
Surya sedang merapikan bonsainya ketika Kalia mendatanginya dengan ekspresi panik.
" Kang..aku mau ngomong dulu sebentar." Kalia langsung menarik lengan Surya yang sedang sibuk mengguntingi daun kering di bonsainya.
" Eh..eh..ada apa neng?" Surya mengikuti langkah isterinya dengan tangan masih memegang gunting.
Di ruang tamu..
" Lepasin dulu iih itu guntingnya. Serem banget lihatnya."
Surya langsung menyimpan gunting itu di atas meja.
" Atuh da meuni buru-buru. Ada apa sih?"
" Sahabat aku mau datang kesini, Amel sama Ira. Inget kan? yang kasih aku minum wine dan bikin aku teler." jelas Kalia seperti tak rela mengingat kejadian memalukannya dulu.
" Oh iya,ingat. Ngapain mereka kesini?"
" Mama bilang mereka datang ke rumah tadi pagi, nangis kejer sama Mama dan minta maaf. Terus mereka dapat cerita dari Mama kalau aku hamil dan udah nikah sama Akang. Mereka mau datang terus kasih selamat ke kita."
Surya mengangguk-angguk mencoba menelaah ucapan Kalia.
" Ya bagus atuh kalau dia mau kasih selamat dan udah minta maaf juga sama Mamah."
" Bagus apa nya? Mereka kan belum tau tentang Akang, kalau akang itu cuma.." ucapan Kalia terhenti. Dia merasa tak enak hati untuk mengucapkannya.
" Cuma office boy..? Lia malu ya punya suami OB?"
Keadaan tiba-tiba canggung.
" Akang gak ngerti sih, mereka itu punya taste yang tinggi soal cowok."
" Taste teh apa?" tanya Surya bloon.
" Seleraaa.." jelas Kalia kesal.
Surya membulatkan mulutnya tanda mengerti.
" Ya terus akang harus gimana? Da akang mah kenyataannya memang cuma OB".
" Bohong aja apa susahnya sih..gak usah cerita kalau akang kerjaannya OB. Bilang bagian apa kek..supervisor kek, atau apa lah. Mereka juga gak akan banyak tanya setelah itu."
Surya terdiam.
" Kenapa gak jujur aja sih? Biar lebih ringan gitu hatinya." jawab Surya sambil mengelus lengan Kalia sayang.
__ADS_1
" Iiih...dibilangin temen aku tuh punya selera yang tinggi soal cowok." Kalia menolak elusan tangan Surya dengan skeptis.
" Ya itu kan mereka, bukan Lia. Kenapa di sama-samain?" tanya Surya masih heran.
" Tapi aku malu.." Kalia langsung terdiam. Tatapan Surya berubah redup. Sedih.
" Bisa gak sih bantu aku sekali ini aja. Gak usah cerita apa-apa. Gak usah bahas apa-apa sama mereka kalau mereka nanya." ucap Lia lagi dengan nada bicara sedikit meninggi.
" Kayaknya akang gak mau bohong deh. Dosa akang udah kebanyakan."
" Terus kamu mau bilang sama mereka gitu, kalau aku hamil gara-gara tidur sama OB waktu lagi teler?? Mau malu-maluin aku depan temen-temen aku ya?" Kalia mulai emosi.
Surya menghela nafas, sorot matanya tampak sangat sedih dan kecewa.
" Lebih baik akang pergi aja dulu, gak usah ketemu sama temen-temennya Lia karena akang gak mau bohong. Akang takut neng..takut Allah semakin marah." ucap Surya pelan dengan suara tercekat.
" Ya bagus lah..kamu pergi aja. Biar temen-temen aku gak usah ketemu kamu." Kalia emosi kemudian pergi ke kamar dan mengunci diri. Surya menghela nafas berat, dia memijit keningnya yang seketika berdenyut menyakitkan.
***
Surya pergi dari rumah untuk menghindari temen-teman Kalia, dan kini Kalia sedang tertunduk lesu di kamarnya. Dia merasa marah pun merasa bersalah terhadap Surya. Perkataan Surya untuk jujur terhadap temannya terngiang di telinga. Tapi ego untuk menjaga harga dirinya terlampau tinggi.
Bisa dibayangkan, bila Ira dan Amel tahu bahwa yang ditiduri oleh Kalia ketika dia mabok adalah seorang OB, mau di taruh dimana mukanya? Sementara di mata teman-temannya, Kalia adalah sosok yang begitu di idolakan. Punya otak cemerlang, wajah rupawan, karir gemilang..dan semua hal yang membanggakan.
Memang karena kesalahan temannya lah Kalia sekarang berada di titik ini. Tapi bukan berarti hidup Kalia harus berubah menyedihkan bukan? Dia harus tetap mempunyai pride. Setidaknya teman-temannya tidak akan memandang rendah padanya. Sebisa mungkin dia harus menutupi identitas Surya yang sebenarnya. Bohong habis-habisan pun akan Kalia lakukan. Toh pernikahan ini akan berakhir seumur jagung. Urusan nanti akan seperti apa, biarlah nanti dia pikirkan. Yg penting saat ini harga dirinya tetap membumbung. Ada bagusnya bila teman-temannya tak bertemu Surya hari ini, jadi sampai waktunya nanti mereka bercerai..Amel dan Ira tak akan pernah tahu tampang Surya itu seperti apa. Begitu pikirnya.
