My Office Boy

My Office Boy
56. Berpikir Jernih


__ADS_3

Kalia termenung lama sekali, pembicaraannya beberapa hari yang lalu bersama Ibu Rani menyisakan rasa yang berbeda. Sebelah hatinya merasa bersalah pada Surya, tapi sebelah hati yang lain masih ada rasa marah.


Ya, Kalia memang egois. Dia sangat menyadari itu. Tapi bukan tanpa alasan dia marah besar kepada Surya. Salah satu yang membebani pikiran dia saat itu adalah permintaan Surya agar dia resign dari pekerjaannya. Meski Kalia tahu, bahwa Surya memintanya untuk berhenti bekerja adalah karena khawatir Kalia akan semakin tertekan dengan gosip yang beredar tentang mereka. Tapi tetap saja terasa berat untuknya melepas semua hal yang sudah dia raih dengan susah payah.


Gosip tersebut memang tidak serta merta ada begitu saja. Karena Kalia dan Surya merahasiakan status mereka lah, maka akhirnya orang-orang jadi berasumsi aneh tentang mereka. Tapi Kalia lagi-lagi merasa kesal, kalau saja dari awal Surya mau menuruti keinginannya untuk fokus berbisnis saja dan tak perlu bekerja sebagai OB, pasti semuanya lebih mudah. Tak akan ada orang yang mengambil foto mereka berdua kemudian menyebarkannya ke semua orang.


Tapi dibalik semua kekesalan itu, terselip rindu di hatinya terhadap Surya. Bagaimana tidak, meski selama lebih dari satu minggu ini, Kalia dalam keadaan sedih yang mendalam karena kehilangan buah hatinya tapi dia tahu dan sadar bahwa Surya tak pernah meninggalkannya barang sekejap. Wajah Surya lah yang selalu dia lihat petama kali ketika Kalia membuka mata. Meski saat itu Kalia tak berbicara sedikitpun, tapi Surya tetap telaten menjaga dan merawatnya. Matanya pun selalu terlihat sembab dan merah. Surya pasti sama terpukulnya dengan Kalia ketika kehilangan bayi mereka.


Kalia menyadari, bahwa ucapannya meminta cerai dari Surya karena dibawah pengaruh emosi. Dia tidak berpikir jernih. Tapi nasi sudah menjadi bubur, kata itu sudah terlontar dari mulutnya dan harga dirinya terlalu tinggi bila harus menarik kata-kata itu kembali.


Kalia mencoba mencari handphone nya. Sudah berhari-hari dia tak mengecek handphone tersebut. Entah dimana keberadaannya sekarang. Kebetulan Bu Rani juga masuk kamar untuk mengantarkan makan siang untuk Kalia.


" Ma..Lihat handphone Lia gak?" tanya Lia ketika ibu Rani menyimpan makanannya diatas nakas.


" Ada sama mama, mama sampai lupa kasih ke kamu. Itu Surya titipkan waktu kamu pulang dari rumah sakit. Sebentar mama ambil dulu, tapi pasti mati sih karena udah berhari-hari gak di charger." ucap Ibu Rani kemudian mengambil handphone Kalia di kamarnya.


Setelah dia terima, Kalia memasangkan charger dan menunggu beberapa saat sampai agak terisi. Sambil menunggu handphone nya terisi, dia memakan makan siang yang diantarkan mamanya.


Setelah selesai makan, Kalia mencoba menyalakan handphone tersebut, ada rasa cemas dalam hatinya. Ketika handphone nya hidup, notifikasi pesan masuk langsung berbunyi banyak seperti tembakan. Ada banyak pesan yang baru masuk setelah beberapa hari handphonenya mati.


Kalia membuka pesannya satu persatu. Ada banyak pesan dari rekan kerjanya, bertanya perihal keadaan Kalia. Ada juga puluhan pesan dari Surya, menanyakan kabar, memintanya minum obat dan makan, menyemangatinya, dan mengatakan bahwa dia rindu pada Kalia. Semua pesan itu semakin membuat Kalia rindu akan perhatian Surya. Suaminya memang selalu berusaha membuatnya nyaman, dalam kondisi apapun. Ada setitik rasa bersalah di hati Kalia.


Di scroll nya layar handphone tersebut. Ada pesan dari Pak Haris, manager Surya. Beliau menjelaskan bahwa masalah foto yang tersebar sudah dibereskan oleh Surya dan dirinya. Betapa terkejutnya Kalia ketika mengetahui bahwa pelaku penyebaran foto tersebut adalah staf nya sendiri, yaitu Sri.


Kalia langsung mencoba menelepon Pak Haris untuk menanyakan kronologisnya secara detail. Dalam deringan ketiga, Pak Haris mengangkat teleponnya.


" Halo, selamat siang Pak.." ucap Kalia yang langsung dijawab oleh Pak Haris.

__ADS_1


" Selamat siang, Bu Kalia. Bagaimana kabarnya?"


" Alhamdulillah, Pak. Sudah berangsur pulih." jawab Kalia.


" Saya turut berduka cita atas meninggalnya anak Ibu. Maaf saya belum bisa menjenguk secara langsung." ucap Pak Haris merasa bersalah.


" Gak apa-apa, Pak. Do'anya saja." jawab Kalia singkat.


Kalia terdiam sejenak.


