My Office Boy

My Office Boy
24. Luka Membawa Berkah


__ADS_3

Sesampainya di rumah, ternyata rumah masih dalam keadaan gelap. Lampu-lampu belum ada yang dinyalakan. Kalia bingung, kemana Surya? Apa dia juga belum pulang? Masih merasa kesal, Kalia menyalakan semua lampu dan hendak membersihkan diri. Tak berapa lama, suara motor Surya terdengar di halaman. Kalia mengurungkan niatnya untuk mandi dan menemui Surya terlebih dahulu.


" Abis dari mana? Kenapa baru pulang?" tanya Kalia jutek.


Surya cuma sanggup nyengir sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.


" Malah nyengir. Jawab iih.." Kalia makin sensi.


" Habis ngikutin Lia dari kantor sampai rumah."


Kalia melongo.


" Ngikutin gimana sih?"


Surya menyimpan sesuatu di meja ruang tamu. Kemudian melanjutkan penjelasannya.


" Iyaa..tadi kan Lia gak mau pulang bareng sama akang, tapi akang khawatir. Lia pulangnya malem banget, jadii..akang diem2 tungguin Lia. Terus ikutin Lia dari belakang. Cuma pas sebelum sampai, rencananya akang pengen ngebut biar sampai duluan biar Lia gak tau kalau akang ikutin. Da akang takut Lia marah kalau tau diikutin mah. Eeeh..motor akang malah jatoh gara-gara jalanan licin. Tuh jadi kotor celananya. Barusan habis dari apotek beli plester sama obat luka." jelas Surya sambil nyengir.


Hati Kalia seketika hangat, entah kenapa laki-laki ini selalu bisa membuatnya tersentuh. Perhatiannya memang tidak besar, hal sepele bahkan. Tapi terlihat begitu tulus dan menyenangkan.


" Lagian ngapain pake ngebut segala? Mau jadi pembalap emang?" Kalia meraih kantong plastik yang Surya letakan di atas meja, ternyata isinya memang plester, kain kasa, alkohol dan obat luka.


" Mana lihat lukanya, aku obatin." Kalia langsung menarik tangan Surya dan menyuruhnya duduk di sofa.


" Eh gak usah, gak apa-apa. Biar sama akang aja..da gak parah lukanya juga."


Kalia pergi menuju dapur, mengambil air hangat dalam baskom kecil dan menghampiri Surya lagi.


" Coba lipat celananya. Aku mau lihat lukanya." Celana kain yang dikenakan Surya tampak sedikit koyak.


Surya hanya menurut saja apa yang diperintahkan Kalia. Dia melipat celananya pelan-pelan. Ada rasa ngilu dan perih di lutut sebelah kirinya.


" Ini lecetnya lumayan besar kang, celana aja sampai koyak gitu. Ngapain sih terjun bebas dari motor segala?"


Surya terkekeh.


" Uji coba ilmu neng.."

__ADS_1


" Ilmu apaan?" tanya Kalia bingung. Tangannya dengan cekatan membersihkan luka di lutut Surya.


" Ilmu kekebalan. Dulu pernah tinggal lama di Banten." jawab Surya asal.


" Belajar ilmu kekebalan?" tanya Kalia lagi semakin penasaran.


" Jualan teh botol..." Surya menahan tawa. Kalia gemas dengan jawaban Surya. Padahal dia sudah serius menanggapi ucapan Surya, ternyata cuma candaan garing. Kalia tertipu.


" Wadaawwww....sakit neng, aduuuh..." Kalia mencocol luka Surya dengan kencang karena kesal mendengar leluconnya.


" Katanya punya ilmu kekebalaaaan??" Kalia makin bergerilya mencocol luka Surya disana-sini.


" Ampun atuh..becanda itu mah.."


***


Gara-gara Surya terluka, jadi lah hari itu Kalia yang mengurus berbagai keperluan. Memasak, menyiapkan bekal, dan pergi kerja bersama menggunakan mobil Kalia.


Untuk pertama kalinya Surya memakan makanan yang di masak Kalia, hatinya berbunga-bunga. Peduli setan deh mau rasanya seperti apa. Yang penting, itu adalah masakan perdana dari isteri yang sangat di sayanginya.


