
***
Dimas membangunkanku sekitar pukul enam pagi, karena papa seno mengajak kita untuk olah raga dan sarapan di alun-alun solo.
Aku tidak pernah bangun sepagi ini saat liburan.
Dengan mata yang masih mengantuk, aku menyeret kakiku untuk turun.
Melihatku yang terlihat sangat mengantuk, papa seno memberiku coklat untuk menghilangkan kantuk.
Kami berempat lalu pergi ke alun-alun dengan papa seno sebagai pengemudi.
Sesampainya di alun-alun, kita lari pagi sampai jam tujuh, kemudian sarapan.
Saat sarapan papa seno berbicara mengenai banyak hal, bahkan juga berbicara mengenai soal kesultanan solo.
Mami dan dimas yang sudah sering mendengarnya terlihat bosan, tinggalah aku audience papa seno, yang masih tertarik untuk memperhatikan ceritanya.
Papa seno kemudian mengajak kami pulang, saat matahari sudah cukup tinggi, kira-kira pukul delapan pagi.
Sampai di rumah, mami mita langsung bersiap-siap untuk berangkat ke toko.
Papa seno juga akan ikut mami untuk perg ke toko.
Bibi yang bekerja di rumah dimas juga langsung pulang begitu dia selesai menyetrika, mencuci dan membersihkan rumah.
Tinggalah aku dan dimas sendiri di rumah.
Aku berencana untuk kembali tidur setelah mandi, tapi rencanaku tidak berjalan mulus, karena dimas masuk ke kamar dan menggangguku, begitu aku selesai mandi.
"Masih ngantuk dimas", ujarku manja, ketika dimas menciumiku supaya bangun.
"Emang kalau libur di rumah bangunnya jam brapa sih", tanya dimas.
"Yang jelas nggak jam enam pagi", jawabku sambil kembali menarik selimut.
Dimas lalu menyalakan televisi dan memelukku.
Dia mengatakan akan membiarkanku tidur, tapi gimana bisa tidur kalau suara siarannya cukup menggangguku.
"Kita jalan jam dua ya", ujar dimas padaku.
"Mau kemana", tanyaku pada dimas.
"Ketemu temen SMA di manahan sebentar, lalu kita langsung ke jogja", jawab dimas, sambil membelai rambutku.
"Kemaren katanya mau keliling kota solo di depan mami", tanyaku.
"Manahan juga ada di solo", jawab dimas cuek.
Aku tidak bertanya lagi dan kembali menonton kartun di tv bersama dimas.
Berdua dengan dimas, itu seperti aku berdiri di samping tiang listrik saat hujan.
Aku bisa tersetrum aliran listrik milik dimas kapan aja.
Begitu juga dengan minggu pagi ini, dimas yang awalnya hanya memelukku, dan aku yang berharap bahwa pagi ini menjadi pagi yang santai untukku.
Ternyata dimas membuat pagiku, menjadi pagi yang penuh dengan nama dimas di setiap tarikan nafasku.
__ADS_1
Dimas mulai dengan mencium bibirku, dengan lembut, tapi kelembutannya perlahan hilang.
Aku merasa dimas seperti melahap bibirku.
Tidak sampai disitu, tangan dimas juga mulai menjelajah dan menyentuh setiap sudut tubuhku.
Dimas mulai meremas payudaraku, dimas tak ingin menyerah untuk membangkitkan gairahku.
Dia menurunkan wajahnya ke dadaku, kemudian mulai menciumi dan bermain dengan payudaraku, meski piamaku masih menempel.
Dimas menatapku dengan guratan liar di matanya, dan mulai membuka kancing piamaku.
Sedetik kemudian dia langsung menyentuh payudaraku dengan bibirnya.
Bersamaan dengan itu, tangan dimas perlahan bergerak turun dan masuk ke balik celanaku.
Dimas kembali menyentuh celah di antara kakiku.
Ini adalah pertama kalinya dimas menyentuh dan bermain dengan bagian itu lagi, setelah sekian lama.
Terakhir adalah saat kita di semarang, dimas menyentuhku sedalam itu.
Dengan stimulasi yang dimas berikan, aku hanya bisa merintih, kemudian aku mulai menjerit lirih saat aku merasakan ada sebuah desakan yang luar biasa dari bagian bawah milikku.
Aku berusaha menarik tangan dimas darinya, tapi dimas tidak berencana membiarkan tangannya bergeser.
