My Office Boy

My Office Boy
46. Kehilangan


__ADS_3

Setelah Surya menghubungi kedua orang tuanya, dan juga Ibu Rani. Surya baru ingat kalau dia belum shalat dzuhur. Dipaksakan kakinya untuk melangkah menuju mesjid yang ada di rumah sakit tersebut.


Dinginnya air wudhu serasa mengembalikan kesadarannya. Bahwa semua ini telah Allah skenariokan dalam hidupnya. Tak ada yang lebih pantas untuk menjadi tempat mengadu selain sang Pemilik jiwa dan raganya.


Ketika mengangkat tangan untuk takbiratul ikhram, air mata sudah membanjiri pelupuk mata. Pundaknya bergetar, mencoba menahan tangis sekuat tenaga. Pandangannya mengabur oleh air mata yang ternyata tak bisa dibendungnya. Hatinya perih. Benar-benar terasa sakit.


Dia benamkan sujud panjangnya seraya merapalkan doa untuk kesembuhan istri tercintanya. Semua rasa sesak yang terasa menghimpit dada, dia tumpah ruahkan disitu. Sujud yang panjang dan lama. Sujud penuh kepasrahan.


Setelah selesai shalat, Surya kembali untuk menemui istrinya. Wajah Kalia kini sudah bersih, sisa-sisa darah kering sudah tidak ada. Pelipisnya yang robek pun sudah dijahit kemudian di balut kain perban. Dada Kalia turun naik teratur. Sepertinya dia tertidur.


Dikecupnya dahi Kalia dengan lembut. Sebuah kecupan yang dalam dan penuh kasih sayang. Bila harus bertukar posisi, rasanya Surya ingin menggantikan istrinya. Menarik semua rasa sakit itu. Biar dia saja yang merasakannya. Karena ternyata melihat istrinya kesakitan dan tak berdaya seperti itu benar-benar menyayat hati.


Ketika Surya tengah asyik memandangi wajah istrinya yang kelelahan, dia dikejutkan oleh suara perawat yang memanggilnya.


" Pak..dokter obgyn nya mau bertemu." ucap perawat itu. Dengan tergesa, Surya menemui dokter tersebut yang kini sedang menunggunya di ruangannya.


" Dengan Pak Surya?" tanya dokter tersebut sambil tersenyum ramah kemudian menyalami Surya.


Surya hanya mengangguk tanpa bicara.


Dokter obgyn yang ternyata bernama Retno itu menarik nafas kemudian menyandarkan dirinya pada sandaran kursi. Seperti berpikir harus mulai menjelaskan dari mana. Kemudian..


" Pak Surya mohon bersabar dan ikhlas." perkataannya terjeda.

__ADS_1


DEG DEG


Hati Surya berdegup kencang, mencoba menata hatinya untuk mendengar penjelasan dokter Retno selanjutnya.


" Setelah saya lakukan USG terhadap Ibu, ternyata bayi yang ada dalam kandungan Ibu sudah meninggal dunia. Karena terjadi benturan yang cukup keras di area perut sehingga menyebabkan plasenta terlepas dari dinding rahim. Hal ini lah yang menyebabkan terjadinya terminasi kehamilan atau pengakhiran kehamilan sehingga ibu mengalami perdarahan hebat." jelas dokter Retno seraya menatap Surya lekat. Surya langsung lemas di tempat, hatinya terasa sakit mendengar pernyataan yang dikemukakan oleh dokter Retno.


" Secepatnya kita harus lakukan tindakan operasi cesar untuk mengeluarkan bayinya. Karena kalau melalui proses induksi, saya khawatir dengan kondisi fisik Ibu yang masih sangat lemah dan juga mengalami syok pasca kecelakaan. Lebih cepat dilakukan akan lebih baik, Pak." lanjut dokter Retno lagi.


Tak terasa, air mata Surya kembali menganak sungai. Pikirannya tiba-tiba blank. Rasanya semua berubah gelap. Hatinya hancur menerima kenyataan bahwa dia harus kehilangan anak yang sangat dinantikannya. Anaknya dengan Kalia.


Pundak Surya berguncang dan menangis begitu pilu. Selama beberapa menit, dokter Retno membiarkan Surya untuk menangis hingga dirasa puas.


Surya mengatupkan kedua matanya kemudian mengusap wajahnya dengan kasar untuk meluruhkan air mata yang tersisa. Dia menarik nafas sekuat tenaga untuk mengisi penuh paru-parunya. Mencoba menguatkan hati.


