My Office Boy

My Office Boy
13. Dokter Kandungan


__ADS_3

Surya mengetuk pintu kamar Kalia perlahan, dia berniat untuk membangunkan Kalia karena sudah masuk waktu subuh. Kalia menjawab dengan pelan, menandakan kalau dia sudah bangun. Dengan memakai jaket tebal, rambut yang diikat cepol asal dan muka bantal, Kalia keluar dari kamarnya.


" Shalat dulu, sudah subuh" ucap Surya lembut.


Kalia mengangguk malas, kemudian berlalu ke kamar mandi dan melaksanakan shalat subuh.


Selesai shalat subuh, Kalia mendudukan dirinya di ruang keluarga sambil berselimut hingga menutupi kepala dan menyalakan televisi agar tidak terlalu senyap. Melihat tingkah Kalia, Surya terkekeh.


" Kenapa ketawa? dingin tauk." Kalia langsung sewot.


" Iya..maaf. Habisnya Lia imut, jadi kayak bayi."


" Gak usah gombal pagi-pagi. Saya udah mulai mual ini. Mau dimuntahin emang??!" Surya langsung menutup mulutnya dengan satu tangan dan tangan lain mengangkat jempol tanda "oke" kepada Kalia.


" Bisa bikinin teh jahe lagi gak? Mual banget nih." pinta Kalia sambil mengelus-elus dadanya untuk mengurangi rasa mual.


" Iya..sebentar ya. Saya buatkan dulu."


Tanpa berlama-lama, Surya langsung pergi untuk membuat teh jahe hangat untuk Kalia. Rupanya Kalia sudah menyukai teh jahe yang dibuat Surya, bahkan tanpa ditawari pun sudah minta sendiri.


" Sok diminum duluu teh nyaa..pelan-pelan aja biar gak keselek." Surya lalu menyuguhkan secangkir teh jahe kepada Kalia.


Kalia mengikat rambutnya asal, kemudian meraih teh jahe yang disuguhkan Surya.


" Makasih" ucap Kalia singkat.


Surya nyengir.


Kalia melirik Surya sekilas sambil menyesap teh nya.


" Gak usah nyengir-nyengir deh."


Surya malah semakin tersenyum lebar, menunjukan deretan giginya yang rapih


" Baru kali ini denger Lia bilang terimakasih sama saya. Jadi bahagiaaa pisan..rezeki shalat subuh tepat waktu kayaknya nih." jawab Surya sambil mengacak rambut belakangnya.


" Oooh..ya udah besok-besok gak akan bilang lagi." ucap Kalia datar sambil meminum teh nya sampai habis.


Surya langsung tertunduk lesu.


Pukul 9 pagi, Kalia dan Surya sudah bersiap-siap untuk menemui dokter kandungan di sebuah rumah sakit swasta di daerah cimahi.

__ADS_1


Sebelum berangkat, Surya berinisiatif untuk membawa teh jahe dalam sebuah termos kecil. Berjaga-jaga kalau mual Kalia kembali kambuh diperjalanan.


" Itu apa?" tanya Kalia ketika Surya keluar dengan menenteng sesuatu ditangannya.


" Teh jahe..obat mujarab buat Lia. Jadi kalau Lia tiba-tiba mual atau muntah. Udah ada iniii.." jelas Kalia sambil mengangkat termos tersebut dan mengetuknya perlahan.


How sweet..perhatian juga ini cowok. batin Kalia dalam hati.


Perjalanan lumayan lancar, hanya perlu waktu 45 menit saja, Surya dan Kalia sudah sampai di rumah sakit yang dituju. Surya langsung mendaftarkan Kalia untuk dapat diperiksa di klinik obgyn. Sengaja Surya memilih dokter perempuan agar Kalia lebih nyaman ketika diperiksa nanti.


Berkali-kali Kalia meminum teh jahe yang dibawa Surya. Banyaknya orang dengan aroma yang macam-macam membuat perut Kalia berontak meskipun saat itu mereka memakai masker.


" Teh nya mana? Mual." ucap Kalia sambil berbisik di telinga Surya.


Bulu kuduk Surya langsung meremang. Suara Kalia begitu lembut memasuki telinga hingga membuat Surya kegelian tapi senang. Surya lalu memberikan secangkir teh jahe kepada Kalia dengan menggunakan penutup termos. Kalia meminumnya sedikit demi sedikit.


Antrean di rumah sakit lumayan padat, perlu waktu lebih dari satu jam sampai giliran nama Kalia yang dipanggil. Sebelumnya Kalia ditimbang berat badan dan tensi darah. Semuanya normal, hanya berat badannya saja yang belum naik dari semenjak hamil.


Kalia dan Surya memasuki ruangan dokter. Tadinya Kalia tidak mengijinkan Surya untuk masuk ke ruangan dokter bersamanya. Tapi Surya berkali-kali memohon hingga Kalia menyerah. Sekali ini saja, pikirnya. Lagi pula, dia tak mau dokter bertanya-tanya kenapa Kalia hanya datang seorang diri tanpa ditemani suami untuk pemeriksaan pertama.


