Namaku Maira

Namaku Maira
- Keluarga Dimas -


__ADS_3

***


Aku berusaha membuka mataku, karena aku mendengar suara dimas membangunkanku berulang kali.


"Dimas", ujarku pada dimas lirih.


Dimas terlihat sangat khawatir dan kulihat tangannya menggenggam tanganku.


"Badan kamu panas banget ra", ujar dimas.


Aku tidak menjawab dan kembali memejamkan mata.


Aku mulai merasakan dimas mengelap badanku dengan handuk basah, lalu memakaikanku pakaian.


Setelahnya dengan samar, aku mendengar dimas menelvon pihak hotel untuk meminta bantuan.


Lima menit kemudian, aku mendengar kamar diketuk, dan dimas bergegas membukakan pintu.


Aku membuka mataku dan melihat dimas berbicara dengan petugas hotel, kemudian dimas langsung mengangkatku dengan kedua tangannya.


Dimas memelukku di lengannya, dan berjalan keluar dari kamar.


Aku merasakan dimas setengah berlari, dan aku juga melihat sekilas, petugas hotel yang mengikuti kami dari belakang dengan membawa tas milikku dan dimas, lalu aku memejamkan mata lagi.


Begitu aku tersadar, aku sudah di mobil dimas, dan dimas mengendarai mobilnya dengan sangat kencang.


"Dimas pelan aja", ujarku lirih.


Dimas langsung menurunkan kecepatan mobilnya.


Dia kemudian meraih tanganku, lalu menciumnya dan dimas tak berhenti meminta maaf.


Aku berusaha untuk tersenyum pada dimas, dan kembali tertidur karena kepalaku luar biasa berat.


Setelahnya aku tidak sadar lagi.


Aku terbangun dan langsung duduk saat merasakan mual yang sangat mengganggu.


Aku langsung menutupi mulutku, tapi ternyata hanya mual kosong.


Aku meletakkan kepalaku kembali setelahnya, dan membuka mata, untuk mencari tahu aku dimana, ternyata aku ada di kamar dimas.


Kemudian aku melihat ke arah kiriku, kulihat dimas sedang menatapku penuh kekhawatiran.


Dimas lalu memelukku, dan mengusap rambutku.


Dia mengatakan kalau dia sangat senang akhirnya aku membuka mataku.


Aku lalu meraba keningku, karena aku merasakan dingin yang menusuk di dahiku, ternyata aku memakai plester anti demam.


"Jam berapa ini", tanyaku pada dimas saat melihat tirai kamar dimas tertutup rapat.


"Jam delapan malam", jawab dimas sambil menatapku lembut.


Dimas masih menggenggam tanganku, seperti enggan melepaskannya.


"Kamu makan dulu ya, dari pagi kamu nggak sadar, jadi belum makan sama sekali, makannya kamu jadi mual", ujar dimas.


Aku hanya mengangguk lemah, aku masih merasa sangat lemas, tapi kepalaku sudah tidak seberat seperti tadi pagi, hanya terasa sangat pusing.


Dimas memberiku minum terlebih dahulu, sebelum akhirnya keluar dari kamar.


Sepluh menit kemudian, dimas kembali membawa mangkuk putih berisi bubur.


Dimas lalu membantuku makan, dia menyuapiku dengan sabar.


"Sudah bangun nak", tanya mami mita yang baru saja masuk ke kamar dimas.


Aku hanya tersenyum ke arah mami mita.


Mami mita lalu menghampiriku, dan memeriksa suhu tubuhku dengan termometer.


"Syukurlah demamnya udah mulai turun", ujar mami mita, aku hanya bisa tersenyum lagi padanya.


"Kamu ini bisa-bisanya bawa maira main sama temen-temen kamu sampai tengah malam", ujar mami mita memarahi dimas di depanku.


Aku hanya tersenyum mendengar kebohongan dimas dari mulut mami.

__ADS_1


"Lain kali kalau main itu nggak usah jauh-jauh dimas, ngapain malam-malam ke tembalang, udah tau cuaca dingin, bukannya pulang malah ngajak maira nginep di rumah temen kamu", ujar mami mita lagi.


