Namaku Maira

Namaku Maira
- Jalan keluar -


__ADS_3

***


Sosok yang nyaris tiga bulan menghilang, kini kembali memenuhi layar handphoneku dengan namanya.


Dimas datang dan menghubungiku tanpa jeda.


Selama tiga hari penuh, dia terus menelvonku dan meninggalkan pesan untukku.


Aku enggan untuk menerima telvon darinya, pesannya pun hanya kubaca tanpa kubalas.


Dia datang di waktu yang sangat tidak tepat, dia datang saat aku ingin menjauh dari dunia dan isinya.


Aku tidak ingin menyeret siapapun ke dalam masalah yang kumiliki.


Aku juga malu menemui dimas, aku tidak ingin dimas melihatku terpuruk seperti ini.


Keputusan yang aku ambil dulu dengan menjauh dari sisinya, kini berakhir dengan petaka.


Aku tidak berharap mendengar tawa atau cemoohan dari siapapun saat ini.


Puluhan pesan dimas yang berisi permintaan maaf dan menanyakan kabarku, aku abaikan sepenuhnya.


Hanya satu pesan yang akhirnya aku jawab, pesan saat dia mengatakan kalau dia akan ke jakarta dan memintaku untuk menemuinya.


Aku hanya membalas asal dan mengatakan kalau aku sedang di luar kota karena ada seminar.


Saat dimas mengatakan di kota mana, aku berbohong dan menjawab kota surabaya.


Hari berikutnya dimas berusaha menelvonku dan meninggalkan pesan untukku, dia mengatakan kalau dia sudah ada di surabaya, dia memintaku untuk menemuinya, dan dia akan menungguku.


Aku tidak meresponnya, aku berangkat kerja dan meninggalkan handphoneku di kos, karena dimas terus menerus menelvonku.


Setelah hari itu, semua telvon dan pesan dari dimas berhenti.


Aku tidak terlalu peduli, dan memilih fokus untuk menjalani kehidupanku.


*


Tiga bulan sudah aku menjalani hari dengan biaya kehidupan lima puluh persen dari gaji, dan akhirnya mengikis tabunganku.


Aku mulai merasa, kalau aku sudah tidak sanggup menjalaninya lagi.


Aku juga tidak mau membagi bebanku ini dengan siapapun, tapi aku butuh sandaran untuk setidaknya sedikit membuat pikiranku lebih ringan.


Terbersit untuk menghubungi dimas, tapi aku mengurungkan diri.


Aku tidak yakin kalau dimas akan mengerti ceritaku.


Ada kemungkinan juga dia akhirnya tidak mau berhubungan denganku lagi.


Aku akhirnya memilih untuk ke rumah nia setelah pulang kerja jumat minggu ini.


Aku hanya perlu menunggu sehari dan esok aku akan langsung menemui nia dan bercerita tentang kondisiku.

__ADS_1


Jumat jam enam sore aku sudah keluar dari kantor, dan menunggu angkutan umum untuk membawaku kerumah nia.


Untuk sampai di rumah nia aku harus berganti angkutan umum dua kali, kemudian baru berjalan sekitar lima ratus meter dari jalan raya menuju jalan tebet dalam.


Tidak jauh dari tempat aku turun dari angkutan umum, aku sudah bisa melihat rumah nia.


Begitu aku sampai di rumah nia, tante rosa langsung memelukku, dia menanyakan aku dari mana saja sampai tidak pernah datang kerumah.


Aku kemudian menangis di pundak tante rosa.


Tante rosa berulang kali menanyakan aku kenapa, tapi aku terus menangis.


Nia yang baru pulang kerja, langsung terlihat bingung dan hanya mengelus punggungku, dia membiarkanku menangis di pundak bundanya.


Setelah aku berhenti menangis, tante rosa meminta nia membawaku ke atas untuk menenangkan diri.


Dua jam kemudian, tante rosa dan om rusman datang ke kamar nia untuk melihatku.


"Ada apa ra, kamu ada masalah apa", tanya tante rosa dengan nada sangat menenangkan.


Aku kemudian menceritakan semua yang terjadi padaku, ke nia dan keluarganya.


Aku menyampaikan kalau aku sangat depresi dengan kondisiku, dan dengan tegas, aku mengatakan kalau aku tidak ingin meminta tolong, atau membebani mereka, aku hanya butuh tempat bersandar.


Nia langsung memelukku dan menangis, pelukan nia membawa kembali airmataku.


Om rusman mengatakan kalau dia bisa membantuku untuk membayar setengahnya.


"Nggak usah om, aku akan cari jalan supaya bisa membayar semuanya", jawabku dengan tegas pada om rusman.


Siapa yang menyangka kalau akan ada orang jahat yang memasang malware di komputer kerjaku tanpa terdeteksi.


