
Malam itu, Bu Ati dan Pak Asep mengunjungi kediaman Mama Rani untuk melihat keadaan menantunya yang baru pulang dari rumah sakit. Mama Rani menyambut kedua besannya dengan suka cita, meski tak dapat dipungkiri kedua orang tua Surya ini mengetahui dengan pasti apa yang dirasakan Mama Rani.
" Bagaimana atuh ya Bu, Kalia masih gak mau bicara. Diam dan murung terus. Saya tawari makan dari tadi juga gak mau. Saya jadi khawatir kalau begini terus." ungkap Mama Rani sambil berkaca-kaca.
" Si neng terpukul sekali sepertinya, Bu Rani. Tadi ketika saya lihat juga tak terlalu menanggapi ucapan saya. Bicaranya seperlunya, tersenyum pun seperti dipaksakan sekali. Mungkin kita harus memberikan waktu lebih lama sama Lia untuk bisa menerima keadaannya. Saya takut neng Lia trauma sebetulnya, apalagi cara mereka kehilangan Humaira itu dengan peristiwa yang sangat menyedihkan." Air mata Bu Ati mulai meremang.
" Jangan bilang begitu, Mah. Yang bisa kita lakukan hanya berdo'a saja. Semoga Lia maupun Surya bisa lebih ikhlas menerima semua ini sebagai suratan takdir yang Allah gariskan dalam kehidupan mereka." Pak Asep mencoba menenangkan istri dan besannya. Bu Rani hanya sanggup mengangguk sambil menyeka air matanya.
" Maaf, Bu. Kalau Surya nya kemana ya?" tanya Pak Asep lagi ketika mengetahui bahwa anaknya tak ada di ruangan itu.
" Ada, Pak. Di kamar tamu, kayaknya lagi istirahat. Saya juga gak tega lihat Surya. Sepertinya sangat lelah. Jadi saya minta untuk tidur saja dulu. Maklum lah, di rumah sakit pasti kurang tidur karena menjaga Lia. Gak ada yang menggantikan." jelas Bu Rani.
" Oh ya sudah, Bu Rani. Jangan dibangunkan. Biar istirahat aja." ucap Pak Asep.
" Saya juga sebenarnya ada kekhawatiran lain setelah melihat mereka pulang dari rumah sakit. Entah kenapa Lia seperti menghindari Surya. Bahkan tadi Surya sempat cerita kalau selama di rumah sakit Lia itu gak mau ngomong sama sekali. Tadi juga waktu sampai, malah menyuruh Surya untuk keluar dari kamar dan gak mau diganggu. Saya bingung, ada apa lagi dengan mereka berdua." keluh Bu Rani lagi.
Pak Asep dan Bu Ati terdiam. Merasa sama kebingungannya dengan Bu Rani.
Hingga menjelang pukul 4 sore, Bu Rani coba membangunkan menantunya untuk shalat ashar. Surya masih terlihat mengantuk, badannya pegal dan matanya sangat berat untuk terbuka. Tapi dia paksakan untuk bangun karena belum shalat ashar.
Ketika keluar kamar, dilihatnya kedua orang tuanya sedang duduk di ruang tamu. Surya langsung memeluk mereka.
" Mah..Pak..naha teu ngagugahkeun ujang mun tos dongkap?" (kenapa gak bangunin ujang kalau sudah datang?) ucap Surya sambil memeluk orang tuanya bergantian.
" Ah keun we, karunya ujang na cape. Pasti kurang istirahat di rumah sakit mah. Kade ujang ge harus jaga kesehatan. Lamun ujang sakit, karunya neng Lia." (Ah..gak apa-apa, kasihan ujang nya cape. Pasti kurang istirahat di rumah sakit tuh. Awas ujang juga harus jaga kesehatan, kalau ujang sakit, kasihan neng Lia nya) ucap Bu Ati sambil mengelus punggung anaknya
" Ujang mau shalat ashar dulu kalau begitu. Nanti kita lanjutkan ngobrolnya." ucap Surya, Bu Ati mengangguk.
Selesai shalat ashar, Surya kembali menemui orang tuanya.
