
***
Dua minggu berlalu setelah dimas meminta maaf, meski aku sudah kembali memberikan kesempatan untuk dimas, tapi jauh di dasar hatiku, rasa dingin masih menyelimuti bagian terdalam hatiku.
Hati yang seutuhnya selalu kuberikan untuk dimas, perlahan mulai semu.
Aku tidak bisa memberikan sepenuhnya hatiku untuk dimas lagi.
Selama dua tahun, dimas selalu menunjukkan betapa aku sangat berharga untuk dia, betapa dia sangat mencintaiku, sampai akhirnya aku merasakan bahwa aku satu-satunya pemilik hati dimas, tapi pada kenyataannya, hati dimas cukup sesak oleh penghuni lain.
Rasa ragu mulai muncul, apakah iya dimas benar-benar mencintaiku, apakah iya dimas akan selalu memilihku, ataukah dimas sebenarnya hanya ingin bermain denganku.
Pemikiran itu membayangiku hampir setiap hari, dan perasaan ragu selalu datang setiap ada kesempatan, untuk mempertanyakan, apakah aku harus berjuang atau menyerah.
Meski aku kembali berkomunikasi dengan dimas seperti semula, tapi memang benar, pepatah selalu bilang, kalau gelas yang retak tak akan pernah kembali sempurna.
Dimas sudah berusaha sebaik mungkin, dia ingin memperbaiki semuanya, dia juga selalu memberitahuku kegiatannya setiap hari.
Dimas untuk pertama kalinya, ingin menjemputku di rumah uti setelah aku selesai liburan.
Padahal sebelumnya, dimas selalu menungguku pulang ke rumah dulu, baru dia menemuiku.
Aku ingin menghargai semua yang dimas lakukan untuk hubungan kami.
Dimas tahu, kalau aku sudah tidak bisa mempercayai dia sepenuhnya lagi, tapi dia tidak ingin menyerah dengan hubungan yang kami milik.
Tante wulan membuatkan sarapan favoritku sebelum aku pulang, uti juga memberiku uang saku.
Menurut uti itu adalah suap, supaya aku bisa cepat kembali ke rumah uti lagi.
"Assalamualaikum", sapa suara dari depan.
Tante wulan kemudian bangun dari kursinya, dan berjalan ke depan.
Tante wulan kembali dengan dimas yang mengikutinya dari belakang.
"Pacarnya rara uti", ujar tante wulan saat uti menanyakan siapa yang datang.
Uti langsung menawarkan dimas untuk sarapan bersama, sebelum berangkat ke kota.
Sarapan berjalan dengan uti yang menanyakan pekerjaan dimas, dan tante wulan yang menanyakan rencana masa depan dimas.
Dimas menjawab pertanyaan tante wulan dengan menggodaku.
"Kalau maira mau aku nikahin sekarang boleh tante, ayo kita ke kua", ujar dimas.
Tante wulan langsung tertawa, dan meminta dimas untuk menungguku selesai kuliah terlebih dahulu.
Kita langsung berangkat setelah sarapan, dimas sangat manis memperlakukanku.
Membawakan barang bawaanku, membukakan pintu mobil untukku, memasangkan seatbelt untukku, dia juga mencium pipiku di depan tante wulan dan uti.
Tante wulan tersenyum melihat perlakukan dimas untukku.
Aku jadi punya keinginan yang kuat untuk memberi kesempatan pada hubungan yang kujalani dengan dimas, bisa bahagia seperti sebelumnya.
"Kita pergi ke villa sebentar ya", ujar dimas padaku saat kami dalam perjalanan dari rumah uti.
Aku hanya tersenyum dan menyetujui dimas.
"I love you", ucapku pada dimas, sambil melihat dimas dibalik kemudi.
Dimas tersenyum, lalu meraih tanganku dan menciumnya.
__ADS_1
Sesampainya kita di villa, dimas memintaku untuk masuk terlebih dulu, dan memintaku untuk menunggu dimas di kamar yang biasa aku dan dimas tempati.
Dimas mengatakan kalau dia ada urusan yang dia ingin bicarakan dengan pak mugi, penjaga villa ini.
Saat aku masuk ke dalam villa, aku langsung mengingat semua kenangan manis yang aku dan dimas bagi bersama di villa ini.
Aku kemudian menaiki tangga ke lantai dua dan berjalan ke arah balkon belakang.
Merapi tidak terlihat dengan jelas karena sudah mulai tertutup oleh kabut sore, tapi aku bisa melihat hamparan ladang jagung yang berwarna kuning, dan siap untuk dipanen.
"Sayang kok diluar", ujar dimas saat dia kembali, dan melihatku ada di balkon belakang.
"Udah selesai urusannya dengan pak mugi", tanyaku pada dimas.
"Udah, cuma kasih tau pak mugi aja, kalau minggu depan ada saudara mami yang mau pakai villa ini", jawab dimas.
"Sini", pintaku pada dimas sambil membuka lenganku.
Dimas lalu memelukku dengan erat.
"Masuk yuk", ajak dimas padaku.
Dimas kemudian melepaskan pelukannya, lalu dia meraih tanganku, dan membawaku masuk ke dalam villa.
Saat kita sudah di kamar, dimas langsung melepas jaket dan celana jeansnya, dan langsung duduk di tempat tidur.
"Sini sayang", pinta dimas, memintaku untuk duduk di sebelahnya.
