My Office Boy

My Office Boy
33. Perempuan


__ADS_3

Hari ini Surya dan Kalia memutuskan untuk melakukan USG 4 dimensi di rumah sakit yang berbeda dengan biasa mereka check up setiap bulannya. Kebetulan di rumah sakit tempat dokter Ika praktek belum memiliki USG 4D.


Sesampainya di rumah sakit, Surya langsung menuju tempat pendaftaran dan mendaftarkan istrinya pada salah satu dokter kandungan perempuan.


Sambil menunggu, Kalia dianjurkan untuk minum banyak air hingga rasanya ingin buang air kecil, tapi sebisa mungkin harus ditahan agar hasil USG 4D nya lebih jelas dan detail.


Setelah menunggu cukup lama, nama Kalia akhirnya dipanggil juga. Mereka berdua memasuki ruangan dokter Lies yang didominasi warna putih tulang. Dokter Lies sangat berbeda dengan dokter Ika yang lemah lembut. Dia jauh lebih tua dan cara bicaranya lebih frontal, tidak bertele-tele.


" Oke, Bu. Usia kandungannya sudah 21 minggu ya. Kita bisa lakukan USG 4D nya sekarang. Silahkan bu, naik ke tempat tidur. Sus tolong bantu." ucap dokter Lies kemudian memberi isyarat agar suster membantu Kalia untuk naik ke tempat tidur dan mengoleskan gel biru yang dingin seperti biasa.


Ditekannya perut bawah Kalia dengan alat tersebut hingga tergambarlah sesosok bayi mungil di layar. Dokter Lies mulai menerangkan setiap bagian organnya. Jari tangannya sudah terbentuk dan komplit. Begitu juga jari kakinya. Ada rasa haru menelusup ke dalam hati Kalia ketika didengarkannya lagi degup jantung anak yang ada dalam kandungannya.


" Nah sekarang ibu mau tahu jenis kelaminnya?" tanya dokter Lies kemudian.


Dokter Lies mencari posisi yang tepat untuk dapat melihat dengan jelas anak dalam kandungan Kalia dengan terus menerus menggerakkan alat USG tersebut. Membuat Kalia semakin ingin kencing.


" Selamat anaknya perempuan, Pak, Bu. Kalau dilihat lewat monitor tidak ada pen*s yang terbentuk." ucap dokter Lies pendek.


Surya dan Kalia terdiam. Apalagi Surya, wajahnya langsung berubah sendu.

__ADS_1


" Semuanya sehat ya..bagus. Banyak makan makanan yang mengandung protein, Bu. Lebih bagus makan ikan, biar anaknya pinter. Kalau hubungan suami isterinya rutin gak?" tanya dokter Lies kemudian tanpa tedeng aling-aling. Wajah Kalia dan Surya berubah merah.


" Nggak dok.." jawab Kalia pelan.


" Kalau awal kehamilan mungkin takut kenapa-kenapa ya? kalau sekarang, gak apa-apa mulai sering juga. Usia kandungan udah masuk trimester 2. Apalagi nanti trimester 3, lebih sering lebih baik. Buat memperlancar jalan lahir dan induksi alami terbaik. Asal jangan pakai gaya yang aneh-aneh aja." jelas dokter Lies tanpa merasa sungkan, bahkan tanpa tersenyum.


Surya menunduk, Kalia mengatupkan dan mengeratkan kedua bibirnya merasa malu mendengar perkataan dokter Lies.


" Ini saya resepkan vitamin dan penambah darah. Diminum rutin satu kali setiap hari." lanjut dokter lagi dan menyerahkan salinan resep pada Surya.


***


Sesampainya di rumah waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Mereka shalat maghrib terlebih dahulu, Kalia di rumah dan Surya di mesjid. Setibanya di rumah, tidak ada yang memulai pembicaraan. Wajah Surya juga terlihat sendu terus menerus. Dia merasa sedih ketika mengetahui bahwa anaknya adalah seorang perempuan. Membayangkan bagaimana nanti ketika anak itu dewasa dan akan menikah, maka Surya tak bisa menjadi wali untuknya, dan bahwa anak itu pada akhirnya harus tahu bahwa dia dilahirkan di luar pernikahan. Anak itu pasti akan merasa sangat sedih. Aah..membayangkan hal tersebut sekarang saja sudah membuat hati Surya perih. Apalagi nanti ketika benar-benar terjadi.


