
***
Hampir satu jam kita hanya berpelukan, dimas juga meminta maaf karena sudah marah.
Aku berusaha memberi pengertian ke dimas, kalau aku sibuk itu untuk masa depan aku, dan meminta dimas untuk tidak cepat menghakimiku.
"Dimas tau kan, dimas orang pertama yang aku ijinkan sentuh aku", ujarku pada dimas sambil membelai rambutnya.
"Kalau dimas tidak berharga untukku atau yang seperti tadi dimas bilang di bukit, kalau aku sudah tidak menganggap dimas lagi, aku nggak akan ada dipelukan dimas sekarang", ujarku lagi.
"Iya sayang, aku tau, aku minta maaf udah marah", jawab dimas.
"Dimas kan bisa minta ke aku untuk ketemu di lain hari, nggak harus hari jumat", ujarku lembut.
"Udah kok, hari sabtu, tapi kamu selalu sibuk", jawab dimas.
"Ya udah sekarang baiknya gimana", tanyaku pada dimas, berusaha untuk mengalah.
"Kalau sayang hari minggu sama aku gimana, bakal kecapean nggak", tanya dimas.
"Tergantung kita kemana, kalau pergi jauh ya pasti capek", jawabku dengan ringan.
"Yaudah nanti kita perginya nggak usah jauh-jauh", ujar dimas tersenyum.
"Kalau disela-sela jam kuliah, istirahat di kosku gimana", tanya dimas.
"Dimas emang nggak kuliah", tanyaku.
"Tahun ini tinggal selesain enam kredit semester aja, sama bimbingan skripsi, jadi nggak padat", jawab dimas.
"Oke, dimas kabarin aja kalau lagi di kos, nanti aku datang", ujarku.
"Biar dimas jemput aja di kampus, lalu dimas anter balik", pinta dimas.
Setelah sepakat untuk mengatur jadwal dengan dimas, aku tertidur karena sangat mengantuk.
Aku bangun, saat waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, dan aku melihat dimas sibuk bermain video game di komputernya.
Aku beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka, dan memeluk dimas dari belakang setelahnya.
"Udah bangun", tanya dimas sambil melepas headphone dari telinganya.
Aku mencium pipi dimas, lalu duduk di tempat tidur.
Dimas kemudian menyusulku dan mencium keningku, lalu menyodorkan air putih untukku.
Aku yang masih belum bangun secara penuh, meminta dimas untuk memelukku.
Dimas lalu memutar film baru dari komputernya dan menarikku untuk lebih dekat dengannya.
Menonton film dengan dimas itu tidak pernah sampai selesai, seperti sekarang ini, dimas terus menciumi leherku dan punggungku.
"Dimas", ujarku.
"Filmnya belum selesai", ujarku lagi.
"Sayang aja yang nonton", jawab dimas sambil menciumi pundakku.
"Nggak bisa fokus", ujarku manja pada dimas.
Dimas tersenyum dan menyudahi ciumannya, lalu memelukku lagi dan menyandarkan dagunya di pundakku.
__ADS_1
Selama dua bulan ini, aku merasa bahwa aku akan baik-baik saja karena punya dimas yang mencintaiku.
Ada dipelukan dimas merupakan waktu yang sangat aku tunggu, aku berharap dimas bisa merasakan kalau dia sangat berharga untukku.
Cara dimas mencintaiku, menurutku sangat menyenangkan, meski aku sedikit kurang peduli pada dimas, tapi dimas selalu berusaha menarik perhatianku.
Aku kurang bisa menyampaikan perasaanku pada dimas, mengijinkan dimas menyentuhku adalah salah satu wujud cinta yang aku percayakan pada dimas.
Sekarang aku ada di posisi, kalau aku merasa dimas akan ada bersamaku di masa depanku nanti.
Film yang dimas putar untukku, ternyata sangat membosankan di tengah cerita, jadi aku meminta dimas untuk mengganti dengan memutar lagu.
Dimas menciumku, lalu beranjak dan mengganti musik favoritku di komputernya.
"Mau berapa lagu", tanya dimas.
"Lima puluh lagu", jawabku.
Dimas kembali memelukku setelah selesai mengatur lagu.
"Dimas lulus nanti mau kerja dimana", tanyaku, saat dimas kembali.
"Belum tau, mungkin bantu ibu kelola toko dulu", jawabnya.
"Menurut dimas, hubungan kita kedepannya seperti apa", tanyaku.
Dimas tidak menjawab, dia hanya menatapku lalu menciumiku.