Aku tidak bisa menyembunyikan tawa geliku mendengar dimas dimarahi maminya, dan saat aku melihat dimas, dia hanya menunduk.


"Maira selesai makan langsung istirahat ya, jangan lupa maira telvon ibu, karena tadi ibu sangat cemas", ujar mami mita lembut.


Mami mita lalu mengusap rambutku, dengan kasih yang aku bisa rasakan terpancar dari matanya, lalu dia beranjak keluar dari kamar dimas.


Aku langsung menelvon ibu begitu selesai makan dan minum obat.


Ibu terdengar sangat khawatir karena aku jarang sakit.


Ibu juga bilang bahwa ibu terpaksa memperbolehkan aku menginap di rumah dimas, sampai cukup pulih.


Ibu merasa tidak enak karena maminya dimas yang memaksa, supaya mami dimas yang merawat aku sampai sembuh.


Awalnya ibu ingin langsung meminta kak alan untuk menjemputku begitu mendengar kabar aku sakit, tapi mami mita minta supaya ibu tidak perlu khawatir, karena aku hanya kena demam biasa.


"Begitu sehat langsung pulang ya", pinta ibu ditelvon.


"Ibu tidak kasih tau ayah kalau kamu demam, karena ibu tidak mau ayah jadi khawatir", ujar ibu ditelvon.


"Iya bu, uti sehat kan", tanyaku pada ibu.


"Uti ini lagi diare sudah dua hari, jadi ayah di samping uti terus", jawab ibu menjelaskan.


"Pokoknya begitu sehat langsung pulang ya", pinta ibu lagi.


"Iya bu", jawabku.


Aku lalu menyerahkan Blackerryku ke dimas, setelah ibu menutup telvon, dan langsung diletakkan di meja belajar oleh dimas.


"Gimana perasaannya", tanya dimas masih terdengar khawatir.


"Udah lebih baik", jawabku tersenyum.


Dimas pun mencium tanganku.


"Maafin aku ya", ujar dimas lagi.


Aku lalu merentangkan tanganku supaya dimas mendekat untuk memelukku.


*


Paginya aku bangun dengan perasaan lebih ringan, aku sudah tidak merasakan kepalaku berat atau pusing.


Meski aku masih sedikit lemas, tapi aku bisa merasakan tubuhku mulai pulih.


Aku membuka selimut, dan seketika rasa lengket mulai kurasakan menyergap kulitku.


Aku lalu turun dari tempat tidur, membuka tirai dan membuka jendela kamar dimas.


Saat aku hendak berjalan untuk membuka jendela satunya, ada sisa rasa tidak nyaman diantara kedua kakiku.


Aku langsung mengurungkan niatku untuk berjalan, dan memilih kembali ke tempat tidur.


Aku lalu meraih Blackberryku, dan melihat ke arah dinding, kulihat jam di dinding dimas masih menunjukkan pukul tujuh pagi.


Dimas lalu masuk ke kamar tak lama setelah aku kembali ke tempat tidur.


"Udah merasa baikan", tanya dimas menghampiriku.


Aku pun mengangguk dan berterimakasih karena dimas sudah merawatku.


Dimas kemudian duduk di sampingku dan meraih tanganku, lalu mencium keningku.


"Pengen mandi", ujarku pada dimas dengan nada manja.


"Ya udah aku siapin air panas dulu ya", ujar dimas.


Dimas lalu keluar kamar, dan kembali setelah sepuluh menit.


"Ini kemaren mami beliin baju, soalnya kamu cuma bawa baju ganti satu sama piama satu", ujar dimas sambil menyodorkan paper bag ke arahku.


"Ini handuknya, didalam paper bag juga ada pakaian dalam", ujar dimas lagi, sambil menyerahkan handuk dan menunjuk paper bag.


Dimas lalu membantuku bangun dari tempat tidur dan menuntunku ke kamar mandi.

__ADS_1


Selama aku mandi, dimas dengan setia menungguku di depan pintu kamar mandi.


Dia utarakan untuk menungguku saat aku masuk ke dalam kamar mandi.


Dimas langsung menggandeng tanganku saat aku keluar dari kamar mandi.


Sesampainya di kamar, dimas memintaku untuk duduk di sofa.


