
Selesai jam kerja, Surya langsung membereskan barang-barangnya. Perutnya terasa keroncongan, dia baru ingat bahwa seharian ini dia tak makan apa-apa. Hari ini begitu menguras emosi. Hingga dia lupa dengan perutnya sendiri.
Sebelum pulang, dia arahkan motornya ke sebuah rumah makan padang di daerah cimahi. Sengaja makan di tempat agar lebih terasa enak. Meski sebenarnya, semua masakan terasa hambar di lidahnya sekarang ini. Dia paksakan mulutnya untuk mengunyah dan menelan hanya menjaga stamina tubuhnya saja agar tidak ambruk. Percuma juga bila makanannya dibawa pulang kerumah, rasanya malah akan terasa sedih. Makan sendirian tanpa ada Kalia. Sepi nya pasti makin terasa.
Ya, sore ini Surya memang pulang ke rumahnya di Lembang. Sedangkan Kalia bersama Ibu Rani, mertuanya. Setelah selesai makan, Surya lalu melajukan motornya lagi menuju rumah. Tapi di tengah perjalanan, dia merasa tak ingin pulang. Lebih baik dia pulang ke rumah orang tuanya saja di Cisarua. Orang tuanya perlu tahu bahwa hari ini dia berpisah sementara waktu dengan Kalia.
Sesampainya di pekarangan rumah. Surya langsung di sambut oleh Bu Ati yang keheranan melihat anaknya pulang ke rumahnya setelah usai bekerja. Firasatnya sebagai seorang ibu mengatakan bahwa ada sesuatu yang terjadi antara Surya dan menantunya.
" Kenapa jang? apa ada sesuatu sama Lia?" tanya Bu Ati sambil membawakan segelas teh manis hangat. Karena dilihatnya Surya begitu tampak kelelahan. Dia menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran kursi. Posisi duduknya merosot seperti tak bertenaga.
" Surya pisah dulu sama Lia sementara waktu, Mah. Mungkin memang lebih baik begini dulu." Surya mencoba menjelaskan seringan mungkin agar orang tuanya tidak khawatir.
" Emangnya kenapa harus pisah segala?" Bu Ati merasa kebingungan. Bukannya seorang istri sedang memerlukan kehadiran suami disampingnya ketika sedang dalam keadaan seperti itu?
" Kemarin Lia menangis histeris waktu Surya peluk. Sepertinya dia marah sama Surya. Dulu waktu Surya tahu bahwa anak yang dikandung Lia adalah perempuan, Surya sempat sedih. Bukannya Surya menolak anak itu, tapi hanya merasa bersalah karena kelak jika anak itu besar dan menikah, Surya tidak bisa menjadi wali nikahnya karena nasabnya terputus dari Surya akibat Lia hamil sebelum kita menikah. Surya jadi merasa bersalah pada Humaira, karena kesalahan kedua orang tuanya, pada akhirnya dia harus menerima itu semua. Tapi bukan berarti Surya tidak mencintai Humaira. Surya sangat menyayanginya, Mah. Tapi Lia sepertinya kecewa dan menyalahkan Surya bahwa hal itu mungkin saja jadi alasan Allah mengambilnya kembali dari kami." jelas Surya kemudian tertunduk lesu sambil memijat keningnya.
Bu Ati mengelus punggung anaknya.
" Allah punya rencana yang baik untuk semuanya. Dan setiap makhluk yang bernyawa itu pasti mati. Cuma waktunya aja yang beda-beda. Mungkin Lia sedang emosi, jadi masih merasa tidak terima dengan keadaannya sekarang. Ya sudah, jang. Gak apa-apa. Mungkin seiring berjalannya waktu, Lia bisa lebih ikhlas dan sadar. Asal kamu, sebagai laki-laki jangan cepat menyerah. Terus dukung Lia, doakan agar Lia cepat sembuh." nasihat Bu Ati sambil mengusap kepala anaknya.
***
" Lia..ayo makan dulu, sayang." bujuk Ibu Rani sambil menyimpan nampan berisi makanan di atas nakas di kamar anaknya. Lia hanya meliriknya sekilas, kemudian kembali memejamkan mata.
" Mama udah masak yang enak lho ini, biar Lia cepat sembuh." ucap Bu Rani kemudian duduk di samping anaknya yang masih meringkuk saja.
__ADS_1
" Lia belum lapar, Ma." jawab Kalia parau.
" Terakhir Lia makan tadi siang lho. Sekarang sudah mau maghrib. Masa gak lapar terus. Dimakan ya, sedikiiiit aja." bujuk Ibu Rani lagi.
Kalia membuka matanya kemudian menatap Ibu Rani dengan pandangan sendu.
" Mama gak marah aku minta cerai dari kang Surya?" tanya Kalia kemudian, suaranya terdengar pelan dan tercekat.
Ibu Rani menghela nafas berat.
" Mama gak marah, cuma sedih." jawab Ibu Rani seraya merapikan anak rambut Kalia. Kalia mencoba bangun dan menyandarkan punggungnya pada headboard tempat tidur.
" Lia..hidup kita itu sudah ada yang mengatur, jodoh, pati, bagja, cilaka, Allah yang atur. Bukan kehendak manusia untuk mengatur itu semua. Manusia cuma bisa berencana, yang menentukan ya Allah lagi. Kenapa Lia bisa menikah dengan Surya, karena Allah yang menjodohkan kalian, kenapa bayi Lia meninggal sebelum dilahirkan? karena usianya memang hanya sampai situ, kenapa Lia sampai jatuh dari tangga? itu semua takdir yang Allah tentukan untuk Lia. Semuanya..tidak terkecuali." ucap Ibu Rani bijak. Kalia hanya mendengarkan tanpa membantah.
