Namaku Maira

Namaku Maira
- Nia Sahabatku -


__ADS_3

***


Dimas mengantarku pulang, sehari setelah aku cukup sehat.


Aku ada di rumah dimas selama tiga hari, dan sudah dua hari aku bolos kuliah.


Papa seno mengijinkan dimas untuk membawa mobilnya selama satu minggu, dan mami mita memintaku untuk sering mampir saat liburan.


Mama mita mengijinkan kami berangkat, setelah aku berjanji pada mami untuk sering main ke rumahnya.


Saat dimas mulai membawa mobilnya untuk membawa kami ke jogja, aku langsung melambaikan tangan pada mami.


"Janji harus ditepatin loh", ujar dimas tersenyum padaku sambil menyetir.


"Mau aku ingkarin", jawabku bercanda pada dimas.


"Kualat nanti", jawab dimas.


Aku hanya tersenyum, lalu mengecup dimas yang sedang menyetir.


Kita menghabiskan waktu di perjalanan dengan bercanda sambil mendengar lagu favorit kami berdua.


Ibu sudah menunggu di depan pagar saat mobil dimas sampai di rumah.


Ibu kemudian mengucapkan terimakasih pada dimas, dan menuntunku masuk kerumah, setelah meminta dimas untuk ikut masuk ke dalam.


Dimas meminta maaf pada ibu karena sudah membuatku sakit.


Ibu menanyakan pada dimas, kenapa aku bisa sampai sakit, dimas memberikan jawaban yang sama seperti yang dimas sampaikan ke orangtuanya.


Aku tidak bisa menahan diri untuk selalu tertawa setiap mendengar jawaban dimas.


Ibu tidak mempermasalahkan lebih lanjut, dan berterimakasih sekali lagi pada dimas, karena sudah merawatku.


*


Setelah malam di bukit, dimas menjadi super protective padaku.


Setiap pagi dimas selalu menjemputku untuk berangkat kuliah, dan mengantarku pulang sorenya.


Ibu yang melihat dimas setiap hari datang menjemputku, akhirnya memaksa dimas untuk selalu sarapan bersama kami.


Kak alan hanya mengejek dimas karena sudah mau jadi tukang ojekku.


"Di bayar berapa jadi tukang antar jemput maira", ejek kak alan pada dimas, saat kak alan ikut sarapan bersama kami.


"Apaan sih, orang aku nggak pernah minta, dimas sendiri yang mau antar jemput", jawabku pada kak alan.


"Kamu dimas, mau-maunya di perdaya sama anak cengeng ini", ujar kak alan dengan dramatik, dan sambil menunjukku.


"Nggak papa, aku suka kok", jawab dimas sambil tersenyum.


"Tuh kan, bukan aku yang minta di jemput tau", jawabku protes pada kak alan.


"Udah, udah, di meja makan kok malah berantem", ujar ibu.


"Kak alan tuh bu, kalau ngomong asal", ujarku dengan wajah cemberut.


"Kan aku bicara fakta", ujar kak alan dengan wajah menyebalkan.


"Lan kamu harusnya senang ada yang jagain adik kamu, kamu juga ra, kalau dimas antar jemput kamu ke kampus, kamu pakai uang bensin motor kamu untuk jajanin dimas, kan dimas ngekos, jauh dari orang tuanya", ujar ayah menasehatiku dan kak alan.


"Iya yah", jawabku dan kak alan.


Kita kemudian sarapan dengan tenang, dan tanpa perdebatan lagi.


Aku menjadi sangat terbiasa dengan kehadiran dimas di hari-hariku.


Bahkan dimas memindahkan bimbingan skripsinya di hari rabu, supaya dia bisa menghabiskan waktu denganku di hari jumat sore.


Dimas juga mengantarku dan menungguku untuk latihan teater.


Setiap hari minggu, dimas selalu ada di rumah dari pagi untuk ikut membantuku dan ibu membersihkan rumah, atau sekedar berbincang dengan ayah.


Sorenya, dia mengajakku jalan dan makan malam di luar.


*


Sudah minggu ketiga, dan dimas masih belum berani menyentuhku lagi.


Batas yang dimas berani lakukan hanya sekedar mencium dan memelukku.


"Dimas emang udah rencana nyentuh aku waktu itu", tanyaku pada dimas.


Aku penasaran akan rencana dimas untukku saat di semarang, jadi aku menanyakannya, saat kami menghabiskan waktu di kamar dimas, di jumat siang.


