My Office Boy

My Office Boy
47. Humaira


__ADS_3

Pukul 4 sore, setelah selesai shalat ashar. Kalia dibawa masuk oleh perawat memasuki ruang operasi. Hati Surya semakin kalut. Berharap operasi berjalan lancar dan tak ada kendala apapun. Mama Rani dan Ibu Ati berpelukan saling menguatkan hati ketika menyaksikan Kalia dibawa masuk ke ruangan tersebut.


Semua menunggu dengan cemas, hingga akhirnya setengah jam kemudian seorang perawat menyerahkan jasad bayi mungil Surya dengan dibalut kain putih. Surya menerimanya dengan tangan gemetar. Bayi itu masih sangat mungil, berwarna merah dan tampak sudah lengkap semua organ tubuhnya. Surya tergugu. Didekapnya bayi mungil tersebut.


" Innalillahi wainnaillaihi roojiuun. Assalamualaikum cantik, ini ayah. Maaf karena ayah tidak bisa menjagamu dengan baik. Semoga kamu bahagia ya sayang, bermain bersama nabi Ibrahim di langitnya Allah." Air mata Surya tumpah sudah.


" Allahummaj'alhu lanaa farathan wasalafan wa ajran. Ya Allah jadikanlah kematian anak ini sebagai simpanan pahala dan amal baik bagi kami karena kami bersabar." ucap Surya lirih.


Pak Asep mengelus pundak Surya.


" Diberi nama dulu, jang. Meskipun sudah meninggal, tapi disunnahkan untuk diberi nama, karena anak ini sudah pernah ditiupkan ruh. Beri nama yang baik agar nanti Allah memanggilnya untuk masuk syurga dengan sebaik-baiknya nama yang kamu berikan." ucap Pak Asep.


Surya termenung agak lama. Kemudian berkata dengan lembut.


" Humaira..nama kamu sekarang Humaira, nak. karena mungkin kamu akan punya pipi yang kemerahan seperti ibu mu jika kamu hidup. Ayah sangat sayang sama Humaira, tapi rupanya Allah lebih sayang kamu, nak." Surya mengecup bayi merah itu dengan perasaan sendu.


" Humaira, tunggu kami ya sayang, jemput kami nanti di syurganya Allah. Tapi jikalau kami sebagai orang tuamu ini terlalu banyak dosa dan masuk neraka, tolong selamatkan kami." ucap Surya kemudian.


Setelah itu, Surya dan Pak Asep pulang dulu ke rumah Surya untuk menguburkan jasad Humaira di dekat rumahnya. Sengaja tidak dikuburkan di tempat pemakaman umum, agar Surya ataupun Kalia bisa dengan mudah untuk mengunjungi makam anak mereka.


***


Sesampainya di Lembang, Surya menghubungi ibunya untuk menanyakan perihal kondisi Kalia. Beruntung operasi Kalia berjalan lancar dan sekarang sedang dipindahkan ke ruang pemulihan, menunggu hingga Kalia siuman baru kemudian dialihkan keruang rawat inap.


Hari sudah hampir maghrib, Surya segera menggali tanah untuk menguburkan Humaira, dibantu oleh ayahnya. Di dalam kondisi penuh kekalutan, Surya berusaha untuk kuat. Surya tak mengira bahwa dia akan berpisah dengan anaknya secepat itu.


Surya dan Pak Asep menggumamkan kalimat tahlil beriring dengan diturunkannya jasad Humaira. Surya tak kuasa menahan air mata, psikisnya terguncang. Tapi dia yakin bahwa Humaira sudah tersenyum bersama nabi Ibrahim disana.

__ADS_1


Dia tak ingin tampak menyedihkan ketika mengantarkan anaknya ke tempat peristirahatan terakhir. Disusutnya air mata yang hampir jatuh dengan punggung tangannya yang masih dipenuhi tanah merah.


Suasana langit di kota Lembang berubah menguarkan warna jingga kemerahan yang cantik. Seperti menyambut kedatangan bidadari kecil yang tanpa tersentuh dosa sedikitpun.


Surya mulai membuka mulut, perlahan angin semesta menyalurkan nada adzan yang dikumandangkannya. Syahdu dan menyayat hati. Tiap bait yang terlantun, memaksa air mata Surya untuk melesak keluar meski sekuat tenaga dia tahan.


Bulir-bulir tanah dalam jumlah banyak telah mengubur jasad mungil itu. Surya baru menyadari bahwa dia telah kehilangan separuh nyawanya, meski bayi itu belum pernah sekalipun melihatnya tapi Surya sudah mencintainya dengan teramat dalam. Karena kehadiran Humaira lah, dia bisa menautkan hati, tertanam, mengakar dan membuahkan cinta kasih diantara dirinya dan Kalia.


