
Sudah seminggu Kalia dan Surya tinggal bersama. Kini mereka tak terlalu menjaga jarak. Kalia juga lebih terbuka pada Surya dan jarang marah-marah, kecuali kalau lapar. Hehe
" Kang..mobil aku kapan diambil?" tanya Kalia ketika pagi itu mereka dalam perjalanan menuju kantor.
" Nanti sore kayaknya, kemarin malam akang terima wa dari Acep."
" Ooh.."
Motor Surya terus menderu membelah kabut.
" Nanti sore mau ke rumah mamah sama bapak gak? sekalian ambil mobil." tanya Surya.
" Apaa?" suara Surya terpecah angin, Kalia tak dapat mendengarnya dengan jelas dan mencondongkan dadanya hingga menempel pada punggung Surya agar suara Surya lebih jelas terdengar oleh Kalia. Hati Surya berdesir.
" Nanti sore kita ke rumah mamah sama bapak." ulang Surya lebih kencang.
" Ooh..iya boleh, hayu aja."
Hari Sabtu, Kalia dan Surya memang hanya bekerja setengah hari. Jadi tidak akan terlalu sore untuk mengunjungi orang tua mereka.
" Tapi nanti aku pulang ke rumahnya pakai mobil online ya. Ga bareng akang."
Surya terdiam, dia tahu alasan Kalia ingin pulang naik mobil online siang nanti. Dia tak ingin orang-orang melihat mereka pulang bersama. Berboncengan pula.
" Kenapa gak jawab?" tanya Kalia lagi.
" Ehmm..iya, boleh. Hati-hati aja di jalan."
Masing-masing kembali terdiam.
" Kalau gitu, akang mau pergi ketemu teman dulu ya sepulang kerja. Nanti sore baru jemput Lia buat ke rumah mamah sama bapak."
" Iyaa.." jawab Kalia kencang agar Surya dapat mendengar suaranya.
***
__ADS_1
Pukul dua siang, Kalia sudah memesan mobil online.
Sudah pesan mobilnya? wa masuk dari Surya
Udah. Balas Kalia singkat.
Hati-hati yah. Berdo'a dulu.
Surya selalu mengingatkan Kalia untuk shalat, berdo'a dan mengaji. Sebetulnya Surya adalah laki-laki yang religius. Dia tak pernah absen shalat lima waktu, setiap subuh dan magrib pun selalu berjamaah di mesjid dekat rumah. Tapi ternyata, keimanannya belum cukup kuat ketika wanita yang disukainya merangsek liar di atas tubuhnya. Pertahanannya ternyata luluh lantak, setan menjadi pemenang diantara Surya dan Kalia hingga terjadilah malam nahas itu. Semenjak kejadian tersebut, Surya benar-benar merasa berdosa. Maka dia menebus rasa bersalahnya dengan lebih giat beribadah dan menikahi Kalia serta memperlakukannya dengan sangat baik selayaknya imam dalam rumah tangga, meskipun acap kali menerima penolakan dari Kalia.
Allah Maha Pengampun dan Maha Baik, Surya tahu itu. Yang paling penting, dia harus menjadi manusia yang lebih baik setelah kejadian tersebut.
Mobil online sudah menunggu Kalia dia pelataran parkir kantornya, dan Surya sudah menderu motornya ke sebuah tempat dimana dia akan membereskan beberapa urusan.
Pukul 4 sore, Kalia sudah mematut-matut diri di depan cermin. Dia ingin tampil cantik ketika bertemu mertuanya. Wajahnya tampak lebih segar setelah mandi, memakai baby doll blouse berwarna peach dipadu padankan dengan celana fit and flare berwarna gelap. Rambutnya tergerai rapi sebahu.
Tak berselang lama, Surya pun tiba. Dia begitu terpukau melihat Kalia.
Cantik pisan, Gustii..batin Surya dalam hati.
" Sebentar, neng. Mandi dulu yah, keringetan banget. Takut kebanting atuh sama Lia. Masa Lia cantik begini, ari Akang caludih kieu." Kalia terkekeh.
" Ya udah sana cepetan mandi."
Surya langsung menghambur menuju kamar mandi. Dia lupa membawa baju ganti. Jadi selesai mandi, Surya keluar dengan hanya handukan sepinggang dan bertelanjang dada. Kalia memekik kaget ketika Surya menampakkan dada bidangnya.
" Kenapa gak bawa baju ganti siih. Aurat..iissh.." Kalia langsung bersungut-sungut dan membalikkan tubuhnya agar tak melihat badan Surya.