" Mamah sama bapak udah ketemu Lia?" tanya Surya sambil mendudukkan dirinya di sofa, bergabung dengan orang tuanya.
" Sudah..tadi ketemu sebentar. Tapi Lia nya kayak cape sekali, makanya nggak ngobrol lama-lama." terang Pak Asep.
Surya menghela nafas berat.
" Lia memang jadi pendiam setelah tahu Humaira meninggal. Ujang juga jadi bingung ini teh. Bahkan sama ujang mah gak mau disentuh juga." Surya memijit keningnya, merasa pusing dengan kelakuan Kalia sekarang.
__ADS_1
" Cing sabar, kudu jembar hate ujang na. Lia masih berduka, apalagi Lia mah sakitnya double. Nya sakit operasi, sakit oge karena anak kalian meninggal. Belum lagi luka akibat kecelakaan. Pasti kabayang wae jang. Meureun teu geugeubegan atuh, trauma. Urang oge geuning mun labuh tina motor, sakitu soak na. Komo ieu, nya cilaka, nya kaleungitan Humaira oge. Karunya bapak mah ngabayangkeun na ge." ucap pak Asep panjang lebar
( Yang sabar, harus berbesar hati ujang nya. Lia masih berduka, apalagi Lia itu sakitnya double. Sakit karena operasi, sakit juga karena anak kalian meninggal. Belum lagi luka akibat kecelakaan. Pasti kebayang terus Jang. Mungkin bisa jadi trauma. Kita juga kalau habis jatuh dari motor, sudahnya itu suka syok sendiri. Apalagi ini, kecelakaan iya, kehilangan Humaira juga iya. Kasihan Bapak juga membayangkannya.)
Surya termenung lama, ucapan Pak Asep sangat benar. Luka yang dialami Kalia bukan hanya karena kehilangan Humaira. Tapi lebih banyak dari itu. Dia merasa bersalah telah menginginkan agar Kalia bisa mengerti juga kondisinya bahwa Surya sama sedihnya akibat kehilangan anak mereka.
" Ujang akan memberikan dukungan sepenuhnya untuk Lia. Akan selalu disamping Lia agar bisa melewati masa-masa sulit ini, Pak." ucap Surya mantap, dia harus segera bangkit dari kesedihannya, agar Kalia segera pulih dan bisa ceria kembali.
Pak Asep menempuk punggung anaknya.
" Iya, jang..harus begitu. Jadilah imam yang baik untuk neng Lia. Dampingi terus, beri semangat, agar tidak berlarut-larut. Bapak sangat yakin, ujang akan mampu melakukan itu." ucap Pak Asep haru.
Surya akhirnya dapat tersenyum lega setelah beberapa hari ini seperti lupa bagaimana caranya tersenyum. Ayahnya memang sangat bijaksana. Beruntung dia memiliki orang tua yang sangat mendukungnya. Memang bercerita kepada Tuhan dan meminta saran kepada orang tua adalah solusi terbaik dalam menghadapi segala masalah. Karena sejatinya kasih sayang orang tua kepada anaknya selalu seluas samudera.
Sore itu, Mama Rani dan Bu Ati berkolaborasi untuk memasakkan makanan yang enak untuk semuanya. Mereka jadi banyak bercerita. Memang selama Surya dan Kalia menikah kurang lebih 5 bulan, mereka jarang sekali bertemu. Setelah akad nikah dulu, semua langsung kembali ke rumah masing-masing dan tak pernah lagi bercerita banyak. Saat itu menjadi moment yang tepat untuk mempererat kedua keluarga tersebut.
Terkadang memang dalam sebuah kejadian, selalu terselip hikmah yang tak pernah kita kira.
Hampir masuk maghrib, hidangan sudah tersedia di atas meja makan. Tapi karena waktunya yang mepet dengan adzan maghrib yang sebentar lagi berkumandang, jadilah semua sepakat untuk makan selepas shalat maghrib saja.
Kali ini mereka shalat berjamaah dengan Pak Asep sebagai imam. Bu Rani sangat senang, sudah lama beliau tidak pernah shalat berjamaah karena lebih sering sendirian di rumah, baik ketika Kalia belum menikah maupun setelah menikah dengan Surya.
