
" Lia, kayaknya mama mau pulang deh besok. Lia juga udah sembuh kan sekarang, mama jauh lebih tenang buat ninggalinnya juga. Itu kasihan, rumah udah kosong hampir satu minggu lebih, pasti jadi banyak debu sekarang. Tanaman mama juga di rumah gak ada yang rawat." ucap Ibu Rani, ketika pagi hari mereka sedang duduk santai di teras rumah.
" Beneran mama mau pulang aja? Gak akan tinggal disini aja gitu bertiga sama Lia dan kang Surya?" tanya Kalia mencoba membujuk Ibunya agar mau tinggal bersamanya.
" Nggak lah, rumah mama gimana? masa dibiarin kosong gitu aja. Kalau rumah nggak ditempatin itu suka gampang rusak." jelas ibu Rani.
" Lia tuh suka sedih kalau mama tinggal sendiri di rumah. Kalau mama sakit gimana? mau minta tolong sama siapa? sedangkan Lia jauh disini, mau pulang pasti makan waktu dulu." ucap Lia sedih.
" Ya jangan didoain mama nya sakit atuh, gimana kamu teh."
"Bukan didoáin sakit, Ma. Tapi kan setiap orang tuh pasti ada sakitnya. Lia sekarang khawatir ah kalau Mama tinggal sendiri. Lia gak tenang disini, kepikiran terus."
" Ya terus, mau gimana lagi? Da kamu udah punya suami sekarang mah. Harus ikut sama suami kemanapun juga. Istilahnya kalau suami ajak kamu ke lubang semut, kamu juga harus ikut." jelas Ibu Rani sambil memandang Kalia intens dan menepuk punggung tangan anaknya.
" Mama nikah aja lagi ya, sama wak Damar tuh. Biar Mama gak sendirian, ada yang jaga, ada yang sayang." Kalia mencoba membujuk mamanya.
" Kamu nih kenapa sih malah comblangin mama sama uwaknya Surya? Mama gak mau, Li. Mama masih sayang sama almarhum ayah kamu. Buat Mama, almarhum ayah itu tak tergantikan." jawab Ibu Rani dengan tatapan sendu.
" Memang Mama pikir, Lia gak gitu? Apalagi Lia, Ma. Ayah Lia ya tetap aja ayah Adi, gak ada yang bisa gantikan apalagi ubah hal itu. Tapi apa ayah akan bahagia disana kalau lihat Mama selalu kesusahan sendiri? Mama udah habiskan tujuh belas tahun lamanya hidup sendiri dan hanya membesarkan Lia aja. Lia pikir, ayah juga ingin Mama gak kesulitan sendirian. Ayah pasti ingin ada seseorang yang jagain Mama. Ayah pasti ingin Mama bahagia. Begitu juga sama Lia, Ma." jelas Kalia sambil mengelus lembut tangan ibu nya yang sudah mulai timbul keriput.
" Mama bahagia kok, apalagi kalau lihat Lia sama Surya bahagia." ucap Ibu Rani mencoba mencari alasan.
" Kemarin Lia sempat ngobrol banyak sama wak Damar, ternyata wak Damar juga sama kayak Mama. Awalnya uwak gak ada niat untuk menikah kembali. Hampir 23 tahun waktunya hanya dihabiskan untuk mengurus anak-anaknya dan juga bisnis nya uwak. Tapi kemudian, ketika wak Damar melihat Mama, uwak berubah pikiran. Mungkin karena merasa senasib, jadinya kemarin wak Damar meminta restu sama Lia untuk menikahi Mama. Dan Lia merestui, karena Lia ngerasa uwak Damar tulus menyayangi Mama." Kalia akhirnya mengatakan tentang niat uwak Damar untuk menikahi mamanya.
" Kamu kenapa gak tanya Mama dulu? Kan Lia gak tahu gimana perasaan Mama sama uwaknya Surya itu?" Ibu Rani tampak kaget dengan penjelasan Kalia.
"Ini kan Lia bilang sama Mama, lagian uwak cuma minta ijin sama Lia..karena gak ada alasan untuk Lia menolak hal itu, ya Lia ijinkan aja. Tapi kalau keputusannya Mama mau terima atau nggak, ya semuanya kembali lagi sama Mama. Begituu.." ucap Kalia sambil mencubit pipi mamanya.