Tangan dimas dengan sigap membuka kancing kemejaku, dan tangannya langsung membelai leherku, kemudian turun ke payudaraku.
Dimas terus membelainya sambil menatapku.
"Sayang mau ada di masa depanku", tanya dimas padaku dengan tatapan yang sangat menjanjikan.
Dimas membuatku lupa bahwa hidup penuh dengan resiko.
Dengan dimas aku ingin membiarkan waktu berlalu penuh dengan cinta dan ciuman.
"Sayang, minggu depan setelah sayang ulang tahun kan ada libur tiga hari, mau nggak ke solo ketemu orang tuaku", pinta dimas dengan nada penuh sayang.
"Mau", jawabku.
"Tapi dimas yang ijin sama ayah", pintaku.
"Oke", ujar dimas.
Dimas lalu melepas kaitan braku, dan membuat tubuh bagian atas milikku sepenuhnya terbuka.
Aku ingin percaya pada dimas, dan bisa selalu merasakan sentuhan dimas.
Dimas berpindah posisi ke atas tubuhku, mencium bibirku, lalu turun ke leher, kemudian mulut lembut dimas, menciumi payudaraku.
Dimas tidak hanya mencium, tapi juga menjilat dan mengulumnya.
Aku merasakan sensasi yang lebih dari biasanya saat dimas meremas payudaraku.
Rasa yang aku tidak bisa jelaskan, aku merasakan tubuh bagian bawahku mulai basah karena sentuhan dimas.
Aku hanya bisa merintih dan memanggil nama dimas.
Mendengar suaraku, dimas langsung menggigit payudaraku, dan menariknya dengan lembut.
__ADS_1
Dimas lalu berhenti dan kembali tidur di sampingku.
"Kenapa berhenti", tanyaku pada dimas.
"Aku takut mau lebih", ujar dimas.
Akupun mencium dimas, dan memeluknya.
Kita menghabiskan sisa waktu dengan berpelukan, bercerita dan menggoda satu sama lain.
Bukan hanya dimas yang takut, tapi aku juga, aku takut dengan konsekuensi yang harus aku tanggung jika kita terlalu jauh.
Aku masih punya waktu tiga puluh menit sebelum aku harus pulang.
Aku bermaksud hanya ingin menggoda dimas dengan menciumi lehernya, kemudian aku menyelipkan tanganku ke balik celana dimas.
Respon dimas sangat diluar dugaan, saat aku menyentuh bagian kerasnya.
Dimas terlihat sangat menikmati, dimas juga menatapku dengan tatapan yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Mata dimas terlihat seperti berteriak penuh permohonan.
Aku yang awalnya hanya ingin menggoda dimas, jadi enggan untuk berhenti menyentuh, dan menggenggamnya.
Aku memainkannya cukup lama, kemudian aku merasakan tanganku menjadi lembab.
Aku masih enggan untuk berhenti, suara yang dimas keluarkan juga menjadi semakin keras ditelingaku.
Dimas lalu berteriak, dan aku merasakan tanganku menjadi basah oleh cairan yang keluar dari tubuh dimas.
Aku langsung menarik tanganku, dan aku melihat ada cairan berwarna putih pekat di tanganku.
Aku melihat dimas yang tampak terengah dengan nafasnya, aku lalu mengambil tissue untuk mengelap tanganku.
"Dimas kamu nggak papa", tanyaku sedikit cemas saat melihat dimas berbaring dan terlihat seperti sulit bernafas.
Dimas lalu menarikku dan memelukku.
Aku bisa merasakan debaran jantung dimas yang tidak seperti biasanya.
"Maira", ujar dimas dengan suara parau.
"hmmm", jawabku.
"Kamu nakal sekali", ujar dimas.
Aku langsung bangun dan melihat dimas.
"Sakit ya, maaf", ujarku cemas.
"Enggak kok, aku suka, aku juga baru tau kalau rasanya seperti ini", ujar dimas tersenyum.
"Ini pertama kalinya aku merasakan hal ini, dan itu kamu yang berikan ra", ujar dimas mulai terdengar normal.
Aku hanya menatapnya dengan penuh kecemasan, aku khawatir kalau ini hal buruk.
Dimas lalu memelukku erat, dia kemudian meminta ijin untuk mandi sebelum mengantarku pulang.
Aku masih cemas dengan apa yang aku lakukan mungkin menyakiti dimas.
Aku menanyakan lagi saat dimas selesai mandi, dan dia langsung menenangkanku sambil tertawa.
__ADS_1
***