Namaku Maira

Namaku Maira
- Zahra -


__ADS_3

***


Minggu pertama sudah aku lalui sesuai kemauan dimas, untuk aku ada di solo di rumahnya, dan seminggu sudah aku latihan bekerja di toko mami.


Karyawan toko mami sangat baik padaku, mereka ramah dan bersedia membantuku untuk beradaptasi.


Hanya saja mereka sedikit menjaga jarak denganku, mereka terlihat tidak santai saat aku di sekitar mereka.


Aku merasa canggung dengan situasi tersebut, akhirnya aku memutuskan untuk selalu makan siang bersama mereka.


Tentu saja aku meminta ijin mami terlebih dahulu, karena aku tidak ingin mami khawatir.


Mbak dina keberatan kalau harus makan siang dengan mami saja tanpak aku, tapi mami menegur mbak dina, kalau hal itu akan membantuku lebih mudah untuk mengenal karyawan yang lainnya.


Karyawan yang bekerja untuk mami di toko, totalnya ada sepuluh orang.


Dengan pembagian dua shift, jam delapan pagi, bekerja sampai jam enam sore, dan jam satu siang bekerja sampai penutupan toko.


Ada tujuh karyawan wanita, dan tiga karyawan laki-laki, tapi hanya intan dan susi yang sering mengajakku untuk mengobrol, sisanya mereka tetap menjaga jarak denganku, meski aku sudah berusaha berbaur.


Zahra sendiri di tugaskan mami untuk membantuku mengenal toko, dia selalu membantuku dengan kurang niat, tapi aku tidak mau melaporkan hal itu pada mami.


Aku terima saja, dan bertanya pada yang lainnya kalau ada yang aku kurang mengerti.


Terkadang aku ingin protes dan menanyakan masalah zahra padaku apa, tapi aku selalu urungkan niatku.


Mulai minggu kedua zahra sering menegur kesalahan sepele yang kulakukan, mulai dari aku yang nggak cekatan, tidak merapikan barang-barang, dan salah mencatat stock barang yang ada.


Aku mengatakan pada zahra, kalau dia mengajariku dengan benar, tentu saja aku bisa menghindari kesalahanku, tapi zahra hanya mengajariku ala kadarnya, dan tidak spesifik mengenai hal-hal yang harus aku kerjakan.


Perlawananku membuat zahra mulai terang-terangan menunjukkan, kalau dia tidak menyukai keberadaanku di toko.


Saat kesalahan itu mutlak karena aku, aku membiarkan sikapnya, tapi saat kesalahan itu ada andil dia, tentu saja aku melawan.


Aku menanyakan sikap zahra padaku ke susi, saat kami makan siang di warung soto belakang toko mami.


Susi hanya menjawab kalau zahra memang seperti itu, suka cari-cari kesalahan karyawan lain.


"Emang pada nggak lapor ke mbak dina soal sikap zahra", tanyaku pada susi.


"Nggak ada yang berani, zahra kan kepercayaan mami, dia juga dekat sama mas dimas, jadi pada sungkan, karena mas dimas pasti selalu belain zahra, kalau zahra ditegur mbak dina", jawab susi dengan polosnya.


"Tapikan nggak bisa semena-mena gitu dong sama karyawan lain", ujarku pada susi, protes mengenai sikap zahra.


"Lagian si zahra pinter banget cari muka ra, kalau mbak dina lagi ngawasin, dia pasti langsung kelihatan baik pada kita", ujar susi.


Mendengar hal itu, aku sendiri jadi merasa marah dengan sikap zahra, dan ketidakadilan yang terjadi di toko mami.


Minggu ketiga perilaku zahra semakin susah kutoleransi, dia mulai membentakku untuk kesalahan sepele.


Rasanya ingin sekali mengadu ke mami, tapi aku tidak ingin dianggap sebagai pengadu oleh karyawan lain, karena bagaimanapun sikap zahra, mereka semua respect pada zahra, karena hasil kerjanya selalu dipuji oleh mami.


