
***
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore saat dimas melajukan mobilnya.
Rencana awal adalah kita berangkat pukul satu siang hari, tapi kami berdua tertidur, dan baru berangkat pukul tiga sore.
Dimas masih belum mengatakan tujuannya kemana.
Aku menyukai kejutan jika orang yang ingin memberiku kejutan merahasiakannya, tapi berbalik menjadi penasaran saat orang tersebut mengumumkannya.
Begitupun dengan dimas, dia sudah mengatakan akan memberiku kejutan terlebih dahulu, hal itu membuatku menjadi luar biasa penasaran.
"Kasih tau dimas kita mau kemana", ujarku, berusaha membujuk dimas untuk membocorkannya.
Dimas tidak menjawab, dia malah menertawakan sikapku, setiap aku bertanya sambil berusaha memikirkan trik supaya dimas lengah.
Ketika ada tanda arah jalan, aku langsung melihatnya, dan kulihat dimas melajukan mobilnya ke arah semarang.
"Semarang", tanyaku dengan nada cukup tinggi.
"Kemana", tanyaku lagi.
Dimas hanya tersenyum melihatku, dan aku menjadi semakin penasaran.
Sekitar pukul lima sore, dimas menepikan mobilnya, lalu menutup mataku dengan sapu tangan miliknya.
Setelah hampir tiga puluh menit berlalu, dimas akhirnya menghentikan mobilnya.
Aku berusaha untuk melepas penutup mataku, tapi dimas langsung menghentikannya.
"Jangan dibuka sebelum aku yang buka", ujar dimas tegas.
Dimas lalu turun dari mobil, dan membukakan pintu untukku, kemudian membantuku berjalan.
Aku langsung merasakan hawa dingin menusuk kulitku saat aku turun dari mobil, lalu aku mendengar suara orang lain mengatakan selamat datang.
Aku berusaha menebak kalau kita ada di restaurant, tapi tidak ada jawaban dari dimas.
Dimas memintaku untuk menunggu sebentar, dimas lalu membantuku untuk duduk di sofa.
Sekitar lima menit kemudian, dimas kembali, dan dia juga kembali membantuku berjalan.
Aku merasakan bahwa kita menaiki elevator.
Aku bertanya lagi pada dimas, tapi dimas tetap tidak memberiku jawaban.
Aku memilih untuk pasrah dan terus berjalan mengikuti arahan dimas.
Kemudian terdengar pintu dibuka, dan dimas membuka penutup mataku.
Aku terkejut saat dimas membawaku ke sebuah kamar hotel
Ketika aku masuk kamar, aku melihat hiasan bunga di atas tempat tidur bertuliskan, 'I Love You Maira', kemudian di bingkai dengan bentuk love.
Aku lebih terkejut lagi saat melihat ke arah jendela, aku langsung membuka mulutku, dan menutupnya dengan tanganku.
Perasaan takjub menyelimutiku, saat aku melihat pemandangan kota semarang yang sedang dihujani oleh warna kuning dan merah yang berkilau dengan sangat cantik.
Dan kulihat matahari mulai turun secara perlahan dengan indahnya.
Bagiku, ini pemandangan yang sangat luar biasa indah.
Dimas membawaku ke salah satu hotel terbaik di bukit tembalang, dan memesan kamar dengan pemandangan terbaik dari kota semarang.
Aku merasa menjadi orang paling beruntung dan paling bahagia karena dicintai sebesar ini oleh dimas.
Dimas menghampiriku, dan melingkarkan lengannya di pinggangku, kemudian mencium pipiku.
"Selamat ulang tahun sayang", ujar dimas.
"Dimas ini kan mahal banget kamarnya", ujarku pada dimas.
"Hadiah ulang tahun untuk perempuan cantik yang sangat aku sayangi", ujar dimas.
Aku berbalik dan memeluk dimas, lalu aku menciumnya secara lembut, berharap dimas bisa merasakan betapa bahagiannya aku saat ini.
"Makasih sayang", ujarku pada dimas.
"Kamu suka", tanya dimas.
__ADS_1
"Aku suka banget dan bahagia banget", ujarku sambil menatap dimas.