" Hmm..saya mau bertanya soal pesan whatsapp Bapak beberapa hari lalu. Itu, apa benar pelakunya staf saya sendiri?" Kalia makin tak sabar.


" Iya benar, Bu. Beberapa hari kemarin saya dan Surya mencoba mencari tahu dan ternyata pelakunya memang staf Bu Kalia sendiri. Sepertinya Sri ada masalah personal dengan Bu Kalia, benar begitu?" tanya Pak Haris, membuat Kalia langsung mengingat pernah menegur Sri dengan keras dulu karena hasil pekerjaannya yang acak-acakan.


Hening sejenak.


" Sepertinya Bapak sudah mengetahui hubungan saya dengan Surya ya?" tanya Kalia kemudian.


" Betul, Pak. Saya memang sudah menikah dengan Surya beberapa bulan yang lalu. Saya juga mengandung anak Surya. Tapi memang salah saya yang tidak menceritakan perihal pernikahan saya hingga gosip aneh jadi merebak di kantor tentang kami. Tadinya saya berpikir, ini urusan pribadi saya jadi tak perlu lah mengumbar-umbar semuanya. Tapi saya gak tahu kalau kejadiannya malah akan jadi keruh seperti ini. Maaf saya jadi bikin kegaduhan di kantor, Pak." ucap Kalia menyesal. Tak ada jalan lain, kali ini dia memang harus jujur.


" Saya juga akui, saya pernah menegur Sri dengan keras di depan staf yang lain. Masalahnya hasil pekerjaannya benar-benar mengecewakan saya. Belum lagi banyak pekerjaan dia yang terbengkalai. Saya jadi kesal. Tapi saya benar-benar gak habis pikir kalau Sri akan menaruh dendam terhadap saya dan malah menyebarkan foto saya bersama Surya." lanjut Kalia, suaranya terdengar bergetar menahan tangis.


" Sri sudah kami berikan SP tiga, Bu. Tapi sepertinya dia juga merasa ketakutan dengan kejadian tersebut. Soalnya waktu kami sedang menyelesaikan masalah ini, Surya sangat emosi bahkan mengancamnya untuk membawa masalah tersebut ke ranah hukum." jelas Pak Haris lagi. Kalia langsung terhenyak kaget.


" Surya mau membawanya ke jalur hukum, Pak? Serius?" tanya Kalia lagi.


" Iya tapi tidak jadi, karena Sri sampai berlutut memohon maaf. Surya akhirnya cuma meminta pihak perusahaan saja yang memberikan sanksi seadil-adilnya pada Sri. Akhirnya kami memberikan SP 3. Itu sesuai kesepakatan semua saat rapat direksi hari kamis lalu. Banyak pertimbangan yang kami lakukan. Maaf kalau tidak melibatkan Bu Kalia." jelas Pak Haris.

__ADS_1


" Tapi Sri mengundurkan diri, Bu Kalia. Dia sangat menyesal atas kejadian ini. Memangnya Surya belum menceritakan hal ini sama Ibu?" tanya Pak Haris, Kalia hanya menjawab pelan.


" Nggak, Pak. Beberapa hari ini kang Surya tinggal di rumah orang tuanya di Lembang. Ada yang harus diselesaikan." jawab Kalia mencari alasan yang tepat agar Pak Haris tak curiga.


" Lantas bagaimana menurut Bu Kalia sendiri? Apakah mau melanjutkan ke jalur hukum ?." tanya Pak Haris, membuat Kalia kebingungan untuk menjawab.


Beberapa lama kemudian..


" Saya juga mengaku salah karena telah memarahi Sri dengan kasar di depan semua orang. Saya memaklumi jika Sri sakit hati. Jadi saya tidak akan membawa hal tersebut ke jalur hukum, Pak. Akan kami selesaikan secara kekeluargaan saja." jawab Kalia kemudian.


" Baik kalau begitu, lebih bagus seperti itu, Bu. Dan kemarin, saya juga menerima surat pengunduran diri dari Surya. Ibu tahu tentang itu juga? " Kalia hanya terdiam mendengar hal tersebut, hati Kalia seketika mencelos.


" Awalnya saya merasa keberatan dengan pengunduran dirinya, karena Surya itu salah satu OB terbaik yang saya miliki di departemen saya. Tapi pada akhirnya saya ijinkan juga. Dia bilang, hal tersebut adalah jalan yang terbaik, agar Ibu tidak dipindahkan ke kantor cabang lain." lanjut Pak Haris lagi.


" Iya, Pak. Terimakasih atas informasinya. Dan terimakasih banyak sudah membantu kang Surya menyelesaikan masalah kami. Saya merasa lebih tenang sekarang." ucap Kalia.


Setelah pembicaraannya di telepon dengan Pak Haris berakhir. Kalia termenung lama sekali. Matanya seketika memanas. Dia ingin menangis sedih juga lega karena semuanya sudah berakhir baik. Ternyata dibelakangnya, Surya telah membereskan semua masalah mereka di kantor sekaligus membersihkan namanya. Kalia merasa bersyukur sekaligus bersalah pada Surya. Ada rasa rindu mencelat dalam hatinya.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Selamat menikmati karya saya ya reader. Jangan lupa like, komen dan votenyaa.


Tetap jaga kesehatan yaa..semoga pandemi ini segera berakhir.


__ADS_2