Namaku Maira

Namaku Maira
- Ungkapan Dimas -


__ADS_3

***


Tiga hari yang mulanya ingin kuhabiskan bersama dimas, berubah menjadi satu minggu, dan itupun belum kurasa cukup.


Aku kemudian meminta ijin ayah saat kami makan malam, untuk berangkat ke rumah uti di akhir minggu, yang artinya sudah molor selama empat hari.


Kak alan protes dan dia mengatakan akan berangkat sendiri dan tidak mau menungguku.


Ayah tidak keberatan, karena aku janji akan menghabiskan seluruh sisa liburan semesterku di rumah uti.


"Nanti ayah yang akan anter rara ke rumah uti", ujar ayah menawarkan jasanya, setelah kak alan protes.


"Nggak usah yah, rara di anter temen kok", jawabku, menolak jasa ayah.


"Siapa", tanya ayah.


"Dimas yah, temen main, dia temen kiki juga kok", jawabku berusaha tidak membuat ayah cemas.


"Siapa dimas, kok ayah baru denger", tanya ayah.


"Pacar rara yah", jawab ibu yang baru masuk ke ruang makan.


"Pacar bu", tanya ayah ke ibu.


"Kok ayah belum di kenalin", ujar ayah padaku.


"Belum lama kok yah, baru seminggu, iyakan bu", ujarku, mencari dukungan ibu.


Ibu hanya mengagguk dan tersenyum,


Kak alan tidak mengatakan apapun, dia melewatkan kesempatan untuk mengejekku, hal yang sangat jarang terjadi.


Kak alan memilih melanjutkan makan malamnya dengan diam.


*


Setelah resmi menjadi kekasih dimas, selama seminggu terakhir, aku menghabiskan setiap hari dengan dimas, dimas biasa menjemputku di siang hari, lalu kita pergi ke mall atau ke tempat wisata.


Malamnya, dimas selalu membawaku ke kosannya sebelum akhirnya mengantarku pulang.


Dimas selalu mengantarku pulang sebelum jam sepuluh malam, karena itulah, ibu berusaha menaruh rasa percaya pada dimas.


Hari ini, aku mengajak dimas ke plosokuning, karena ada rumah makan baru yang belum lama buka, dan juga ada pemancingan di dalamnya.


Kita bisa mengambil ikan sendiri, lalu menyerahkan ke koki untuk di masak sesuai pesanan kita.


Dari situ, kami langsung menuju ke kosan dimas.


Kita sampai dikos sekitar pukul 4.30 sore.


Aku langsung mengambil novel milikku dari rak buku dimas, dan memilih kasur dimas, untuk aku bersantai sambil membaca novel.


Dimas menyuruhku untuk mencuci tangan dan kaki terlebih dahulu, aku menuruti dimas dengan tatapan sebal.


Dimas selalu menceramahiku, tentang pentingnya menjaga kebersihan, dia selalu protes setiap aku datang dan langsung merebahkan diri di tempat tidur miliknya.


Aku memang selalu meminta dimas untuk menjadi diri sendiri, aku tidak ingin dimas berpura-pura hanya karena ingin menyenangkanku.


Sejauh ini, aku masih bisa menerima dimas yang selalu menunjukkan sifat aslinya.


Dimas sendiri lebih memilih untuk bermain video game begitu dia keluar dari kamar mandi.


Intensitas hubungan kami masih sama, belum terlalu jauh, tapi sangat manis.


Dimas biasanya, menciumiku dengan intensitas sangat tinggi, saat sudah mulai masuk jam mengantarku pulang.


Dimas juga sudah memanggilku dengan sebutan sayang, meski terkadang masih ra, rara atau maira.


Sementara aku masih memanggilnya dimas.


Dimas tidak keberatan, dimas mengatakan kalau dia menyukai intonasi suaraku saat memanggil namanya.

