My Office Boy

My Office Boy
43. Pergolakan Batin


__ADS_3

Setelah menerima bertubi-tubi berita yang tidak mengenakkan, Kalia merasa tidak tertarik mengerjakan apapun. Dia mencoba mengirimkan pesan kepada Surya dan menceritakan semuanya.


" Siapa yang udah tega lakukan itu? Gak habis pikir akang mah." ucap Surya dari sambungan telepon. Surya memutuskan untuk menelepon Kalia setelah melihat foto yang dikirimkan istrinya.


" Aku gak tahu, coba akang tanya Ratna. Barangkali si ulet keket itu yang udah bikin aku gak punya muka di hadapan semua orang." Kalia makin emosi, air mata yang sedari tadi dia tahan sekuat tenaga, ternyata jebol juga ketika mendengar suara suaminya.


" Kayaknya gak mungkin Ratna. Soalnya tadi dia juga nanyain soal ini sama akang. Cuma belum sempat akang kabarin, Lia udah kirim foto duluan. Pantas aja akang ngerasa aneh dari tadi pagi, banyak anak-anak OB yang lihatin akang dengan pandangan sinis. Kayak akang ini punya dosa aja sama mereka." jelas Surya panjang lebar. Ternyata berita ini sudah menyebar bukan saja di kalangan staf tapi juga sudah kemana-mana. Kepala Kalia semakin pening.


" Terus akang jawab apa sama si Ratna?" tanya Kalia masih dengan suara tertahan karena menangis.


" Lia nangis?" tanya Surya yang mulai menyadari perubahan suara dari isterinya dan mengabaikan pertanyaan Kalia soal Ratna. Dia merasa khawatir dengan kondisi Kalia yang menangis saat ini.


" Aku sakit hati aja, kenapa ada orang yang begitu tega menyebarkan hal ini. Padahal ini adalah urusan pribadi, gak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan. Tapi orang itu mengirimkan foto kita ke semua jajaran direksi. Pantas saja tadi pagi aku dipanggil Pak Bambang, mungkin beliau juga dapat email itu. Aku malu kang."


Hening berbahasa. Hanya terdengar suara isakan Kalia sesekali.


" Lanjutin cerita akang, apa yang akang katakan ke si Ratna?" tanya Kalia lagi.


" Akang gak jawab apa-apa, cuma bilang sama dia gak usah ikut campur sama urusan akang. Perkara sama siapapun akang berhubungan, bukan urusan dia. Begitu akang bilang..tapi dia kayaknya emosi terus malah ancam akan laporin hal ini sama manager akang. Bilang kalau akang ada hubungan perselingkuhan sama sesama pegawai, biar dipecat sekalian. Mereka pikir, akang tuh selingkuhannya Lia. Mereka mungkin gak mengira kalau kita ini suami istri. Akang juga gak mengira Ratna akan seemosi itu sampai nekat mau lapor atasan."

__ADS_1


Hening kembali berbahasa..


" Terus kita harus gimana kang?" Surya mendengar Kalia semakin tergugu.


" Kita jujur saja kemudian resign.." jawab Surya kemudian.


" Usaha akang sudah cukup berhasil. Akang sanggup biayai Lia dan anak kita. Akang akan berusaha sekuat tenaga untuk itu. Lia gak usah khawatir." jelas Surya lagi.


Kalia terdiam lama.


" Tapi aku ingin kerja!! ntuk mencapai posisi sekarang, gak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Banyak perih yang aku lalui, akang mungkin gak tahu itu." jawab Kalia, suaranya sedikit meninggi.


" Lagi pula memangnya Lia kuat menanggung semua cemoohan orang-orang di kantor? Meskipun semuanya cuma kebohongan besar tapi kita tidak mungkin menjelaskan kepada setiap orang perihal hubungan kita. Dan ingat, ada si cantik yang sedang tumbuh dalam rahim kamu. Lia harus memikirkan dia juga, gak bisa egois begitu." Surya mencoba menjelaskan setenang mungkin. Dia tahu kini istrinya sedang emosi.


