My Office Boy

My Office Boy
65. Bonsai untuk Meminta Restu


__ADS_3

Seminggu sudah Ibu Rani di Lembang. Menghabiskan banyak waktu bersama Kalia dan menantunya. Menikmati segarnya udara pegunungan dengan kedua anaknya yang sudah kembali bahagia bersama.


Surya juga sudah sangat nyaman dengan keadaannya sekarang, bisnisnya jadi tertangani dengan baik, bahkan usaha ternak sapi yang akan dirintisnya kemungkinan bisa segera terealisasi berkat bantuan uwak Damar.


Begitupun dengan Kalia, tubuhnya berangsur pulih. Ketika kontrol kembali ke dokter pun, luka pasca operasinya sudah mulai mengering dan tidak terkena infeksi lagi berkat perawatan Surya yang telaten terhadapnya. Keadaan benar-benar sudah berjalan baik.


Hanya Ibu Rani saja yang semakin keki terhadap uwak Damar pasalnya hampir setiap dua hari sekali uwaknya Surya ini mengunjunginya untuk sekedar mengantarkan buah tangan atau mengobrol ngalor ngidul dengannya. Dan Ibu Rani merasa sangat malas untuk berbasa-basi dengan lelaki paruh baya itu jadi setiap kali wak Damar mengajaknya bercerita, wajah Ibu Rani selalu ditekuk dan membalas ucapan wak Damar dengan sinis. Seperti hari ini, uwak Damar kembali bertamu dengan membawa sebuah bonsai ficus benjamina yang sudah berakar gantung sebagai buah tangan. Sangat cantik dan bernilai estetik tinggi.


Baru selama hidup Ibu Rani, dia jadi tidak menyukai tanaman. Padahal selama ini hobinya adalah bercocok tanam, dan dia sangat tahu bahwa harga bonsai ini tidaklah murah. Bisa mencapai harga jutaan bahkan puluhan juta bila bentuknya sangat unik seperti ini. Tapi tetap saja hati Ibu Rani tidak tersentuh sama sekali, dia malah merasa uwak Damar sedang menyombongkan dirinya karena mampu memberikan hadiah mahal seperti ini terhadapnya.


" Kenapa kasih saya hadiah mahal begini kang? Gak usah buang-buang uang begitu, pemborosan. Dibawa lagi aja ya. Saya gak enak hati terimanya juga." ucap Ibu Rani sambil menyorongkan kembali bonsai yang dia terima dari uwak Damar.


Uwak Damar hanya tersenyum penuh arti kemudian menyerahkan kembali bonsai tersebut kepada Ibu Rani.


" Akang nggak beli, ini bonsai kesayangan yang akang rawat sudah lama sekali. Sekarang akang bermaksud untuk memberikannya pada Rani. Kan katanya Rani sangat suka tanaman hias." jelas uwak Damar.


" Ih apalagi kalau begitu, kan sudah susah payah dirawat, kenapa malah dihadiahkan untuk saya. Saya gak mau ah kang, jangan begini.." Ibu Rani menyorongkan lagi bonsainya.


" Benda spesial memang cocoknya diberikan untuk orang yang spesial." jelas uwak Damar lagi sambil menyerahkan kembali bonsainya pada Ibu Rani.


Kedua paruh baya itu terus saja saling dorong mendorong bonsai tanpa ada yang mau mengalah, sama-sama keukeuh (bersikukuh) Uwak Damar keukeuh mau memberi dan Ibu Rani keukeuh menolak. Sampai kegaduhan tersebut memancing Kalia dan Surya untuk keluar dari rumah dan melihat apa yang terjadi. Kebetulan hari ini Surya sudah pulang karena semua urusan bisnisnya sudah teratasi.


" Ini ada apa sih? kok ribut-ribut begini?" tanya Kalia sambil melongokkan kepalanya dari balik pintu di ruang tamu untuk melihat apa yang diobrolkan mamanya dan uwak Damar. Disusul Surya setelahnya.


Uwak Damar hanya nyengir saja, sementara Ibu Rani terlihat cemberut sambil menyedekapkan tangannya.


" Inii..mamanya Lia gak mau terima bonsai dari uwak. Dikira uwak beli bonsainnya, padahal ini bonsai kesayangan uwak yang udah dirawat dari dulu." jelas Uwak Damar sambil menunjuk bonsai di hadapannya.

__ADS_1


" Lebih tidak enak kalau begitu, udah dirawat lama malah dikasihkan orang lain begitu saja." jawab Ibu Rani masih cemberut.


" Iya..karena mama nya Lia mah bukan orang lain buat uwak atuh. Ibu Rani itu orang yang spesial. Hehehe.." jawab uwak Damar sambil cengengesan.


" Spesial apa sih? jangan suka ngarang ah.." ucap Ibu Rani kemudian masuk kedalam rumah sambil menghentakan kakiknya karena kesal.


Kalia hanya tersenyum kecil melihat ibu nya yang marah kepada uwak Damar.


