Namaku Maira

Namaku Maira
- Luka yang kuulangi -


__ADS_3

***


Meski di liburan semesterku terselip sedikit kesedihan, tapi aku lega karena akhirnya perkuliahan dimulai.


Ini adalah tahun terakhirku di kampus, aku ingin menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, supaya aku bisa lulus tepat waktu.


Ayu memperlihatkan foto-foto adik barunya pada kami, saat kami sedang menunggu dosen untuk kelas ekonomi macro.


Dita langsung menyatakan ingin segera menikah, dan ingin punya baby yang lucu dan menggemaskan seperti adiknya ayu, saat dita melihat foto-foto tersebut.


Bowo langsung memberikan masukkan pada dita, kalau dita harus bisa mendapatkan suami yang bisa membuatnya bahagia, dan bertanggung jawab terlebih dahulu.


"Semua pria kan pasti bertanggung jawab wo, itukan sudah takdir dia untuk membuat keluarganya bahagia", jawab dita ringan.


"Tidak semua dit, ayahku aja tinggalin aku dan ibuku, saat ibu lagi hamil adikku", ujar bowo.


Aku dan ayu kemudian menepuk pundak bowo, dan hanya menatap bowo, kemudian mengatakan, kalau bowo pasti akan baik-baik aja.


"Aku nggak masalah kok, aku punya ibuku yang sekuat baja", ujar bowo sambil tersenyum.


Kami berempat memang sudah saling mengerti akan kondisi keluarga kami.


Bowo juga meski terlihat biasa saat menceritakan keluarganya, tapi kita tahu, kalau ada rasa sedih yang membayangi hidup bowo.


Kami terpaksa menghentikan obrolan kami, karena dosen sudah masuk ke kelas untuk memulai perkuliahan.


Awalnya aku ingin menghabiskan seluruh sisa kredit semester, di semester tujuh ini.


Ternyata ada empat kredit yang aku baru bisa selesaikan di semester depan.


Sepanjang semester satu sampai dengan semester enam, nilai akademikku sangat membuatku bahagia, karena hanya dipenuhi dengan nilai sempurna dan memuaskan.


Itu semua bisa aku miliki karena bantuan dari otak encer ayu, dan ada bowo yang selalu memastikan kalau kita mengerjakan tugas dengan kualitas yang sempurna, serta aku yang selalu sungguh-sungguh dalam menjalani kuliahku.


Ayah sangat bangga padaku, sehingga ayah menghadiahiku sebuah laptop baru untuk memudahkanku mengerjakan tugas.


Selama tiga bulan di semester ini, aku menjalaninya dengan baik.


Aku tetap fokus dengan studiku, dan belajar untuk menerima semua masa lalu dimas.


Dimas masih rutin mengunjungiku seperti biasa, setiap hari sabtu dan minggu.


Aku juga memutuskan kalau aku akan menerima dimas dengan seluruh luka dari masa lalunya.


Mendampingi dimas dengan setia, dan penuh impian akan masa depan.


Aku ingin dimas menjadi sosok yang akan mendampingiku sampai tua nanti.


Hanya saja harapan itu padam saat tanpa sengaja, aku ingat kalau dimas memberiku semua password sosial medianya.


Dua bulan sebelum ujian semester tujuh dimulai, tepatnya di hari senin, aku merasa sangat bosan, karena hari senin memang tidak ada jadwal kuliah, dan aku sedang sendiri di rumah.


Aku dengan antusias dan perasaan senang, memutuskan untuk melihat isi sosial media dimas secara keseluruhan.


Semua postingan sosial media dimas membuatku senang, sikap manis yang dimas tunjukkan padaku saat kita bersama, juga dimas tunjukkan di sosial media miliknya.


Foto kebersamaan kami juga bisa dilihat dengan mudah saat aku membuka album foto milik dimas.

__ADS_1


Senyumku berubah menjadi mendung saat aku melihat ada foto zahra dengan dimas, foto tersebut sudah sangat lama, dan butuh cukup waktu untuk aku bisa menemukannya.