Dokter Ika mempersilahkan Surya dan Kalia untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.


" Iya dok." Jawab Kalia sambil mengangguk.


" Tanggal berapa terakhir mendapat haid?"


Kalia mencoba mengingat ingat.


" Tanggal 20 Agustus, dok."


Dokter Ika coba menghitung di kalender meja yang tertata manis di meja kerjanya.


" Sudah mau masuk usia 9 minggu ya Bu kandungannya. Ada keluhan lain selama beberapa minggu ini?"


" Iya dok. Saya sering sekali mual dan muntah terutama pagi dan malam hari. Badan juga jadi lesu dan sensitif sekali sama aroma menyengat jadinya sering merasa pusing."


Dokter Ika tersenyum.


" Ooh..biasa itu. Kalau lagi hamil muda memang begitu. Kalau makannya gimana?"


" Makannya banyak pisan Bu." jawab Surya cepat disusul oleh cubitan keras di pahanya dari Kalia.

__ADS_1


" Aarrgh..aduh."


" Kenapa, Pak?" tanya dokter Ika kaget.


" Itu, Bu. Anu..digigit semut." jawab Surya sekenanya sambil menggosok-gosok pahanya.


" Jadi makannya gak ada masalah ya?"


" Tapi dimuntahkan lagi habis itu, Bu. Jadi mubazir." jawab Surya lagi dan Kalia kembali mencubitnya lebih keras.


" Aaww..aduh..iya ampun."


Dokter Ika tertawa.


" Yang sabar ya, Pak. Isteri hamil memang begitu. Sering merasa lapar..tapi malah dimuntahkan lagi. Untuk trimester pertama biasanya begitu, tapi kalau sudah memasuki trimester kedua dan ketiga, biasanya intensitas mualnya akan semakin berkurang kok. Hormonnya juga biasanya akan terpengaruh, Ibu bisa cepat sedih atau marah. Disitu pentingnya peran suami untuk selalu memberikan perhatian seratus persen." jelas dokter Ika.


" InsyaAllah saya akan perhatikan sampai 200 persen, Bu dokter." balas Surya sambil nyengir kuda. Dokter Ika kembali tertawa.


" Lucu si Bapak mah ya. Nah..sekarang kita USG dulu aja ya. Kita lihat dulu calon dede bayinya sehat atau tidak."


Suster meminta Kalia untuk membuka sebagian bajunya. Sebetulnya Kalia merasa canggung bila harus mengangkat sebagian bajunya dan memperlihatkan bagian perut Kalia di depan Surya, tapi apalah daya Surya memang sudah menjadi suaminya suka maupun tidak suka dan dia juga punya hak untuk dapat mengetahui keadaan anak yang sedang tumbuh dalam rahim Kalia. Ketika Kalia mengangkat bajunya, Surya memalingkan pandangan, mencoba mengerti bahwa Kalia merasa tak nyaman. Surya sibuk menscroll layar handphone agar tidak terlalu canggung.


Suster lalu mengoleskan gel berwarna biru. Terasa dingin di perut Kalia. Kemudian dokter menempelkan alat ultrasonografi dan menekan serta menggeser-geserkannya di perut bagian bawah.


" Bisa dilihat ya, Bu. Kantong janinnya sudah terbentuk. Ini kira-kira masih sebesar kacang polong lah. Masih kecil sekali dan sangat rapuh."


Dokter Ika kembali menekankan alat tersebut agar gambar yang dilihat menjadi lebih jelas.


" Letaknya sudah betul, menempel di dinding rahim. Besarnya juga normal ya. Bagus, semuanya sehat." ucap dokter Ika kemudian memberikan isyarat kepada suster untuk membersihkan gel yang ada di perut Kalia.


" Jangan terlalu berat beraktifitas ya, Bu. Dibawa santai aja. Tapi jangan jadi mager juga, malas melakukan apa-apa. Asupan gizinya dijaga, makan seperlunya. Hamil itu bukan berarti makan yang asalnya satu piring jadi dua piring karena ada janin yang sedang tumbuh. Gak begitu ya..cuma nutrisinya yang harus terjaga. Nanti saya resepkan vitamin, obat pereda mual dan penambah darah." jelas dokter Ika lembut.


" Bapak juga harus lebih ekstra memperhatikan Ibu ya, hamil itu bukan hanya tanggung jawab isteri saja tapi suami juga harus ikut andil. Berikan dukungan lahir dan batin kepada isteri biar hamilnya lancar, ibu nya bahagia, anaknya juga pasti sehat dan bahagia."


Surya memperhatikan dengan seksama kemudian berkata penuh semangat sambil menempelkan tangannya menjadi gerakan hormat.


" Siaap, bu dokter. Laksanakan."


dokter Ika tergelak.


" Ya sudah..sampai jumpa bulan depan untuk kontrol berikutnya ya."

__ADS_1


__ADS_2