"Enggak, aku cuma pengen ciuman dan pelukan sepanjang malam aja", jawab dimas.


"Tapi aku lihat kamu bahagia banget, jadi aku fikir, aku ingin buat malam itu jadi kenangan yang sempurna buat kita", ujar dimas sambil membelai rambutku.


"Tapi malah kamu kesakitan dan demam besoknya"", ujarnya menambahi dengan nada sedikit kecewa.

__ADS_1


Aku hanya tertawa mendengar jawaban dimas.


"Aku jadi panik dan khawatir banget", tambah dimas lagi, kemudian dia mencium pipiku.


"Masih sakit nggak sampai sekarang", tanya dimas padaku.


"Udah enggak", jawabku.


Dimas kemudian memelukku erat, dan aku menghabiskan sore hari tidur di pelukan dimas.


*


Selama satu bulan, dimas hanya menciumku, memelukku dan sedikit merabaku.


Dimas masih takut aku akan kesakitan lagi, jadi dia tidak berani mengambil resiko untuk menyentuhku lebih jauh dari itu.


Bulan juga sudah memasuki bulan maret, bulan yang sangat padat, karena maret merupakan jadwal ujian pertengahan semester.


Setelah ujian, kampus memberi kami libur selama tiga minggu.


Aku menghabiskan liburku di jogja, dan tidak pergi kerumah uti di kulonprogo seperti biasanya.


Sementara dimas, dia mulai menjalankan magang, atau pelatihan kerja.


Dimas berhasil magang di departemen Tata Kota wilayah Yogyakarta.


Dimas hanya punya waktu libur, setiap hari sabtu dan minggu.


Dimas memintaku untuk menggunakan hari tersebut dengan menghabiskan waktu dengannya.


Saat aku tanya kenapa dimas tidak pulang ke solo, dia hanya menjawab kalau dia lelah, mami juga paham, jadi dia memilih untuk ada di jogja di hari liburnya.


Karena perkuliahan libur, kegiatan theater pun libur.


Aku tidak punya kesibukan lain, selain bermain dengan sahabatku.


Kiki juga memutuskan untuk tinggal di jogja, dan tidak pulang ke kalimantan.


Mia dan nia juga memilih untuk tinggal di jogja, liburan semester ini.


Tentu saja aku senang, karena biasanya mereka semua pergi saat liburan dan tinggalah aku dan rani kesepian di jogja.


Ayu memutuskan untuk mengunjungi neneknya di kebumen, dita lebih memilih pulang ke semarang, dan bowo memilih untuk bekerja part time di salah satu cafe di area seturan.


Liburan di mulai dengan aku yang menghabiskan waktu dengan rani dan mia di rumah nia.


"Kiki kemana", tanya mia.


"Entah", jawabku cuek dan kembali membaca novelku.


"Kamu baca apa ra", tanya mia mendekat padaku.


"Mira W", teriak mia.


"Dapat darimana", tanya mia lagi.


"Aku ambil di rak buku kiki kemaren", ujarku pada mia sambil tersenyum.


"Udah mau selesai belum", tanya mia antusias.


"Baru juga satu bab", jawabku.


Mia lalu memintaku untuk memberikan novel yang kubaca ke dia, begitu aku selesai membaca.


Kami bertiga pun kembali dengan bacaan masing-masing.


"Bunda itu nggak usah ikut campur urusan nia, urus urusan bunda sendiri", teriak nia dari luar kamar.


Nia lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan membantingnya.


Aku, mia dan rani langsung duduk karena kaget.


Nia kemudian menangis sambil duduk bersandar pada pintu.


"Nia kamu kenapa", tanya rani saat rani menghampiri nia.


Aku dan mia mengikuti rani, mendekat pada nia, lalu kami memeluk nia dan berusaha menangkan nia.


Nia tidak menjawab kami, dia hanya beranjak dan pergi ke tempat tidur.


Nia kemudian menarik selimut dan menutupi wajahnya dengan selimut.


Aku, rani dan mia hanya saling bertatapan, karena bingung dan tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.


Lalu kami menyusul nia ke tempat tidur untuk memeluk nia.


"Nia, kamu kenapa nangis", tanya mia.


Pertanyaan mia, membuat tangis nia semakin kencang.


"Nia kalau kamu mau cerita, kita ada disini untuk kamu", ujarku sambil memeluk nia yang terbungkus selimut.

