My Office Boy

My Office Boy
69. Hidayah itu Dijemput Bukan Ditunggu


__ADS_3

Setelah cuti melahirkan selama 3 bulan, kini fisik Kalia sudah benar-benar pulih. Pagi ini ia sudah bersiap-siap untuk masuk kerja kembali. Kalia memandang wajahnya lekat di depan kaca, ada yang berubah dengan penampilannya. Kini rambutnya sudah tak tampak lagi, dia ingin memperbaiki dirinya. Dia ingin menutup auratnya, ingin menjaga kehormatan suaminya.


Sebuah wajah cantik berbalut hijab abu-abu terpantul di cermin, Kalia memandang dirinya lama. Ada rasa haru yang menelusup di hatinya. Dia sadar, bahwa hidayah itu harus dijemput bukan hanya ditunggu. Kalia ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Karena ketika dia berhijab, semua tingkah lakunya pasti akan lebih terjaga.


Ketika Surya masuk kedalam kamar, dia melihat Kalia dan seketika terpana dengan seraut wajah cantik di depannya. Kalia tampak berbeda, kini dia mengenakan baju tertutup dan hijab menutupi kepala. Meski masih terlihat belum terlalu mahir menggunakannya, tapi kecantikan wajah Kalia semakin terlihat jelas.


Kalia balik tersenyum kepada suaminya.


" Aku pantas gak kang pakai hijab?" tanya Kalia sambil mendekati suaminya yang terpana melihat pemandangan indah di depannya.


" Masha Allah, sayang. Lia cantik banget." ucap Surya sambil menangkup pipi Kalia dengan sebelah tangannya.


" Lia udah memutuskan untuk pakai hijab?" tanya Surya sambil memandang istrinya dengan penuh kasih. Kalia hanya mengangguk sambil tersenyum manis.


" Doain Lia istiqomah ya kang." ucap Kalia sambil mengelus tangan suaminya yang masih saja menangkup pipi nya.


" Iya..akang pasti doakan Lia agar selalu istiqomah dengan perubahan baik ini. Akang bahagia sekali, sayang. Amat sangat bahagia.." ucap Surya, matanya memanas seketika.


" Kok akang nangis?" tanya Kalia ketika melihat air mata melesak keluar dari kedua mata suaminya.


" Akang sangat bersyukur, Allah sudah memberikan kebahagiaan tiada tara untuk akang." ucap Surya penuh haru, air matanya semakin banyak keluar. Membuat Kalia ikut terenyuh melihatnya.


" Aku ingin menjaga kehormatanku sebagai istri akang. Ingin menjadi Kalia yang lebih baik lagi." jawab Kalia kemudian memeluk tubuh suaminya yang masih saja menangis tergugu.


" Terimakasih ya sayang, terimakasih banyak atas semua kebahagiaan yang udah Lia kasih buat akang. InsyaAllah akang akan menjadi imam yang baik untuk keluarga kita. Semoga keluarga kita bisa menjadi keluarga yang selalu diberkahi dan di ridhoi Allah ya." ucap Surya sambil membalas pelukan Kalia.


" Aamiin.." jawab Kalia singkat.


" Kapan Lia beli hijab ini? kok akang gak tahu?" tanya Surya merasa penasaran kapan Kalia membeli semua hijabnya.


" Waktu Lia mempersiapkan semua pernak-pernik untuk resepsi pernikahan kita. Sekalian aja Lia beli beberapa. Belum banyak sih, tapi cukuplah untuk gonta-ganti selama seminggu ini." jelas Kalia sambil tersenyum lebar.


" Nanti kita beli yang banyak ya. Akang akan belikan semuanya untuk Lia." ucap Surya bersemangat. Kalia mengangguk cepat dengan senyum yang tak lekang dari bibirnya.


Pagi itu menjadi pagi yang membahagiakan bagi Surya dan Kalia. Kebahagiaan begitu membuncah di hati masing-masing. Begitupun dengan Bu Rani, ketika dia melihat bahwa Kalia sudah mengenakan hijab, Ibu Rani langsung memeluknya dan menghujaninya dengan banyak do'a agar Kalia istiqomah dan menjadi lebih baik lagi seiring berjalannya waktu.


" Lia berangkat kerja dulu ya, Ma. Doain Lia bisa melewati hari ini dengan baik." ucap Kalia sambil mencium punggung tangan mamanya takzim, dibalas dengan elusan halus di kepala anaknya yang sudah tertutupi hijab.

__ADS_1


***


Selama perjalanan menuju kantor, Surya terus saja mengulas senyum. Hari ini dia sengaja ingin mengantarkan istrinya bekerja.


" Kok senyum terus sih kang?" tanya Kalia merasa heran dengan sikap suaminya.


" Akang bahagia banget hari ini. Lia cantiknya kelewatan." jawab Surya sambil tersenyum lebar.


" Gombal.." jawab Lia singkat sambil mencubit pinggang suaminya. Surya jadi kegelian karenanya.


" Serius, sayang. Lia tuh cantiiiiik banget. Sampai pangling akang tuh. Makin bersyukur punya istri yang cantik dan sholehah kayak Lia." Kalia jadi tersipu malu mendengar ucapan suaminya.


Perjalanan ke kantor terasa lebih cepat, kegamangan yang sempat Kalia rasakan ketika di rumah hilang seketika karena melihat wajah suaminya yang cerah ceria. Dia yakin, hari ini akan berjalan baik.