" Aurat laki-laki itu cuma dari pusar sampai lutut. Ini pusar sampai lutut akang tertutup. Berarti gak ada aurat yang kelihatan doong." jelas Surya sambil cekikikan.
" Tetep aja risih lihatnyaa.." Kalia masih sewot sambil membelakangi Surya.
" Cepetan ah, pakai baju. Malu iih.." Kalia bergidik.
Surya hanya tertawa kemudian menghambur masuk kamarnya untuk memakai baju.
__ADS_1
Selesai berpakaian, Surya ingin tampil wangi di dekat Kalia. Dia menyemprotkan parfum di baju nya kemudian berjalan penuh percaya diri mendekati Kalia yang sedang duduk nyaman di sofa.
" Hayu neng..Aa tos ganteng." ucap Surya jayus.
Tiba-tiba..
" Hoooeeekk..kang..hooeeekkk.." Kalia menutup hidungnya dan bertahak beberapa kali.
" Lho..lho..kenapa..kenapa?" Surya melongo.
" Ka...hoeeekk...kamu pakai apaan sih? Hoooeeekkk...ganti baju aku gak sukaaa...hooeeekk.." Kalia menahan diri agar tak muntah, karena bau parfum Surya sungguh mengganggunya.
" Waduuuuh...iya..iya..sebentar." Malang betul nasib Surya, berharap ingin mendapat pujian karena wangi parfumnya. Eeeh..Kalia malah mual-mual.
Dengan cepat Surya menggantinya dengan baju yang lain, kemeja flanel berwarna biru tua. Kemudian segera menemui Kalia yang masih sibuk menutup hidung dengan tangan kiri dan mengibas-ngibaskan tangan kanan agar bau parfum Surya segera menghilang.
" Sudah..ayo.." Surya masih cemberut.
" Makanya gak usah gumasep. Sok-sok an pakai parfum segala." sungut Kalia dengan tangan masih memencet hidung.
Mereka segera menaiki motor dan menuju rumah orang tua Surya. Diperjalanan, Kalia duduk menyamping karena memakai rok baby doll. Dia melingkarkan tangannya pada pinggang Surya. Yang dipegang, malah tegang gak jelas. Tubuhnya kaku, jantungnya berdetak tak karuan. Biasanya kalau Surya memboncengi Kalia, paling banter Kalia hanya memegang jaket Surya jadi pelukan di pinggang seperti ini baru pertama kali Surya rasakan. Dan rasanya seperti tersengat arus listrik. Apalagi sekarang Surya tidak memakai jaketnya jadilah pelukan Kalia lebih nyata terasa di pinggangnya.
Diperjalanan, Kalia mengoceh saja tanpa beban. Tak menghiraukan Surya yang panas dingin karena dipeluk olehnya. Beberapa kali, Kalia bahkan mencondongkan badannya kearah Surya karena dia tak menyahut panggilan Kalia yang mengajaknya ngobrol. Kadang bahkan Surya menjawab obrolan Kalia dengan jawaban yang tidak nyambung. Otak Surya rasanya langsung hang karena pelukan seuprit itu.
Semakin lama pelukan Kalia semakin kebawah, hampir saja menyentuh si Udin milik Surya. Surya bergidik geli.
Neng..jangan terlalu bawah atuh, Neng. Ieu Aa tersiksa. Duh Ya Allah..cobaan pisan ini mah. batin Surya dalam hati.
Kalia makin mengeratkan pelukannya karena takut terjatuh. Jalanan memang tak terlalu mulus. Hingga membuat Kalia semakin menempelkan badannya pada punggung Surya hingga terasa lah empuk dadanya. Surya kembali seperti tersengat aliran listrik.
Waaaaddaaawww naon ieu..hangat-hangat empuk. Ampun Ya Allah.. Surya mengerjap-kerjapkan matanya dan memegang stang motor dengan kuat. Takut oleng Jenderaaalll..!!! Hahaha.
Jadilah perjalanan sepuluh menit dari rumah Surya menuju rumah orang tuanya, terasa seperti perjalanan yang panjang dan penuh cobaan untuk Surya. Begitu sampai, peluh sudah memenuhi kening Surya.
" Kenapa keringetan gitu, Kang? emang gerah ya?" tanya Kalia dengan wajah tanpa dosa sambil meninggalkan Surya yang masih megap-megap mirip ikan kehabisan air.
__ADS_1
Karena kamu, Neng..haduuuh gak peka banget Ya Allah.