
Keesokan harinya, Kalia sudah diijinkan pulang. Demamnya sudah reda, lukanya sudah diobati, tinggal masa pemulihan saja di rumah dan memperhatikan kebersihan luka. Minggu depan kembali untuk kontrol.
Dengan telaten Surya menyuapi istrinya. Sebelum mengurusi administrasi, dia ingin memastikan Kalia dalam keadaan kenyang sebelum pulang ke rumah. Selera makannya sudah kembali, meski tidak seekstrim dulu ketika hamil Humaira.
" Aku gak mau telur nya ah..enek aku tuh disuruh makan telur rebus terus sama Mama." Kalia langsung protes.
" Mubazir yang..tinggal sedikit lagi ini. Lagian biar lukanya cepat kering jadi harus banyak makan yang mengandung protein tinggi. Ayo doong..biar cepet sehaat..Pliiiis.." bujuk Surya sambil memasang puppy eyes pada Kalia.
Kalia hanya memutarkan bola matanya kesal.
" Kalau gak karena dibujukin akang, rasanya malas banget makan semua makanan hambar ini. Cepet pulang yuk. Aku gak betah." rengek Kalia lagi.
" Iya..kita pulang sekarang, tapi makan dulu. Habiskan semuanya biar gak mubazir. Sayang lho, biar berkah makananya, biar semua dapat pahala dari makanan ini. Kamu dapat pahala karena berdo'a dan menghabiskan makanan, juru masaknya juga dapat pahala, petani dan peternaknya juga dapat pahala. Semuanya berkaaah.." ucap Surya panjang lebar sambil menyuapkan potongan putih telur ke dalam mulut Kalia.
Kalia hanya cemberut menerimanya, mengunyah dengan ogah kemudian menelannya sambil bergidik.
" Serius mual ini mah kang, udah ya. Sisanya akang yang habisin." Kalia membujuk sambil mencolek-colek lengan Surya. Surya langsung menarik nafas panjang. Susah kalau Kalia sudah begini, Surya pasti kalah atau lebih tepatnya mengalah.
Setelah selesai makan siang, Surya langsung menghubungi perawat untuk membereskan administrasi. Sambil menunggu panggilan untuk mengurusi obat dan lain-lain. Surya membereskan barang-barang Kalia. Beruntung tidak banyak barang yang dibawa, jadi Surya tidak terlalu kerepotan.
Infus Kalia sudah dilepas, sekarang tangannya lebih bebas bergerak. Dia duduk bersila diatas tempat tidur sambil memperhatikan Surya yang cekatan membereskan semuanya. Ketika Surya masih asyik dengan kegiatannya melipat baju-baju untuk dimasukkan kedalam tas. Kedua tangan Kalia langsung menangkup wajah Surya kemudian mengecup bibirnya dengan cepat.
" Siaga banget sih, jadi gemes deh. Makasih yaaa..." ucap Kalia sambil mengerlingkan sebelah matanya genit. Surya hanya tersenyum manis sambil memandang kedua bola mata Kalia yang hitam, sehitam buah badam.
" Sama-sama.." jawab Surya kemudian balas mengecup bibir Kalia lembut. Kalia melepaskan kedua tangannya dan balas tersenyum pada Surya.
" Akang ke bagian administrasi dulu ya. Mau ambil kwitansi dan sekalian ke apotek untuk ambil obat. Jangan macem-macem, duduk manis aja disini. Gak usah turun-turun dari tempat tidur apalagi jalan-jalan ke balkon. Kalau bandel, nanti terima akibatnya. Akang akan gunakan hak prerogatif sebagai suami." ucap Surya sambil tertawa. Kalia hanya nyengir, tahu saja suaminya ini kalau dia mau lihat pemandangan dari balkon.
Ketika Surya sedang turun ke lantai satu untuk membereskan administrasi rumah sakit. Kalia melihat handphone Surya tergeletak di nakas. Sepertinya Surya lupa membawanya. Jiwa kepo Kalia langsung memberontak. Selama ini dia tak pernah melihat isi handphone Surya. Hal ini tidak baik dilakukan sebenarnya, tapi Kalia hanya ingin tahu karakter suaminya dari barang pribadi miliknya.
__ADS_1
Kalia menyalakan handphone Surya, ternyata di kunci. Dulu Surya bilang handphone nya tidak pernah di kunci. Ternyata sekarang sudah mulai di kunci layar. Takut ada orang menyebalkan seperti Ratna yang memeriksa handphone nya lagi barangkali.
Kalia coba memasukkan tanggal lahir Surya, ternyata salah. Kemudian tanggal lahirnya, salah juga. Lalu dia mencoba memasukkan tanggal pernikahan mereka. Dan kunci layar langsung terbuka. Hemm.. ternyata Surya mudah ditebak.
Kalia mulai membuka galeri handphone nya. Tak ada banyak foto. Foto dirinya ataupun foto selfie Surya. Hanya beberapa foto tentang pekerjaan dan bisnisnya. Ternyata Surya bukan laki-laki narsis tukang selfie. Baguslah, Kalia memang tidak terlalu suka dengan laki-laki narsis. Kesannya kurang macho.