" Yang mau makan malam dulu?" ajak Surya sambil mendatangi Kalia ke dalam kamar.


Kalia mengangguk dan menuju ruang makan kemudian duduk dengan lemas.


" Mau makan sama apa?" tanya Surya lagi sambil mengambil aneka makanan yang mereka beli sebelum pulang untuk diletakkan di atas meja makan.

__ADS_1


" Sama ikan balado aja. Kan kata dokter harus banyak makan ikan biar dede bayi pinter." Kalia memaksakan tersenyum.


Surya lalu mengambilkan sepiring nasi dan ikan balado untuk Kalia.


Dipandangnya Surya yang sedang cekatan melayaninya. Hati Kalia berdenyut sakit. Dia merasakan bahwa Surya sedang bersedih kali ini. Pasti karena hasil USG tadi.


" Kang..jangan sedih terus dong. Gak apa-apa kalau anak kita perempuan. Nanti kalau dia sudah besar, kita jelaskan saja baik-baik. Kalau Ayah dan Ibunya juga manusia biasa yang pernah melakukan kesalahan. Asal kita tunjukkan saja padanya, kalau kita sudah berubah. Kita harus mendidiknya dengan baik agar dia bisa merasakan perubahan kita." jelas Kalia sambil mendekati Surya dan memeluknya dari belakang ketika Surya masih sibuk menyiapkan makan untuk Kalia.


Surya terdiam, dia melepaskan pelukan Kalia dan berbalik menghadapnya kemudian tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Sedari tadi ternyata Surya menahan tangis.


" Iya sayang..kita harus berubah demi anak-anak kita. Jangan biarkan mereka melakukan kesalahan yang sama karena ternyata hukumannya begitu berat. Bukan hanya di akhirat, tapi di dunia juga sudah terasa. Akang benar-benar menyesal pada anak ini." ucap Surya, diciumnya perut Kalia.


" Nak. sayang. Tumbuhlah yang baik, yang sehat. Ayah dan Ibu minta maaf. Kami sangat menyayangi kamu bahkan ketika kamu belum terlahir ke dunia ini. Maafkan kami ya nak..maafkan Ayah." ucap Surya dengan suara serak menahan tangis, tapi tak ayal air matanya meluncur juga, sulit terbendung.


Melihat pundak Surya berguncang, hati Kalia terasa sakit. Dielusnya punggung Surya yang masih berjongkok dan menciumi perutnya.


" Udah kang. Jangan nangis gitu. Kita tanggung hal ini sama-sama. Kita cintai aja anak ini sebaik mungkin. Allah Maha baik, aku yakin itu dan akang juga jelas tahu hal tersebut. Nanti kita shalat taubat sama-sama ya. Biar hati dan pikiran kita kembali jernih, anggap saja ini hukuman yang harus kita terima. Aku ikhlas kang, akang juga harus ikhlas ya." ucap Kalia juga ikut tergugu.


Tak ada yang dapat mereka lakukan saat ini. Kecuali saling menguatkan dan memperbaiki diri. Selesai makan malam yang sepi tanpa percakapan apapun, mereka segera melaksanakan shalat isya berjamaah dan dua rakaat shalat taubat. Kedua nya menangis sejadinya diatas sajadah, hingga tempat sujud mereka basah oleh air mata.

__ADS_1


Mereka menumpahkan semua isi hati yang selama ini begitu berat mereka pikul, memohon ampun pada Sang Khalik. Merasa menyesal atas apa yang sudah mereka lakukan dan berjanji untuk menjadi hamba Nya yang lebih baik lagi. Mereka tahu, Tuhannya Maha Pemaaf. Semoga dengan melakukan shalat taubat dan lebih mendekatkan diri pada Allah, maka dosa besar yang telah mereka lakukan dapat diampuni. Mereka ikhlas bila harus menerima hukuman apapun.


__ADS_2