My Office Boy

My Office Boy
64. Boleh Dicicil


__ADS_3

Selesai mandi, Surya melihat Kalia sedang duduk sambil bersandar di headboard tempat tidur. Senyum cerah menghiasi bibir merah Kalia.


" Kenapa yang? mukanya kok cerah begitu?" tanya Surya penasaran.


" Seneng habis godain mama yang ngomel-ngomel gara-gara wak Damar." jelas Kalia dengan senyum yang masih tersungging.


" Kenapa lagi sama uwak?" tanya Surya sambil mendudukan dirinya di tempat tidur kemudian meraih kaki Kalia dan memijatnya pelan.


" Uwak ngajakin mama jalan berdua. Mau jadi tour guide kayaknya. Mamanya gak mau, jadi marah-marah deh sambil masak, sayur aja habis dicincang tuh." jelas Kalia lagi sambil tertawa.


" Waduh..sadis amat marahnya mama kamu, yang." Surya ikut tertawa, membayangkan muka mertuanya yang cemberut sambil memotong sayuran.


" Mama akang jugaa.." timpal Kalia sambil mencebikkan bibirnya.


" Gimana hari ini di kantor? Udah perpisahannya? Salam-salaman dong sama Ratna?" tanya Kalia penuh selidik.


" Salaman, tapi kan bareng sama yang lain juga. Tadi perpisahannya di ruangan Pak Haris. Tumben banget pak Haris sampai ngumpulin semua OB di kantornya terus perpisahan secara resmi. Akang jadi gak enak hati, merasa diistimewakan." jelas Surya yang kini berpindah memijat halus pergelangan Kalia.


" Ya karena memang akang OB spesial. Mana ada OB yang bisa nikahin manager kayak aku. Mana ada juga OB yang jadi owner usaha agribisnis sukses. Cuma akang orangnya, jadi jelas aja akang itu OB spesial. Terutama di hati aku." goda Kalia sambil mencium pipi Surya cepat. Kemudian membenarkan posisi duduknya.


" Akang serius ijinin aku buat kerja lagi nanti?" tanya Kalia, wajahnya berubah serius. Surya mengangguk cepat.


" Iya boleh, akang memang gak ada niat untuk nyuruh Lia berhenti kerja kok. Kemarin itu, akang terbawa emosi, takut Kalia terbebani pikirannya sama gosip yang beredar tentang kita. Tapi justru omongan akang itu, malah semakin membuat Lia kebingungan dan tertekan. Maafin akang ya.." ucap Surya sambil menangkup wajah Kalia. Kalia mengangguk dan tersenyum haru.


" Gak apa-apa kang. Semuanya juga salah saat itu, aku sama akang terbawa emosi jadinya gak berpikir jernih. Mungkin udah takdir kita juga gak bisa memiliki Humaira, aku sekarang udah gak mau mengingat hal yang sedih lagi. Mau ingat hal-hal yang membahagiakan aja, biar kedepannya semakin bahagia. Sama akang dan InsyaAllah anak-anak kita nanti." jelas Kalia sambil mengusap wajah Surya yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu kasar.


" Iya..yang bahagia aja ya. Berarti sekarang mah udah boleh itu atuh ya?" tanya Surya sambil cengengesan.


" Itu apa?" tanya Kalia masih belum menangkap maksud yang disampaikan suaminya.


" Ituu.." ucap Surya sambil menunjuk dada Kalia dengan matanya dan alis yang terangkat. Kalia melihat ke dadanya. Kemudian tertawa.


" Belum boleh, aku masih nifas kang. Tunggu sampai lewat empat puluh hari ya. Sekitar satu minggu lagi deh." Surya langsung lesu di tempat.

__ADS_1


" Tapi perut Lia gimana? Masih sakit gak?" tanya Surya sambil menyentuh perut istrinya perlahan.


" Masih ngilu-ngilu sedap.." jawab Kalia lagi sambil tersenyum lebar.


" Yaaah...kayaknya bakal lebih lama dari satu minggu sih. Akang gak tega lihat Lia kesakitan. Lagian akang inget ucapan dokter kalau Lia gak boleh cepat-cepat punya anak dulu, kan luka bekas operasinya masih baru." ucap Surya sambil menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur kemudian meringkuk lucu.


" Semua akan indah pada waktunya, sayang. Sebagai permulaan, akang boleh kok nyobain ini dulu." ucap Kalia kemudian membuka kancing baju bagian atasnya sampai tiga kancing kebawah hingga menampakkan kulit dadanya yang mulus dan putih.