Mendung coba kuhalau dari wajah dan pikiranku, aku kemudian beralih ke pesan pribadi milik dimas.


Dimas yang sepertinya hanya mencintaiku, tidak bisa kutemukan lagi.


Selain pesan rayuan dimas yang dimas miliki denganku, ada juga pesan rayuan dan kegenitan dimas pada teman kuliahnya yang bernama karin.


Aku tahu itu pesan lama, tapi tetap saja, aku sangat cemburu membaca semua pesan dimas untuk karin.


Rasa cemburu berubah menjadi sedih, saat aku melihat pesan yang dimas miliki bersama zahra.


Aku kemudian membuka profil zahra, dan melihat sejarah pertemanan zahra dengan dimas.


Intensitas percakapan dimas dengan zahra, ternyata tidak hanya di pesan pribadi, tapi dimas juga menuliskan sebuah puisi untuk zahra dihalaman facebook zahra.


Puisi tersebut aku sendiri tidak begitu memahami maknanya, tapi yang membuatku merasa patah hati, dimas menulis puisi tersebut, sehari sebelum dimas memintaku untuk menjadi kekasihnya, dan itu dimas tuliskan di malam hari.


Rasa sedih, marah dan cemburu semakin berkobar, saat aku melihat foto keakraban yang mereka miliki di album foto facebook milik zahra.


Rasa amarahku semakin menyala, saat aku memutuskan untuk membuka halaman twitter dimas dengan password miliknya.


Meski terlihat tidak mencurigakan, tapi ternyata dimas sering berbalas tweet dengan zahra, mereka juga berbalas godaan di pesan pribadi twitter milik dimas.


Aku memang selama ini tidak pernah melihat halaman twitter dimas, atau terlalu ingin tahu dengan kegiatan dimas di facebook.


Itu semua karena aku sangat percaya dengan dimas, dan tidak menaruh kecurigaan apapun pada dimas.


Semua itu berubah setelah aku membaca buku kecil milik dimas, hal kecil apapun yang dimas tuliskan di sosia media, berpotensi membuatku sangat curiga.


Aku langsung menutup semua halaman sosial media dimas, dengan perasaan sangat marah.


Aku tidak bisa menangis karena amarah dan rasa cemburuku yang sangat kuat, rasanya aku ingin segera meluapkan semuanya pada dimas, dan ingin mengakhiri hubunganku dengan dimas.



Alih-alih mengeluarkan semua amarahkku untuk dimas, aku memilih untuk mendiamkan dimas, dan tidak membalas pesan atau menerima telvon dimas selama satu minggu.


Aku hanya bisa menceritakan hal itu pada sahabat-sahabatku saat kita berkumpul di hari sabtu, di rumah nia.


"Kok dimas gitu sih ra, kirain aku tuh dia pendiam dan nggak suka tebar pesona", ujar mia, setelah aku menyelesaikan semua ceritaku tentang isi sosial media milik dimas, dan tentang zahra.


"Emang benar-benar tuh ya dimas", ujar kiki, terlihat emosi di wajahnya.


"Terus sekarang gimana ra, kamu masih mau bertahan", tanya nia padaku.


"Entahlah, aku sayang banget soalnya sama dimas", jawabku sambil menunduk.


"Tapi kalau kamu bertahan, kamu yakin kamu bisa bahagia liat zahra masih dekat dengan dimas", ujar rani.


"Aku jelas nggak bahagia sama keberadaan zahra, tapi aku juga nggak mungkin minta dimas untuk nggak ketemu sama zahra lagi, kalian kan tau zahra kerja di toko maminya dimas, jadi nggak mungkin untuk dimas nggak ketemu zahra", ujarku sedih.


Mereka hanya saling berpandangan, kemudian mereka memelukku.


"Coba kamu pikirikan lagi, apapun keputusan kamu kita dukung", ujar kiki, sambil mengusap punggungku.


"Kalau kamu milih untuk udahan sama dimas, aku nanti kenalin cowok yang nggak kalah kece di kampusku untuk kamu", ujar mia, dengan mimik muka riang.

__ADS_1


"Nggak semudah itu mia untuk berpindah hati", ujarku sedih.