Surya menempatkan sebuah batu sebagai nisan. Kemudian beberapa rapal do'a digumamkan oleh Surya dan Pak Asep. Sebelum akhirnya beranjak dari tempat yang penuh kesenduan tersebut. Kembali menuju rumah sakit untuk menemui Kalia dan melihat kondisi istri tercintanya.


***


Sesampainya di rumah sakit, Surya langsung menemui istrinya di ruang pemulihan. Dilihatnya Kalia sudah sadarkan diri dan sedang mengerang kesakitan.


" Lia..sayang.." Surya langsung menghampiri istrinya.


" Sabar ya sayang..nanti gak akan sakit lagi." hibur Surya sambil mengelus kepala istrinya penuh cinta.


"Anak kita meninggal?" tanya Kalia lagi, air mata sudah mulai memenuhi pelupuk matanya. Surya mengangguk lemah.


" Mungkin dia tidak bisa hidup bersama kita, tapi dia hidup abadi. Dia sudah sangat bahagia, sedang bermain dan diasuh oleh nabi Ibrahim di taman langit." jelas Surya dengan suara tercekat tapi dipaksakannya untuk tersenyum.


Kalia menangis sejadi-jadinya, merasa patah, merasa sangat sedih. Dia memukul-mukul dadanya, ada rasa sesak yang tertahan disitu. Dia merasa telah gagal menjaga anaknya dengan baik.


"Lia..istighfar sayang, ikhlaskan si cantik. Jangan sakiti diri kamu lagi." Surya mencoba menahan tangan Kalia sekuat tenaga. Merasa begitu sedih melihat istri yang sangat disayanginya begitu menderita. Bagaimana tidak, sakit pasca operasi begitu sangat dirasakannya tapi tak ada anak yang dapat dia timang sebagai penawar dari rasa sakitnya melahirkan.


" InsyaAllah si cantik sudah di tempat yang terbaik, lebih baik dari kita sebagai orang tuanya. Ikhlaskan dia sayang, mungkin susah..tapi harus kita usahakan. Harus kita hadapi." lanjut Surya lagi sambil mendekap erat istrinya.

__ADS_1


Kalia semakin tergugu dan kehilangan kendali atas dirinya. Bola matanya menatap nanar keatas dengan pandangan yang aneh, dia mengalami sesak hebat.


" HAAH..HAAAH..Se..saak..HAAH..To..loong, se..saak..tolong.." ucap Kalia tak jelas sambil memegangi dadanya. Surya seketika panik menyaksikan istrinya mengalami sesak parah. Bibirnya membiru.


Surya segera berlari keluar dari ruangan pemulihan dan memanggil perawat. Tak menunggu lama, perawat langsung memanggil dokter dan segera menangani Kalia. Mereka melakukan resusitasi jantung-paru. Kemudian menyuntikkan obat melalui selang infus yang terpasang pada Kalia.


Tak berapa lama, Kalia mulai tenang. Dia bernapas dengan normal dibantu alat ventilator yang dipasangkan perawat. Surya beanr-benar kalut. Dia takut Kalia juga meninggalkannya seperti Humaira.


Jantungnya berdegup sangat kencang, kakinya juga lemas luar biasa. Seperti tulang belulangnya terserabut dengan paksa. Surya melorot di dinding, menyaksikan istrinya dalam keadaan yang kepayahan. Entah untuk berapa lama, Surya hanya terduduk lemas sambil menundukkan kepalanya di ruangan tersebut. Hingga tepukan di pundaknya membuat dia menengadah.


" Iya, dok..bagaimana istri saya?" tanya Surya dengan suara bergetar.


" Sepertinya Ibu Kalia mengalami syok, Pak. Ini bisa berbahaya bila berulang. Tekanan darahnya menurun, denyut nadinya juga sangat lemah. Bisa menyebabkan gagal jantung dan berujung kematian. Jika nanti ibu sudah sadar, saran saya untuk menghindari hal-hal yang bisa memicu syok nya kambuh kembali. Jangan dulu membahas perihal kematian anak bapak dan ibu. Tunggu hingga kondisinya stabil saja." Surya merasa bersalah setelah mendengar penjelasan dari dokter tersebut.


Dokter kemudian berpamitan dan meninggalkan Surya yang masih begitu sedih. Dia menatap istrinya yang kini sudah mulai tenang. Bibirnya yang tadi sempat biru sudah kembali normal.


Pundak Surya berguncang, entah untuk keberapa kali dalam satu hari ini dirinya menangis. Matanya bengkak dan merah. Tapi sesak di dadanya belum juga berkurang. Kesedihan yang mendalam benar-benar dirasakannya. Kehilangan anak dan juga rasa sakit melihat istrinya yang berjuang melawan maut seperti sudah menumbuk hatinya hingga menjadi serpihan.


*


*


*


*


* Jangan lupa like, komen, dan vote ya reader 😊. Agar saya lebih semangat membuat ceritanyaaa...terima kasih banyaaak 😘 *

__ADS_1


__ADS_2