Dimas langsung membersihkan tempat tidur dan mengganti sepreinya.


Dimas sangat gesit melakukan itu semua, aku pun tersenyum pada dimas, dan merasa malu, karena aku ingat, kalau aku selalu meminta bantuan kak alan untuk mengganti seprei di kamar tidurku.


Setelah selesai, dimas memintaku untuk kembali istirahat di tempat tidur, dia lalu menarik selimut untuk menutupi kakiku.


Dimas lalu menyalakan tv di kamarnya dan memberikan remote kontrolnya padaku.


"Aku bawa turun seprei sama baju kotor sayang dulu ya, supaya di cuci", ujar dimas.


"Nanti aku balik bawa sarapan buat kamu, mami udah bikinin bubur kancang ijo buat kamu", ujar dimas sambil tersenyum.


Aku mengangguk, lalu dimas mencium keningku dan beranjak keluar kamar.


Saat aku sedang memindahkan chanel dan mencari tontonan yang menarik, mami mita masuk ke kamar membawa baki yang berisi semangkuk bubur dan jus apel.


Mami terlihat senang saat melihatku memakai dress selutut yang dia belikan.


"Aduh cantiknya pacar dimas pagi ini", sapa mami mita yang terdengar riang.


"Bajunya pas", tanya mami.


"Pas mi, makasih ya mami udah perhatian", jawabku sambil tersenyum ke mami mita.


"Terimakasih juga, maira sudah mau sama dimas", ujar mami mita sambil tersenyum ke arahku.


"Siapa yang nggak mau sama dimas mami, tinggi, cakep, wangi, bersih, rapi dan pintar pula", ujarku memuji dimas.


"Ya udah mami kasih dimas semuanya untuk maira", ujar mami menggodaku, lalu akupun tertawa.


Mami mita kemudian menawarkan untuk menyuapiku makan.


"Mami buburnya enak", ujarku disela-sela suapan mami mita.


"Iya dong, spesial buat pacar dimas yang lagi sakit, harus di habiskan ya", ujar mami mita.


Begitu aku selesai menghabiskan buburku.


Pria yang terlihat sangat rapi dengan kemeja putihnya, masuk ke kamar dimas.


Meskipun pria tersebut sudah terlihat menua, tapi badannya masih sangat gagah.


"Putri tidur sudah bangun", tanyanya ramah sambil melihat ke arahku.


"Ini papa seno, papanya dimas", ujar mami mita memperkenalkan sosok pria yang berdiri di sampingnya.


"Maira istirahat aja di rumah, pokoknya apapun yang maira minta, papa belikan sepulang kerja", ujarnya dengan ramah tapi tegas.


"Mau Ayam Sukoharjo untuk makan malam, siap, papa langsung belikan", ujarnya lagi dengan nada penuh percaya diri.


"Bukan maira yang mau itu mah, tapi papa", ujar mami, menyela papa yang hendak membuka mulutnya lagi.


"Maira sudah pernah makan ayam sukoharjo", tanya papa seno padaku.


"Belum", jawabku sambil tersenyum ke arah sosok yang memintaku untuk memanggilnya papa seno.


"Ya udah, sudah diputuskan, untuk makan malam menunya ayam bakar sukoharjo sesuai pesanan maira", ujarnya dengan penuh semangat.


Aku hanya tertawa mendengar ucapan papa seno.


"Papa terpaksa harus berangkat kerja dulu karena sudah telat, tugas maira hari ini adalah istirahat supaya makin fit", ujarnya.


Aku hanya bisa tersenyum, dengan keramahan yang diberikan oleh papa dimas.


"Berangkat ya mi", ujar papa seno sambil menciumi pipi mami mita.


Papa seno lalu keluar setelah memberikan kesan, yang membuat aku merasa sangat disayangi.


"Mami antar papi sampai depan dulu ya, terus mami berangkat ke toko, jusnya jangan lupa diminum", ujar mami menyerahkan gelas yang berisi jus padaku.

__ADS_1


Aku kemudian mencium tangan mami, dan mami membalas dengan mencium pipiku, lalu mami menghilang dari pandanganku.


***


__ADS_2