
Surya baru sampai di rumah sekitar pukul lima sore. Badannya masih terasa pegal dan penuh keringat. Minggu ini adalah minggu terakhir Surya bekerja sebagai office boy di PT. Sumber Farma, meski terasa berat tapi Surya harus berbesar hati agar Kalia bisa tetap bekerja di tempat tersebut. Dia tak ingin berpisah dengan Kalia. Bila Surya tetap bekerja disana, bisa jadi dia atau Kalia akan di pindahkan ke kantor cabang lain. Surya tak ingin hal itu terjadi, terlebih bila itu menimpa Kalia.
Selesai membersihkan diri, Surya meraih handphone nya. Dia bermaksud untuk menghubungi mertuanya dan bertanya tentang keadaan Kalia hari ini sebelum shalat maghrib.
" Assalamualaikum, Ma. Gimana kabar Mama dan Lia, sehat?" tanya Surya ketika mertuanya mengangkat telepon dari nya.
" Waalaikumsalam..hemm kamu mah basa-basi pisan pakai nanya kabar mama segala. Kan setiap hari juga suka telepon mama, bilang aja mau nanya kabar Lia." jawab Ibu Rani sambil tertawa. Surya tersenyum jengah.
" Tapi Surya juga ingin tahu kabar Mama atuh. Kalau Mama sakit juga gimana? Surya khawatirnya jadi double."
" Mama sehat, Sur. Kalau Lia agak kurang baik ini teh, dia menggigil terus dari tadi siang. Lukanya lama kering. Barusan udah diganti perbannya tapi masih merah dan kelihatan kayak bernanah gitu luka bekas operasinya. Mama jadi khawatir. Apalagi Lia tuh susah banget disuruh makan putih telur banyak-banyak, enek katanya. Jadi kan lukanya lama sembuh." jelas Ibu Rani terdengar khawatir.
Surya langsung bangkit dari posisi duduk nyamannya di sofa. Air mukanya seketika pias, merasa khawatir dengan keadaan istrinya.
" Kita bawa aja ke rumah sakit ya, Ma. Mumpung belum terlalu malam." ucap Surya sambil bersiap mengambil kunci motornya.
" Mama tanya Lia dulu ya, takut dia marah sama Mama kalau Surya tiba-tiba datang." ucap Bu Rani lagi.
Surya seketika lemas di tempat, bagaimana kalau Kalia menolak bertemu dengannya. Tapi keadaan Kalia lebih butuh perhatian khusus sekarang ini, bagaimana kalau lukanya infeksi dan bisa berakibat fatal pada kesehatannya. Tapi kalau Kalia tiba-tiba mengamuk seperti terakhir kali, bisa berbahaya juga untuk psikisnya. Surya benar-benar dilema. Akhirnya dia hanya bisa menunggu kabar dari Ibu Rani dengan harap-harap cemas.
Tiba-tiba telepon Surya berdering lagi, dari Ibu Rani.
"Surya cepet kesini, ini Lia badannya panas sekali.Dia bilang perutnya sakit. Mama khawatir Lia kenapa-kenapa.." suara Ibu Rani terdengar putus asa. Dengan secepat kilat, Surya menyambar kunci motornya kemudian mengenakan jaket yang tersampir di sofa.
" Iya, Ma. Surya kesana sekarang.." jawab Surya dan tanpa menunggu lama, langsung tancap gas menuju rumah Ibu Rani.
Untunglah jalanan tidak terlalu ramai, jadi dalam waktu kurang dari satu jam Surya sudah sampai di pelataran rumah mertuanya. Dia memarkirkan motornya dengan tergesa kemudian berlari menghambur masuk kedalam rumah bahkan tanpa mengucapkan salam.
Surya langsung menuju kamar Kalia, dilihatnya Bu Rani masih disana. Sedang mengompres Kalia yang meringkuk dengan dibalut selimut tebal. Rasa sedih langsung menyergap Surya. Dia selalu tak tahan melihat Kalia kesakitan. Karena hal itu membuatnya sakit berkali-kali lipat.
Melihat Surya sudah datang, Ibu Rani langsung meminta Surya keluar dulu dari kamar
__ADS_1
" Ma..bagaimana Lia? Apa gak sebaiknya dibawa ke rumah sakit aja?" tanya Surya dengan suara tercekat.
" Mama juga inginnya gitu, tapi Kalia bilang nggak mau. Dia tetap ingin di rumah aja. Katanya kasihan kalau mama harus merawat Lia di rumah sakit sendirian. Mungkin dia mengira kamu gak akan datang." jelas Ibu Rani.
" Coba Surya bujuk Lia.." bujuk Ibu Rani pada Surya. Surya tampak ragu-ragu, dia takut istrinya akan emosi bila dia mendekatinya.
Ketika Ibu Rani dan Surya sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing, terdengar rintihan Kalia memanggil-manggil Ibu Rani dari dalam kamar.
" Mamaa...mama perut Lia sakit, Maa...Aaagghh...Mamaa..!!" rintih Kalia sambil memeluk perutnya dengan posesif.
Surya dan Ibu Rani langsung menghambur menemui Kalia yang sedang merintih kesakitan.
" Lia..kenapa sayang?" dengan wajah panik, Ibu Rani langsung mendekati Kalia dan mengusap-usap punggung anaknya yang sedang meringkuk sambil memegangi perut.
