
***
Aku bisa mendeskripsikan kalau tahun ketigaku di kampus, adalah tahun terbaik.
Meskipun di awali dengan cerita sedih karena merapi memutuskan untuk memuntahkan amarahnya di awal semester, tapi kita tetap harus menjalani semuanya dengan senyuman.
Jadwal kuliahku juga sudah mulai longgar, hidupku tenang dan bahagia.
Kak alan mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan, yang membuat kak alan selalu tersenyum setiap hari.
Aku punya teman-teman kampus terbaik, yang siap kapan aja untuk membantuku belajar demi menaikkan nilai mata kuliahku.
Di waktu luang aku punya sahabat-sahabatku yang dengan senang hati bermain denganku di sela-sela jadwal kuliah mereka.
Aku juga punya dimas, yang selalu menepati janjinya untuk menemuiku.
Selama hampir setahun, semuanya berjalan sangat sempurna, hal itu membuatku merasa kalau ini adalah hidup yang akan aku jalani, di isi oleh orang yang aku sayangi, penuh dengan kebahagiaan dan penuh kasih sayang.
Dimas juga sudah mulai bekerja di salah satu biro arsitek di solo.
Dia mulai sibuk, bahkan seringkali pulang ke rumah larut malam.
Aku tidak ada komplain untuk hal itu, karena dia selalu menemuiku di akhir minggu.
Pertemuanku dengan dimas seringnya aku isi dengan melihat dimas tertidur di kamar hotel sepanjang hari.
Dimas memang sudah memiliki tempat langganan untuk menginap, jika villa milik maminya sedang di sewa.
Biasanya dimas datang ke jogja hari sabtu pagi, dia langsung menelvonku untuk menemuinya, dan begitu aku sampai, dimas selalu memintaku untuk memeluknya sampai dia tertidur.
Kadang kita pergi jalan di hari minggu, tapi sering kali, aku tidak tega meminta dimas untuk mengajakku jalan.
Dimas sangat senang dengan pengertianku, jadi kami hanya menghabiskan waktu di kamar hotel, sampai dimas pulang di minggu malam atau minggu sore setelah mampir ke rumah menemui keluargaku.
Kak alan sendiri memilih untuk bekerja di jogja.
Awalnya dia ingin mengikuti ayah menjadi pegawai negeri sipil, tapi ayah menyarankan kak alan untuk bekerja di bank.
Menurut ayah, sudah banyak orang pintar yang mendaftar jadi pegawai negeri sipil, jadi ayah meminta kak alan untuk menggunakan kepintarannya untuk keuntungannya sendiri.
Kak alan kemudian mendaftar di salah satu bank nasional di negeri ini, dan langsung diterima.
Cinta rani untuk kak alan juga berbalas manis, kak alan merasa, kalau dia sudah siap membangun keluarga, jadi kak alan meminta rani untuk menjadi teman hidupnya.
Mereka memutuskan untuk bertunangan di liburan pertengahan semester, dan menggelar pernikahan begitu rani lulus kuliah.
Dimas juga di undang oleh kak alan untuk hadir di pesta pertunangannya, dimas memang sudah sangat akrab dengan kak alan, selain karena mereka seumuran, mereka juga sama-sama menggemari klub bola Liverpool.
*
Mia, kiki, nia, dan aku sebagai sahabat rani sangat senang, dengan keputusan rani untuk memasuki babak baru di kehidupannya.
Terutama aku yang sangat senang, karena rani kini akan menjadi bagian dari keluargaku.
"Aduh tanganku berat baget nih", ujar rani sambil memegang pergelangan tangannya, saat kami sedang berkumpul di rumah nia.
Kita langsung melihat rani dengan tatapan khawatir.
"I'm engaged", teriak rani kemudian, sambil memamerkan cincin di jarinya.
Kita hanya memutar bola mata kami, karena rani sudah sering melakukan hal itu, tapi kita tetap selalu tertipu.