Begitu matahari sepenuhnya turun, tersisalah gemerlap kota semarang.
Aku menikmati itu semua sambil duduk di pangkuan dimas.
Dimas lalu mengajakku turun untuk makan malam.
"Sayang pernah ke hotel ini", tanya dimas, saat kita makan malam.
"Pernah, tapi belum pernah nginep, cuma makan di sini sama ayah dan ibu dulu waktu aku masih SMP", jawabku.
"Dimas kapan pesan kamarnya", tanyaku sambil menyendok makananku.
"Salah satu temenku kerja disini, jadi aku minta tolong sama dia untuk pesan kamar yang pemandangannya paling bagus", ujar dimas.
Aku langsung tersenyum dan mengusap tangan dimas.
"Terus sekarang dia kerja atau lagi libur", tanyaku.
"Dia libur tiga hari, jadi mungkin kita nggak akan sempat ketemu", ujar dimas.
Setelah menyelesaikan makan malam, kita langsung kembali ke kamar.
Dimas langsung mandi, dan tak lama setelah dimas selesai, dimas langsung menyuruhku untuk mandi.
Bau segar keluar dari tubuh dimas, aku tak bisa menahan diri untuk memeluk dimas.
Setalah aku selesai mandi dan merasa segar, aku langsung membuka tirai jendela dan mematikan lampu kamar.
Dimas yang sebelumnya sibuk dengan handphonenya, langsung meletakkan handphone miliknya di meja dekat tempat tidur.
Aku lalu duduk di sisi tempat tidur dan kembali menikmati pemandangan kota semarang.
"Aku nggak nyangka kamu akan sebahagia ini", ujar dimas yang terlihat santai di tempat tidur.
"Aku bahagia lebih dari yang kamu sangka", ujarku sambil melihat ke arah dimas.
Dimas terlihat masih mengenakan jubah mandinya, dan belum berganti pakaian, sementara aku sudah berganti dengan piama tidurku.
Dimas lalu turun dari tempat tidur dan berjalan ke arahku, kemudian dimas berlutut di depanku, dan menciumku.
Dimas menarik tanganku setelah melepas ciumannya, dan membawaku ke tempat tidur.
Dimas menatap tubuhku yang setengah telanjang dengan mata yang menyala, dan dimas menciumi setiap sudutnya.
Perlahan dimas melepas semua pakaianku, dan dimas membelainya, dari ujung ke ujung.
Aku tidak bisa menolak dan tidak ingin menolaknya.
Kebahagiaan yang dimas berikan untukku malam ini, membuat aku bersiap untuk menyerahkan seluruh dunia dan isinya pada dimas.
Dimas lalu menciumku sangat mesra, dari bibirku, ke keningku dan pipiku.
"Aku mau kamu", ujar dimas berbisik ditelingaku.
Dimas lalu menciumku lagi, kemudian berpindah menciumi leherku.
Aku sudah tidak bisa berfikir apapun, ataupun berusaha mencegah sentuhan yang dimas berikan.
Nasehat-nasehat yang selama ini orang tuaku bicarakan denganku, aku tidak bisa mengingatnya lagi.
Dimas membuatku sangat ingin merasakan setiap sentuhannya, sampai aku melupakan segalanya.
Dimas lalu memelukku dan membuka kaitan braku, kemudian melepasnya.
Kini dimas bisa seutuhnya melihatku, tanpa benang satu garispun.
Aku memenuhi kamar hotel ini dengan suara yang kuciptakan karena sentuhan dimas.
Dimas menciumi leherku sambil meremas dadaku, kemudian dimas mencium setiap inci bagian tubuhku tanpa melewatkan satupun.
Tangan dimas perlahan membelai pahaku, dan menyentuh bagian bawahku, lalu meremasnya.
Aku langsung menjerit cukup keras.
Dimas lalu menciumku lagi, dan tanpa sadar aku sudah merasakan tangan dimas menyentuh celanaku, dan melepasnya.
Aku langsung merintih saat jemari dimas masuk kedalam celah diantara kakiku.