Kalia mulai membuka kotak pesan Surya. Banyak whatsapp dari karyawannya menanyakan tentang hal-hal yang Kalia tidak mengerti. Semuanya hanya seputaran pekerjaan. Tapi ada satu nama yang membuatnya tertarik. Arum Dalu..siapa Arum Dalu? Dia membuka pesannya, ternyata itu adalah pesan-pesan yang pernah Kalia kirim untuk Surya. Tapi kenapa Surya menamainya Arum Dalu? Unik..tapi dia tak tahu nama apa itu.
Setelah puas membuka-buka handphone Surya, Kalia menyimpannya lagi di tempat semula. Surya memang bukan lelaki yang neko-neko. Isi handphonenya standar sekali, bahkan bisa dibilang bersih seperti baru dibeli. Tak ada foto, tak ada file-file aneh, apalagi flirting chat dengan perempuan lain. Hanya dengan Kalia. Titik.
Sekembalinya Surya dari bagian administrasi, Kalia langsung bertanya soal nama Arum Dalu itu pada Surya.
" Kang..kalau di handphone akang, nomor kontak aku diberi nama apa?" tanya Kalia mencoba mengetes Surya.
" Arum Dalu.." jawab Surya enteng sambil kembali duduk di kursi di depan tempat tidur Kalia.
" Kenapa Arum Dalu? Ada maknanya emang?" tanya Kalia lagi.
" Hubungannya sama aku apa? emang kalau malam-malam aku makin wangi gitu?" tanya Kalia polos. Surya hanya tersenyum lebar.
" Dulu..mamah Ati selalu memasang bunga itu kalau mau idul fitri atau acara syukuran di rumah. Kayak semacam bunga wajib gitu buat keluarga akang mah. Jadi setiap malam takbir, yang paling akang ingat dari waktu kecil itu ya wangi bunga arum dalu itu. Setiap kali ada acara spesial, wangi bunga itu selalu memenuhi seluruh ruangan rumah dimalam hari. Makanya bunga tersebut kayak memiliki arti spesial aja di hati akang." jelas Surya kemudian mengupaskan jeruk untuk Kalia dan menyuapinya satu persatu.
" Naah..itu alasan kenapa akang menamai nomor kontak Lia dengan nama bunga itu. Soalnya Lia sama spesialnya seperti bunga arum dalu. Bahkan lebih spesial lagi. Ada nya Lia di hidup akang, membuat hari-hari akang terasa spesial. Terasa membahagiakan, wangi, indah, seperti bunga itu. Kamu itu Arum Dalu ku...My night blooming jasmine.." jelas Surya lagi sambil tersenyum manis.
Kalia tersipu malu. Merasa tersanjung sekaligus terharu dengan penjelasan Surya. Laki-laki ini kenapa begitu manis sih? Bisa diabetes kalau begini terus, pikirnya.
" Thank you for loving me sincerely. I love you more, akang." ucap Kalia lembut kemudian mengusap pipi Surya dengan kedua tangannya. Surya balas tersenyum kemudian menyuapkan potongan jeruk terakhir ke mulut Kalia.
" Iih..lagi romantis juga di jejalin makanan terus." Kalia malah protes.
__ADS_1
" Mubazir..hehehe." Kalia hanya mengerucutkan bibirnya sambil mengunyah jeruk yang ada di mulutnya.
" Hari ini pulang kemana?" tanya Surya lagi.
" Kemana akang pulang, aku ikuuut..." ucap Kalia lucu.
" Ke Lembang aja ya, ratu harus kembali ke istana. Nanti kerajaan bisa runtuh kalau ratu nya gak ada." jawab Surya sambil menjawil pipi Kalia.
" Kalau gitu harus hubungi ibu suri dulu, biar gak khawatir. Atau sekalian ajak ibu suri menginap di istana kita..habis belum kesampaian terus, banyak tragedi." Surya tersenyum lebar kemudian menunjukkan jempolnya tanda oke.
Surya langsung menghubungi Ibu Rani dan meminta mertuanya itu untuk menginap di Lembang karena Kalia sudah mau dibawa pulang. Bu Rani sangat bersyukur mendengarnya.
Selesai semua administrasi. Kalia segera dibawa pulang oleh Surya dengan sebelumnya menjemput Ibu Rani dulu ke rumahnya. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar satu setengah jam, dan semuanya sudah ada di depan rumah Surya di Lembang.
" Lia, kita ke makam Humaira dulu ya. Kita jenguk Humaira, dia pasti senang melihat ayah dan ibunya datang." ucap Surya sambil memapah Kalia keluar dari mobil. Kalia mengangguk. Hatinya sedikit nyeri, tapi segera ia tepis.
Disebuah pusara mungil yang dekat dengan rumah Surya. Kalia menjongkokkan dirinya kemudian memegang batu nisan makam Humaira. Dirapalkannya do'a - do'a yang dia tahu, kemudian mengusap batu nisan itu dengan perasaan sedih.
" Maafkan ibu ya nak, karena tidak menjagamu dengan baik. Ibu dan ayah sayang banget sama Humaira, tapi Allah lebih sayang kamu. Tenanglah disana. Sampai jumpa di syurganya Allah kelak ya." ucap Kalia dengan air mata yang meluruh tanpa dia sadari. Bu Rani memegang bahu Kalia, memberikan kekuatan pada anaknya.
*
*
*
*
*
__ADS_1
Chapter nya yang ringan-ringan aja dulu ya reader. Kasihan Kalia nya masih sakit.
Semoga terhibur dengan karya pertama saya ini. Jangan lupa like, vote dan komennya. Tirimikiciih..