__ADS_1


Aku hanya mendengar nia sesenggukan, kita kemudian memutuskan untuk diam, dan hanya memeluk nia.


Cukup lama kita terdiam sambil memeluk nia, sampai akhirnya aku melihat jam di dinding kamar nia, dan waktu sudah menunjukkan pukul 5.30 sore.


Kita memutuskan untuk pulang saat melihat nia sudah tertidur.


"Tante kami mau pamit", ujar rani ke tante rosa, saat kita sudah dibawah dan berniat untuk pulang.


"Tante nggak papa", tanyaku, ketika melihat mata tante rosa masih sembab.


Rani, mia, dan akupun meraih tangan tante rosa.


"Tante nggak papa, nia gimana", tanya tante rosa.


"Nia tidur tante", jawab mia.


"Tante kita baru bisa kesini lagi lusa", ujar rani.


"Aku besok bisa kok, coba besok aku ajak kiki", ujarku pada mia dan rani.


Kita akhirnya berpamitan dengan tante rosa untuk pulang, dan satu persatu dari kita memeluk tante rosa.


Sepanjang perjalanan pulang, aku mencoba mengingat kembali waktu yang aku habiskan di rumah nia.


Sejauh yang kuingat, selama aku mengenal nia dari SMA, tidak pernah sekalipun aku melihat atau mendengar nia teriak pada tante rosa.


Kejadian tadi sangat mengusikku, karena nia selalu tenang.


Aku kemudian berfikir kalau mereka mungkin punya masalah yang besar, sampai membuat nia sekasar itu pada bundanya, tapi apa ya, gumamku dalam hati.


Begitu aku sampai di rumah, aku langsung menelvon kiki, tapi tidak di jawab oleh kiki.


Aku memutuskan untuk menunggu kiki pulang di kamarnya.


"Bu rara kerumah kiki dulu ya", pamitku pada ibu.


"Iya, tapi jangan ngerepotin kakek ya", jawab ibu yang sibuk menjahit kancing kemeja ayah.


Aku menunggu kiki sambil menelvon dimas.


"Gimana magangnya, lancar", tanyaku pada dimas ditelvon.


"Lancar kok, oh ya hari sabtu mami minta kita ke solo gimana, atau mau santai di kos aja", tanya dimas.


"Di kos aja, nia lagi ada masalah jadi aku nggak bisa pergi jauh", jawabku.


"Sayang sekali, padahal mami udah nanyain kamu terus", ungkap dimas sedikit kecewa.


"Kalau dimas mau pulang ke solo nggak papa kok", ujarku pada dimas.


"Mami itu maunya ketemu kamu, jadi buat apa aku pulang kalau kamu nggak ikut, mending aku santai di kos", ujar dimas.


Aku lalu mendengar suara kiki dari luar kamar.


"Sayang lanjut nanti ya", ujarku pada dimas, dan langsung menutup telvon.


Begitu kiki masuk ke dalam kamar, dia kaget melihatku duduk di tempat tidurnya.


"Tumben jam segini masih disini", ujar kiki sambil meletakkan tasnya.


"Penting", ujarku tegas.


"Kamu dari mana seharian", tanyaku pada kiki.


"Pergi sama wawan, emang ada apa kok serius banget", ujar kiki.


Aku langsung menceritakan kejadian siang tadi di rumah nia, kiki yang awalnya cuek, berubah menjadi khawatir.


"Kamu nggak bercanda", tanya kiki.


"Enggak ki", jawabku meyakinkan kiki.


"Nia itu belum pernah loh kasar ke bunda rosa", ujar kiki.


"Maka dari itu, mia sama rani juga tadi bingung", ujarku.


"Ki besok kamu ada acara", tanyaku.


"Cuma jalan sama wawan sih", jawab kiki.


"Kita besok ke rumah nia aja ya", pintaku pada kiki.


"Yaudah nanti aku kabarin wawan kalau besok nggak jadi", ujar kiki, lalu kiki bangun dari kursi dan mulai membersihkan makeup dari wajahnya.


"Kamu yakin nia teriak, nggak salah denger", tanya kiki lagi.


"Kamu kalau nggak percaya telvon rani deh", ujarku kesal, karena kiki menanyakan hal yang sama berulang kali.


Aku bilang pada kiki, kalau besok kita kerumah nia jam sepuluh pagi, kiki mengiyakan, lalu aku pulang kerumah.


***

__ADS_1


__ADS_2