Rani melakukannya setiap ada kesempatan saat kita berkumpul.
*
Dimas mendapat cuti selama seminggu setelah dia menyelesaikan masa percobaan selama enam bulan di kantornya.
Kini dimas sudah resmi menjadi junior kolega di kantor biro arsitek tempat dimas bekerja.
Dia mendapatkan tiga tahun kontrak full support sebagai kolega di biro arsitek tersebut.
__ADS_1
Dimas datang ke jogja, dan tinggal di villa milik keluarganya selama seminggu di hari cutinya.
Meskipun jauh, dimas selalu mengantar dan menjemputku ke kampus, dan baru mengantarku pulang ke rumah pukul sembilan malam.
Sama seperti biasa, saat aku menghabiskan waktu dengan dimas di hotel, aku menunggu dimas yang selalu tertidur, aku membiarkan dimas tertidur meski itu sepanjang hari.
Untuk mengatasi rasa bosan di villa, aku menghabiskan waktu dengan merawat kebun kecil milik mami, dan memberi makan ikan, atau duduk di balkon sambil membaca novel karya Mira W yang kini jadi bacaan favoritku.
"Giliran aku udah lulus aja, kuliahnya cuma sebentar", ujar dimas, masih sambil memelukku di tempat tidur.
"Kan udah semester enam, jadwalnya udah nggak padet", jawabku.
"Dimas juga, kalau habis nyentuh aku, tidurnya lamaaa banget", ujarku menggoda dimas.
Dimas hanya tersenyum dan memelukku.
"Sayang libur semester ijin dong sama ibu untuk tinggal di solo", pinta dimas.
"Bilang gitu, mau latihan kerja di toko mami selama sebulan", ujar dimas.
"Biar aku bisa ketemu kamu setiap hari", ujar dimas lagi.
"Iya nanti aku coba ya, mudah-mudahan di ijinin sama ibu", jawabku ke dimas.
Dimas lalu menciumku cukup lama, dan mulai tertidur lagi.
Aku terkadang meminta dimas untuk tidak menemuiku di hari libur, dan menggunakan waktunya untuk istirahat, tapi dimas menolak, karena dia merasa khawatir, kalau dia tidak menemuiku, aku akan mulai terbiasa tanpa dia.
Mendengar hal itu aku hanya bisa tertawa dan menggoda dimas.
*
Bulan berganti, dan sudah menjadi bulan terakhir di semester enam ini.
Aku sudah meminta ijin pada ayah dan ibu untuk menghabiskan liburanku, untuk berlatih kerja di toko milik mami dimas.
Setelah ibu menelvon mami, dan menanyakan rencanaku pada mami, mami sangat senang dan menyukai rencanaku.
Aku langsung memberi tahu dimas, dan dimas sangat senang mendengar kabar yang aku bawa.
Dimas kemudian berjanji akan menjemputku begitu aku selesai ujian.
Kegiatanku di kampus masih sama, datang ke kelas atau berkumpul dengan teman kampusku.
"Nggak terasa ya kita udah mau masuk tahun terakhir", ujar dita, di suatu siang saat kami kumpul di kos bowo sambil menunggu kelas selanjutnya.
"Iya tinggal dua semester lagi", ujar ayu.
"Bulan depan juga udah ujian, habis itu libur panjang", ujar bowo.
"Kalian sering-sering main ke jogja ya kalau udah lulus nanti", pintaku pada mereka.
"Iya", jawab dita dan ayu.
Selama masa ujian, hampir setiap hari kami belajar bersama, bowo juga cuti dari kerja part time, karena dia tidak ingin mengulang.
Tiga hari setelah ujian semester selesai, dimas menjemputku di hari sabtu siang untuk membawaku ke solo.
Dimas menjemputku dengan mobil barunya.
Menurut dimas itu adalah hasil dari dia bekerja dari pagi dan pulang malam hari.