Akhirnya aku cerita pada dimas, soal zahra yang power abuse pada karyawan lain termasuk aku, saat dimas menjemputku pulang dari toko.


Dimas memang kadang menjemputku pukul tujuh malam, kadang pukul enam sore juga sudah datang, juga kadang aku pulang bersama mami dan mbak dina, karena dimas harus lembur di kantornya.


"Sayang zahra tuh kenapa ya kayak benci gitu sama aku", tanyaku pada dimas, saat kita makan malam di rumah.


"Benci gimana", tanya dimas.

__ADS_1


"Ya gitu, kayaknya semua yang kulakukan salah, terus sekarang kalau negur aku sambil bentak-bentak lagi", ujarku pada dimas.


"Itu hanya perasaan kamu aja sayang, zahra emang gitu, orangnya keras, kamu bisa belajar banyak dari zahra", jawab dimas santai.


"Lagian kan zahra karyawan terbaik mami, ya wajar kalau dia tegur kamu kalau kamu salah", ujar dimas lagi.


"Jadi kalau negurnya sambil bentak-bentak menurut kamu wajar", tanyaku pada dimas dengan nada emosi.


"Mungkin kamu aja yang sensitif sayang, jadi berasanya di bentak, padahal zahra itu orangnya lembut", jawab dimas masih dengan nada yang sama.


"Oh jadi bener kalau kamu selalu belain zahra", ujarku menunjukkan kalau aku tidak suka dengan jawaban dimas.


"Belain gimana sih", tanya dimas.


"Aku ini pacar kamu, aku lagi cerita ke kamu, aku lagi ngeluh ke kamu, tapi bukannya kamu belain aku, malah belain zahra", ujarku mulai kesal.


Dimas lalu menghentikan makannya dan melihat ke arahku.


"Aku nggak belain siapa-siapa, aku cuma ngasih tau kalau memang zahra seperti itu", jawab dimas mulai meninggikan suaranya.


"Harusnya kamu belain aku", ujarku marah.


Aku lalu meninggalkan dimas di ruang makan, karena jadi luar biasa kesal, dan naik ke kamar dimas, kemudian mengunci pintu kamar dimas.


"Ra buka dong", pinta dimas saat ingin membuka pintu kamar miliknya yang terkunci.


"Aku nggak maksud belain zahra, maafin aku kalau kamu nangkepnya gitu", ujar dimas lagi.


Karena aku tidak tega dengan suara sedihnya, aku lalu membuka pintu untuk dimas.


Dimas langsung menarikku dan memelukku, kemudian dia menuntunku untuk duduk di sofa.


"Aku disini kan karena menuruti kemauan kamu, aku juga senang bisa ketemu kamu setiap hari, tapi aku nggak senang kalau kamu belain perempuan lain", ujarku pada dimas.


"Iya iya, udah dong ngambeknya", ujar dimas lembut.


Dimas mengajakku kembali ke dapur untuk menghabiskan makan malam kami.


*


Minggu selanjutnya aku cukup kecewa dengan dimas, karena penyesalan dimas hanya sesaat.


Setiap kali aku kembali mengeluh soal zahra, dimas selalu memintaku untuk mengerti zahra, memintaku untuk bersabar.


Ketika aku protes, dimas selalu bilang kalau aku kekanakkan dan bisanya komplain mulu.


Akhirnya aku memilih untuk mengalah, karena aku tidak tega melihat dimas yang selalu terlihat lelah sepulang kerja.


Aku hanya memendam keluh kesahku untuk diriku sendiri.


Hingga puncaknya, di hari kamis minggu ke empat, saat aku tidak sengaja menjatuhkan salah satu botol yang berisi minyak urut dari rak lemari, zahra membentakku untuk hal itu.