__ADS_1
Dimas kemudian menuruni tubuhku sambil menciuminya secara perlahan.
Aku hanya bisa pasrah saat dimas mulai menciumi pahaku, dan kemudian berpindah ke bagian yang berharga milikku.
Rasanya sangat menakjubkan, rasa yang aku tidak pernah bayangkan akan kurasakan seumur hidupku.
Dimas mencium bagian tersebut cukup lama, lalu dimas merayap ke atas dan mencium bibirku.
Dimas hanya menciumku sekejab, lalu kembali bermain dengan payudaraku.
Jemari dimas kembali membelai pahaku, lalu masuk ke celah di antaranya.
Dia memainkannya dengan sangat tepat, rasanya sungguh sangat aneh, tapi aku menyukainya.
Aku berhenti menjerit saat dimas menghentikan semua aktifitas jemari dan bibirnya.
Dimas lalu menutupi tubuhku dengan selimut.
"Dimas takut lagi", tanyaku merasa di tinggalakan setelah dimas menghentikan aktifitasnya.
"Bukan", ujar dimas sambil menatapku.
"Aku mau kamu siap untuk terima aku dulu", ujar dimas, lalu mengecup bibirku.
"Aku udah tunggu kamu selama lima bulan", ujar dimas.
"Tapi aku siap menunggu lagi kalau kamu masih belum yakin", ujar dimas lagi.
Aku berbalik dan merasa terharu, aku merasa bahwa meski aku sangat ingin melakukannya untuk dimas, tapi dimas dengan manisnya menanyakan perasaanku terlebih dahulu.
Dimas lalu memelukku dan menjadi cemas saat aku menangis.
"Aku salah ya", tanya dimas sambil menghapus air mataku.
Aku tidak menjawabnya, aku lalu menciumi dimas dan menyampaikan seluruh cintaku untuk dimas.
"Kamu yakin", ujar dimas sambil melepaskan diri dari ciumanku.
Aku tidak menjawab dimas lagi, aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku siap menyerahkan semuanya untuk dimas.
"I love you maira, aku selamanya milikmu", bisik dimas ditelingaku.
Dimas kemudian membuka laci di samping tempat tidur, dan mengambil bungkusan plastik kecil dari dalam laci, mengeluarkan isinya, lalu memasangnya di bagian tubuhnya.
Dimas kemudian memelukku dan kembali menyiapkan diriku untuknya.
Aku menjerit lirih karena sentuhan dimas.
Dimas berpindah ke atas tubuhku, dan dengan perlahan dimas menyatukkan dirinya denganku.
Aku langsung menjerit kesakitan saat dimas menyatukan dirinya denganku, tapi dimas terus melanjutkannya.
Dimas lalu memelukku yang menangis kesakitan.
"Maaf", ujar dimas, sambil menghapus air mataku dan menciumku.
Aku merasakan rasa yang sangat perih di bagian bawah tubuhku, jadi aku meminta dimas untuk berhenti sejenak.
Dimas lalu memelukku dan berusaha menenangkanku.
Kemudian dimas melanjutkan kembali penyatuan kami, sampai akhirnya dimas menjerit dan menjatuhkan tubuhnya di atasku.
Dimas berpindah kesampingku, setelah dia mendapatkan nafasnya kembali, kemudian dimas memelukku.
Setelah sepuluh menit, dimas turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi.
Aku merasakan air mata menetes di pipiku, saat dimas pergi, lalu aku menangis tersedu-sedu.
Dimas panik saat mendengarku menangis dan langsung keluar dari kamar mandi.
"Kenapa sayang", tanya dimas dengan nada sangat lembut sambil mengelus rambutku.
Aku tidak menjawabnya, dimas lalu masuk kedalam selimut dan memelukku.
Dimas dengan penuh perhatian berusaha menenangkanku dan berulang kali meminta maaf.
Keesokan harinya, aku bangun dan masih merasakan perih diantara pahaku.
Aku berusaha bangun, tapi aku merasa sangat lemas.
__ADS_1
Aku melihat dimas di sebelahku masih tertidur lelap, aku akhirnya kembali merebahkan kepalaku dan tertidur.
***