My Office Boy

My Office Boy
51. Seperti Tersambar Petir


__ADS_3

Hari itu Surya menyelesaikan semua pekerjaannya dengan perasaan gamang. Pikirannya terus saja tertuju pada Kalia. Apakah hari ini Kalia mau makan? apakah masih menangisi kepergian anak mereka? bagaimana dengan luka operasinya? apakah Kalia mau minum obat?? semua pikiran itu bercampur menjadi satu, membuat dada Surya sesak. Ingin segera pulang untuk melihat keadaan istrinya.


Beberapa kali Surya menghubungi mertuanya, bertanya perihal kabar Kalia. Tapi Mama Rani bilang belum ada perubahan yang berarti. Kalia masih sering menangis dan mengurung diri. Beruntung Lia sudah mau makan meski sedikiiit sekali dan itu pun harus dipaksa dengan gerilya oleh ibunya. Kerjaannya ya hanya berdiam diri saja di kamar. Bahkan diajak mengobrol oleh mamanya pun tidak menanggapi.


Entah apa yang bisa Surya lakukan untuk dapat membuat istrinya ceria kembali.


Sepulang kerja, Surya menyempatkan diri untuk mengecek beberapa usahanya. Sudah hampir satu minggu terbengkalai tanpa pengawasan. Jadi hari ini dia memutuskan untuk melihat perkembangan usahanya. Tapi beruntung, Surya memiliki karyawan yang loyal dan jujur, karena Surya memang selalu memperlakukan mereka dengan baik layaknya keluarga. Jadi ketika mengetahui bos mereka sedang berduka, semua pekerjaan bisa terhandle dengan baik oleh karyawan-karyawan kepercayaannya. Belum lagi Pak Asep, bapaknya Surya yang langsung turun ke lapangan untuk membantu anaknya. Membuat Surya jadi merasa sangat lega ketika meninggalkan usahanya untuk fokus merawat Kalia.


Tanpa berlama-lama, Surya langsung membereskan semua barangnya dan pergi ke beberapa toko tanaman hias miliknya untuk mengecek pembukuan dan ketersediaan barang. Kemudian memeriksa bibit-bibit bunganya di lab dan terakhir mengecek semua persediaan tanah, pupuk, serta obat-obat penunjang lainnya. Semuanya dalam kondisi baik dan stok juga aman terkendali, hingga Surya merasa sangat tenang bila beberapa hari kedepan tidak bisa intens melakukan pengecekan. Dia ingin banyak menghabiskan waktunya dengan Kalia demi kesembuhan fisik dan psikisnya.


Selesai dari sana, Surya segera kembali ke rumah Ibu Rani. Dia sudah sangat merindukan Kalia. Ingin segera melihat keadaan istrinya.


***


Sesampainya di rumah, Surya langsung bersih-bersih. Ingin tampak segar ketika menemui Kalia. Ibu Rani sudah beristirahat di kamarnya karena merasa kelelahan sudah merawat Kalia seharian penuh.


Diketuknya pintu kamar Kalia perlahan.


Tok


Tok


Tok


Tak ada sahutan, kemudian dia melongok kan kepalanya. Ternyata Kalia sedang berbaring di tempat tidur. Meski lampu kamar Kalia dibuat temaram, tapi dia bisa melihat dengan jelas bahwa istrinya sedang berbaring. Sepertinya Kalia sudah tidur.


Dengan perlahan Surya memasuki kamar tersebut. Melihat Kalia dalam keadaanya sekarang ini begitu menyayat hati. Dalam hitungan satu minggu saja, badan Kalia seperti mengurus. Kelopak matanya cekung dan menghitam. Dia tampak lusuh.

__ADS_1


Dikecupnya kening Kalia dengan lembut. Rasa rindu dalam hatinya benar-benar telah membuncah hingga membuat Surya tak tahan untuk mencium istri yang sangat disayanginya. Tiba-tiba saja, Kalia membuka mata, kemudian terlihat kaget dan dengan cepat beringsut menjauhi Surya.


" Neng. maaf, akang kangen sekali. Jadi akang cium sedikiit saja. Jangan marah ya.." ucap Surya merasa tak enak hati.


" Keluar kang.." jawab Kalia dengan suara tercekat.


" Tapi kenapa? Apa yang membuat Lia jadi dingin begini sama akang? Tolong Lia kasih tahu, agar akang bisa memperbaiki diri jika akang salah. Akang minta maaf.." ucap Surya lagi sambil berusaha merengkuh tubuh istrinya.


" Jangan sentuh..!!" jerit Kalia. Surya sampai terhenyak.