__ADS_1


Menurut dimas, ketika aku memanggil namanya, dia langsung ingin datang padaku dan menuruti semua kemauanku.


Seminggu mengenalnya, aku baru tahu, kalau dimas punya sisi manja di dirinya.


Sebelumnya aku selalu melihat dimas sebagai sosok yang tangguh dan tegas.


Tak kusangka ternyata dia sangat manja, tapi aku suka, karena aku memang punya sedikit sisi keibuan.


Aku berusaha fokus untuk membaca novel, meski dimas sangat berisik saat bermain video game.


"Dimas emang nggak masalah, bawa mobil papa udah seminggu", tanyaku pada dimas, karena aku penasaran mobil innova milik papa dimas, masih dimas pakai untuk pergi denganku selama seminggu ini.


"Papa lagi keluar kota sayang, jadi nggak masalah", jawab dimas dengan masih tetap serius bermain video game.


"Sayang kamu nggak main sama kiki liburan ini", tanya dimas.


"Kiki kan pulang ke kalimantan", jawabku dari balik buku yang aku baca.


"Yang lainnya", tanya dimas lagi.


Karena aku tidak menjawab, dimas akhirnya menghampiriku.


"Kalau di tanya itu di jawab", ujar dimas sambil menekan hidungku dengan jarinya.


"Nia kejakarta, rani ikut mia kerumah neneknya di wonogiri", ujarku, sambil melepaskan tangan dimas dari hidungku.


"Nia di jakarta tempat siapa", tanya dimas lagi.


"Nemuin ayahnya", jawabku, tanpa mengalihkan pandanganku dari novel yang berusaha kubaca.


Dimas lalu mengambil novel dari tanganku, dan meletakkannya di karpet.


"Akunya jangan dicuekin", ujar dimas yang duduk di depanku, meminta perhatianku.


"Kan dijawab pertanyaannya", ujarku pada dimas.


"Tapi jawabnya nggak niat", jawab dimas.


Dimas kemudian menarikku ke arahnya.


Dimas memelukku lalu merebahkan dirinya, menciumku dan tak lama dimas membalikkan tubuhku dan mengubah posisinya di atasku.


Memang tidak sepenuhnya dimas ada di atasku, dimas masih dengan posisi setengah duduk.


Dia mencondongkan tubuhnya ke arahku, merapatkan badanya padaku, lalu menciumku tanpa henti, dan menatapku setelahnya.


Kemudian dimas meraih tanganku dan menempelkan di pipinya.


"Maira, kamu buat aku terbakar", ujar dimas dengan tatapan yang membuatku tenggelam.


Aku tidak menjawab ucapan dimas, dan hanya menarik wajah dimas untuk lebih dekat denganku, supaya aku bisa menciumnya, kemudian aku berbisik di telinganya.


"Aku juga", bisikku di telinga dimas, lalu mencium leher dimas, seperti yang biasa dia lakukan padaku.


Dimas langsung mengerang lirih saat aku menciumi lehernya.


Mendengar erangan dari mulut dimas, membuatku semakin dalam menjelajahi leher dimas dengan bibirku.


Aku kemudian duduk dan mensejajarkan posisiku dengan dimas, lalu aku kembali menciumi leher dan bibir dimas.


Dimas tidak berhenti mengerang lirih, dimas kemudian menarik wajahku dan membalas ciumanku.


Badan tegap dimas dengan mudahnya mendorongku dan mendorongku ke atas tempat tidur.


Dimas kemudian berubah menjadi seperti anak kucing yang lapar.


Dia tidak hanya mencium leherku, tapi juga menjilati dengan lidahnya, tangannya di letakkan di payudaraku kemudian meremasnya.


Aku hanya bisa mendesah dan tentu saja hal itu membuat dimas semakin semangat.


Selanjutnya, dimas menaruh kedua tangannya untuk meremas payudaraku dengan pelan, tanpa ciuman, tapi dengan tatapan penuh api yang menyala.