Mengingat semua hal yang sudah kulakukan dengan dimas, aku tidak ingin menyudahi hubunganku dengan dimas, aku ingin bertahan, tapi apakah aku mampu.


Lamunanku dibuyarkan oleh suara ketukan pintu kamar nia, dan ternyata tante rosa yang muncul dari baliknya, dengan senyum manisnya.


"Ra ada yang cari tuh, namanya dimas katanya", ujar tante rosa.


"Dimas", ujarku bingung.


Aku lalu turun ke lantai satu, dan di ikuti oleh mia, nia, kiki dan rani.


Dimas terlihat berjalan mondar mandiri di ruang tamu rumah nia, dia kemudian berhenti begitu melihatku sudah berdiri di ruang tamu.


"Kamu ngapain disini", tanyaku pada dimas.


"Kita bisa ngobrol diluar aja nggak", pinta dimas, saat dia melihat tatapan sahabat-sahabatku yang ada di belakangku.


"Yaudah kita ngobrol di teras", ujarku.


"Di luar ra, please", pinta dimas, dengan sedikit memohon.


"Ya udah tunggu", jawabku pada dimas.


Aku lalu berbalik dan merangkul pundak kiki, kemudin aku mengatakan pada sahabat-sahabatku, kalau aku akan baik-baik saja.


Setelah pamit pada tante rosa untuk pergi, aku langsung mengikuti dimas.


Kiki dan sahabatku yang lain mengantarku sampai depan pintu, sambil memberikan tatapan kesal mereka pada dimas.


Dimas membawa mobilnya berbelok ke arah padang ilalang yang ada diluar pagar lapangan pacu bandara adisucipto.


"Aku butuh penjelasan atas sikap kamu", ujar dimas padaku begitu dia menghentikan mobilnya.


"Kamu jangan diem aja dong, kasih aku penjelasan", ujar dimas mulai emosi, saat aku hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan dimas.


"Aku baca semua pesan kamu di sosial media, dan melihat semua interaksi kamu dengan zahra di sosial media, dan kegenitan kamu sama perempuan yang bernama karin", jawabku dengan dingin, dan tanpa melihat ke arah dimas.


"Kamu liat tanggalnya maira, itu dulu, sebelum aku sama kamu, masa kamu nggak hubungi aku selama seminggu gara-gara itu", ujar dimas mencoba menahan emosinya, meski berbicara dengan nada cukup tinggi.


"Kamu nggak adil kalau hakimin aku gara-gara masa lalu aku, kamu sendiri bilang, kamu mau terima semuanya dan mulai lagi dengan lembaran baru sama aku", ujar dimas, mulai menurunkan nada bicaranya.


"Tapi kamu kirim puisi ke zahra di malam sebelum kamu ajak aku ke parangtritis", ujarku pada dimas masih dengan nada dingin.


"Itu puisi biasa, hanya ucapan selamat malam aja, nggak ada maksud apa-apa", ujar dimas, dengan nada tenang.


"Aku akan terima marah kamu, kalau aku masih godain perempuan lain saat aku udah punya hubungan sama kamu, tapi aku nggak terima marah kamu, untuk hal yang aku lakuin sebelum aku ketemu kamu", ujar dimas dengan nada selembut mungkin.


Airmata kemudian mulai menetes di pipiku, dimas langsung menarikku dan memelukku.


"Aku kasih password sosial mediaku ke kamu, supaya kamu percaya lagi sama aku, supaya kamu tau kalau aku terbuka, dan nggak ada yang kututupin dari kamu", ujar dimas lembut, sambil membelai rambutku.


"Aku tuh tulus sayang sama kamu ra, aku mau kamu jadi yang terakhir buat aku, jadi tolong kamu percaya sama aku", ujar dimas lagi.


Meski dimas selalu berusaha untuk membuatku percaya, tapi entah kenapa masih ada rasa sakit yang terus bersembunyi di dalam hatiku, saat aku mengingat kalau ada perempuan lain yang memilki tempat spesial di hati dimas.


**

__ADS_1


__ADS_2