"Proses dari kepolisian sudah sampai mana ra", tanya om rusman padaku.


Aku menjelaskan kalau menurut kepolisian, setelah berulang kali mengecek cctv, memang ada salah satu karyawan baru di tim dito, dan dia terlihat cukup mencurigakan.


Dia selalu pulang terakhir dan berangkat paling awal.


Dia juga beberapa kali terlihat memasuki setiap ruangan yang bukan ruangan kerjanya.


Sayangnya, di ruang kerja memang tidak dipasang cctv, sehingga tidak ada yang tahu apa yang dilakukannya di ruangan tersebut.


Dia juga langsung resign tiga hari sebelum kejadian tersebut.


Hanya saja, sampai sekarang kepolisian masih belum menemukan orangnya, karena dia mendaftar kerja di kantor dengan identitas palsu.


"Ibu rara sudah tau", tanya tante rosa padaku setelah aku menjelaskan pertanyaan om rusman.


Aku hanya menjawab kalau nia dan keluarganya yang pertama kali aku ceritakan, karena aku sudah merasa tidak sanggup lagi.


"Terus rencana kamu gimana ra", tanya om rusman padaku.


Aku menjawab, yang pertama aku akan pindah kos, dan resign, lalu mencari pekerjaan dengan resiko rendah tapi memiliki bonus yang lumayan.

__ADS_1


"Pindah ke rumah aja ya, jangan ngekos lagi", pinta tante rosa padaku.


"Kalau kamu mau resign, nanti om titipin kamu untuk kerja di kantor teman om, dia di bidang konstruksi, kamu bisa jadi adminnya sambil jadi marketing project, bonusnya lumayan ra", ujar om rusman.


Tawaran om rusman dan tante rosa tidak bisa aku tolak, karena aku memang tidak punya jalan lain, aku kemudian meminta mereka waktu, untuk mengurus semuanya.


Nia mengatakan padaku, kalau nanti saat semua sudah terlewati, aku pasti berubah menjadi sosok yang tangguh, bukan maira yang cengeng lagi.


Aku kemudian memeluk nia, begitu juga tante rosa, dia memelukku.


*


Seninnya, begitu aku kembali ke kantor, aku langsung submit surat resign.


Miss alice yang menerimanya terlihat kaget, abi juga demikian, sementara lexi, dia sudah tidak di ruangan lagi, karena sudah mengundurkan diri dari bulan lalu.


"Kamu yakin ra", tanya abi padaku saat makan siang.


"Aku harus move on bi, aku nggak bisa terus berharap uangnya tiba-tiba kembali", jawabku pada abi.


"Yaudah, aku dukung aja, tapi jangan sampai putus komunikasi ya", pinta abi padaku.


Aku tersenyum sambil melihat abi, kemudian mengatakan pada abi, kalau tanpa abi mungkin aku sudah bunuh diri.


Aku juga meyakinkan abi, kalau sampai kapanpun, aku tidak akan pernah melupakan abi, dan tidak akan mengganti nomer telvonku supaya abi tetap bisa menghubungiku.


Abi kemudian memelukku dan memintaku untuk sering mengajaknya makan atau nonton.


"Pasti bi, nanti kita ketemu setiap libur ya", jawabku pada abi.


"Janji ya ra", ujar abi padaku.


Aku tersenyum dan mengangguk untuk menyetujui janji dengan abi.


Pihak management perusahaan menerima surat resignku, kemudian aku menandatangani perjanjian pengalihan hutangku ke bank.


Setelah aku melihat nominal yang harus aku bayarkan setiap bulan, aku lega karena tidak besar, hanya jangka waktunya yang membuatku sangat kaget, karena ada kemungkinan aku tetap harus mencicilnya sampai aku hampir pensiun.


Aku tetap menandatangani pernyataan tersebut, lalu menjabat tangan pak siregar.


Pak siregar kemudian memberikan kartu namanya padaku, dan memintaku untuk menghubunginya jika aku butuh bantuan hukum.


Setelahnya, aku ke ruanganku, dan merapikan semua barang-barang milikku.


Kemudian aku mengucapkan terimakasih kepada miss alice dan memeluk miss alice.


Abi langsung merentangkan tangannya untuk memelukku, dan memintaku untuk menemaninya nonton di hari minggu.


Setelah mengiyakan abi, aku keluar dari ruangan dan berjalan keluar dari kantor.


Karin hanya tersenyum padaku saat aku melewati meja resepsionis.


Begitu masuk ke dalam lift, ada sedikit perasaan lega, karena aku tidak harus datang ke kantor ini lagi, dengan nafas sesak setiap pagi.

__ADS_1


Begitu sampai di bawah, aku melihat sekali lagi lantai delapan belas dari luar gedung, kemudian aku menarik nafasku dan berjalan menjauh dari gedung.


***


__ADS_2