidak akan pernah ketemu dan menikah seperti sekarang."


jelas Surya sambil sesekali merapikan anak rambut Kalia.


" Tapi aku ngerasa buruk banget sekarang. Selama ini sering nyakitin hati akang gara-gara pekerjaan akang." Kalia menyeka air matanya.


" Da akang gak ngerasa gimana-gimana. Sakit hati mungkin pernah tapi sedikiiiit sekali. Dan rasa sakit itu lenyap gitu aja kalau akang ingat Lia sekarang sudah jadi istri yang sangat akang sayangi."


Surya tersenyum lembut. Kalia makin tergugu.


" Udah atuh nangisnya, ini mata udah bengkak gitu. Nanti pilek kalau kebanyakan nangis mah." Surya menghapus air mata Kalia yang masih mengalir membasahi pipinya.

__ADS_1


" Kenapa akang masih jadi OB aja? emangnya gampang ya bagi waktu antara mengatur usaha sama kerja di kantor. Kan kerja tuh membutuhkan waktu yang lama. Kapan akang ngurusin bisnis akang?" Kalia menyandarkan kepalanya pada bahu Surya.


" Susaaah sekali. Kadang suka ada yang dikorbankan. Tadinya akang mau mengajukan resign beberapa bulan kemarin. Tapi malah ada kejadian sama Lia." Surya seperti ragu untuk membicarakan masa lalu.


" Tapi kemudian Lia hamil, akang jadi gak mau resign. Akang ingin ada disamping Lia sebanyak waktu yang akang punya. Agar bisa jagain Lia meskipun akang tahu akan banyak menerima penolakan dari Lia. Akang gak peduli, yang penting bisa sama-sama Lia terus. Itu udah cukup. Apalagi dengan kondisi akang yang harus mengurus bisnis juga, semuanya gak mudah. Itu sebabnya akang sering keluar di hari Sabtu dan Minggu. Karena kuliah juga sudah jarang sekali datang, tinggal menunggu sidang saja. Jadilah hari Sabtu dan Minggu itu akang sempatkan untuk mengontrol semua bisnis akang. Dibantu sama bapak dan beberapa orang kepercayaan juga. Yaa...diatur-atur aja pokoknya mah selama 4 bulan ini teh. Begitu sayangku."


Kalia terperangah. Dia terkejut dengan yang disampaikan Surya. Laki-laki di depannya benar-benar di luar dugaan. Kalia memeluk Surya sangat erat, merasa beruntung bisa dicintai begitu tulus oleh seseorang. Kini rasa cinta Kalia pada Surya sudah mengakar semakin kuat. Dia tak mau melepaskan Surya. Bila nanti sudah melahirkanpun, dia ingin Surya tetap disisinya, bersamanya mengasihi anak-anak mereka kelak.


Kini tujuan hidup mereka telah berubah. Bukan lagi perpisahan yang mereka harapkan tapi kebersamaan yang abadi. Di dunia ini dan akhirat kelak.


***


" Akang, malam ini tidur lagi disini ya. Jangan kepisah lagi tidurnyaa.." rengek Kalia sambil memilin-milin baju Surya dan memasang puppy eyes.


" Gak sepi siiih...cuma gak enak aja gak ada yang bisa dipeluk." Kalia tertawa memamerkan giginya yang rapih.


Surya ikut tertawa.


" Ya udah..cini cini peyuuuk..." Surya merentangkan kedua tangannya disambut pelukan hangat oleh Kalia.


Dalam keadaan saling berpelukan, Kalia memandang wajah suaminya lama. Kemudian dia mencoba melepaskan pelukannya sesaat dan mengelus kelopak mata, pipi, menuju bagian atas bibir Surya yang ditumbuhi kumis-kumis pendek, dan bibir Surya kemudian menciumnya lembut.

__ADS_1


Ada yang bergolak di perut Surya, dia tersiksa. Ingin rasa melampiaskan nafsu syahwatnya saat itu juga. Tapi sekuat mungkin dia harus menahannya. Meski Surya bukan orang yang sangat agamis tapi dia tahu bahwa menurut ajaran agamnya, bila seseorang telah melakukan hubungan di luar nikah dan kemudian wanita nya mengandung maka seharusnya wanita itu tidak boleh dinikahi sebelum bayinya lahir.


Kalaupun si pria menikahinya, maka mereka tidak boleh bergaul selayaknya suami istri hingga nanti pihak wanita melahirkan. Dan mereka harus menikah lagi setelah itu, barulah hubungan suami istrinya dinilai halal di mata Allah.


Dan saat-saat seperti ini benar-benar menyiksanya. Bagaimana tidak, wanita yang kini sedang dalam pelukannya begitu memabukkan. Wangi rambutnya saja bisa membuat syahwat Surya berdiri tegak seperti tonggak keadilan. Apalagi sekarang, wangi tubuhnya bisa Surya cium, bibir ranumnya bisa Surya lihat, dan lekuk tubuhnya bisa Surya rengkuh.


Aah..Surya hanya bisa berdoa dalam hati agar dapat melalui masa-masa lima bulan ke depan dengan kuat. Dia tak ingin membuat dosa lagi. Sudah cukup kesalahannya beberapa bulan lalu. Jangan sampai terulang kembali.


" Yang..kok ngelamun sih?" tanya Kalia seraya mengecup pipi Surya. Surya hanya mampu tersenyum tapi malah seperti ringisan.


" Kenapa sih kok tegang gitu?" tanya Kalia lagi.


" Sedang menahan diri dari memakan Lia bulat-bulat." jawab Surya lagi.


Kalia bengong.


" Maksudnya?" Kalia malah semakin menempelkan dirinya, hingga dada empuk nan hangat itu makin terasa dalam pelukan Surya. Apalagi perut Kalia belum begitu besar sehingga belum ada penghalang diantara mereka.


" Duh neng...gak kuat pisan akang mah. Tapi harus bisa menahan diri sampai 5 bulan kedepan. Dan kalau setiap malam posisi Lia nempel begini sama akang sih, Akang takut goyah." Surya nyengir.


Kemudian Surya menjelaskan segala hal tentang keadaan yang tidak boleh mereka lakukan selama Kalia belum melahirkan. Dan hal itu juga ternyata memberatkan Kalia. Bagaimana tidak, Kalia juga haus akan belaian Surya di seluruh tubuhnya. Rasanya kini dia sudah siap mental untuk melakukannya. Menikmati semua kecupan penuh cinta dari bibir Surya dan melakukan sesuatu yang lebih dari itu. Tapi kali ini mereka terpaksa harus menahan diri begitu lama, sementara sikap manly dan suara berat Surya selalu membuat Kalia tergoda.

__ADS_1


Akhirnya Kalia tidur membelakangi Surya dan menyisakan rasa sesak di hati masing-masing. Ya..hal itu sekarang menjadi hukuman terberat bagi mereka berdua karena masih dilarang memasuki daerah intim masing-masing.


__ADS_2