"Kamu masih sedih", tanya dimas padaku saat aku sudah di sampingnya.
Aku hanya terdiam, kemudian tersenyum pada dimas.
"Aku nggak tau harus gimana supaya kamu bisa balik kayak dulu lagi", ujar dimas.
Dimas kemudian memelukku, dan mencium pipiku.
"Atau setidaknya kamu ceritakan soal zahra padaku saat kamu punya kesempatan", ujarku lagi pada dimas.
"Aku ingin, tapi aku khawatir kamu akan salah paham dan jadi sedih seperti ini", jawab dimas.
"Aku khawatir kamu akan marah", ujar dimas.
"Tapi sekarang aku tau, dan aku masih marah", ujarku memotong dimas berbicara.
"Aku tau", jawab dimas.
Dimas lalu menciumku, dan mulai menyentuhku dengan sangat lembut.
Aku ingin melupakan semua, dan kembali bisa bahagia dengan dimas.
Saat dimas mulai menyatukan dirinya denganku, tanpa terasa airmataku menetes.
"Kamu kenapa", tanya dimas, saat dia melihat airmata menetes dari ujung mataku.
Dimas lalu berhenti, dan berpindah ke sampingku, kemudian memelukku.
Ternyata melupakan kenyataan kalau zahra ada di hati dimas sangatlah sulit.
Aku masih teringat akan tatapan dimas pada zahra, di malam saat dimas menenangkan zahra di parkiran, setelah zahra berteriak padaku.
Aku kembali teringat catatan dimas untuk zahra, yang dimas tulis dengan sepenuh hati.
Aku ingat tatapan marah zahra setiap melihatku di toko.
__ADS_1
Aku juga ingat saat zahra menatap dimas meski aku ada di dekat dimas.
Aku bahkan tidak menyadari kalau tatapan zahra untuk dimas, adalah wujud cinta zahra untuk dimas.
Aku tidak sadar kalau aku hadir ditengah-tengah mereka.
Aku merasa begitu buta melihat itu semua, tapi tidak menyadarinya.
"Kamu kenapa, kamu masih belum percaya sama aku", tanya dimas padaku.
Aku tidak menjawab, dan hanya menangis di pelukan dimas.
Dimas kemudian meraih handphonenya, dan menulis sebuah pesan.
"Aku sudah kirim semua email dan password sosial mediaku ke kamu", ujar dimas padaku, lalu meletakkan handphonenya kembali.
"Aku berharap itu bisa bikin kamu kembali percaya lagi sama aku", ujar dimas dengan tegas.
"Aku ingin mairaku yang dulu kembali", ujar dimas penuh harap.
Dimas lalu memelukku erat dan mencium keningku.
Pukul sembilan malam dimas mengantarku pulang, ada perasaan sedikit rasa bersalah yang singgah di hatiku untuk dimas.
Dimas sudah berusaha untuk terus membuatku percaya, tapi entah kenapa, aku merasa itu semua tak cukup untuk aku bisa yakin, kalau dimas memang milikku seutuhnya.
Aku ingin semua berlalu, semua perasaan bimbang yang hadir di benakku akan dimas, aku ingin menghapus semuanya.
Aku lelah dengan semua perasaan raguku pada dimas.
"Nanti hari sabtu aku temuin kamu agak sore ya", ujar dimas padaku saat mengantarku pulang.
"Kalau dimas capek, aku nggak papa kok, dimas ke jogja minggu depannya lagi", ujarku pada dimas.
"Toh minggu depan di rumah juga ada uti, pasti ibu lebih senang kalau aku ada di rumah", ujarku menambahi.
"Kamu yakin", tanya dimas.
"Iya yakin, hari minggunya juga nia ajak aku dan yang lain nonton, aku udah janji soalnya untuk ikut", ujarku pada dimas.
"Kamu nggak berusaha jauhin aku kan", tanya dimas dengan raut muka sedih.
"Enggak sayang, kalau aku jauhin kamu, pasti aku nggak mau kamu jemput aku di rumah uti", jawabku.
Kemudian aku membelai wajah dimas, dan tersenyum padanya.
"Kamu jangan pernah punya pikiran untuk pisah dari aku ya", pinta dimas, sambil meraih tanganku, lalu mengecupnya.
"Iya", jawabku lembut.
Dimas kembali membawa mobilnya menuju rumahku, dimas singgah sebentar di rumah saat kita sudah sampai.
Sambutan hangat diberikan oleh ibu untuk dimas.
Kakek yang kebetulan ada dirumah, langsung memeluk dimas, dan menanyakan kabar dimas.
Ayah juga terlihat hangat dengan dimas, sementara kak alan terus menggoda dimas karena masih mau bertahan denganku.
Aku sangat suka melihat suasana rumah seperti ini.
Aku juga kelak nanti, ingin bisa membangun keluarga yang hangat seperti keluargaku.
Ayah dan ibu yang sangat penyayang, kak alan yang jahil, dan suka marah, tapi sangat peduli padaku, dan ada kakek yang selalu terlihat bangga pada kami.
__ADS_1
Ayah dan ibu membuat gambaran dengan jelas mengenai bagaimana mereka membuat keluarga ini penuh dengan canda dan tawa, dan menyelipkan sebuah harapan padaku dan kak alan, kalau kita juga harus memilih pasangan yang membuat suasana rumah hangat dan penuh cinta.
***