Namaku Maira

Namaku Maira
- Hati mia -


__ADS_3

***


Setelah resign dari perusahaan tempatku bekerja, dan pindah kembali ke rumah nia.


Tante rosa mengajakku ke sukabumi untuk pergi ke pantai.


Hanya aku dan tante rosa, om rusman dan nia tidak ikut karena harus bekerja.


Tujuan dari liburan yang tante rosa rencanakan untukku, untuk menghibur dan memberikan awal yang baru dengan memori yang bagus untukku.


Kita menginap di villa tidak jauh dari pantai.


Tante rosa mengetahui secara persis, kalau aku sangat menyukai suasana pantai.


Meski hanya menginap semalam, tapi tante rosa membuatku sangat terhibur.


Tante rosa tidak berhenti membuatku tertawa.


Tante rosa menceritakan hal-hal lucu yang dia alami saat ia bekerja di pabrik dulu.


Tante rosa juga menceritakan keusilan om rusman saat menjadi pacarnya dulu.


Aku tersenyum mendengar semua cerita tante rosa.


Tante rosa juga mengatakan kalau aku tidak perlu takut untuk menjalani hidup setelah terpuruk.


Aku harus percaya, meski hidup dipenuhi kesedihan, tapi selalu ada hal yang bisa membuat kita tetap mencintai hidup kita.


Akan ada hal-hal yang mendatangi kita dan memberi kebahagian, meski itu kecil tapi bisa membuat kita ingin berjuang menghadapi hidup.


Aku dan tante rosa kemudian menghabiskan malam dengan berbincang di pinggir pantai.


Tante rosa tak lelah menyemangatiku untuk tidak menyerah.


Om rusman mengatakan, kalau aku bisa mulai bekerja di kantor temannya, mulai bulan depan.


Masih ada waktu satu bulan penuh sebelum aku memulai lembaran baru di kantor baru.


*


Aku pamit pada nia dan keluarganya untuk pulang ke jogja, dan akan kembali seminggu sebelum aku mulai bekerja di tempat baru.


Mia yang akan menjemputku di bandara, dia langsung berteriak dan memelukku saat melihatku datang dari pintu keluar.


Mia kemudian mengajakku untuk makan sebelum mengantarku pulang.


Aku bermaksud untuk memberi kejutan pada keluargaku dan sahabatku dengan kepulanganku ke jogja.


Tapi itu tidak berlaku untuk mia, karena mia menelvon nia semalam, dan dia mengetahui rencana kepulanganku.


"Kamu betah banget di jakarta ra sampai hampir dua tahun disana", ujar mia padaku saat kita makan siang di restaurant yang lokasinya tidak jauh dari bandara.


Aku hanya tersenyum karena aku sendiri tidak tahu jawabannya.


"Kamu sehat mi", tanyaku tanpa menjawab pertanyaan mia.


"Ada yang melamarku ra", ujar mia, sambil menunduk.


Aku yang baru saja ingin berteriak dan memberi selamat pada mia, mengurungkan niatku, karena mia terlihat sedih.


Aku memilih untuk meraih tangan mia.


"Tapi kenapa mi", tanyaku pada mia.


Mia kemudian mengatakan kalau dia masih belum sepenuhnya bisa melupakan seto, dan mia juga merasa bersalah karena menyukai pria lain selain seto.


"Mi, kamu nggak perlu ngelupain seto, tapi bukan berarti kamu harus bertahan di kenangan kamu sama seto, kamu harus melanjutkan hidup mi", ujarku pada mia.

__ADS_1


"Kamu bener, tapi kayak ada perasaan bersalah ra saat aku ingat seto", ujar mia.


"Mi, selama pria yang kamu sukai itu orang baik dan sayang sama kamu dengan tulus, aku yakin kok, kalau seto pasti dukung kamu disana, aku juga yakin kalau seto pasti bahagia buat kamu", ujarku pada mia.


Mia kembali tersenyum dan mengatakan kalau dia yang akan membayar makan siang kami.


Mia terlihat lega setelah menceritakannya padaku, dan mia masih terus tersenyum setelah membayar makan siang kami.


Dia menyerahkan helm motornya padaku dengan riang.


"Siapa namanya mi", tanyaku pada mia.


Menanyakan nama pria yang sudah mencuri hati mia.


"Rahasia, nanti aku kenalin di pelaminan ya", ujar mia padaku, masih dengan senyum lebar di wajahnya.


Sepanjang perjalanan ke rumahku, mia bercerita tentang pekerjaannya dan si pencuri hatinya.


Begitu sampai di depan rumah, aku melihat rani sedang berdiri di teras rumah dan dia sedang menenangkan rasya yang menangis di tangannya.


"Kejutan", teriak mia setelah dia membuka helmnya.


Aku langsung turun dari motor mia, dan berjalan masuk ke dalam rumah, kemudian mengambil rasya dari tangan rani.


Rani yang terkejut, langsung memelukku dan berteriak memanggil ibu.


"Ada apa sih ran", ujar ibu yang baru keluar dari dalam rumah.


Ibu kaget, saat ibu bertemu mata denganku, dan ibu langsung memelukku.


Ibu menangis sambil memelukku, rasya yang sebelumnya sudah berhenti menangis, melihat ibu menangis, dia kembali ikut menangis.


Akhirnya rasya di ambil oleh mia dari tanganku dan di tenangkan oleh mia.


Rani dan ibu kemudian membawaku masuk ke dalam rumah.