" Lia cuma punya dua tangan, gak mungkin bisa menutup mulut mereka untuk berkomentar. Dan Lia juga tidak bisa mengatur mereka untuk berpendapat apa tentang kita." lanjut Surya lagi.


" Tapi aku bisa gunakan dua tangan itu untuk menutup kedua telinga. Gak mempedulikan pendapat mereka. Pokoknya aku masih mau kerja! Aku gak mau semua usaha aku sia-sia karena masalah ini." Kalia tetap bersikukuh.


" Akang cuma ingin yang terbaik untuk Lia, gak mau Lia menanggung beban pikiran yang terlalu berat. Akang mau Lia dan juga bayi kita tetap sehat lahir dan batinnya. Akang lakukan ini semua, karena akang sayang sama kamu !!" ucap Surya yang merasa sedikit kesal hingga mengganti panggilan Kalia mejadi 'kamu'.

__ADS_1


" Kalau akang sayang sama aku, ya dukung keputusan aku. Aku gak mau seumur hidup menggantungkan diri pada suami, aku perempuan mandiri. Aku ingin punya penghasilan sendiri. Lagi pula, sebelum aku kenal sama akang dan mengandung anak ini..aku ini wanita yang independent." Kalia makin ngotot.


" Ya sudahlah, gak akan bener kalau diomongin via telepon mah. Kita lanjutkan lagi pembicaraan ini di rumah. Tenangin hati kamu, jangan emosi begitu. Nanti kenapa-kenapa lagi. Akang gak mau! Assalamualaikum."


Surya memilih mengakhiri panggilan teleponnya, dia tahu pembicaraan ini tidak akan berakhir baik. Dari pada Kalia semakin emosi, lebih baik dia sudahi saja dan dibahas lebih dalam ketika sudah di rumah dengan pikiran dingin agar bisa mendapatkan solusi yang terbaik.


Kalia yang masih emosi dengan perkataan Surya yang memaksanya untuk keluar kerja semakin membebani isi kepalanya.


" Dia gak tau sesusah apa aku raih semua ini, dia gak tahu sudah seperti apa aku bekerja selama ini. Hingga tak punya waktu banyak untuk menikmati hidup." batin Kalia seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


" Shit..!! brengsek..!! Siapa yang udah tega lakukan ini semua!! Bener-bener gak ada akhlak..!! Lihat saja kalau sampai ketemu siapa yang sudah menyebarkan berita ini, dia bakalan habis..!!" Kalia bergumam sendiri sambil beberapa kali memukulkan tangannya pada meja kerjanya. Kemudian menarik rambutnya dengan perasaan frustasi.


Dia merasa semua usahanya selama ini menjadi begitu cepat luruh ketika sudah mengenal Surya dan mengandung bayi ini dalam rahimnya. Hilang sudah Kalia yang begitu di elu-elukan atasan karena kinerja kerjanya yang mumpuni. Bahkan manager PPIC yang sudah sedari awal tak menyukainya begitu mudah mengintimidasinya karena masalah kehidupan pribadi.


Dia merasa lemah, merasa kalah. Mungkin bila dari awal dia tak menikahi Surya dan menggugurkan saja bayi ini, Kalia masih tetap dengan harga dirinya yang tinggi. Dia tetap menjadi Kalia yang independent dan membanggakan.


Digelengkan kepalanya dengan kuat, dia harus menyingkirkan semua pikiran negatif itu. Dia harus merasa beruntung karena telah memiliki lelaki yang sangat mencintainya serta anak dalam kandungannya ini. Dia yang salah, karena kecerobohannya lah semua ini terjadi. Jika saja dia kuat hati untuk tidak meminum minuman keras itu, maka semua kesialan ini tak akan menimpanya. Ternyata Tuhan masih saja menghukumnya atas perbuatan yang dia lakukan.


Kalia semakin tergugu. Kepalaya berdenyut menyakitkan. Pergolakan dalam batinnya begitu hebat. Antara ingin menjadi istri yang baik atau wanita karir yang sukses. Kalia menelungkupkan dirinya di atas meja kerja kemudian menangis tertahan. Dia tak ingin kondisinya yang menyedihkan menjadi bahan tontonan semua staf nya yang sedari tadi mencuri-curi pandang ke arah ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2