
***
Semester empat sudah di ujung mata, tibalah aku di semester terakhir di tahun keduaku.
Jadwal kuliah masih sama seperti semester sebelumnya, hanya saja, aku berhenti dari organisasi teater, dan lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan dimas sepenuhnya di hari jumat.
Sejak hari yang aku habiskan dengan dimas di villa, dimas selalu memintaku untuk lebih banyak menghabiskan waktu dengannya.
Meski dimas mengerti kegiatanku, tapi dimas selalu ingin aku segera berlari ke pelukannya, saat aku punya waktu luang disela-sela jadwal kuliah.
Dimas yang lebih sering sibuk mengerjakan skripsi di komputernya, tak pernah lupa untuk memberiku sentuhan sebelum membiarkanku pulang ke rumah.
Penyatuan adalah hal yang selalu dimas lakukan, saat aku ada di dekatnya
Sentuhan dimas masih sama, masih penuh dengan gejolak api dan kelembutan.
Sudah hampir memasuki bulan ketiga di semester empat ini, waktu berlalu dengan cepat tanpa di sadari siapapun.
Meski aktifitasku hanya antara rumah, kampus dan kos dimas, tapi aku menjalaninya dengan bahagia.
"Ra, nanti kamu dateng nggak di nikahan agus", tanya bowo, di suatu siang di bulan mei, saat kita lagi duduk di pendopo di dekat kantin kampus.
"Agus nikah", tanyaku pada bowo.
"Loh kamu nggak tau", tanya dita.
"Enggak", ujarku menggeleng.
"Yu kamu nggak kabarin rara", tanya dita, pada ayu yang sedang menikmati siomay miliknya.
"Lupa", ujar ayu, lalu tersedak.
Ayu lalu menceritakan, kalau agus, salah satu teman kelas kita, akan menikah dua minggu lagi.
Menurut gosip yang beredar, pacar agus sudah hamil dua bulan, mereka udah berusaha gugurin, tapi gagal.
"Kok bisa", tanyaku keheranan.
"Orang kalau dikampus aja mojok mulu, apalagi kalau cuma berdua aja, kita nggak tahu mereka ngapain, iyakan yu" ujar dita, sambil kembali memakan siomaynya.
Aku berusaha terlihat normal dan tidak salah tingkah, saat mendengar ucapan dita.
"Undanganmu ada di kosku, besok aku bawain", ujar ayu.
"Suatu saat nanti juga kalian akan hamil", ujar bowo.
"Tapi nanti wo, kalau aku udah siap, kalau aku udah kerja, baru mikirin punya anak", jawab ayu tegas.
"Kalau sekarang mah seneng-seneng dulu, nikmati masa muda", ujar ayu lagi.
"Aku juga mau ngerasin kerja dulu, punya karir dulu", ujarku menambahi.
"Aku juga wo, tapi aku nggak sepenuhnya menikmati masa mudaku, soalnya orang yang aku suka lebih milih jadi pacar tuhan", ujar dita dengan nada sedih.
Ucapan dita, di sambut dengan tawaku dan ayu.
"Masih yang nomer lima", tanyaku dan ayu serempak.
"Masih", jawab dita lesu.
"Tenang aja dit, nanti juga ada yang lainnya", ujar bowo.
__ADS_1
"Siapa, siapa", ujar dita dengan suara keras, sambil melihat ke sekeliling, yang memang cukup ramai oleh mahasiswa yang sedang makan di kantin.
"Sssstttt", ujar bowo berusaha membuat dita tenang.
"Nanti aku kenalin sama temenku", ujar bowo.
"Kalau kualitasnya kurang dari rio, aku nggak mau", ujar dita pada bowo.
"Tenang, yang ini, top", jawab bowo pada dita, sambil mengangkat jempol tangannya.
"Nikahannya dimana nanti", tanyaku pada mereka.
"Kalau di undangan sih di rumah yang perempuan, di magelang", jawab, ayu.
"Pacarnya padahal baru semester satu ya", ujar dita mulai bergosip.
"Masa sih", ujarku, nggak percaya.
"Iya ra, baru masuk langsung di petik sama agus", ujar ayu sambil terkikik.
Kita bergosip sambil mulai membahas rencana untuk datang ke pernikahan agus.
Menurut ayu, di undangan tertera kalau nikahnya di hari sabtu, jadi kita tidak perlu membolos kuliah.
Bowo lalu melihat jam di tangannya, dia langsung meminta kami untuk cepat menghabiskan makanan kami, karena sebentar lagi kelas dimulai.
*
Hari kamis, setelah selesai kuliah, aku langsung pergi ke kos dimas.
Dimas sedang sibuk mengetik di komputernya sambil mengenakan kacamata baca, saat aku masuk ke kamar kosnya.
