
" Berani banget kamu ajak saya keluar dari rumah ini hah? Merasa sudah jadi suami betulan?" Kalia langsung mencak-mencak ketika mereka kembali memasuki kamar.
" Saya memang suami betulan, Bu. Eh..Lia.." jawab Surya polos.
" Memang kamu pikir, saya akan mau tinggal serumah sama kamu. Berdua doang lagi..!" Kalia masih dongkol karena Surya sudah berani memutuskan sesuatu yang sangat penting tanpa bertanya dulu padanya.
" Ini semuah buat kebaikan kita juga. Ibu..eh Lia gak mau kan kalau Mama sampai tahu kita cuma nikah pura-pura. Tidur pun gak satu kasur. Saya gak mau bikin mama makin kecewa. Jadi sebaiknya Lia ikut sayah saja. Tinggal di rumah sayah. InsyaAllah nyaman kok, meski tidak sebesar rumah inih." Jelas Surya mencoba negosiasi.
Kalia terdiam lama, yang diucapkan Surya ada benarnya juga. Dia tak mau bila mamanya akan sering mendengar keributan rumah tangganya bila dia tinggal di rumah ini.
" Oke..kalau itu memang buat kebaikan mama. Tapi cuma 9 bulan. Ingat!! Gak lebih dari itu. Oh ya, dan kamu gak usah menafkahi saya. Kita atur urusan keuangan kita masing-masing." Surya tersenyum kecil. Hatinya mendadak berbunga-bunga.
***
Keesokan harinya, ketika Surya sedang melipat sajadahnya selepas shalat subuh. Dia mendapati istrinya masih tertidur pulas. Wajahnya begitu cantik, kulitnya mulus, bulu matanya juga lentik. Untuk beberapa lama, Surya hanya mematung sambil memandangi keindahan ciptaan Tuhan dihadapannya ini. Sesekali dibibirnya tersungging senyum. Dia masih merasa mimpi bisa memiliki istri cantik seperti Kalia.
Tiba-tiba saja Kalia terbangun, memandang Surya kemudian memekik kaget dan menampar wajah Surya refleks.
Plaakkkk...!!!
" Aaaah..." Surya meringis kesakitan sambil memegangi pipinya yang kemerahan.
Kenceng juga tabokannya pikir Surya.
" Ngapain kamu ngeliatin saya? Mau cabul ya?" berondong Kalia sambil menyilangkan tangan di depan dadanya.
" Eh..oh nggak, Lia. Sayah cuma mau membangunkan Lia saja tadinya. Untuk shalat subuh. Itu sajah..gak mungkin berani cabul. Lia tamparannya kuat banget, sayah gak berani." ucap Surya polos sambil masih meraba pipinya yang terasa panas sampai ke telinga.
" Kalau kamu berani gak sopan sama saya, bukan cuma tamparan saja yang akan mendarat di pipi kamu. Tapi tonjokan dan tendangan juga. Jangan macam-macam kamu ya, saya ini pernah belajar taekwondo sampai sabuk hitam." jelas Kalia bersemangat. Tapi sejurus kemudian, tiba-tiba saja dia membekap mulutnya dan segera berlari ke kamar mandi. Dia merasa mual.
Hooekkk...hoooeeekkk...hoooeekkk..terdengar Kalia bertahak beberapa kali tapi tidak ada yang keluar. Surya langsung menghampirinya dan menepuk punggung Kalia pelan mencoba membantu agar Kalia merasa lega. Tapi dengan skeptis, Kalia menepis tangan Surya.
__ADS_1
" Gak..u..sah..bantu..hoooeeekkk..."
Kalia mendorong Surya untuk keluar dari kamar mandi. Surya hanya memandangi Kalia dengan prihatin.
Segera dia membuat teh jahe untuk Kalia agar mualnya reda.
Didalam kamar, Kalia tampak meringkuk lemah. Bulir keringat memenuhi keningnya. Padahal hari masih subuh dan lumayan dingin. Wajah Kalia pucat pasi.
" Diminum teh jahe nya, Lia. Agar tidak terlalu mual. Kata ibu sayah, teh jahe bisa meredakan mual."
Kalia memandang Surya sekilas, kemudian memejamkan matanya lagi.
" Sayah simpan disinih sajah." Surya lalu meletakkan cangkir teh jahe tersebut di atas nakas dan menghambur keluar kamar membiarkan Kalia beristirahat.
Kalia mencoba meraih teh jahe tersebut dan meminumnya sedikit demi sedikit. Benar saja, rasa mualnya berangsur hilang. Akhirnya dia meminum teh jahe itu hingga tandas.
Setelah merasa lebih baik, Kalia keluar dari kamarnya dan melihat bahwa Surya sedang asik tertawa-tawa dengan mamanya. Entah apa yang mereka bicarakan.
Hampir 15 menit, Kalia terduduk di sofa ruang tamu sambil memperhatikan keakraban yang begitu cepat terjalin antara Surya dan ibunya.
