
***
Bangun setiap pagi dengan menyadari bahwa aku punya beban yang luar biasa berat di pundakku, menjadikan aku selalu menutup kembali mataku, dan berharap bahwa aku sedang bermimpi.
Usiaku belum genap dua puluh lima tahun, tapi aku sudah harus menanggung hutang yang bahkan bukan kesalahanku.
Setiap pagi aku hanya bisa mengutuk kelompok yang berhasil membuat hidup normalku menjadi seperti di neraka.
Perusahaan tidak mengumumkan secara langsung total kerugian, tapi itu sudah menjadi rahasia umum di kantor.
Dari tiga tim yang kena petaka, hanya dua orang yang memilih untuk keluar, sisanya memilih untuk tinggal, sambil berharap akan ada kabar baik.
Miss alice harus menanggung kerugian dua milyar, tapi dia sudah menutup separuhnya dengan aset yang dia miliki.
Lexi harus menanggung satu milyar, dan keseluruhannya sudah dibayarkan oleh keluarganya.
Sementara abi, dia yang paling beruntungan di antara yang lain, dari tiga account yang dia pegang, hanya satu account yang uangnya dicuri.
Nominal kerugian abi senilai lima ratus juta, dan dia sudah menutup hampir keseluruhannya.
Abi menjual mobilnya, dan menguras seluruh isi tabungannya.
Aku yakin betul, abi bisa langsung segera menyelesaikannya, karena gaji yang abi terima saat ini, sudah tiga kali lipat dari gaji yang aku terima.
Aku sendiri masih belum menceritakan yang terjadi padaku ke keluargaku, bahkan dengan nia pun aku masih tutup mulut.
Aku berencana untuk menanggungnya sendiri, dan mencoba mencari jalan keluar sendiri.
Aku juga tidak berencana untuk memakai tabunganku yang tidak seberapa itu, untuk mengurangi sedikit bebanku di kantor.
Selama sebulan terakhir, suasana kantor tidak pernah berwarna lagi.
Semuanya memilih untuk diam, tidak ada satupun yang berusaha melucu lagi.
Setiap pertemuan atau saat meeting, hanya saling menyapa dengan senyum tipis.
Hanya tarikan nafas yang panjang yang kudengar, setiap kali aku ke pantry dan bertemu salah satu dari rekan kerjaku.
Ningsih, kita masih belum tahu keberadaannya, dia tidak bisa di hubungi, dan pihak kantor juga sedang mencari dia.
Kadang terbersit keinginanku untuk seperti ningsih, melarikan diri dari tanggung jawab, tapi aku kemudian ingat, kalau aku punya keluarga yang harus aku jaga nama baiknya.
Pihak IT mengunjungi ruangan kami hampir setiap hari, untuk mengecek komputer di ruangan kami.
Mereka menyarankan kami untuk tidak menancapkan external flash drive atau hard drive ke komputer kami.
__ADS_1
Mereka meminta kami untuk mengingat, siapa saja yang menancapkan flash drive ke komputer selama lima bulan terakhir.
Mereka juga mengambil seluruh external drive milik kami untuk mereka priksa.
Mereka bilang, kalau mereka butuh tahu asal malware yang menyerang komputer kami, jadi apapun yang mungkin terlihat mencurigakan, mereka meminta kami untuk langsung menghubungi department IT.
*
Dua bulan sudah aku menjalani kehidupanku seperti zombie, jika abi tidak sering mendampingiku mungkin aku sudah pingsan karena depresi.
Abi selalu menjemputku setiap pagi, dan mengajakku sarapan, siangnya dia selalu memaksa aku untuk makan di tempat biasa dengannya.
Begitu jam kerja selesai, abi juga memastikan kalau aku makan malam dulu sebelum dia mengantarku pulang.
"Ra, pak muklis tadi pagi telvon, dia undang kita makan malam di rumahnya, kamu mau datang", ujar abi saat kita sedang jalan kembali ke kantor dari makan siang.
"Entahlah bi, aku lagi nggak bisa ketemu siapapun", jawabku.
"Kita dateng aja ya, siapa tau setelah ngobrol sama pak muklis, kita punya ide untuk cari jalan keluar", ujar abi.