"Mama tuh belum kenal banget sama wak Damar, baru juga seminggu kenal udah ngajakin nikah aja. Iiih Mama mah malu ngomonginnya juga. Dasar aki-aki teh, nekat pake banget..!!" ucap Ibu Rani sambil mengerucutkan bibirnya, makin kesal pada uwak Damar yang terlalu over pede.
" Gentle itu namanya, Ma. Uwak bilang takut keduluan orang lain, makanya langsung tembak aja. Hahaha.." balas Kalia sambil tertawa-tawa.
" Pendekatan dulu aja, Ma. Makanya, kalau uwak datang lagi hari ini dan ngajakin jalan, mau aja udaah..gak usah nolak. Itung-itung liburan, lagian selama disini, cuma diam di rumah aja. Gak jenuh emang? Lia aja jenuh banget, Ma." ucap Kalia, Ibu Rani tampak berpikir.
Dan benar saja, tak lama kemudian mobill uwak Damar sudah datang lagi masuk ke pelataran rumah Surya.
" Hahaha..panjang umur si uwak, baru aja diomongin udah nongol aja tuh, Ma. Emang jiwa pejuang banget nih si uwak, udah digalakin juga tetep gak mau nyerah.." ucap Kalia sambil tertawa.
__ADS_1
Uwak Damar tampak keluar dari mobilnya dengan penampilan yang klimis. Memakai kemeja berwarna biru tua dan jeans serta topi koboy berwarna hitam kebanggaannya. Benar-benar modis dan terlihat gagah.
" Tuh koboy berjeep putihnya udah datang." ucap Kalia sambil menyenggol lengan mamanya. Ibu Rani malah balik melotot. Membuat Kalia tak bisa menahan tawa dengan ekspresi mamanya.
" Assalamualaikum.." ucap Uwak Damar dengan senyum sumringahnya.
" Waalaikumsalam.." jawab Kalia dan Ibu Rani berbarengan.
" Mau ngajakin mama main ya, Wak?" tanya Kalia langsung straight to the point.
"Emang mamanya mau?" tanya uwak Damar langsung antusias.
" Mauuu..iya kan, Ma?" tanya Kalia sambil menaikkan alisnya turun naik.
Mamanya hanya mengelilingkan bola matanya kesal kemudian masuk kedalam rumah.
" Tunggu dulu ya wak, Mama nya mau siap-siap." ucap Kalia sambil menyusul mamanya kedalam rumah.
" Ayo, Ma. Ganti baju, dandan yang cantik biar uwak makin klepek-klepek." pinta Kalia sambil mendorong pundak ibu nya masuk ke kamar.
" Apa sih kamu teh, jadi maksa-maksa Mama begini? Aneh pisan.." ucap Ibu Rani masih cemberut.
" Nah ini cocok, Ma. Biar agak senada sama warna baju uwak," ucap Kalia sambil menyerahkan sebuah tunik berwarna biru dongker pada Mamanya.
" Kalau Mama pergi nanti kamu sendirian di rumah. Mama gak tega.." ucap Ibu Rani masih mencoba beralasan.
"Gampang, Lia mah. Nanti tinggal telepon akang aja kalau mau sesuatu. Kan sekarang akang bebas mau pulang jam berapa juga. Orang bisnis punya akang ini. Hehehe.." Ibu Rani tak bisa berkutik dan akhirnya mau mengikuti permintaan Kalia untuk jalan bersama uwak Damar meskipun berat hati.
Selama perjalanan, uwak Damar tak hentinya mencuri pandang kearah Ibu Rani. Hatinya berbunga-bunga, pada akhirnya bisa pergi berdua saja dengan tambatan hatinya.
" Gak usah lihat-lihat terus, kang. Itu lihat ke jalan aja, palaur nabrak (takut nabrak)." ucap Ibu Rani jutek.
"Saya bahagia, karena akhirnya Rani mau saya ajak jalan. Cantik pisan lagi sekarang, bikin hati akang jadi deg-degan." ucap uwak Damar mulai meluncurkan rayuan-rayuan mautnya.