***
" Liaaaa...kangen banget deh sama lu, sumpaah." Amel langsung mencium pipi kanan dan kiri Kalia. Disusul Ira setelah itu.
" Iih..rumah laki lu enak bener deh. Seger seger gitu kayak lalapan timun." ucap Ira asal.
Kalia nyengir.
" Iya..dia emang seneng berkebun. Sehobi sama Mama makanya langsung klop." jelas Kalia.
" Waah..Mama langsung dapat mantu satu aliran ya. Bagus deh." Amel menimpali.
" Yuk masuk yuk.." ajak Kalia mempersilahkan temannya masuk ke dalam rumah.
Setelah duduk di ruang tamu..
" Suami lu mana, Li?" tanya Amel
" Oh..lagi keluar dia. Urusin bisnis."
__ADS_1
" Suami lu bisnisman juga? bukannya satu kantor sama lu ya?" selidik Ira. Memang paling kepo sahabat Kalia yang satu ini.
Kalia terdiam.
" Iya dia kerja sekantor sama gue tapi punya bisnis juga."
" Oooh.." jawab mereka.
" Bisnis apaan?" dikira pembasahan akan berhenti sampai disana, tapi sepertinya Ira masih penasaran.
" Hemm..agrobisnis."
" Lumayan menjanjikan dong ya? pantas aja rumah lu banyak banget tanaman hiasnya. Itu bisnis suami lu juga kali ya." Kalia hanya bisa nyengir.
Terserah lah anggapan kalian apa, yang penting semuanya aman. Batin Kalia dalam hati.
" Li..cerita dong, setelah kejadian waktu itu kita berdua bener-bener khawatir sama lu. Tapi lu gak ada cerita apa-apa. Akhirnya kita memberanikan diri buat ketemu Mama Rani. Kita dimarahi habis-habisan, Li. Tapi kita terima kok, kita yang salah. Gue sama Ira masih tetep pengen jadi sahabat lu, itu pun kalau lu berkenan. Makanya resiko apapun bakal kita tanggung yang penting hubungan kita masih baik-baik aja. Sekali lagi maafin gue sama Ira ya." jelas Amel dengan mata berkaca-kaca. Kalia terenyuh.
" Sorry kalau gue gak pernah kabarin kalian. Sejujurnya gue masih marah waktu itu. Apalagi setelah gue pulang dari apartemen lu tempo hari, besoknya gue baru tahu kalau gue hamil. Pikiran gue buntu, Mel. Gue hampir aja loncat dari tebing." jelas Kalia, kini matanya sudah menjatuhkan bulir-bulir bening.
" Lu mau bunuh diri, Li? Ya ampun Li..kenapa lu nekat gitu?" Ira menggenggam tangan Kalia erat.
" Gue bingung, Ra. Gue gak mau mengandung anak dari laki-laki yang gue gak cinta. Gue juga malu.." Kalia semakin tergugu.
Amel memeluk tubuh Kalia.
" Yang sabar ya sayang. Maafin kitaaa.." Amel semakin terisak begitu pula Ira.
" Gara-gara kita lu jadi kayak gini. Gue bener-bener malu ketemu Mama Rani dan juga lu sebenernya. Tapi gue juga gak mau kehilangan sahabat yang baik kayak lu. Dari dulu lu udah sering banget bantuin gue." jelas Ira.
Kalia meyeka air matanya.
" Ya udah lah. Mungkin ini udah jadi takdir gue. Gue harus bisa jalanin ini semua. Tapi bener-bener gak seburuk yang gue kira kok. Suami gue orang yang sangat baik, dia perhatian banget. Mertua gue juga amat sangat sayang sama gue. Jadi gue lebih mudah lalui ini semua sekarang." jelas Kalia dengan suara yang lebih tenang."
Ira dan Amel membersihkan mata dan hidung mereka.
" Jadi lu udah cinta sama suami lu sekarang, Li?" tanya Amel iseng sambil tersenyum.
" Nggak tau sih..belum lah. Gue gak bisa secepat itu cinta sama orang. Lu kan tau gue gimana, Mel. Gue cuma ngerasa nyaman aja sama dia."
Ira mencubit pipi Kalia keras.
" Kayaknya lu bakal cinta sama dia deh, sayaaang. Mana pernah lu ngerasa nyaman secepat ini sama cowok." Ira tertawa gemas.
Selesai menangis bombay dan tertawa bersama. Akhirnya Amel dan Ira pamit pulang. Sebenarnya mereka ingin bertemu dengan Surya tapi tak bisa karena Ira harus segera ke Jakarta. Masih ada urusan katanya.
__ADS_1
Setelah kedua sahabatnya pulang, Kalia terduduk lelah. Dia merasa senang karena satu beban di hatinya sudah terangkat. Kalia tak lagi benci pada kedua sahabatnya. Tapi disamping itu, Kalia juga merasa bersalah karena telah membohongi Amel dan Ira tentang pekerjaan Surya dan latar belakangnya.