" Lia sama Surya..sini duduk. Boleh uwak bicara sebentar?" ucap uwak Damar, Surya dan Kalia kemudian mendudukkan dirinya di bangku jati yang tertata manis di teras tersebut.


" Uwak ada niat serius sama mama kalian. Kalau kalian merestui, uwak ingin menikahi mama Rani." ucap uwak Damar dengan gamblang. Kalia sampai terperangah mendengarnya.


" Uwak kan baru kenal mama seminggu ini. Belum tahu mama itu gimana? Kok yakin mau nikahin mama gitu?" tanya Kalia penasaran dengan keputusan uwak Damar yang begitu cepat.


" Uwak sudah yakin sama mamanya Lia. Jadi uwak minta restu kalian saat ini."


Uwak Damar tersenyum senang.


" Sudah mengantongi restu dari anaknya aja, uwak udah senang. Urusan menaklukan hati mah bisa berproses. Nanti iuga luluh sendiri kalau uwak pepet terus mah." jawab uwak Damar sambi tertawa. Memang kepercayaan diri uwak Damar ini diatas rata-rata.


" Mama sepertinya kaget karena uwak kelihatan sekali niat mendekatinya. Kalem atuh wak. " saran Surya sambil tersenyum lebar.


" Takut keburu diambil orang, Sur. Uwak udah mentok sama mama mertua kamu nih. Makanya bonsai kesayangan uwak juga rela uwak kasihkan buat orang spesial mah. Sekarang Lia aja yang pegang ya.." ucap uwak Damar sambil menepuk tangan Kalia halus.


" Waduuh..bonsai mahal ini mah wak. Bisa puluhan juta harganya." timpal Surya lagi, Kalia sampai melotot mendengarnya.


" Serius semahal itu wak?" tanya Kalia mencoba memastikan.

__ADS_1


harganya


" Iya bisa segitu , soalnya udah pernah menang kontes bonsai di Yogyakarta." jelas Uwak Damar sambil tersenyum bangga.


" Waah..mama kalau gak mau bakalan nyesel ini sih." ucap Kalia sambil memperhatikan bonsainya dengan seksama. Memang sangat unik bonsai dihadapannya itu. Cabangnya banyak dan sudah terbentuk bonggol akar yang besar. Rantingnya pun sudah ditumbuhi akar gantung. Terlihat maskulin dan mistis. Benar-benar seperti pohon beringin yang sudah tumbuh berpuluh-puluh tahun lamanya di alam liar.


" Uwak ini sudah tua, ingin punya istri lagi bukan karena uwak genit. Hampir 23 tahun uwak hidup sendiri, sama kayak mamanya Lia, cuma sibuk ngurus anak dan nggak kepikiran untuk menikah lagi. Tapi semakin kesini, uwak makin kesepian. Jadi ingin punya pasangan lagi untuk bisa saling menjaga di usia senja. Saling mihapekeun maneh (menitipkan diri) istilahnya mah. Apalagi yang bisa diharapkan di usia senja kayak gini mah, da punya anak juga udah gak mungkin lagi atuh. Sekarang mah tinggal menikmati masa tua aja sama ibadah weh yang bener." jelas uwak Damar panjang lebar. Kalia menangkap ada kesenduan di mata uwak Damar, selama ini laki-laki paruh baya dihadapannya itu pasti merasa kesepian. Semua anaknya sudah tak tinggal di rumah, jarang menjenguk pula. Pastilah uwak Damar merasa sendirian meski punya harta melimpah.


" Nah, waktu uwak lihat mamanya Lia, uwak tiba-tiba membuka hati aja, nggak tau kenapa uwak juga, bingung. Makanya uwak gencar mengejar mamanya Lia, udah kayak gak punya muka tiap hari bolak balik kesini yang penting bisa ketemu terus." jelas uwak lagi sambil tertawa. Kesenduan yang tadi sempat Kalia lihat dari sorot mata uwak Damar seketika menguap ketika membicarakan mamanya. Sepertinya uwak benar-benar menyukai mama Rani.


" Iya, Lia merestui uwak kok. Lia gak keberatan kalau Mama mau menikah lagi, karena kadang Lia juga sedih. Apalagi setelah Lia nikah dan tinggal disini, Mama pasti kesepian di rumah sendirian. Kadang suka takut kalau mama sakit dan gak ada yang ngerawat mama. Beruntung kalau sekarang ada yang mau serius sama Mama. Semoga mama bisa segera membuka hati ya, wak. Semangaat.." ucap Kalia sambil memberikan semangat pada uwak Damar agar maju terus pantang mundur.


Sore itu mereka habiskan dengan mengobrol santai di teras. Membahas segala sesuatu yang bisa uwak lakukan untuk memikat hati Ibu Rani.


*


*


*


*


*


Uwak Damar gentle banget kan reader? Langsung nembak minta restu sama Kalia. Keren lah..!! Yang muda-muda jangan mau kalah ya..Hehehe


Jangan lupa like, komen dan votenya ya reader semua. Agar saya makin semangat berkarya. Terimakasiiih

__ADS_1


__ADS_2