Setelah berbicara dengan dokter Retno, Surya ingin kembali menemui Kalia yang terbaring lemah di ruangannya. Langkahnya teras semakin berat dan tertatih. Bahkan Surya harus berkali-kali terdiam dan menyandarkan tubuhnya pada dinding. Sesampainya di depan Kalia, dia menatap istrinya dalam-dalam kemudian mengelus perut Kalia lembut.


" Innalillahi wainnaillaihi roo..ji.uun." bisik Surya dengan air mata yang kembali jebol.


" Allah lebih sayang kamu, cantik. Si utun kesayangan ayah dan ibu. Beristirahatlah dengan tenang, nak. Jemputlah kami nanti di syurganya Allah.." Surya tergugu, memeluk istrinya yang masih tak sadarkan diri.


" Astaghfirullah..Astaghfirullah..Ya Allah..Ya Hadi..Ya Karim..ikhlaskan hati hamba." ucap Surya lirih. Tubuhnya merosot lemah, terduduk di lantai tak berdaya. Hingga tak sadar orang tuanya sudah ada dibelakangnya kemudian merengkuh tubuh Surya yang seperti kehilangan seluruh tulang.


Pak Asep memapah Surya untuk keluar ruangan. Di luar ruangan, Surya langsung memeluk ayahnya dengan erat dan menangis meraung-raung. Merasa seperti menemukan tumpuan untuk menumpah ruahkan tangisnya. Bu Ati mengelus punggung putra semata wayangnya dengan penuh kasih sayang. Mencoba menyalurkan kekuatannya untuk putranya itu.

__ADS_1


" Lia keguguran pak, anak kami meninggal." jelas Surya tanpa melepaskan pelukannya dari pundak ayahnya..


" Istighfar, jang. Istighfar kasep. Allah lebih sayang sama anak kamu. Dia yang memiliki semua kehidupan di muka bumi ini. Jangan seperti ini, ujang harus kuat agar Lia juga kuat menerimanya." ucap Pak Asep menenangkan. Diusapnya air mata yang terus saja meleleh dari sudut mata putranya.


Tak berapa lama, datang Bu Rani mamanya Kalia dengan raut muka yang panik luar biasa. Ketika melihat wajah menantunya yang kuyu dan mata yang bengkak karena terlalu banyak menangis, beliau langsung memeluk Surya. Bertanya apa yang sudah terjadi..


" Surya juga kurang begitu tahu, Ma. Waktu Surya temukan, Lia sudah tertelungkup di bawah tangga di kantor dengan pelipis yang robek dan mengalami perdarahan hebat." Surya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian melanjutkan lagi perkataannya.


" Tadi Surya sudah bertemu dengan dokter kandungan dan beliau bilang kalau..anak kami meninggal di dalam kandungan akibat plasenta yang terlepas dari dinding rahim. Sepertinya Kalia mengalami benturan hebat di perutnya ketika terjatuh dari tangga. Tapi Lia tidak mengalami patah tulang atau semacamnya. Dan dokter menyarankan agar Lia secepatnya di operasi untuk mengeluarkan anak kami dari dalam rahimnya, takut kalau nyawa Lia yang terancam karena perdarahan." jelas Surya lagi.


" Tapi..Lia sampai saat ini belum tahu. Entah bagaimana reaksinya ketika nanti dia tahu kalau si cantik sudah meninggal.." air mata Surya luruh lagi ketika mengatakan hal itu. Masih ada perasaan tak ikhlas dalam hatinya.


Ya..dia hanya manusia biasa, sekuat apapun dia berusaha ikhlas nyatanya tidak semudah itu. Tetap terasa sakit ketika mengingat hal itu kembali.


" Kasihan Lia..Maa.." ucap Surya dengan suara parau. Mama Rani kembali memeluk menantunya kemudian menangis tergugu.


" Tapi Surya lebih khawatir pada keadaan Lia, Surya ingin Lia baik-baik aja. Surya rindu Lia, Ma."


Bu Ati, ibu nya Surya mengelus rambut anak semata wayangnya. Kemudian mengucapkan kalimat yang amat menenangkannya.


" Hasbunaallahu wani'malwakil. Cukuplah Allah yang menjadi sebaik-baik penolong, karena Allah adalah sebaik-baiknya pelindung kita, kasep." ucap Bu Ati bijak seraya mengusap air mata putranya yang begitu sulit terhenti.


Ya, hanya Allah lah sebaik-baik penolong. Yang terbaik menurut kita belum tentu yang terbaik menurut Allah. Sebaliknya yang terburuk menurut kita, bisa jadi adalah hal yang paling baik menurut Allah. Selalu ada hikmah di balik setiap kejadian.

__ADS_1


__ADS_2