Aku kemudian menyetujui abi, karena bagaimanapun, pak muklis masih tetap mempercayaiku untuk mengelola uangnya.
Begitu kami kembali ke kantor, miss alice mengatakan kalau evaluasi sore ini di majukan jamnya, sekitar jam empat sore, karena miss alice harus datang ke kantor polisi, untuk menanyakan progress pencarian pelaku, yang memasang malware di komputer kantor.
"Sama orang legal", jawab miss alice.
"Ada yang udah di hubungi ningsih", tanya miss alice pada kami.
Kami semua menggelengkan kepala, karena memang ningsih tidak menghubungi satupun dari kami.
Ningsih seperti menghilang ditelan bumi.
Suasana di ruangan tetap sepi, tidak banyak bisik-bisik seperti dulu.
Sampai jam kantor usai, lexi hampir tidak pernah membuka mulutnya.
Evaluasi yang biasanya makan waktu satu jam lebih, sekarang hanya perlu tiga puluh menit, karena tidak ada basa basi atau canda tawa lagi.
Aku dan abi sampai di rumah pak muklis sekitar pukul tujuh malam.
Istrinya pak muklis langsung memelukku dan mengatakan, semoga aku kuat menghadapi semuanya.
Pak muklis ternyata sudah mendapat kabar bahwa aku menanggung kerugian yang yang di akibatkan oleh ulah orang lain.
Aku tidak banyak bicara sepanjang makan malam, hanya tersenyum sesekali, tapi lebih seringnya aku mendengarkan ucapan pak muklis.
__ADS_1
Begitu aku dan abi pamit pulang, pak muklis menyerahkan amplop padaku.
Istrinya hanya bilang untuk aku terima, karena hanya surat biasa.
Begitu aku sampai kos, dan membuka amplop yang pak muklis berikan, aku sangat kaget, dan langsung menelvon pak muklis untuk mengembalikannya.
Pak muklis menolak, dan memintaku untuk menerima check senilai lima puluh juta rupiah tersebut.
Dia bilang kalau itu hanya bonus kecil yang bisa pak muklis berikan padaku.
Aku kemudian mengucapkan terimakasih, dan menerimanya dengan lapang, karena aku memang membutuhkannya.
Di tengah lilin yang sedikit menyala di hatiku, aku mendengar handphoneku berbunyi, ternyata ibu yang menelvonku.
"Iya bu", sapaku pada ibu.
"Kamu kok susah di hubungi sekarang, kalau ibu telvon pasti tidak diangkat", ujar ibu sedikit marah ditelvon.
Aku hanya mengatakan kalau aku sangat sibuk akhir-akhir ini.
Aku mendengar suara kak alan dari belakang ibu, dia meminta ibu untuk memberikan telvonnya pada kak alan.
"Ra, kamu kemana aja", tanya kak alan padaku, setelah dia mengambil telvon dari tangan ibu.
"Di kos aja kak, sering lembur jadi pulangnya malam terus", jawabku berbohong pada kak alan.
Kak alan kemudian menceritakan mimpinya, dia bermimpi kalau aku sakit parah, begitu bangun dia langsung menelvonku tapi tidak ku jawab.
Dia mengatakan kalau dia sangat khawatir padaku, sampai dia punya rencana untuk menyusulku ke jakarta minggu depan.
Aku meminta kak alan untuk di rumah saja, karena aku sehat, dan tidak apa-apa.
"Kamu sehat kan ra, kalau kamu sakit kamu pulang aja ya, kakak jemput", ujar kak alan padaku dengan nada khawatir.
Mendengar kekhawatiran kak alan, tanpa terasa aku meneteskan air mata.
Aku kemudian pamit pada kak alan untuk tidur, karena aku merasa lelah.
Padahal aku hanya tidak ingin kak alan mendengar perubahan suaraku karena aku menangis.
Kak alan menutup telvon setelah sekali lagi menanyakan kondisiku.
Aku meyakinkan kak alan kalau aku baik-baik saja, dan aku meminta dia untuk tidak perlu khawatir.
***
__ADS_1