"Baru sampai sayang", sapa dimas lembut, tanpa melihat ke arahku.
Aku tidak menjawab, dimas lalu menatapku.
"Udah cuci tangan", tanya dimas padaku.
Aku tidak menjawabnya.
"Aku baru sadar kalau kamu ganteng banget pakai kacamata", ujarku pada dimas, masih sambil menatap dimas.
Dimas lalu melepas kacamatanya, dan memintaku untuk membersihkan kaki dan tanganku di kamar mandi.
Aku lalu menyipitkan mataku, dan beranjak ke kamar mandi.
Begitu aku keluar dari kamar mandi, dimas kembali sibuk mengetik di komputernya.
Aku lalu meletakkan tasku dan duduk di samping dimas.
"Aku dapet undangan nikahan", ujarku pada dimas.
"Emang sayang punya temen yang udah lulus", tanya dimas, tanpa melihat ke arahku.
"Nikahan temen kelas", jawabku, sambil menatap dimas yang kembali mengenakan kacamata.
Dimas kemudian menghentikan ketikannya dan menatapku.
"Temen kelas kamu nikah", tanya dimas padaku.
"Iya", jawabku singkat.
__ADS_1
"Anak mana emang", tanya dimas.
"Dia sih dari riau, tapi calon istrinya dari magelang", jawabku.
"Kapan nikahannya", tanya dimas.
Aku lalu mengambil undangan dari dalam tasku, dan menyerahkan ke dimas.
"Aduh maaf banget sayang, aku nggak bisa temenin, soalnya aku harus ketemu dosen pembimbingku sebelum sidang di akhir bulan depan", ujar dimas menjelaskan, setelah dia melihat undangan yang kuberikan.
Kemudian dimas menatapku dengan tatapan yang sulit kutolak.
"Nggak papa, nanti aku pergi sama teman kelas juga kok", ujarku sambil menghembuskan nafasku dengan keras.
Dimas lalu tersenyum dan kembali ke komputernya.
Begitulah dimas, hampir dua bulan ini sangat sibuk menyusun skripsi miliknya.
Jadwal sidang skripsi dimas sudah keluar, jadi dia diminta oleh dosen pembimbingnya untuk menyempurnakan skripsi miliknya, sebelum diserahkan ke panitia sidang.
Aku sendiri lebih sering melihat punggung dimas, saat aku mampir ke kos dimas disela-sela jadwal kuliahku.
Aku berusaha mengerti, karena nantinya juga aku akan menjalani hal itu, dan aku pasti berharap dimas mengerti nantinya.
Setelah dua jam di kos dimas dan hanya melihat punggung dimas, aku pamit kembali ke kampus, karena ada jadwal kuliah selanjutnya.
Dimas lalu berhenti mengetik dan menciumku.
"Maaf ya, aku malah sibuk", ujar dimas.
"Besok aku milik kamu seutuhnya, bukan milik komputer ini", ujar dimas lagi sambil tersenyum padaku, dan menunjuk komputernya.
Aku hanya tersenyum dan mencium pipi dimas, kemudian beranjak keluar dari kamar dimas.
*
Hari sabtu, dua minggu kemudian, kita janjian di depan kampus untuk berangkat ke pernikahan agus bersama.
Dita satu motor denganku, ayu dengan bowo, tapi kami tidak hanya berempat, ada teman kelas lainnya yang juga hadir di pernikahan agus.
Kami membawa motor mengikuti arahan salah satu teman terdekat agus, yang kebetulan pernah kesana, saat mendampingi agus melakukan lamaran, jadi kami tidak tersesat.
Begitu kita sampai di depan rumah yang kita tuju, di sekitarr terlihat sepi, hanya ada beberapa orang yang lalu lalang.
Memang ada tenda dan janur kuning di depan rumah, tapi suasananya tidak seramai yang aku bayangkan.
Ternyata pernikahan agus dilakukan secara sederhan, hanya upacara ijab kabul tanpa ada pesta resepsi seperti pada umumnya.
Agus lalu memperkenalkan istrinya pada kami, kemudian dia mempersilahkan kami untuk makan.
Setelah makan dan bercakap-cakap sambil menggoda agus, kami semua pamit untuk pulang.
Ada beberapa yang memutuskan untuk langsung pulang ke jogja, ada juga yang ikut aruni, salah satu teman kelas kita, yang mengajak kita ke ketep pas.
Kebetulan jaraknya dekat dengan rumah istri agus.
Aku, ayu, dita dan bowo sepakat untuk ikut aruni, tapi sayangnya, saat kita sampai di atas, kabut sudah turun, jadi kita tidak bisa melihat pemandangan dari atas ketep pas.
Kita akhirnya hanya berfoto-foto sebentar, lalu makan jagung bakar dan langsung berangkat kembali ke jogja.
***
__ADS_1