Dia mensyukuri saja hal itu saat ini, meski Allah sedang memberinya cobaan hidup yang menyakitkan, tapi Surya tahu bahwa Allah sedang memandang kearahnya dan akan memberikan kebahagiaan memiliki seorang anak untuknya dan Kalia pada saat yang tepat. Semoga saja hal itu bisa segera terwujud.
Selesai shalat, mereka pun makan malam bersama. Suasana kekeluargaan makin terasa hangat. Surya dengan cepat menyelesaikan makannya meski belum terlalu kenyang. Ia ingin menyuapi Kalia agar bisa merasakan makanan enak yang dimasak dengan cinta oleh Bu Rani dan Bu Ati.
Tok
Tok
Tok
" Sayang, akang masuk ya." dengan perlahan, Surya membuka pintu kamar istrinya. Dilihatnya Kalia masih meringkuk saja, seperti tak mengubah posisi.
" Makan dulu ya sayang." bujuk Surya sambil meletakkan nampan berisi nasi dan lauk pauknya di atas nakas.
Dilihatnya Kalia membuka matanya sejenak, kemudian menutupnya kembali.
__ADS_1
" Biar cepat sembuh luka operasinya, biar cepat sehat juga." Surya masih berusaha.
Kalia tak bergeming.
" Ini masakan duo mama lho sayang, Lia kan dulu makannya lahap sekali waktu kita main ke rumah mama. Nah sekarang yang masaknya Mama Rani dan Mama Ati. Ini enak banget. Serius akang mah."
Kalia memandang kearahnya dengan tatapan tajam.
" Aku gak lapar, gak perlu paksa-paksa." ucap Kalia ketus.
" Tapi ini serius enak..sok dicoba sedikiiit saja." bujuk Surya lagi masih tak mau menyerah.
" Aku bilang aku gak mau makan, mau enak kek, mau nggak kek, aku tetep gak mau. Lebih baik akang keluar sekarang." suara Kalia meninggi membuat Surya terhenyak kaget.
Kalia langsung membenamkan diri kedalam selimut. Surya menghela nafas berat, sepertinya perjuangan Surya untuk mengembalikan keceriaan Kalia memerlukan waktu yang tidak sebentar.
" Ya sudah..akang tinggal makanannya disini. Kalau Lia lapar, nanti tinggal di makan aja ya. Karena kan harus minum obat, sayang nya." ucap Surya lembut, kemudian menghambur pergi meninggalkan Kalia yang malah menangis dibalik selimutnya.
Surya keluar dari kamar Kalia dengan wajah yang sedih. Mama Rani langsung tahu apa yang dialami menantunya.
" Kalia nya gak mau makan ya? Biar nanti mama yang bujuk aja. Surya temani mamah sama bapak aja tuh di ruang TV." ucap Mama Rani sambil mengelus punggung Surya penuh kasih sayang.
Sekitar pukul 8 malam, orang tua Surya pamit pulang. Mereka berpamitan dulu kepada Kalia kemudian bersama-sama keluar dari rumah untuk menaiki mobil online yang sudah dipesan Surya untuk kedua orang tuanya.
" Ingat pesan Bapak, harus punya stok sabar yang banyak..jangan mudah patah semangat. Bapak yakin Kalia akan segera sembuh. Akan ceria lagi kayak dulu. Yang penting jangan lupa minta sama yang Maha membolak-balikan hati." nasihat Pak Asep. Surya mengangguk haru.
Memang benar, sepertinya Surya harus mempunyai stok sabar yang banyak untuk menghadapi Kalia dalam kondisinya saat ini. Bukan perkara mudah untuk bisa menyembuhkan trauma psikis seseorang. Tapi bukan hal yang mustahil juga, karena sejatinya Allah lah yang Maha membolak-balikan hati manusia. Surya meyakini hal itu.
*
*
*
*
*
__ADS_1
Terimakasih sudah menikmati novel yang saya sajikan. Semoga bisa sedikit menghibur di tengah situasi pandemi ini yaa.
Selalu sehat reader semuaaa. Jangan lupa 3M nya dan jangan lupa juga untuk like, komen, dan vote nya agar othor makin semangat membuat karya...😘