" Ya Allah sayang. Kenapa sama Lia? Kenapa jadi begini? Apa salah akang, sayang?" Surya semakin bingung dengan perubahan sikap istrinya yang drastis.


" Akang sangat sayang sama Lia, akang sangat cinta sama Lia. Akang akan selalu ada untuk Lia. Lia juga tahu itu kan?" tanya Surya mulai terlihat putus asa.


Kalia tiba-tiba menatapnya dengan tajam.


" Kalau aku tidak mengenal kamu, kalau aku tidak mengandung anak kamu, kalau aku tidak menikah dengan kamu, aku tidak akan seperti ini!!! karirku hancur, hidupku hancur!! semuanya hancurr..!!!!!" Kalia semakin histeris. Matanya menyalang liar, ada amarah yang tersimpan disitu.


" Dari awal, kamu juga gak menginginkan anak perempuan kan? makanya Tuhan ambil dia lagi. Bahkan setelah aku mencoba menerima semuanya, ternyata Tuhan masih saja membenciku, dia juga ambil anakku..!!kenapa Tuhan seperti mempermainkan hidupku?? kenapaa???" Kalia semakin panik, dia menjambaki rambutnya. Menceracau tak jelas. Surya mencoba memeluknya, mencoba menenangkannya. Ada rasa sakit di dada Surya mendengar semua perkataan Kalia.


" Istighfar sayang.. istighfar..gak baik berburuk sangka sama Allah. Dosa besar..!!" Surya terus mencoba memeluk istrinya, berharap dengan begitu Kalia akan merasa tenang. Tapi ternyata sebaliknya, Kalia malah berontak sekuat tenaga.


" Pergi..pergi aku bilang!!! Pergi dari sinii..!!! Jangan sentuuuhh..!!!" Kalia semakin memberontak. Dia kehilangan kontrol diri. Surya takut istrinya akan terluka, dia akhirnya menyerah dan melepaskan pelukannya.


Ibu Rani yang sedang beristirahat di kamarnya langsung terlonjak kaget mendengar teriakan Kalia dan segera berlari menemui anaknya.


" Lia..Ya Allah..istighfar geulis..istighfar. Jangan kayak gini..jangan sayang.." ucap Bu Rani kemudian memeluk tubuh Kalia. Kalia masih saja menangis histeris. Dia memukul-mukul kepalanya.

__ADS_1


" Tenang sayang, ini mama. Mama ada disini buat Lia." Bu Rani menciumi kepala Kalia yang terbenam dalam pelukannya dan mencoba menghalau tangan Kalia yang terus saja ingin memukuli diri sendiri.


" Mamaaa..Mamaa...tolong Lia, Maaa. Hidup Lia sudah hancur. Lia udah kehilangan semuanya..." Kalia terus saja memanggil-manggil mamanya sambil menangis histeris.


Surya pun tak kuasa menahan air matanya, dia sama sekali tak mengira Kalia akan begitu trauma karena kehilangan anak mereka. Semua yang dikatakan Kalia begitu melukai hatinya. Tapi melihat Kalia yang mengamuk seperti itu lebih terasa menyakitkan. Nyeri yang teramat sangat hingga membuatnya seperti kehabisan oksigen. Sulit bernafas...!!


Air mata terus saja meleleh membasahi kedua mata Kalia. Ibu Rani masih memeluk dan mengelus punggung Kalia dengan lembut. Mencoba menenangkan putri semata wayangnya.


Dalam pelukan mamanya, Kalia kemudian mengatakan sesuatu, kata-kata yang terasa seperti sambaran petir di telinga Surya. Kata-kata yang Surya pikir tidak akan pernah terucap setelah hubungannya membaik dengan Kalia. Kata-kata yang amat sangat terasa pahit.


" CERAIKAN AKU..!!" ucap Kalia sambil menatap mata Surya lekat.


Surya tiba-tiba limbung, dia merasa mual. Perkataan Kalia benar merobek hatinya. Sesak di dadanya semakin terasa, dengan cepat Surya keluar dari kamar Kalia. Dia menarik nafas dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya dengan cukup udara, tapi rasanya masih begitu sesak. Surya merasa ingin muntah, dia kemudian berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.


Setelah itu, tubuhnya lemas bukan main. Kedua kakinya tak mampu menopang bobot tubuhnya, dia merosot dan terduduk lesu di lantai kamar mandi sambil menangis tersedu-sedu.


*


*


*


*


*


Akankah Surya memenuhi keinginan Kalia untuk bercerai? Nantikan kisah selanjutnya ya reader?

__ADS_1


Jangan lupa beri like, komen dan juga votenya. Terimakasih banyaak


__ADS_2