Dimas mengatakan kalau mobilnya masih belum lunas, dan dimas masih harus mencicil, tapi aku sangat bangga dengan pencapaian dimas.
Orang tua dimas sendiri menurutku sangat mampu untuk membelikan sebuah mobil untuk dimas, tapi dimas tidak mengambil kesempatan itu.
Aku menanyakan hal tersebut pada dimas, saat kita di perjalanan menuju solo.
Dimas menjawab kalau dia lebih memilih untuk membeli dari tabungannya sendiri, dia bilang kalau rasanya lebih puas, saat dia bisa membeli sesuatu dengan hasil jernih payahnya.
Aku langsung mencium pipi dimas setelah mendengar jawaban dari dimas.
__ADS_1
Aku tidak bisa menutupi kekagumanku pada dimas.
Ketika kita sampai di rumah, rumah kosong karena mami dan papa sedang di toko.
Dimas langsung mengajakku naik ke atas, ke kamarnya.
Dimas lalu menaruh dan merapihkan baju yang kubawa di lemari pakaiannya.
"Aku tidur di kamar mbak dina, kalau ada mami, tapi kalau rumah kosong aku tidurnya sama kamu", ujar dimas dengan senyum usilnya.
"Sekarang rumah kosong", ujarku menggoda dimas.
Dimas langsung melihat jam yang kuhadiahkan untuknya, dan tersenyum ke arahku.
"Masih cukup waktu sebelum mami pulang", ujar dimas.
Dimas lalu meraih wajahku, dan menciumku, kemudian dimas melepas kaos dan celananya.
Secara perlahan dia melepas pakaianku.
Dimas dengan tubuhnya mendorongku perlahan ke arah tempat tidur.
Dimas langsung melepas sisa pakaian miliknya, dia juga melucuti sisa benang yang menempel di tubuhku.
Dimas tidak pernah gagal membuat kupu-kupu di perutku.
Dimas selalu penuh hasrat saat menyentuhku.
Aku menarik dimas untuk berbaring di sampingku, saat dimas baru ingin menyatukan dirinya denganku, lalu aku berpindah ke atas tubuh dimas.
Aku tersenyum saat aku melihat wajah dimas yang penuh permohonan, ketika aku mulai menciumi tubuh dimas.
Aku menciumi seluruhnya dari ujung sampai ujung tanpa terkecuali.
Setelah aku siap, aku mulai proses menyatukan diriku dengan dimas.
Aku bisa melihat jelas wajah tegang dimas, saat aku mulai menggerakkan pinggangku, dan aku juga mendengar nafas dimas yang mulai berat.
Tak lama, aku mulai merasakan kupu-kupu di perutku ingin lepas, aku langsung terjatuh di atas tubuh dimas saat aku melepas kupu-kupu milikku, begitupun dengan dimas, yang melepas miliknya.
Aku belum berpindah posisi, dan masih diatas tubuh dimas setelah kita selesai, dimas perlahan mulai membelai rambutku.
"Belajar darimana", tanya dimas padaku, tentu saja aku mengerti maksud dimas.
"Belajar dari dimas", jawabku.
"Dimas belajar dari mana", tanyaku sambil tersenyum.
"Otodidak", jawab dimas.
Aku tertawa, tidak percaya dengan ucapan dimas.
"Bohong, kan katanya aku yang pertama", ujarku.
"Belajar dari nonton film blue sayang", ujar dimas sambil tertawa kecil, lalu mengecup keningku.
"Dimas emang suka nonton film gitu", tanyaku.
"Iya waktu SMA", jawab dimas.
"Dimana nontonnya", tanyaku.
"Di rumah temen", jawab dimas.
"Pantes dimas jago banget bikin aku meleleh", ujarku.
Dimas tertawa mendengar jawabanku, lalu menciumku.
Aku kemudian berpindah ke sisi dimas, dan bersandar di pelukan dimas.
***
__ADS_1