My Office Boy

My Office Boy
54. Hukum Sebab Akibat


__ADS_3

Tepat jam 12 siang, Surya langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan Pak Haris. Rasanya dia sudah tak sabar ingin melihat siapakah orang yang sudah menyebarkan fotonya dan Kalia.


Pak Haris langsung mempersilahkannya masuk. Raut muka Surya begitu tegang. Dia mengeraskan rahangnya. Dadanya bergemuruh marah. Tapi ternyata di ruangan itu hanya ada Pak Haris. Belum ada orang lain lagi yang datang.


" Tunggu sebentar, Surya. Saya panggilkan dulu orangnya." ucap Pak Haris kemudian menggunakan telepon kantor untuk menghungi seseorang.


Hampir 10 menit, Surya menunggu orang itu. Sepuluh menit terlama dalam hidupnya.


Tok


Tok


Tok


Terdengar seseorang mengetuk pintu ruangan Pak Haris.


" Masuk.." perintah pak Haris. Dan tiba-tiba saja seseorang memasuki ruangan itu. Surya mengenali orang tersebut, ya..dia adalah salah satu stafnya Kalia. Dia adalah Sri.


Surya mengenali Sri, karena pernah beberapa kali membelikan pesanan makan siang untuknya. Tapi Surya masih tak habis pikir, apa alasan yang mendasari Sri melakukan itu semua.


Wajah Sri terlihat pucat. Ketika Surya memandangnya dengan tajam, dia hanya berusaha menghindari pandangan Surya. Terlihat bahwa dia sangat merasa bersalah.


Pak Haris mempersilahkan Sri untuk duduk di depan Surya. Kemudian Pak Haris juga duduk di sofa tersebut, sedikit lebih dekat dengan Surya. Membuat Sri seperti terkepung di kursi pesakitan.


" Sri, sudah kenal dengan Surya?" tanya Pak Haris dengan suara setenang mungkin.


Sri hanya mampu mengangguk dengan kepala yang masih tertunduk.


" Jadi begini, Sri. Langsung saja ya. Saya mau membahas perihal email yang sekarang ini sudah tersebar kepada seluruh staf, email yang berisi foto tentang kedekatan Surya dan Ibu Kalia. Apa benar Sri yang sudah menyebarkannya?" tanya Pak Haris lagi. Nadanya masih sama tenang. Berbeda dengan Surya, dia sudah sangat ingin mencecar Sri dengan sumpah serapahnya. Tapi sekuat tenaga dia tahan.

__ADS_1


Lama Sri berpikir. Pada akhirnya dia mengangguk juga. Surya makin naik pitam. Jemarinya mengepal erat dengan gigi yang gemeretak geram. Tapi Pak Haris menepuk-nepuk paha Surya, meminta dia untuk tenang. Karena tatapan mata Surya sudah seperti akan menerkam Sri bulat-bulat. Tapi Surya sudah tak bisa menahan diri lagi.


" Apa alasan ibu bertindak seperti itu? Apa salah saya atau Kalia terhadap ibu?" tanya Surya dengan nada meninggi. Pak Haris langsung menenangkannya.


Mata Sri sudah sembab, dia menangis tetapi kemudian memandang Surya dan Pak Haris bergantian.


" Karena bu Kalia sudah mempermalukan saya di depan semua orang. Hanya karena saya belum selesai mengerjakan laporan pekerjaan saya, dia langsung memarahi saya di depan semua staf QA. Harusnya sebagai atasan, dia juga bisa menghargai saya sebagai bawahannya, karena saya juga punya harga diri." jelas Sri dengan air mata yang sudah bercucuran.


" Kalau saya salah, saya gak keberatan untuk di tegur. Silahkan tegur saya di ruangannya. Tak perlu berteriak-teriak di depan semua orang sambil membantingkan laporan saya keatas meja. Saya juga sakit hati, Pak. Saya malu. Mungkin saya masih banyak kurangnya, tidak bisa seperfeksionis Bu Kalia. Tapi cara menegur Bu Kalia benar-benar membuat saya merasa tersinggung.." lanjut Sri lagi. Air mata masih saja membanjiri pipinya.


" Ya tapi Ibu gak seharusnya mencampur adukkan masalah pribadi dan pekerjaan dong. Kenapa sampai terpikir untuk mempermalukan Bu Kalia dengan saya? Kalia itu istri saya yang sah di mata hukum dan agama. Kami menikah karena saling mencintai." jelas Surya dengan pandangan mata yang tajam. Sri semakin menciut di tempat. Air matanya makin deras keluar.


" Ibu lihat sendiri kan? sekarang saya dan istri saya harus kehilangan anak kami. Istri saya mengalami trauma psikis yang mendalam akibat terjatuh ditambah lagi karena kematian bayi kami akibat kecelakan seminggu yang lalu. Kalau ibu merasa tidak enak dengan cara menegur Kalia terhadap Ibu, silahkan bicarakan dalam ranah pekerjaan. Tapi tidak perlu melakukan hal bodoh dengan membuntuti kami ketika makan siang kemudian menyebarkan foto tersebut ke semua orang." Surya masih terus mencecar Sri sambil menunjuk-nunjuknya.