" Ya pasti deg degan atuh, da hidup akang teh. Kalau nggak deg degan, patut dicurigai." jawab Ibu Rani masih jutek saja. Uwak Damar tertawa mendengarnya.
" Serius akang mah, bersyukur pisan Rani mau akang ajak jalan-jalan begini. Ini pertama kalinya selama 23 tahun, akang merasa bahagia banget." uwak mulai mempermainkan psikis.
__ADS_1
" Emangnya selama 23 tahun gak pernah niat cari pengganti almarhumah istri akang?" Ibu Rani mulai memakan umpan.
" Nggak, akang mah sibuk aja ngurus anak-anak. Sibuk ngurusin bisnis juga. Awalnya akang berpikir kalau akang nikah lagi teh kasian sama anak-anak. Pasti akan berkurang pehatian akang sama mereka, karena bertambah keluarga baru, dan mungkin akang akan punya anak lagi. k
Kalau sudah begitu, akang jadi ngerasa bersalah sama almarhumah." jelas uwak Damar, keceriaannya perlahan menghilang.
" Tapi setelah anak-anak tumbuh dewasa, akang makin merasa kesepian. Satu persatu nikah, kemudian dibawa sama suaminya masing-masing. Akang tinggal di rumah yang luas, cuma ditemani asisten rumah tangga aja. Kamar juga jadi banyak yang kosong. Sedih, Ran." jelas uwak lagi, suaranya makin terdengar sedih. Ibu Rani terdiam lama, yang dirasakan uwak Damar sebenarnya memang dirasakannya juga setelah Kalia tinggal di rumah Surya.
Dia merasa kesepian, apalagi kalau menjelang malam hari. Rasa sedihnya semakin terasa.
" Sebenarnya, saya juga mulai rasain itu kang. Semenjak Lia menikah dan tinggal bersama Surya, saya jadi sering kesepian. Sering sedih..takut ketika meninggal gak ada seseorang yang bisa membimbing saya. Gak ada yang menemani." ucap Ibu Rani, nada bicaranya berubah sendu.
Hening berbahasa.
" Kalau begitu, gimana kalau kita saling menjaga aja. Usia kita juga udah tua, harus punya orang untuk saling menitipkan diri. Kalau Rani mau, saya ingin menikahi Rani secepatnya." ujar Uwak Damar tanpa berbasa-basi. Ibu Rani kaget mendengar penuturan uwak Damar yang begitu spontan.
" Kenapa akang bisa seyakin itu sama saya? kita ini baru kenal seminggu. Belum sama-sama tahu sifat masing-masing. Gimana kalau saya teh goreng adat (suka marah)? terus gak cocok sama akang? Nanti malah sering cek-cok. Sudah tua bukannya hidup tenang malah banyak masalah.." ucap Ibu Rani beralasan.
" Nggak atuh, akang tahu sifat Rani. Sebagian besar, Lia dan Surya sudah cerita tentang Rani. Dan akang juga tahu ceritanya kenapa pernikahan Surya dan Kalia bisa terjadi. Disitu akang bisa ambil kesimpulan bahwa Rani adalah seorang ibu yang lembut dan bijaksana. Jadi gak mungkin kalau Rani goreng adat mah." jelas uwak Damar masih tak mau kalah.
" Nggak tau atuh kang, saya sebetulnya belum kepikiran untuk berumah tangga lagi."
" Akang akan beri waktu sama Rani sebanyak waktu yang Rani butuhkan. Kita shalat istikharah dulu, minta kemantapan hati sama yang Maha memiliki kita." jawab Uwak Damar lembut.
Ibu Rani hanya mengangguk kemudian memalingkan pandangannya melewati jendela mobil. Menyapu hijaunya perkebunan teh yang menyejukkan. Tapi hatinya ternyata tidak bisa berubah sejuk, masih ada kecemasan yang teramat sangat atas lamaran yang diutarakan uwak Damar terhadapnya.
*
*
*
*
*
Semoga memperoleh kemantapan hati ya, Mama Rani. Duda keren disamping pasti menunggu dengan sabar kok. Hehehe
__ADS_1
Dukung terus karyaku ya reader. Jangan lupa like, vote dan komennya. Terimakasiiih.