
***
Aku sedang di dalam bus untuk perjalanan ke semarang, saat dimas memberiku pesan bahwa dia akan menemuiku hari sabtu di semarang.
Aku membalas pesan dari dimas, kemudian melihat ayu yang duduk disampingku tertidur lelap.
Agenda di semarang tidak hanya kerumah dita, tapi kita juga akan mengunjungi kota tua, lawang sewu, pantai marina dan makan lumpia di simpang lima.
Hari sabtu sebelum pulang, kita akan mampir untuk kuliner di pecinan semarang.
Sebenernya aku enggan untuk mengijinkan dimas bergabung, meski itu hari terakhir, tapi hatiku juga berat untuk menolak dimas.
Sampai di semarang kakak perempuan dita yang menjemput kami di terminal.
Dita adalah tiga bersaudara, dia juga punya adik kecil yang masih duduk dibangku sekolah dasar.
Semarang sangat panas menurutku, tapi begitu sampai di rumah dita, suasananya cukup teduh, tidak sepanas saat di terminal.
Mungkin karena rumah dita masih dikelilingi pepohonan, jadi terasa asri.
Untuk pembagian kamar, dita akan tidur dengan kakaknya, sementara aku dan ayu tidur di kamar dita.
Bowo bisa menempati kamar adik ayu yang masih sekolah dasar.
Karena cuaca sangat panas, kami sepakat untuk jalan-jalan di sore hari.
Pagi hingga siang, kita bisa santai di rumah dita, sambil makan rujak, atau pergi ke sekolah dasar yang ada di dekat rumah dita, untuk beli jajanan khas anak SD.
Hari pertama kita memutuskan untuk ke kota tua, kita berangkat pukul tiga sore, dan menghabiskan waktu di kota tua sampai hampir maghrib.
Kita beruntung karena punya bowo yang suka fotografi, jadi kita tidak khawatir tentang dokumentasi kita selama di semarang.
Setelah hampir tiga jam berjalan di kota tua dan sudah mengumpulkan puluhan foto, kita memutuskan untuk makan malam di simpang lima.
Orang tua dita tidak mengijinkan kami pulang lewat dari jam sepuluh malam, jadi jam sepuluh, kita sudah sampai di rumah dita.
Hari kedua kita memutuskan untuk wisata malam di lawang sewu.
Begitu sampai di lawang sewu, sudah berjejer guide di depan pintu masuk, yang siap membantu kita mengenal lawang sewu.
Bowo kemudian menyewa jasa salah satu dari mereka untuk kami.
Kita di arahkan untuk melihat lantai atas terlebih dulu.
Aku tidak mengetahui banyak hal tentang sejarah penggunaan bangunan ini, tapi aku cukup terpukau dengan pintu yang tidak ada habisnya.
Bowo sibuk memotret aku dan dita, sementara ayu dengan seksama mendengarkan penjelasan dari guide.
"Mau ke basement nggak", ujar pak yanto guide kami, menawarkan kami untuk datang ke tempat paling terkenal di lawang sewu.
"Boleh pak", jawabku dan ayu serempak.
"Kalian nggak takut", tanya bowo.
"Aku takut tapi penasaran", jawabku.
Pak yanto kemudian mengarahkan kami ke arah basement.
Tangga yang kita lalui cukup lebar, dan ada beberapa suara tawa dari pengunjung lain, yang masih bisa kita dengar, saat kita menuruni tangga ke arah basement.
Sesampainya di basement, penjaga meminta kami untuk mengganti sepatu kami, dan mereka memberikan sepatu boot panjang dari karet pada kami.
__ADS_1
Setelahnya, pak yanto meminta kami untuk turun satu persatu ke ruang bawah tanah.
Tangga yang harus kita lalui, sangat sempit, dan hanya muat untuk satu orang.
Pak yanto turun lebih dulu, disusul bowo, kemudian aku, ayu dan dita terakhir.
Saat pak yanto menjelaskan mengenai fungsi bangunan di lantai dua, hanya ayu yang menyimak, tapi saat pak yanto menjelaskan fungsi bangunan basement dan bawah tanah pada kami, kami mendengarkan dengan seksama.
Mungkin karena hanya ada kami di bawah tanah, jadi suara pak yanto terdengar jelas.
Suasananya juga sangat sepi di bawah tanah, karena untuk mengunjungi bawah tanah, kita harus antri setiap kelompok.
Pak yanto bercerita, pada saat jaman belanda fungsi bawah tanah hanyalah untuk menampung air, tapi pada saat kita di jajah oleh jepang, bangunan basement berubah fungsi menjadi penjara dan tempat penyikasaan para tahanan politik pemerintah jepang.
Mendengar hal itu, aku bisa langsung membayangkan kekejian pemerintah jepang, karena memang ada banyak buku sejarah yang menjelaskan situasi Indonesia saat ada dibawah pimpinan pemerintah jepang kala itu.
Saat aku melihat ukuran sel yang menurut pak yanto di paksa untuk muat sepuluh orang, bahkan kadang lebih, aku langsung diliputi rasa sedih.
Ada rasa sakit yang muncul di hatiku, saat membayangkan orang di masa itu, harus melalui penyiksaan yang tidak seharusnya mereka alami.
Selain itu, pak yanto juga menunjukkan lokasi penyikasaan, tapi untungnya gelap jadi tidak terlihat.