" Kalau maksud Ibu Sri adalah untuk mempermalukan Kalia di depan semua orang karena mempunyai hubungan dengan seorang OB seperti saya, ya..ibu sudah berhasil. Bonusnya ibu juga sudah ikut andil membunuh bayi yang ada dalam rahim Kalia. Anak saya..!! Dan saya ingin melanjutkan ini ke jalur hukum..!!" Surya makin meradang. Mendengar hal tersebut, Sri langsung panik.


" Sri, jangan begitu..berdiri.." pinta Pak Haris makin tidak enak hati karena suasana kian memanas.


" Nggak, Pak. Saya mau minta maaf sama Surya. Saya mohon jangan laporin saya ke polisi, A Surya. Saya masih punya anak yang kecil-kecil. Bagaimana nasib mereka kalau saya sampai di penjara. Saya mohon maaf, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, A Surya, saya tidak tahu kalau kelakuan saya akan berakibat fatal seperti ini.." wajah Sri makin terlihat menyedihkan. Dia terus saja menangkupkan kedua tangannya di depan dada memohon pengampunan.


Surya memijit keningnya yang terasa berdenyut menyakitkan. Dia makin kesal pada Sri tapi melihatnya semenyedihkan itu, membuat Surya tak sampai hati.


" Ibu berarti pernah hamil kan? ibu seharusnya tahu kalau perempuan yang sedang hamil itu sangat sensitif. Tapi kenapa ibu sampai tega melakukannya? apakah ibu harus seikut campur itu dengan masalah pribadi orang lain? apa Kalia yang menikah dengan OB rendahan kayak saya berakibat buruk untuk ibu?" Suara Surya mulai bergetar menahan tangis. Kemudian sedikit berdeham untuk menyembunyikan kesedihannya dan membuat suaranya normal kembali.


" Kami tidak pernah merugikan siapapun. Bila kami merahasiakan pernikahan kami, itu mutlak keinginan dan hak kami. Orang lain tidak perlu ikut campur, apalagi sampai dijadikan gosip murahan. Karena perbuatan dan perkataan ibu yang ibu anggap candaan itu, pada akhirnya telah menghancurkan hidup seseorang." Sekarang Surya yang tak bisa menahan air matanya. Meluncur mulus ketika dia mengatakan hal tersebut kepada Sri yang terduduk menyedihkan di lantai ruangan Pak Haris.


" Gak usah berlutut gitu, Bu. Saya bukan Tuhan yang harus disembah. Saya gak mau..!! Silahkan saja berdiri." lanjut Surya lagi sambil mengusap wajahnya dengan kasar guna meluruhkan air matanya.


Hening berbahasa, hanya terdengar isak tangis Sri yang terdengar begitu pilu di ruangan tersebut.

__ADS_1


" Pak, saya tidak akan membawa hal ini ke jalur hukum. Tapi saya mohon beri keadilan untuk saya. Saya serahkan semua sanksi untuk Ibu Sri kepada pihak perusahaan. Terimakasih sudah membantu saya menyelesaikan masalah saya. Tidak ada yang akan saya katakan lagi, saya permisi Pak." ucap Surya kemudian menghambur pergi dari ruangan tersebut dengan mata yang sembab karena menangis. Dadanya masih terasa sesak.


Surya kemudian menuju mushola dan melaksanakan shalat dzuhur. Hatinya perlahan tenang ketika air wudhu merembesi kulitnya. Dia ingat ayahnya pernah berkata, bahwa ketika seseorang dapat bersabar saat dia memang berhak untuk marah, maka balasan untuknya adalah syurga.


Untuknya, mungkin syurga itu terlalu tinggi, tapi setidaknya dengan kejadian ini Surya bisa lebih berlaku adil.


Surya juga menyadari bahwa semua yang terjadi padanya dan Kalia adalah hukum sebab akibat. Jika saja dia dan Kalia tidak menyembunyikan semuanya, pasti hal ini tidak akan menimpanya. Terlebih lagi, Surya juga merasa menyesal kenapa permintaan Kalia yang menyuruhnya untuk resign sama sekali tak diindahkan. Jika saja sedari awal dia mengikuti kemauan istrinya, Sri tidak akan mencari celah untuk mempermalukan Kalia karena Surya sudah tak bekerja sebagai OB lagi.


Ya, penyesalan memang selalu ada diakhir cerita. Kini Surya sudah membulatkan tekad untuk resign dari tempat tersebut. Dia ingin membuat Kalia bangga dengan usahanya. Dia ingin menjadikan bisnisnya lebih sukses dari sekarang hingga Kalia tak lagi malu berada di sampingnya.


*


*


*


*


*


*


Terkadang lidah yang tidak bertulang ini bisa berubah jadi pedang yang sangat tajam. Ucapan yang kita anggap bercanda, bisa saja menyakiti hati bahkan menghancurkan kehidupan orang lain. Semua akan ada pertanggung jawabannya. Jadi semoga kita semua bisa menjaga lisan kita ya reader. Ucapkan yang baik-baik saja, atau lebih baik diam.


Ini nasihat khusus untuk saya sendiri yang terkadang masih suka bercanda keterlaluan.


Terimakasih untuk dukungannya. Othor jadi makin semangat berkarya...😊


Stay healthy ya semuaaaa...😘😘

__ADS_1


__ADS_2