" Lia masuk dulu ya kang. Nanti jemput jam 5 aja ya." ucap Kalia sambil mencium punggung tangan suaminya.


" Siaap komandaan..!!" ucap Surya sambil tersenyum bahagia.


" Cium dulu dong." pinta Surya sambil memanyunkan bibirnya.


" Iih malu ah, takut ada yang lihat."


CUP


Kalia mengecup bibir Surya dengan cepat.


" Hati-hati dijalan ya kang." ucap Kalia kemudian.


" Sayang juga hati-hati ya kerjanya. Jangan lupa makan siang. Dan jangan lupa bagikan undangan resepsi pernikahan kita untuk semua bagian, termasuk teman-teman akang juga." pinta Surya sambil mengelus pipi istrinya. Kalia mengangguk bersemangat kemudian pamit untuk masuk kantor.


***


Ketika Kalia masuk ke ruangannya, tak disangka ternyata semua staf nya sudah mendekor ruangan QA dengan banner bertuliskan "WELCOME BACK IBU KALIA". Kalia sampai terkejut melihat semua sambutan itu untuknya.


" Ibu..selamat datang kembali." ucap Listi sambil menyerahkan sebuah buket bunga yang cantik untuk Kalia. Kalia menerimanya dengan suka cita.


" Kami turut berduka cita sedalam-dalamnya ya, Bu. Sekaligus kami juga mau meminta maaf atas semua yang sudah kami lakukan. Kami benar-benar merasa bersalah dengan semua yang sudah terjadi." ucap Intan sekretarisnya dengan suara tercekat menahan tangis. Kalia hanya mampu memandang stafnya satu persatu. Sudah tak ada Sri disitu.

__ADS_1


Ada rasa haru yang menelusup kedalam hatinya. Sejujurnya rasa marah dalam hati Kalia sudah luruh sepenuhnya. Dia ikhlas dengan semua kejadian yang telah menimpanya. Dia sadar bahwa semua hal yang terjadi padanya karena ada sebab dan akibat. Dan salah satunya adalah karena sikapnya sebagai atasan yang terlalu arogan dan mementingkan harga diri hingga melukai banyak pihak.


Air mata Kalia meluruh juga, dengan bibir yang masih bergetar dia mencoba mengatakan sesuatu.


" Saya juga minta maaf bila selama ini sudah menjadi atasan yang kurang baik. Sering membebani kalian dengan pekerjaan yang berat dan mungkin membuat sakit hati dengan semua ucapan dan teguran saya yang keterlaluan." ucap Kalia sambil menyeka air matanya.


" Terimakasih juga untuk semua sambutan ini, sejujurnya saya merasa tidak layak mendapatkan ini semua. Sekali lagi terimakasih. Mulai sekarang, kita bekerja lagi dengan baik dan penuh tanggung jawab ya." ucap Kalia kemudian menjabat tangan stafnya satu persatu.


Intan langsung memeluknya sambil menangis tergugu. Dia merasa bersalah karena telah mempercayai semua ucapan Sri serta membantu Sri mengambil foto Kalia dan Surya dulu. Kalia hanya mengangguk haru dan memaafkan semua yang sudah terjadi.


" Terimakasih karena sudah memaafkan saya, Bu. Saya lega sekarang, selama tiga bulan ini saya terus dihinggapi rasa bersalah karena sudah mempercayai ucapan Sri tentang Ibu." ucap Intan masih sesenggukan.


" Gak apa-apa, Intan. Saya juga minta maaf ya." ucap Kalia sambil tersenyum manis kepada sekretarisnya.


" Ibu cantik banget pakai hijab begini. Saya sampai pangling tadi." ucap Listi ketika Intan dan Kalia sudah saling melepaskan pelukan.


" Makasih, Listi. Doain saya istiqomah ya." ucap Kalia dan dibalas ucapan " Aamiin" oleh semua stafnya.


" Oh iya, satu lagi. Saya mau memberikan ini untuk semuanya. Sekaligus mau meminta tolong untuk menyampaikannya pada semua staf dan direksi." pinta Kalia sambil mengeluarkan setumpukan undangan kepada Intan.


" Siapa yang nikah, Bu?" tanya Intan penasaran.


" Saya sama kang Surya. Dulu kami baru menikah di KUA saja dan belum sempat mengadakan acara resepsi karena kondisi pandemi yang masih mengkhawatirkan. Karena sekarang sudah lebih kondusif, jadi saya bermaksud untuk mengundang semuanya. Dan saya berharap agar semuanya dapat hadir di hari bahagia kami sabtu nanti." ucap Kalia sambil menyerahkan undangan pernikahannya pada semua staf yang ada di ruangan itu serta menitipkan beberapa tumpukan undangan lain kepada Intan untuk dibagikan pada semua staf dan direksi PT. Sumber Farma.


" Kok dua pasang Bu yang nikahnya?" tanya Listi setelah membaca undangan tersebut. Kalia membalas dengan senyum lebar.


" Iya..saya dan ibu saya. Kami akan mengadakan resepsi pernikahan secara bersamaan nanti." jawab Kalia sambil tersenyum malu.


Semua staf di ruangan langsung terkejut mendengarnya tapi tak urung tersenyum juga dan memberi ucapan selamat kepada Kalia.


*


*


*


*

__ADS_1


*


Minggu depan kita pesta ya reader di resepsi pernikahan Mama Rani dan Kalia. Jangan sampai nggak hadir, diundang semua kok. Wkwkwkw...


__ADS_2