Surya sambil terlonjak dari tidurnya kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.


" Dicicil dulu ya.." goda Kalia kemudian menarik kepala Surya mendekat. Surya hanya menurut saja seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Kemudian menelusup diantara kedua bukit ranum milik Kalia. Wangi tubuh Kalia langsung menguar, membuat hasrat kelelakiannya meronta-ronta. Rasa hangat di pipinya karena bersentuhan dengan dada Kalia langsung menjalar cepat keseluruh tubuh.


Tubuh Surya menegang, tangannya mulai berani bereksplorasi. Membuka dua cup ukuran 38 B itu perlahan hingga menyembulkan dua buah putih yang bertekstur halus dan kenyal berisi.


Mulut Surya mulai membuka perlahan, mencoba menjilat biji coklat diatasnya, mungkin saja rasanya manis seperti chocochips. Tapi tidak, rasanya tidak begitu. Hambar saja, cuma sangat menyengat aliran darahnya. Tubuhnya seperti tersetrum, apalagi ketika didengarnya Kalia mendesah halus di telinganya.


" Aaaghh.." desah Kalia kemudian menggigit bibir bawahnya. Surya semakin tak terkendali. Dia mulai mengulum dua biji coklat itu bergantian dengan rakus. Kalia semakin menggelinjang tak tertahankan.


Inti tubuh Surya menegang. Rasanya tak bisa lagi diajak bersabar. Kalia makin mendesah-desah kuat bahkan sesekali meremas rambut Surya. Surya menyesap dada mulus itu agak kuat hingga membuat tanda kepemilikan.


Tiba-tiba saja terdengar ketukan keras di pintu kamar mereka.


Tok


Tok


Tok


" Suryaa..Liaa...makan duluuu, udah sore ini teh, jangan tidur dulu, pamalii..!" teriak Ibu Rani dengan suara stereo.


Surya langsung terlonjak kaget. Nafasnya masih memburu. Pemandangan buah ranum di depannya masih begitu menggiurkan, tapi panggilan ibu mertua membuat mereka terpaksa menghentikan aksi liar itu.


Kalia tampak menepuk kening sambil tertawa kecil. Apalagi ketika melihat ekspresi Surya yang terlihat sangat kecewa, kedua bibir suaminya langsung mengerucut.

__ADS_1


" Sabar ya sayang, ada titah dari ibunda ratu dulu. Nanti kita lanjutkan di chapter selanjutnya aja ya."ucap Kalia sambil tersenyum lucu melihat Surya yang hanya bisa mengangguk sedih. Kalia beranjak dari tempat tidur kemudian mengambil baju yang Surya lempar sembarangan.


" Ini Surya junior selalu kena tanggung terus. Lama-lama bisa jadi kolang-kaling yang."ucap Surya kemudian.


"Kalau jadi kolang-kaling, tinggal kita bikin kolak aja, campur sama pisang dan santan." Kalia malah menggoda Surya kemudian tertawa puas. Surya makin cemberut.


Selesai memakai bra dan juga baju, Kalia menggamit lengan suaminya.


" Udah yuk, kita makan dulu." Surya hanya mengikuti istrinya dengan wajah yang masih ditekuk.


Kalia membuka pintu kamarnya, Ibu Rani sudah berdiri disana.


" Ayo makan dulu, itu mama udah masak buat kalian. Hayuk keluar..kasihan, Surya pasti lapar habis kerja, belum makan pasti." ucap Ibu Rani lagi.


" Kang Surya udah makan buah kok, Ma." jawab Kalia sambil melihat suaminya yang tersenyum sumir.


" Aaah..makan buah mah gak kenyang, lebih kenyang makan nasi. Lagian emang kalian simpen buah di kamar? hati-hati sampahnya dibuang, suka banyak rametuk (laron) kalau disimpen dimana aja teh." ucap Ibu Rani lagi sambil berjalan menuju meja makan.


Kalia langsung tertawa mendengar ucapan mamanya kemudian berbisik kepada Surya yang berjalan lesu dibelakangnya.


" Tenang aja kang, buah aku mah gak akan busuk kok. Gak akan dikerubutin rametuk." bisik Kalia sambil nyengir. Surya hanya mampu menarik nafas panjang.


Duh..Gustiii.....meuni berat pisan cobaan yang ini mah..!! batin Surya dalam hati sambil berjalan gontai menuju meja makan.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Mohon bersabar kang, ini ujian..hahahaha.


Selamat menikmati karya saya ya reader. Jangan lupa kasih vote, like, dan komennya. Terimakasiiih...


__ADS_2