Aku memohon pada dimas untuk berhenti, tapi dimas tidak mendengarkanku.
Dia bahkan mulai menambah kecepatan stimulasi tangannya.
Tak lama aku merasakan aliran yang mengalir dari bagian bawah milikku.
Aku bisa merasakan celana bagian dalam milikku menjadi lembab.
Dimas lalu menyudahi permainanya, kemudian dia memelukku dan menciumi pipiku, sementara aku masih berjuang untuk bernafas.
Aku merasa lemas dan lelah, akhirnya aku tertidur di pelukan dimas.
Saat aku bangun, aku bisa merasakan badanku terasa ringan dan segar.
Aku lalu membuka mata, dan kulihat tirai jendela kamar dimas tertutup.
Kamar juga sangat gelap saat aku membuka mata, lalu aku berbalik dan kulihat dimas di sampingku, dia sedang bermain handphonenya dengan posisi setengah duduk.
Aku lalu melingkarkan lenganku di pinggang dimas.
Dimas langsung mengusap kepalaku, dia lalu menaruh handphonenya di sofa, dan kembali memelukku.
"Udah bangun", tanya dimas, aku hanya mengangguk.
"Gimana tidurnya, nyenyak", tanya dimas lagi.
Aku tidak menjawab dan hanya memeluk dimas dengan erat.
Dimas lalu turun dari tempat tidur, dan membuka tirai jendela.
Aku langsung menarik selimut untuk menutupi wajahku.
Dimas kemudian melompat ke tempat tidur dan membuka selimut yang menutupi wajahku.
__ADS_1
Dimas mencium pipiku dan menarik tanganku untuk duduk.
"Udah jam tiga nih", ujar dimas.
"Kita ke manahan sebentar ya, aku kenalin kamu ke temenku dari SMA, lalu kita balik ke jogja", ujar dimas.
Aku mengiyakannya dimas, dan turun dari tempat tidur, lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Begitu aku selesai mandi dan bersiap, aku langsung turun ke bawah.
Dimas sudah menungguku sambil duduk di meja makan.
"Makan dulu ya", pinta dimas padaku.
"Kenapa dimas nggak bangunin aku", tanyaku pada dimas, setelah aku duduk di meja makan.
"Aku mau, tapi nggak bisa, soalnya kamu tidur kayak bayi, jadi aku nggak tega mau bangunin", jawab dimas.
Aku hanya membalas ucapan dimas dengan tersenyum.
Di meja makan sudah ada ayam bakar yang sangat menggoda, di lengkapi dengan lalapan dan sambal.
"Dimas nggak makan", tanyaku pada dimas yang duduk di sampingku.
"Udah tadi pas kamu lagi tidur", jawab dimas.
Dimas lalu menyangga kepalanya dengan tangannya, dia kemudian menetapku, dan terus menatapku sepanjang aku makan, tanpa bersuara sedikitpun.
Begitu aku selesai makan, aku langsung mencuci piring kotorku.
Aku bisa merasakan di punggungku, kalau dimas menatapku tanpa henti, bahkan saat aku mencuci piring.
"Kenapa", tanyaku pada dimas, saat aku kembali duduk di meja makan.
Dimas lalu membenamkan wajahnya ditangannya.
Aku kemudian mencium pipi dimas.
"Suka nggak sentuhanku tadi", tanya dimas padaku, sambil menatapku dengan binar di matanya.
Aku mengangguk lalu mencium bibir dimas.
kita langsung berangkat setelah berbagi ciuman di meja makan cukup lama.
Jarak manahan dengan rumah dimas sangat dekat, kurang dari sepuluh menit, kita sudah sampai.
Ada sebuah tempat duduk dibawah tenda, lokasinya tidak jauh dari stadion manahan, di sanalah dua teman dimas sudah menunggu kami.
Mereka melambaikan tangan ke arah kami, begitu mereka melihat motor dimas sedang parkir.
Dimas mengenalkan temannya yang bernama helda dan raka padaku.
Helda dan raka juga merupakan pasangan kekasih.
Kita lalu makan es krim, sambil aku mendengar mereka menceritakan kenakalan mereka saat SMA.
Mereka juga menceritakan padaku sedikit tentang keusilan dimas saat SMA.
Sayang sekali, dimas mengajakku untuk pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.
__ADS_1
Waktu memang berjalan sangat cepat, saat kita menghabiskannya dengan orang-orang yang sangat menyenangkan.
***