" Sakit..Maa..Aaagghh.." Kalia kembali mengerang kesakitan. Melihat hal tersebut, Surya tak bisa tinggal diam. Diangkatnya Kalia dari tempat tidur dengan gaya bridal style kemudian membawanya ke dalam mobil.
Wajah Kalia pucat pasi, keringat mencelati keningnya. Ketika Surya merengkuhnya, hawa panas dari badan Kalia langsung terasa. Istrinya benar-benar demam tinggi.
Kalia tampak pasrah, tenaganya sudah terlalu sedikit untuk dapat menghalau rengkuhan Surya di tubuhnya. Dia membiarkan Surya menggendongnya dengan aman sampai ke dalam mobil, pun tak menolak ketika Surya berniat membawanya ke rumah sakit. Yang terjadi nanti biar nanti saja dipikirkan. Kali ini perutnya lebih membutuhkan perhatian. Begitu batinnya.
Ketika Surya sedang mengatur posisi Kalia agar nyaman di mobil. Ibu Rani sudah membawa sebuah kantong berukuran sedang yang berisi beberapa potong baju Kalia dan surat-surat yang mungkin diperlukan.
Kalia masih memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya, berusaha menghalau nyeri di perutnya yang terasa seperti ditusuk-tusuk. Dia membiarkan Surya mengambil alih atas dirinya, memasangkan safety belt dan menyangga kepalanya dengan bantal.
" Mama mau ikut ke rumah sakit juga." ucap Ibu Rani kemudian.
" Tapi sekarang ini di rumah sakit tidak boleh lebih dari 1 orang yang menunggu pasien, Ma. Surya gak tega membiarkan mama di luar sendirian. Mama tunggu kabar dari Surya aja ya. Secepatnya Surya akan kabari Mama. Jangan khawatir, Lia aman sama Surya." bujuk Surya lembut dan membuat Ibu Rani menyerah juga.
" Ya udah kalau gitu, kabari mama secepatnya. Hati-hati dijalan." ucap Ibu Rani kemudian.
Surya segera masuk ke dalam mobil kemudian melajukan mobil Kalia menuju rumah sakit dengan perasaan cemas yang masih menggelayuti hatinya.
__ADS_1
Sesekali dia melihat istrinya yang masih mengerang-erang kesakitan. Mata Kalia mengatup dengan keras, menghalau rasa nyeri di perutnya yang semakin menjadi-jadi.
Sesampainya di rumah sakit, Kalia langsung mendapatkan perawatan intensif oleh dokter dan suster di rumah sakit tersebut. Ternyata luka sayatan pasca operasi caesarnya mengalami infeksi karena tidak dibersihkan dengan baik. Menyebabkan luka sayatannya sedikit terbuka dan mengeluarkan cairan.
Akhirnya dokter mengambil keputusan untuk melakukan oeprasi kecil guna menghilangkan abses dan cairan yang telah mengalami infeksi. Hampir dua jam hingga semua tindakan itu selesai di lakukan. Kemudian Kalia dipindahkan ke ruang rawat inap.
Kesadaran Kalia mulai pulih ketika Surya selesai shalat maghrib yang di jamak dengan isya. Kepanikannya mulai berkurang ketika dilihatnya wajah Kalia sudah tidak sepucat tadi. Surya memandang istrinya lekat, yang dipandang malah membuang mukanya. Surya tahu bahwa Kalia masih marah dan tak mau didekatinya, tapi melihat kondisi Kalia yang kesakitan seperti tadi membuat Surya nekat saja. Tak peduli bila Kalia akan memakinya dengan kasar, yang penting nyawa istrinya terselamatkan.
" Maafin akang yang udah lancang bawa Lia ke rumah sakit, tapi akang panik. Akang gak mau Lia kenapa-kenapa.." ucap Surya dengan perasaan sedih.
" Akang selalu gak tahan lihat Lia merintih kesakitan, rasanya hati akang kayak ditusuk-tusuk. Sakiit sekali." lanjut Surya lagi.
Hening berbahasa.
" Kenapa masih peduli sama aku? Kan aku udah minta cerai sama akang?" Kalia akhirnya buka suara.
" Sampai kapanpun, akang gak akan pernah ceraikan Lia. Akang terlalu sayang, akang terlalu cinta sama Lia. Akang bisa mati kalau gak ada Lia disamping akang.." ucap Surya dengan air mata yang hampir jatuh dari sudut matanya.
" Bohong aja..!! Kenapa baru temuin aku sekarang? setelah mama bilang aku kesakitan baru deh nongol. Kemarin-kemarin kemana aja??" timpal Kalia ketus tapi sorot matanya sudah tidak menyiratkan kemarahan.
Surya sampai dibuat terbengong-bengong karena ucapan Kalia terhadapnya. Sorot mata itu telah kembali, sorot mata manja milik istri yang sangat dicintainya. Sudah tidak ada lagi kemarahan disitu. Tanpa sadar Surya langsung memeluk Kalia dengan erat. Dia mengecup Kalia berkali-kali sambil menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.
*
*
*
*
*
__ADS_1
Adududuuu cup cup jangan nangis ya kang Surya....Othor juga ikut baper waktu nulis chapter ini. Selamat menikmati ya reader semua. Jangan lupa like, komen, dan vote nya. Tirimikiciihhhh