" Mungkin itu ujian agar Lia selalu ingat pada Allah. Pada Dzat yang sudah menciptakan Lia. Segala sesuatu di dunia ini ada hukum sebab dan akibatnya."
" Berita tentang Lia yang menikah dengan Surya tersebar ke seluruh direksi di kantor. Lia dipermalukan, Lia menjadi gunjingan orang banyak." jelas Kalia, suaranya mulai bergetar.
" Kenapa? Lia malu punya suami seperti Surya? Dia orang yang baik, bertanggung jawab, Lia juga tahu itu kan?"
" Tapi orang-orang gak tahu..!!! Mereka cuma tahu, Surya itu seorang OB, pekerja kasar, berpendidikan rendah. Lalu mereka jadi menggunjingkan Lia. Menyudutkan Lia karena membuat kisruh suasana kantor, Lia karyawan teladan tapi memberi contoh tidak baik, mereka bahkan menyebarkan foto Lia sedang bermesraan dengan Surya. Mereka semua ngetawain Lia. Mengolok-olok Lia. Lia malu, Mah..maluu..huwaaa..." tangis Lia pecah seketika. Ibu Rani terhenyak kemudian mendekap anaknya dengan perasaan sedih.
" Belum lagi, Surya malah menyuruh Lia melepaskan semuanya. Pekerjaan yang udah Lia bangun dengan susah payah. Pekerjaan yang membuat Lia merasa bangga. Mama tahu sekeras apa Lia hingga bisa menduduki posisi Lia sekarang. Semuanya gak mudah.." Lia makin tergugu dalam pelukan ibu nya.
" Apa Lia tahu kenapa Surya minta Lia untuk keluar kerja?" tanya Ibu Rani sambil mengelus rambut Kalia.
__ADS_1
" Dia..dia bilang..dia gak mau Lia terbebani sama gosip-gosip di kantor. Tapi Lia masih ingin kerja, Lia gak mau hanya menjadi ibu rumah tangga. Lia gak mau itu, Ma. Tapi dia nggak ngerti, dia gak tahu sepayah apa Lia untuk dapatkan semuanya hingga sekarang kita berada di titik ini. Dia gak tahu, Mah..Surya gak tahu apa-apa." jawab Kalia lagi, air matanya masih menganak sungai.
" Semua kejadian itu seperti berputar di kepala Lia. Kecewa, marah, sedih, malu..semuanya campur aduk. Sampai Lia jatuh pingsan ketika turun..turun tangga dan..dan huwaaa... Mamaa...Mamaa...Lia harus gimana Ma?? bayi Lia udah gak ada, Mah. Bayi Lia meninggaaal, Lia udah membunuhnyaa.." Ibu Rani mendekap erat anaknya yang menangis sejadi-jadinya. Diciumnya pucuk kepala Kalia berkali-kali. Dia tak mengira bahwa Kalia begitu tertekan dengan semua kejadian yang menimpanya. Kecelakaan itu telah menyisakan trauma yang mendalam di batinnya. Psikisnya terguncang.
" Sudah..sudah, sayang. Tenangkan hati kamu, ikhlaskan semua yang udah terjadi. Jangan terus membebani hati dan pikiran kamu. Bukan salah kamu jika anak kamu meninggal..bukan sayang..kamu bukan pembunuh." Bu Rani tak kuasa menahan air matanya. Akhirnya pasangan ibu dan anak itu terlarut dalam perasaan sedih yang mendalam. Keduanya saling memeluk dan menangis dalam waktu yang lama. Hingga kelelahan. Melupakan sepiring nasi dan lauknya yang kini sudah dingin di nampan.
Masih terdengar isak tangis Kalia di pelukan ibu nya. Sesekali Ibu Rani mengecup pucuk kepala Kalia kemudian membelainya dengan lembut.
" Apa Lia benar-benar mau berpisah dengan Surya? Tekad Lia sudah bulat?" tanya ibu rani sambil menangkup wajah Kalia dan memandangnya.
" Mama merasa, Surya melakukan itu karena dia sangaaat menyayangi kamu. Laki-laki yang mencintai kita dengan tulus, tidak akan pernah membiarkan perempuan yang dicintainya berlarut-larut dalam kesedihan. Surya adalah orang yang bertanggung jawab, Lia. Dia laki-laki baik. Selama kamu sakit, Surya benar-benar lupa sama dirinya sendiri. Dia lupa kalau dia juga punya tubuh yang perlu di rawat, perlu makan, perlu tidur. Dia lupa itu..Semua perhatiannya hanya tercurah sama kamu. Dia menangis sama banyaknya dengan Lia. Dia juga sangat kehilangan bayi kalian. Dia sama sedihnya."
" Mama seperti melihat sosok ayah kamu dalam diri Surya. Mereka berdua adalah laki-laki yang berhati luas. Bahkan ketika kamu meminta dia untuk menceraikan kamu, Surya malah menangis dihadapan Mama. Mengiba pada Mama, meminta ijin agar selalu bisa mencintai dan menjaga kamu. Dia tulus menyayangi Lia. Mama bisa melihatnya dari sorot mata Surya ketika mengatakan itu. Apa kamu rela melepaskan orang yang begitu mencintai kamu? Kamu gak akan menyesal?" tanya Ibu Rani sambil memandang anaknya yang seketika diam membisu. Seperti mencerna semua perkataan yang diucapkan oleh ibunya.
*
*
*
*
*
Maaf bila masih banyak typo bertebaran ya reader. Selamat menikmati karya saya dan semoga suka.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan komen yaa. Terimakasiih..