Tapi ternyata di luar dugaan, masakan Kalia benar-benar enak. Apalagi Kalia memasaknya dengan penuh perjuangan karena harus menggunakan dua lapis masker agar tak mencium bau bawang dan rempah-rempah lainnya. Jadilah masakan itu begitu istimewa untuk Surya.


" Hari ini berangkat kerjanya barengan aku aja pakai mobil. Kalau pakai motor, itu lutut pasti lama sembuh karena harus ditekuk." ucap Kalia sambil mendudukan dirinya di sofa malas.


" Nanti pulangnya biar akang nebeng temen aja. Gak apa-apa.." Kalia hanya mengangguk.


***


Di kantor, Surya tak hentinya tersenyum. Setiap kali dia ingat bahwa Kalia memasak untuknya dan membuatkan bekal makan, kedua bibirnya akan terangkat lagi.


Meski harus bekerja dengan perasaan perih di lutut, Surya benar-benar tak merasa keberatan.


" A Surya..kenapa jalannya pincang-pincang gitu?" tanya Ratna yang melihat Surya berjalan pincang ketika memasuki loker.


" Juntai kemaren dari motor."


" Astaghfirullah..terus apa aja yang luka? Mau Ratna obatin gak?" Ratna langsung mengecek badan Surya.

__ADS_1


" Eh..eh..jangan pegang-pegang atuh Rat. Bukan mahrom nyah." ucap Surya sambil beringsut menjauh dari Ratna.


" Ratna khawatir A.." Ratna tampak cemas.


" Jangan sedih gitu atuh, Aa mah gak kenapa-kenapa. Udah diobatin kemarin malem."


" A Surya udah ke dokter? Ya syukurlah kalau begitu." Surya diam, membiarkan Ratna dengan terkaannya.


" Ya udah, Aa istirahat aja. Biar kerjaannya aku yang bantuin. Sok we duduk aja di loker."


Ratna menggamit tangan Surya lagi.


" Mana bisa atuh. Gak apa-apa da aku mah rela luka begini terus juga." jelas Surya kembali tersenyum mengingat Kalia. Dia melepaskan tangan Ratna yang melingkar kuat pada tangannya.


" Kok rela sih? Emang dapat duit banyak dari yang nabrak?" tanya Ratna keheranan dengan penjelasan Surya.


" Nggak, bukan. Siapa bilang saya di tabrak? Jatuh sendiri kok gara-gara jalanan licin. Udah ah..sana lanjut kerja lagi. Malah ngobrol di sini. Nanti ketahuan manager bisa kena tegur." ucap Surya dan mencoba menghindari pertanyaan Ratna berikutnya.


***


Pukul 5 sore, Kalia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia meraih handphone yang tergeletak di samping keyboardnya. Mengetik pesan kepada Surya.


Kerjaan aku udah beres, akang udah pulang? Jadi nebeng apa mau bareng aku aja?


Tidak ada balasan, beberapa menit kemudian.


Belum pulang, neng. Masih di pantry. Barusan sebelum pulang diminta beresin gelas di ruang rapat. Nanti biar pesen ojek online aja.


Kalia berpikir lama kemudian mengetik pesan balasan.


Pulang sama-sama aja, kalau pakai motor nanti lututnya gak kering-kering


Surya tersenyum kecil. Hatinya senang karena Kalia khawatir dengan keadaannya.


Nanti kalau ada yang lihat, bagaimana?


Kita janjian aja di luar gerbang kantor, nanti akang langsung naik. Jadi gak akan berhenti lama. Balas Kalia setelah menunggu beberapa menit.

__ADS_1


Ya udah, gimana baiknya aja. Akang turun duluan kalau begitu. Biar bisa tungguin Lia di depan.


Surya tersenyum getir, bahkan untuk pulang bersama isterinya sendiri pun harus sembunyi-sembunyi seperti ini. Dia jadi iri pada Yudi dan Arni teman satu bagiannya, pasangan sesama OB dan OG. Mereka dengan mudahnya berangkat bekerja bersama dan pulang juga bersama. Tidak perlu takut dengan penilaian orang, tidak akan risih dengan omongan orang. Berbeda jauh dengan keadaanya. Kesenjangan strata jabatan ini benar-benar semakin terasa.


__ADS_2