" Cih..dia pasti pandai membersihkan taman. Kerjaannya kan OB. Mama cepet banget lagi, akrab sama dia pakai acara ketawa-ketawa sampai lebar gitu." sungut Kalia sambil beranjak dari ruang tamu menuju dapur karena perutnya kini terasa lapar setelah tadi berjibaku dengan toilet untuk memuntahkan isi perut.
Setelah Kalia menceritakan semua yang terjadi pada mama dan keluarga Surya, entah kenapa ritme hidupnya kembali membaik. Apalagi selera makannya kini menjadi dua kali lipat dari biasanya. Kalia jadi cepat lapar, dan bila tidak langsung diisi makanan maka asam lambungnya akan langsung naik, Kalia akan mengalami mual-mual bahkan sampai muntah. Bisa sampai setiap dua jam sekali Kalia merasa kelaparan.
" Mau sarapan, Bu..eh Lia?" tanya Surya yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Kalia. Surya masih saja salah memanggil nama istrinya.
" Eh.." Kalia memekik kaget.
" Mau sayah bikinkan sarapan?" tawar Surya lembut
" Gak usah..bisa sendiri kok."
__ADS_1
Tanpa berlama-lama, Kalia mengambil beberapa siung bawang merah dan bawang putih, rencananya dia ingin memasak nasi goreng. Tapi entah kenapa, setelah mengetahui bahwa dirinya hamil, hidung Kalia menjadi super sensitif. Sedikit saja mencium bau yang menyengat maka dia akan merasa ingin muntah.
Hoooeeekkk...hhoooeeekkk..
Kalia membekap mulutnya karena serangan mual kembali datang. Bau bawang itu benar-benar menyiksanya.
" Lho..kenapa Li?" tanya Mama yang juga sudah berada di dapur.
" Bawangnya bau, ma. Lia gak kuat." ucap Kalia sambil memencet hidungnya dan menahan mual.
" Yang lagi hamil muda memang gitu, ya udah kamu tunggu aja sana di ruang tamu sama Surya. Biar mama aja yang masak. Tadi mama bersih-bersih taman dulu baru mau bikin sarapan."
Kalia segera keluar dari dapur agar bau dari bawang itu tak tercium.
" Sering muntah-muntah begini ya Lia?" tanya Surya merasa bersalah setelah dilihat istrinya meringkuk lemas di kursi sofa.
" Udah tau, pakek nanya." jawab Kalia ketus.
" Mau sayah bawakan apa biar mualnya berkurang?"
" Gak usah, gak perlu. Gak usah sok perhatian gitu deh. Makin enek tau gak." mendengar jawaban Kalia yang ketus, Surya hanya bisa diam.
Hatinya perih..tapi melihat keadaan Kalia yang lemah seperti sekarang, lebih menyakitkan lagi. Sosok Kalia yang Surya tahu adalah wanita energik dan cekatan. Di kantor, Kalia terkenal sigap dalam menangani semua masalah pekerjaan. Makanya tak jarang Kalia mendapatkan reward dari perusahaan atas kerja kerasnya.
" Kalau begitu saya mau ke kamar dulu untuk beres-beres barang yang akan dibawa. Nanti siang kan kita mau pindah ke rumah sayah di Lembang."
" Gak usah beresin barang saya, saya bisa sendiri." ucap Kalia tanpa memandang ke arah Surya.
Hari itu, setelah selesai sarapan. Kalia dan Surya mulai membereskan barang-barang yang akan mereka bawa ke rumah milik Surya. Kalia sengaja tidak membawa banyak barang agar dia selalu bisa kembali ke rumah ini dengan alasan membawa barang - barang yang ketinggalan.
Hampir jam 1 siang, selepas shalat dzuhur Surya dan Kalia pun berpamitan kepada Mama Rani untuk memulai rumah tangga mereka di rumah baru. Semua bersedih, Kalia menangis sampai sesenggukan karena tak ingin pergi dari rumah yang sedari kecil sudah ditempatinya. Mama Rani juga begitu, kini dia harus rela melepaskan anaknya untuk bersama suaminya dan membentuk keluarga sendiri. Pun Surya, matanya berkaca-kaca ketika mama Rani menitipkan anak semata wayangnya agar selalu berbahagia dalam menjalani biduk rumah tangga, dan amanah ibu mertuanya ini tampaknya akan sangat berat untuk dilakukan mengingat betapa bencinya Kalia padanya.
__ADS_1
Siang itu, akhirnya Kalia melajukan mobilnya menuju rumah Surya. Rumah seorang laki-laki yang kini sudah berstatus sebagai suaminya. Laki-laki yang dia ketahui hanya seorang office boy yang sering dia suruh-suruh seenak jidatnya di kantor, tetapi laki-laki itu kini telah berubah status menjadi suami sekaligus ayah dari janin yang dikandungnya. Kalia hanya bisa menarik nafas, pasrah.