Ibu mengatakan kalau aku sudah enam bulan lebih tidak pulang, dan hanya pulang saat libur lebaran dan itupun hanya di rumah tiga hari.


Aku meminta maaf sambil memeluk ibu, karena tidak menepati janjiku untuk sering pulang.


Rani kemudian masuk ke dapur, dan kembali dengan membawakan air putih untuk ibu.


"Kamu nggak kerja mi", tanya rani yang melihat mia masih bercanda dengan rasya.


"Ijin setengah hari", jawab mia pada rani.


Rani menanyakan padaku, kenapa aku bisa pulang bersama mia, dan mia hanya menjawab kalau dia menemukan aku di bandara dalam keadaan bingung karena lupa jalan pulang.


Aku langsung tertawa mendengar jawaban mia.


Aku menjelaskan pada rani, kalau aku berniat memberi kejutan, tapi mia tahu kalau aku akan pulang ke jogja.


Mia menelvon nia semalam, dan mia memaksa untuk menjemputku di bandara.


Ibu memintaku untuk istirahat, tapi aku menolak dan lebih memilih mengambil rasya dari tangan mia.


Sekitar pukul lima sore, mia pamit untuk pulang.


Aku kemudian memandikan rasya, dan membiarkan rani menyiapkan pakaian rasya.


Ayah dan kak alan pulang sekitar pukul enam sore, saat aku sedang membuat rasya tertawa di ruang tamu.


Ayah terkejut melihatku ada di rumah, ayah kemudian memelukku dan mencium rambutku.


"Kan aku udah bilang ra, kalau mau pulang bilang, biar aku jemput", ujar kak alan protes, tapi kemudian memelukku.


"Udahlah, yang penting kan udah di rumah", ujar rani pada kak alan.

__ADS_1


Rani kemudian mencium tangan kak alan, dan mengambil tas kerja kak alan.


"Sampai rumah jam berapa ra", tanya ayah padaku.


"Tadi siang yah, di jemput sama mia di bandara", jawab ibu yang baru datang dari dapur dengan membawa nampan berisi lima cangkir teh.


Begitu ibu menaruh nampan di meja, ibu langsung memberikan cangkir teh pada ayah, dan rani pada kak alan.


Melihat rani secara otomatis mengikuti ibu, membuatku tidak bisa menahan diri untuk menggoda rani.


"Capek nggak ran jadi kamu", tanyaku pada rani sambil melirik kak alan.


"Jangan mulai deh", ujar kak alan padaku.


Rani hanya tersenyum tanpa menjawab, dan lebih memilih untuk masuk ke dalam sambil membawa tas kerja kak alan.


Malamnya, setelah makan malam, aku mengajak kak alan, ibu dan ayah untuk berbincang di ruang tengah.


Rani tidak ikut, karena dia harus menidurkan rasya.


"Ada apa ra", tanya ibu dengan lembut.


Sebelum mulai bercerita, aku meminta ayah dan kak alan untuk berjanji tidak akan menjadi emosi, atau menghakimiku.


Aku hanya berharap mereka mendengar ceritaku dulu, baru menanggapinya.


Ibu memintaku untuk mengatakan saja, dan tidak perlu khawatir.


Aku kemudian menceritakan seluruh detail masalah yang menimpaku pada keluargaku.


Sekuat mungkin aku menceritakannya dengan tegar, tanpa menangis.


Aku juga menjelaskan rencanaku ke depannya, dan meminta mereka untuk mendukungku.


Setelah mendengar ceritaku, ayah langsung melepaskan nafasnya, dan mengatakan kalau uang yang harus aku tanggung sangat besar.


Ibu kemudian meminta ayah untuk menjual rumah kos yang ibu miliki, supaya uangnya bisa membantuku.


Aku mengatakan dengan tegas, kalau ibu harus mempercayaiku untuk menyelesaikan masalahku sendiri, meski itu butuh waktu yang lama.


Ibu menangis dan memelukku, kemudian ibu meminta maaf padaku, karena aku harus melalui itu semua di usiaku yang masih sangat muda.


Ayah memaksa untuk membantuku, tapi aku meyakinkan ayah, kalau ayah harus percaya padaku, dan memberiku kesempatan untuk menyelesaikan masalahku.


Aku kemudian meminta ayah untuk membawa ibu ke kamar, supaya ibu bisa istirahat dan menenangkan diri.


Setelah ibu masuk ke dalam kamar, aku berbalik untuk melihat kak alan, tapi kak alan sudah tidak ada di sampingku.


Lalu aku berjalan ke ruang tamu mencari kak alan, ternyata kak alan juga tidak ada, kemudian aku mendengar bunyi pagar rumah di buka.


Saat aku keluar rumah, aku melihat kak alan berdiri di depan rumah, dan sedang bersandar pada pohon.


"Kak", sapaku pada kak alan.


Aku lalu berdiri di samping kak alan yang hanya terdiam.


"Maafin aku ya kak udah bikin kakak khawatir", ujarku pada kak alan.


Kak alan langsung melepas tangisnya, dan memelukku.


Dia kemudian mengatakan, seharusnya dia yang minta maaf karena sudah tidak melindungiku dengan baik.


Aku hanya bisa menangis mendengar ucapan kak alan.


Aku menjawab kak alan, kalau semua ini bukan kesalahan kak alan, hanya murni kesialan yang harus mampir di hidupku.


Kak alan kemudian berjanji kalau dia akan membantuku mencari jalan keluar, tapi aku meminta kak alan untuk cukup mengawasiku menyelesaikan masalah yang aku alami.

__ADS_1


***


__ADS_2