"Princess manja kayak kamu kalau nggak becus kerja itu di rumah aja, kerjaan kamu disini tuh nyusahin orang lain", teriak zahra, di depan semua karyawan dan para pembeli.


Aku yang sangat terkejut hanya diam dan melihat ke arah sekitar dengan bingung.


"Zahra kamu ini apa-apaan sih, bentak-bentak maira di depan tamu, bikin malu aja", ujar mbak dina yang baru keluar dari gudang saat melihat zahra membentakku.


"Amir tolong bersihin, udah yang lain kembali kerja", ujar mbak dina tegas.

__ADS_1


Mbak dina lalu meminta maaf pada pembeli karena keributan yang baru terjadi.


Mbak dina kemudian menarik tanganku, dan membawaku ke kantor mami.


"Kamu nggak papa", tanya mbak dina saat kami sudah di dalam kantor mami, mbak dina lalu memelukku.


Aku tak kuasa mengeluarkan air mataku, dan menangis di pundak mbak dina.


"Kenapa din", tanya mami, saat melihatku mulai menangis.


"Tadi maira di bentak zahra kencang banget di bawah, padahal lagi banyak tamu", jawab mbak dina pada mami.


"Emang kenapa kok bisa dibentak", tanya mami.


"Cuma jatuhin minyak urut mi", jawab mbak dina yang masih memelukku dan mengelus rambutku.


"Yaudah maira tunggu di kantor mami aja ya, ini kan udah jam lima, nanti mami telvon dimas untuk langsung kesini jemput maira, oke", ujar mami memintaku untuk tenang.


Mbak dina lalu melepaskan pelukannya, dan menuntunku untuk duduk di sofa.


"Mi, dina turun dulu ya, soalnya masih ramai tamu di bawah", ujar mbak dina pada mami.


"Udah maira tenang ya", ujar mbak dina lagi sambil mengusap airmataku, sebelum dia keluar dari kantor mami.


Mami lalu mengambilkan botol air mineral dan membukanya, lalu menyerahkan padaku.


Mami kemudian memelukku dan menenangkanku.


Selain terkejut aku juga merasa sangat sakit hati, karena ini pertama kalinya dalam hidupku, aku di bentak dengan kasarnya didepan umum.


Ini juga kali pertama aku di bentak sangat keras oleh orang lain, yang bahkan keluargaku pun belum pernah melakukan hal itu.


Tiga puluh menit kemudian dimas datang, dan begitu melihatku dia langsung memelukku.


"Nanti mami tegur zahra karena udah buat maira nangis", ujar mami padaku di depan dimas.


"Udahlah mi, nggak usah dibesar-besarin, paling salah paham aja, toh maira kan cuma sampai minggu depan disini", ujar dimas pada mami.


Aku langsung melepas pelukan dimas begitu mendengar ucapan dia.


"Salah paham gimana, kamu nggak liat tuh mata maira sampai bengkak gitu", ujar mami.


Dimas hanya diam, dimas lalu mengajakku pulang.


Saat dimas membukakan pintu mobil untukku, zahra memanggil dimas dari ujung tempat parkir.


"Kamu tunggu di mobil sebentar ya", pinta dimas padaku.


Setelah dimas memastikan aku duduk, dimas lalu menutup pintu mobil, dan berjalan ke arah zahra.


Aku tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan, karena jaraknya cukup jauh untuk aku dengar, tapi aku bisa melihat zahra berdebat dengan dimas, dan dimas juga terlihat menenangkan zahra


Aku lalu menekan klakson mobil dimas, dimas langsung melihatku dan pergi meninggalkan zahra yang terlihat kesal.


"Ngobrolin apa", tanyaku pada dimas saat dimas sudah ada di sampingku.


"Zahra cuma jelasin soal tadi aja", ujar dimas.


Aku bisa merasakan kalau dimas berbohong, tapi aku memilih untuk diam dan memejamkan mata, karena lelah setelah menangis.

__ADS_1


***


__ADS_2