
Surya sudah menunggu Kalia dengan sabar di luar gerbang kantor seperti yang sudah disepakati.
Sepuluh menit kemudian, mobil Kalia muncul. Berhenti tepat di depan Surya dan tak menunggu lama, Surya masuk kedalamnya dengan langkah kaki masih terpincang-pincang.
" Gimana kakinya?" tanya Kalia mencoba memecah keheningan.
" Sudah gak ngilu sekarang mah, cuma lukanya aja masih basah."
" Nanti begitu sampai rumah, itu kain kassa nya langsung di buka aja. Jangan dipakai terus, nanti lukanya makin lama kering."
Surya mengangguk.
" Lia cape gak? Mau gantian akang aja yang nyetir?"
" Nggak usah, gak apa-apa. Nanti kita mampir dulu beli makan malam ya. Aku gak mau masak lagi ah. Rasanya bau rempah-rempahnya kayak nempel di hidung aku, kecium terus. Bikin mual."
Surya kecewa karena tidak bisa merasakan masakan Kalia lagi. Tapi dia mencoba mengerti, istrinya pasti lelah dan sedang hamil pula.
" Kita beli soto lamongan aja dulu sebelum belok ke rumah. Sekalian beli cemilan juga, takutnya Lia lapar lagi nanti malam.."
" Iya." jawab Kalia cepat. Kemudian membelokkan mobilnya ke arah Kolonel Masturi.
***
Sudah hampir satu minggu, kaki Surya terluka. Kini sudah semakin sembuh meski belum mengering sempurna. Hari ini hari Sabtu, seperti biasa mereka pulang pukul 2 siang. Surya bilang bahwa dia tidak akan pulang bersama Kalia, selain karena takut ada yang melihat. Surya juga harus pergi ke suatu tempat untuk mengurus sesuatu.
Kalia tidak mempermasalahkan meski sepertinya selama mereka menikah sudah lebih dari satu bulan ini. Surya selalu pergi di hari Sabtu siang kemudian pulang sangat larut. Kadang hari Minggu pun begitu. Entah apa yang dilakukan Surya di luaran sana, hanya saja Kalia terlalu gengsi untuk bertanya. Lagi pula, di awal pernikahan mereka sudah berjanji untuk tak mencampuri urusan masing-masing.
Siang itu Kalia ijin pada Surya untuk pergi menemui Mama Rani. Surya menitip salam untuk mertuanya dan permintaan maaf karena tak bisa bersama-sama mengunjungi Mama Rani.
" Assalamualaikum..mamaaa.." panggil Kalia bersemangat seraya menghambur masuk ke dalam rumah. Mama Rani yang sedang sibuk di dapur begitu senang karena mendengar suara yang sangat familiar memanggilnya.
" Waalaikumsalam..Liaa. Geuning gak ngabarin mau datang kerumah?" jawab mama sambil menyambut anak semata wayangnya.
" Sengaja atuh mah biar surprise. " Kalia tersenyum dan mencium punggung tangan ibu nya.
" Surya mana? Naha gak ikut?"
Kalia menggamit tangan mamanya.
" Kang Surya lagi ada urusan, gak tau tuh tiap sabtu atau minggu pasti aja pergi keluar. Katanya mengurusi sesuatu."
__ADS_1
" Emang kamu gak pernah nanya dia ngapain?" Kalia menggeleng.
" Ya tanya laaah. Biar kamu tau pekerjaan dia di luar itu ngapain aja."
" Ah Lia gak mau tahu. Biarin aja suka-suka dia." jawab Kalia mendadak cemberut.
Mereka berdua duduk di kursi sofa ruang keluarga.
" Beneran gak apa-apa? Naha atuh cemberut?" tanya mama Rani sambil mencolek dagu anaknya.
" Siapa yang cemberut?" Kalia langsung mengatupkan bibir.
" Ya kamu yang cemberut. Makanya, kalau mau tahu tuh nanya, biar gak penasaran. Biar kamu juga tenang. Sebagai suami istri, ya wajar harus saling tahu urusan masing-masing. Karena kalian itu partner. Ya udah, coba nanti pulang dari sini kamu tanya sama dia." Kalia hanya mengangguk malas.