Pak yanto juga mengatakan, kalau ada tahanan yang meninggal, maka mayatnya hanya akan dibuang ke sungai melalui jendela basement.
Setelah memutari area basement, kita langsung kembali naik, dengan perasaan marah akan pemerintah jepang kala itu.
Kita mengakhiri tour di lawang sewu, setelah kita mengucapkan terimakasih pada pak yanto.
Hari ke tiga, kita memilih untuk ke pantai marina, dan sedikit kecewa karena kita hanya bisa duduk-duduk di tepiannya.
Pantainya tidak sesuai bayangan kami, tapi cafe yang kita datangi, cukup meredakan kekecewaan kami, karena menunya yang unik.
Aku sangat menyukai pemandangan kota dari atas bukit, jadi aku meminta mereka untuk tinggal sedikit lebih lama, sebelum akhirnya harus pulang ke rumah dita.
Hari jumat, kita berburu oleh-oleh khas semarang, dan pergi ke tempat kuliner yang di rekomendasikan oleh kakak dita.
Sabtu pagi dimas sudah menelvonku, dan meminta alamat rumah dita.
Dimas sampai di rumah dita sekitar pukul sepuluh pagi.
Ada perasaan bahagia saat aku melihat dimas datang.
Aku tanpa sadar, ternyata mulai memiliki rasa rindu di hatiku untuk dimas.
Aku memperkenalkan dimas pada teman kampusku, dan sedikit kecewa, karena hanya bisa memperkenalkan dimas sebagai salah satu temanku.
Setelah berbincang selama satu jam, kita memutuskan ke pecinan pukul satu siang.
Setelahnya, kita akan mengantar bowo ke stasiun, lalu aku dan ayu akan langsung pulang ke jogja, karena besok malam ayu sudah pesan tiket untuk pulang ke lampung.
Dimas menawarkan bowo untuk mengantar bowo ke klaten dulu, sebelum lanjut ke jogja, tapi bowo lebih memilih untuk naik kereta, karena lebih cepat.
Bowo, dita dan ayu pun masuk ke dalam rumah untuk istirahat, tinggalah aku dan dimas yang duduk di teras rumah dita.
"Seneng nggak aku jemput", tanya dimas padaku saat semua temanku sudah masuk ke dalam rumah.
"Seneng sih, tapi sekaligus khawatir", ujarku dengan senyum simpul.
"Khawatir kenapa", tanya dimas.
"Khawatir kalau kamu jadi capek karena harus bolak balik", ujarku pada dimas.
__ADS_1
"Makasih sudah khawatir ra", ujar dimas lembut.
"Jadi ke bali minggu depan, sama kiki dan yang lain", tanya dimas sambil menyeruput es tehnya.
"Jadi, kita berangkat tiga hari lagi", jawabku.
"Nggak capek pergi terus", tanya dimas.
"Liburnya kan dua bulan, masih banyak waktu untuk istirahat", jawabku.
"Habis dari bali kamu mau luangin waktu nggak buat aku ra", pinta dimas.
"Maksudnya", tanyaku.
"Ya main sama aku, berdua aja", ujar dimas.
"Tapi kalau sama kamu paling mainnya di jogja, karena pasti nggak boleh nginep sama ibu", ujarku pada dimas.
Dimas terlihat kecewa, dan ternyata melihat dimas kecewa, membuat hatiku sedih.
"Kalau main sama dimas dari pagi sampai malam selama tiga hari gimana, batasku sampai jam sepuluh malam", ujarku berusaha membuat dimas tersenyum lagi.
Dimas pun menyetujui, kemudian dia memintaku untuk masuk kerumah dan beberes karena sudah hampir pukul satu siang.
Kita ke pecinan dengan mobil dimas, karena kebetulan dimas di ijinkan membawa mobil papanya.
Kita hanya makan dan berbelanja, kemudian langsung mengantar bowo ke stasiun.
Dita memutuskan untuk naik ojek ke rumahnya, jadi aku, dimas dan ayu langsung pulang ke jogja.
Di perjalanan, lagi-lagi ayu tertidur lelap, tapi aku berusaha untuk tidak tidur dan menemani dimas yang menyetir.
Dimas sangat penuh perhatian padaku, mulai dari memasangkan seatbelt untukku, membukakan botol minum, bahkan sesekali menyentuh tanganku.
Sekitar pukul sembilan malam kita sampai joga, dan setelah mengantar ayu sampai kos, dimas mengajakku untuk makan malam, sebelum mengantarku pulang.
"Capek ya", tanyaku pada dimas, saat kita sudah kembali ke mobil setelah makan malam.
Dimas hanya tersenyum padaku sambil mengelus pipiku.
Dimas kemudian membawa mobilnya untuk mengantarku pulang.
"Makasih ya udah di jemput", ujarku lagi pada dimas, begitu kita sudah sampai di depan rumahku.
"Iya sama-sama", jawab dimas.
"Kabarin kalau mau berangkat ke bali", pinta dimas.
"Pasti", jawabku sambil menatap dimas.
Aku kemudian meminta dimas untuk istirahat di kos dulu, dan baru berangkat ke solo besok.
Dimas mengiyakan dengan senyum manis di wajahnya.
Senyum yang membuatku enggan untuk keluar dari mobilnya.
Aku menatap dimas cukup lama, sebelum akhirnya keluar dari mobil dimas.
Begitu melihat mobil dimas berbelok dan menghilang dari pandanganku, ada perasaan sedih yang menjalar.
***
__ADS_1