__ADS_1


Hal itu dimas lakukan cukup lama, karena aku tidak menolaknya, dimas menyelipkan tangan kirinya di leherku, lalu menciumku.


Aku bahkan tidak merasakan saat tangan kanan dimas mulai membuka kancing atas kemejaku.


Setelahnya, dimas menyelipkan tangannya ke dalam bra coklat yang aku kenakan.


Dia langsung meremas kembali payudaraku dari dalam, dan tangannya bersentuhan langsung dengan kulitku.


Aku merasakan tangan dimas yang sangat lembut dikulitku, dan dia mulai menambah intensitas gerakannya.


Dimas melepaskan ciumannya, dan menatapku, sementara aku hanya bisa merintih.


Dimas bernafas cukup berat di telingaku, dan menciumi pipiku.


Alarm di handphone dimas berbunyi, itu menandakan bahwa sudah pukul sembilan malam.


Dimas langsung melepaskan tangannya dari payudaraku, kemudian memelukku.


"Maaf sayang, aku tidak bisa kontrol diri", ujar dimas setelah mematikan alarm.


Aku memeluknya erat karena tidak tahu harus menjawab apa.


"Ini hal pertama bagiku", ujar dimas lagi.


"Maafin aku ya, aku sayang banget sama kamu ra, jadi tolong, kamu jangan pernah punya fikiran untuk tinggalin aku", pinta dimas memohon sambil memelukku.


"Iya", jawabku, kemudian mencium pipi dimas.


Setelah dimas mengancingkan bajuku kembali, dia meminta ijin untuk mandi, sebelum mengantarku pulang.


Sepanjang perjalanan, dimas memegang tanganku dengan erat.


"Besok aku jemput pagi ya, kita ke prambanan", ujar dimas.


Aku hanya membalasnya dengan anggukan.


"Kamu diem terus, aku bikin kamu kaget ya tadi", ujar dimas, terlihat cemas.


"Dimas lihat ke arah jalan aja, bahaya", ujarku lembut.


"Jawab dong pertanyaanku, jangan diem terus", pinta dimas dengan nada merajuk.


"Karena kamu hampir buat aku meledak dimas, jadi aku butuh waktu untuk menangkan diri", jawabku menjelaskan pada dimas mengenai perasaanku.


Dimas lalu menepikan mobilnya dan menciumku.


"Aku juga sayang", ujar dimas dengan wajah senang.


"Tapi aku juga ingin menepati janji ke ibu kamu, untuk anter kamu pulang sebelum pukul sepuluh malam", ujar dimas sambil memegang pipiku.


Aku hanya membalas dimas dengan senyuman dan anggukan, lalu kami melanjutkan perjalanan.


Sesampainya aku di rumah, ayah masih belum tidur, dan sedang duduk di dapur sambil membalas pesan di handphonenya.


Aku mencium tangan ayah, dan langsung pamit untuk ke kamar.


Aku menutup pintu kamarku dengan pelan, lalu berjalan dan duduk di meja belajar.


Aku kemudian mencoba memahami hal yang terjadi di kos dimas.


Ada gairah yang cukup besar saat dimas menyentuh payudaraku.


Ada rasa yang membuatku ingin menyerahkan segala-galanya pada dimas.


Aku bingung dan takut dengan apa yang harus aku lakukan.


Ibu selalu bilang bahwa aku harus menjaga diri, tapi begitu aku di dekat dimas, aku langsung kehilangan diriku sendiri.


Aku tidak bisa menolak sentuhan dimas, yang dia berikan dengan manisnya.


Aku juga langsung tenggelam saat dimas mulai menciumku.

__ADS_1


Bukan salahku jika dimas membawa dirinya dengan sangat baik, dan menawarkannya padaku, karena tentu saja hal itu membuatku ingin seutuhnya memiliki dimas.


***


__ADS_2