" Gimana ngidamnya? masih aman kan?" tanya mama lagi sambil mengelus perut Kalia.
" Alhamdulillah Mah. Udah mendingan sih sekarang. Awal-awal mah aku tersiksa banget."
" Yaa..sabar aja. Namanya juga lagi hamil muda. Mama juga dulu repot juga waktu hamil kamu. Sampai usia 5 bulan masih belum bisa makan nasi. Bau aja gitu rasanya teh. Untungnya si ayah mah da suami teladan, meski mogok nasi tapi asupan karbohidrat mama tetap terjaga. Kadang ayah bikin potato schotel, atau lontong isi, apa we yang penting masuk makan." Mama Rani tersenyum haru ketika mengingat kebaikan mendiang suaminya lagi.
" Ayah emang suami jempolan ya Mah. Tapi semoga sekarang ayah bahagia di sana ya. Kita doain aja."
Mama Rani mengangguk kemudian menghapus air matanya yang mulai mengembang.
***
Sesampainya di rumah, lampu masih mati. Sepertinya Surya belum kembali.
" Kemana sih dia itu? Tiap Sabtu pasti pulang larut." Kalia mulai menggerutu.
Sekitar pukul 9 ketika Kalia sedang duduk-duduk sambil menonton drakor kesukaannya di ruang keluarga. Terdengar salam dari luar rumah. Surya pulang.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam." jawab Kalia dengan tampang cemberut.
" Lia belum tidur?" tanya Surya sambil mendudukan diri di kursi sofa dan membuka kaos kaki yang dikenakannya. Wajahnya tampak kelelahan.
" Kang, dari mana sih?" tanya Kalia setelah mengumpulkan keberanian dan mengurangi gengsinya.
" Ada urusan neng." jawab Surya sambil menyandarkan badannya pada sofa.
__ADS_1
" Ya urusan apa? tiap sabtu atau minggu hobi banget keluar. Pulang juga malam terus. Habis malmingan emang sama pacarnya?" Kalia mulai sewot.
" Astaghfirullah..ngomongnya kemana aja Lia mah."
" Ya habis kemana dong? kalau sekali dua kali sih bisa paham aku tuh. Ini tiap minggu lho."
Surya menarik nafas dalam. Lalu..
" Akang kuliah, Li."
Lia terdiam, dicernanya ucapan Surya.
" Kuliah? Dimana? Kenapa gak pernah cerita?"
" Lia gak pernah nanya." jawab Surya sambil tersenyum.
" Ya harusnya meskipun aku gak nanya, akang kasih tau aku aja. Ngapain bilangnya cuma ada urusan terus."
Surya diam.
" Akang tuh malu, umur udah tua tapi masih jadi mahasiswa. S1 pula, mending kalau udah S2, S3 atau es teler. hehehe.."
Kalia mendelik.
" Jurusan apa? semester berapa sekarang?
" Akang kuliah di Kampus swasta biar ada kelas malamnya. Di universitas Bandung Raya Jurusan agribisnis, sudah semester akhir sih, bulan depan sidangnya." jawab Surya dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
Sekali lagi, kekaguman Kalia pada laki-laki ini bertambah. Begitu banyak hal mengejutkan yang diketahuinya dalam kurun waktu beberapa bulan ini. Entah hal apa lagi yang nanti akan Kalia ketahui tentang Surya.
" Ternyata akang memang sangat suka tanaman ya. Pantes di rumah mamah dan di sini banyak banget tanamannya. Ada lagi yang gak aku ketahui tentang akang?" tanya Kalia penuh selidik.
" Sedikit-sedikit aja, Li. Nanti juga tahu semuanya. Hahaha." jawab Surya sambil tertawa lebar.
" Iiissshh..gede kepala deh dia."
Surya kembali tertawa.
" Oh iya, hari senin bisa cuti gak? Udah waktunya kontrol ke dokter."
Surya kembali tersenyum.
__ADS_1
" Bisa atuh, kan akang mah suami siaga." Hati Surya kembali berbunga. Kali ini Kalia sendiri yang meminta untuk ditemani ke dokter kandungan. Semoga ini pertanda baik untuk hubungan mereka.